“ Daging tidak akan pernah diperoleh tanpa menyakiti mahluk hidup, dan menyakiti setiap mahluk hidup akan berakibat dalam mencapai kebahagian surgawi; oleh karena itu hindarilah penggunaan daging. Pertimbangkan dengan baik asal daging yang menjijikkan, kejam, membelenggu dan membunuh mahluk hidup. Biarkan mereka berpantang memakan daging secara total.” (Manu-samhita 5.48-49)

“Mereka yang mengijinkan pembantaian binatang, mereka yang memotong, membunuh, membeli atau menjual daging, yang memasak, yang menyajikannya dan yang memakannya, harus diperlakukan sebagai pembunuh binatang tersebut. Tidak ada dosa yang lebih besar dari manusia yang memelihara badannya dengan  daging dari mahluk hidup lain meskipun dia memuja para dewa dan para leluhur (manu-samhitta 5.51-52)

“Jika seseorang memiliki keinginan yang kuat karena daging, dia dapat membuat mentega atau tepung dari seekor binatang; tetapi dia tidak boleh membunuh binatang tersebut tanpa alasan jelas. Sebanyak jumlah bulu binatang yang dia bunuh, sebanyak itu pulalah dia akan dibunuh tanpa alasan yang jelas dalam kehidupan pada kelahiran berikutnya.” (Manu-samhita 5.37-38)

“Dia yang menyakiti mahluk hidup lain demi kepuasannya sendiri tidak akan pernah menemukan kebahagian baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan berikutnya.” (Manu-samhita 5.45)

“Dengan hanya memakan buah-buahan dan akar-akaran, dan dengan memakan makanan yang sesuai untuk pertapa dalam hutan, seseorang tidak akan meningkatan secara signifikan sampai dia dapat menghindari daging secara total. Dia akan merasakan dagingku dalam kehidupan berikutnya, yang dagingnya telah ku makan dalam kehidupan ini; Orang bijaksana menjelaskan ini untuk maksud sesungguhnya dari kata daging [mam sah].” (Manu-samhita 5.54-55)

Dia yang tidak mencari dan menjadikan penderitaan dan kematian mahluk hidup, tetapi memberikan kebaikan pada semua mahluk, memperoleh kebahagiaan yang tiada akhirnya. Dia yang tidak melukai setiap mahluk hidup, tanpa ada maksud dalam pikirkannya, apa yang dia lakukan dan bagaimana dia mengatur pikirannya” (Manu-samhita 5.46-47)

Dengan tidak membunuh setiap mahluk hidup, seseorang akan memenuhi syarat untuk pembebasan.”(Manu-samhita 6.60)

“Seseorang yang memakan daging manusia, daging kuda atau binatang yang lain, selain susu dengan pembantaian Sapi, O raja, jika tindakan jahat seperti itu tidak berhenti, sebaiknya anda harus segera memotong kepalanya.” (Rig-veda 10.87.16)

“Kamu sama sekali tidak boleh mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan dengan membunuh ciptaan-Nya, baik itu manusia, binatang atau apapun.”
(Yajur Veda 12.32.90)

Dia yang ingin memelihara badannya dengan memakan daging dari mahluk hidup lain, akan hidup dalam kesengsaraan dalam wujud lain dalam kehidupan berikutnya (Mahabharata, Anu.115.47)

“Pembeli daging melakukan kekerasan oleh karena kekayaannya; dia yang memakan daging juga melaksanakan hal yang sama dengan menikmati daging itu; pembunuh melakukan kekerasan nyata dengan mengikat dan membunuh binatang itu. Demikianlah, terdapat tiga bentuk pembunuhan. Dia yang membawa daging atau mengirimnya, dia yang memotong anggota badan binatang, dan dia yang membeli, menjual, atau memasak daging dan memakannya–semua itu harus dipertimbangkan oleh orang pemakan daging.” (Mahabharata, Anu.115.40)

“Dosa yang dihasilkan dengan kekerasan membatasi hidup pelaku. Oleh karena itu, mereka yang sangat mengharapkan kesejahtraan harus berpantang makan daging.” (Mahabharata, Anu.115.33)

Mereka yang tidak memiliki pengetahuan Dharma yang nyata dan, sombong dan jahat, menganggap diri mereka berbudi luhur, membunuh binatang tanpa perasaan, penyesalan dan ketakutan akan dosa. Dalam kehidupan berikutnya, orang berdosa seperti itu akan dimakan oleh mahluk hidup yang sama yang telah mereka bunuh pada kehidupan ini.” (Bhagavata Purana 11.5.14)

“Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau air dengan cinta bakti, Aku akan menerimanya”. (Bhagavad Gita 9.26) “Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala dosa karena mereka memakan makanan yang dipersembahkan untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja.” (Bhagavad Gita 3.13)

“Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau makan, apapun yang engkau persembahkan atau berikan sebagai sumbangan atau pertapaan dan apapun yang engkau lakukan, — lakukanlah kegiatan itu sebagai persembahan kepada-Ku, wahai putera Kunti.” (Bhagavad Gita 9.27)

“Sri Rama tidak pernah memakan daging atau madu. Beliau setiap hari memakan buah-buahan liar, dan padi liar pada malam hari.” (Ramayana, Sundarakanda, Skanda 36, Sloka 41)

“ Tidak membunuh (Ahimsa) adalah  kewajiban tertinggi.” (Padma Purana 1.31.27)

“Tidak memiliki keinginan membunuh mahluk hidup lain, dalam setiap kesempatan dan setiap waktu, disebut Ahimsa, haruslah merupakan tujuan dari semua pencaharian.”
(Patanjali’s Yoga Sutras 2.30)

Translate »
%d bloggers like this: