Jika kita rajin menyimak sinetron-sinetron dan sejenisnya yang berhubungan dengan mistis, sering kali kita mendengarkan kata “mantra”. Bahkan dalam telingan orang indonesia, mungkin mantra bukanlah kata yang asing lagi. Mantra dikenal sebagai jampi-jampi yang diucapkan oleh dukun dan penekun ilmu hitam untuk mencelakai orang lain. Setidaknya hal seperti itulah yang kita tangkap dari media masa di Indonesia selama ini.

Benarkan mantra identik dengan klenik?

Istilah mantra berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari akar kata “man” yang berarti pikiran dan “tra” yang berarti pembebasan. Jadi arti kata Mantra adalah pembebasan pikiran.

Dalam prakteknya sejak ribuan tahun lalu sebagaimana dijelaskan dalam manuskrip Veda, mantra digunakan dalam berbagai hal, mulai dari pemujaan, pengobatan bahkan dalam medan perang. Bahkan sampai saat ini para pengikut Veda meyakini akan kekuatan mantra yang dilagukan dengan nada-nada tertentu sesuai dengan aturan yang tertuang dalam kitab Chhanda.

Apakah mantra adalah tahayul yang tidak masuk akal? Sesuatu yang mistis yang tidak dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan ilmiah?

Akar dari pemecahan masalah mantra adalah “Frekuensi, Vibrasi / Gelombang”. Sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh vibrasi suara terhadap tumbuh kembang tumbuhan dan juga terhadap molekul air memberikan fakta yang luar biasa.

Dengan memutarkan musik klasik dan musik-musik bernada halus dengan range frekuensi tertentu terhadap tumbuhan, ternyata memberikan efek yang signifikan terhadap pertumbuhan tumbuhan. Sangat jauh berbeda dengan tanaman yang diberikan musik rock, tanaman yang diterapi dengan musik rock cenderung tumbuh lambat dan mengalami gangguan dalam pertumbuhannya.

Bukan hanya mahluk hidup sebagaimana halnya contoh tumbuhan diatas, ternyata air yang merupaan molekul kimia yang dapat dikategorikan benda mati juga memberikan reaksi terhdap pengaruh vibrasi. Dr Masaru Emoto dari jepang melakukan penelitian tentang hal ini. Beliau membuktikan bahwasanya air yang diberikan lagu-lagu dan doa-doa tertentu yang bernada halus dapat mengakibatkan molekul-molekul air mengkristal secara teratur. Efek yang sangat berlawanan terjadi saat air diberikan lagu-lagu  rock dan dengan nada-nada yang tidak teratur. Molekul air cenderung tidak teratur dan tidak terarah.

Nicola Tesla, seorang peneliti asal Kroasia, mengungkapkan bahwa ternyata udara dalam tekanan normal dapat digunakan sebagai penghantar energi listrik yang sangat baik tanpa penggunaan kawat konduktor. Makna apa yang bisa kita tangkap dari sini? Intinya adalah frekuensi dan gelombang ternyata dapat memindahkan energi yang sangat besar tanpa harus melalui perantara kasat mata seperti kabel bahkan jangkauannyapun dapat menjangkau area yang jauh dan terpencil. Berdasarkan perhitungan matematis, hal seperti ini dapat memecahkan permasalahan tentang komunikasi telepati yang dianggap klenik selama ini.

Penelitian mengungkapan bahwa frekuensi 6,8 Hz dapat menimbulkan relaksasi dan kebaikan, tetapi frekuensi tententu seperti pada kasus Radio di Rusia yang menyebabkan banyak warga Rusia depresi, sakit bahkan mengalami kematian dapat terjadi. Radio tersebut beroperasi pada frekuensi ELF (electrical fields in extremely low frequencies), suatu frekuensi yang ternyata sangat berbahaya bagi kehidupan.

Nah, apa hubungannya dengan mantra? Mantra yang dinyanyikan dan dilagukan dengan vibrasi frekuensi dan panjang gelombang tertentu ternyata dapat menimbulkan efek spesifik. Pengucapan mantra yang tepat dapat berfungsi sebagai pengobatan dan menciptakan kondisi yang tentram. Sebaliknya mantra juga dapat digunakan sebagai senjata dan menghancurkan, tentunya dengan nada dan ritme yang berbeda sehingga menimbulkan frekuensi dan panjang gelombang tertentu.

Jadi, Mantra adalah hal yang ilmiah, bukan klenik yang sirik dan musrik sebagaimana digembar-gemborkan oleh pihak-pihak yang kering pengetahuannya selama ini.

Translate »
%d bloggers like this: