Scientific Verification of Vedic Knowledge in Hinduism-1

Scientific Verification of Vedic Knowledge in Hinduism-2

Sumber: Suryanto, M.Pd

Kitab Purana dan Itihasa, Mengapa Dianggap Mitologi?

Setelah membaca artikel-artikel tentang berbagai ramalan dalam Weda dalam newsleter Sanatana Dharma ini, beberapa pembaca sempat menyampaikan pertanyaan kritis kepada tim redaksi. Pertanyaan itu menyangkut referensi atau buku acuan yang kami gunakan, yaitu kitab-kitab Purana, Upanisad, dan Itihasa. Dalam hampir semua tulisan, kami mengutip ayat-ayat kitab Bhagavata Purana dan Bhagavat-gita guna mendukung dan memperkuat gagasan-gagasan yang kami munculkan. Masalahnya, bukankah sebagai umat Hindu kita telah fasih dan tanpa beban menyebut semua kisah dalam kitab-kitab Purana, Upanisad, dan Itihasa itu adalah semata-mata sebuah mitologi? Tidakkah itu berarti umat Hindu mendasarkan ajaran agamanya hanya pada mitos atau dongeng yang kebenarannya masih perlu diragukan??
Ambillah contoh kitab Bhagavad-gita. Bhagavad-gita memuat wejangan rohani yang disampaikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna menjelang berlangsungnya perang Bharata Yudha, yang konon terjadi sekitar lima ribu tahun yang lalu. Kita semua tahu bahwa Bhagavad-gita sebenarnya adalah bagian dari Bhisma Parwa, salah satu diantara 18 Parwa kitab Mahabharata. Sri Krishna, Arjuna, beserta para Pandawa adalah tokoh-tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Padahal, dalam anggapan sebagian besar masyarakat Hindu sekalipun, Mahabharata tidak lebih daripada sekedar sebuah epos, cerita kepahlawanan yang dikarang oleh Rsi Vyasa. Ketika kita jelaskan bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam kitab Mahabharata saat ini masih bisa kita telusuri lokasinya, orang masih akan menyangkal dan meragukan penjelasan itu. Menurut mereka, Rsi Vyasa terinspirasi oleh nama-nama tempat itu, lantas mengarang cerita fiksi, yang mengambil nama-nama seperti Hastinapura (sekarang New Delhi), Dwaraka, dan lain-lain sebagai latar atau setting terjadinya kisah dalam Mahabharata.
Apalagi, dalam masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, Krishna dan Arjuna dikenal sekedar sebagai tokoh-tokoh wayang. Bahkan, ada orang Jawa yang akan marah besar, kalau dikatakan bahwa Mahabharata berasal dari India. Mereka meyakini, bahwa kisah Mahabharata terjadi di Jawa, dibuktikan dengan adanya nama-nama tempat dan gunung di Indonesia yang diberi nama Arjuna, Bima, dan lain-lain. Jadi, mana yang benar? Benarkah ajaran Hindu hanya berdasar pada mitos-mitos dan dongeng yang masih diperdebatkan asal-usulnya?

Pengertian Mitos dan Mitologi.

Apa sebenarnya arti kata mitos dan mitology? Kata mitologi, berasal dari bahasa Inggeris “myth”. Dalam kamus Webster New World College Dictionary 3rd Edition, kata “myth” diartikan sebagai : “1) any fictitious story; or unscientific account, theory, belief, etc 2) any imaginary persons or thing spoken as though existing.” Artinya : 1) sembarang kisah atau cerita fiksi (tidak nyata/hayalan/dongeng); atau kejadian, teori dan kepercayaan dan lain-lain yang tidak bersifat ilmiah. 2) sembarang orang atau sesuatu yang dikatakan seolah-olah benar-benar ada.
Jadi, menurut definisi di atas, kalau orang menyebut Mahabharata, atau Ramayana sebagai mitologi atau mitos, itu berarti bahwa Mahabharata dan Ramayana hanyalah sebuah dongeng, sebuah cerita fiksi, yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi di alam nyata. Bukankah secara ilmiah, tidak ada bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran kisah-kisah Purana itu? Bukankah itu juga berarti uraian tentang dasa awatara (sepuluh awatara Wishnu) dalam Purana-Purana juga tidak lebih dari dongeng? Lantas, apakah dapat disimpulkan bahwa umat Hindu memuja Tuhan dan para dewa yang hanya ada dalam dongeng?

Dari Mana Asal Sebutan Mitologi itu?

Melongok asal mula mengapa kitab-kitab Purana dijuluki mitologi, kita akan temukan beberapa alasan. Setidaknya, kami melihat ada 3 alasan. Pertama, kata “Purana” berarti sejarah. Dan memang, kitab-kitab Purana mengandung banyak sejarah tentang kegiatan atau lila Tuhan, para dewa, atau penyembah-penyembah mulia Tuhan. Matysa Purana, misalnya, berisi kisah tentang kemunculan Sri Wishnu sebagai seekor ikan raksasa yang menyelamatkan seorang raja saleh bernama Raja Stayavarata. Kisah ini sebenarnya sangat mirip dengan kisah Nabi Nuh dalam Islam yang juga diselamatkan dari Banjir Besar. Sayangnya, dalam Mastya Purana tersebut tidak disebutkan kapan persisnya peristiwa tersebut terjadi. Padahal, dalam dunia akademik dan ilmiah, adanya angka tahun ini merupakan syarat penting bagi kita untuk percaya bahwa sesuatu peristiwa benar-benar terjadi. Tapi jangan merasa kecil hati, karena kalau kita tanyakan kepada umat Islam, kapan terjadinya Banjir Besar itupun, mereka akan kesulitan menyebutkan angka tahun yang pasti.
Kalaupun kemudian kita berikan penjelasan bahwa Matsya Awatara muncul pada jaman Staya Yuga, ratusan juta tahun yang lalu, orang masih akan mendebat dengan menyatakan bahwa menurut Teori Evolusi Darwin, adanya jenis kehidupan seperti kera (belum jadi manusia, lho) baru mulai sekitar 100 ribu tahun yang lalu (Darwin, 1856). Manusia jenis homo sapien, yang dikatakan sebagai cikal bakal manusia modern seperti kita baru ada sekitar 5 ribu tahun yang lalu. Jadi, bagaimana mungkin telah ada seorang Raja bernama Satyavrata jutaan tahun yang lalu?
Begitupun dengan kisah Mahabharata. Menurut Professor K. Srinivasaraghavan, dalam perhitungan ilmu perbintangan Weda (Jyotishastra), perang di Kuruksetra tersebut terjadi pada tanggal 22 November 3067 Sebelum Masehi. Kesimpulan itu didasarkan pada keterangan-keterangan waktu yang terdapat dalam ayat-ayat Mahabharata itu sendiri. Namun, angka tahun itu ditolak oleh sebagian kalangan sejarawan Barat, karena menurut Teori Invasi (Penyerangan) bangsa Arya ke Dravida ciptaan Max Muller, bangsa Arya diperkirakan datang ke India baru pada sekitar tahun 1500 SM. Menurut teori yang sudah terlanjur dianggap benar itu, Bangsa Arya lah yang merupakan pembawa Rg Weda ke India. Jadi, kalau teori ini benar, bahkan Weda dan peradaban Hindu tidak murni lahir dari India, melainkan berasal dari wilayah Indo-Jerman, tempat asal bangsa Arya.
Ada hal lain yang membuat kesan mitologi semakin kuat, ketika orang membaca Mahabharata. Diceritakan bahwa Arjuna pernah melakukan perjalanan ke sorga, bertemu Dewa Indra, dan bahkan mendapatkan berbagai senjata ampuh dari Dewa Siwa. Kalau dilihat dari kemajuan teknologi sekarang, jangankan mencapai surga, orang hendak mendarat di bulan pun masih belum berhasil secara sempurna. Bahkan banyak astronot yang meninggal dunia seiring dengan meledaknya beberapa pesawat ruang angkasa yang mereka tumpangi. Yang lebih mengherankan, Arjuna dan Aswatama sama-sama menguasai senjata bernama brahma astra, yang bila digunakan efek membakarnya akan lebih dashyat dibandingkan daya ledak bom atom modern. Mungkinkah manusia primitif lima ribu tahun yang lalu sudah menguasai teknologi secanggih itu?? Dengan cara pandang seperti itu, jelaslah akan jauh lebih mudah bagi kita menjuluki semua kisah di atas hanyalah dongeng, hanya mitologi.

Translate »
%d bloggers like this: