Sebuah artikel kompas.com tertanggal 8 September 2009 berjudul “Mimpi, Bahasa Sandi Tuhan?” mengingatkan saya pada suatu hal yang kurang lebih sejalan dengan apa yang pernah saya baca dalam Alkitab.

Dalam artikel tersebut kebetulan nara sumbernya dalah seorang Pastor, yaitu J. Darminta, Si. Beliau mengatakan bahwa mimpi menurut Jawa dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu;

  1. 1. Titi onyi (21.00-24.00); Mimpi pada jam ini dapat dipahami tidak memiliki arti khusus, kecuali menunjuk pada pengaruh pengalaman hidup sebelum tidur. Biasanya isi mimpi berkaitan dengan peristiwa hidup yang terjadi sebelumnya atau sisa masalah ketika masih terjaga.
  2. 2. Gondo onyi (24.00-03.00); Mimpi pada jam ini menunjuk pada kualitas kejiwaan kita dalam mengarungi kehidupan, menyingkapkan apa yang tersembunyi di dalam diri kita agar diketahui, diterima, diolah. Jika diketahui sebagai gangguan hendaknya segera dapat disingkirkan, namun jika dirasakan sebagai dukungan sebaiknya diterapkan dalam kehidupan.
  3. 3. Puspa tajam (03.00-06.00); Mimpi pada jam ini diyakini mengungkapkan adanya keterlibatan Allah, dan kita ditantang untuk mengenal suara, ajakan, dan pesan kehadiran Allah.

Menurut Wolfgang Bock, SJ, yang pernah belajar di Institut Carl Gustav Jung di Zurich, Swiss, yang juga merupakan pendukung teori bahwa Tuhan hadir dan memberikan arahannya lewat mimpi mengatakan bahwa pertemuan dengan Tuhan melalui mimpi dapat diplaningkan. Berkenaan dengan itu Wolfgang Bock memebrikan tahapan yang harus diikuti agar dapat bertemu Tuhan dalam mimpi, yaitu

  1. Buat judul. Pilih kata-kata, biarkan judul itu muncul spontan. Bila perlu, tanya mimpi itu, “Judul mana yang kau inginkan?”
  2. Buat tema. Catatlah teman pokok atau masalah utama yang muncul dalam mimpi Anda. Bila mimpi Anda memuat lebih dari satu tema, urutkan tema-tema itu menurut bobot yang Anda rasakan.
  3. Catat perasaan. Perasaan manakah yang paling menonjol dan kuat dorongannya dalam mimpi itu? Jika ada beberapa perasaan yang muncul berturut-turut, catatlah semuanya.
  4. Panjatkan doa. Bercakaplah dengan Tuhan mengenai teman dan perasaan Anda berkaitan dengan mimpi. Mintalah jawaban dari Tuhan mengenai makna dan pesan lewat mimpi tersebut.
  5. Kesempatan bersemadi. Biarkan seluruh mimpi berikut tema, perasaan, dan orang-orang yang tampak di dalam mimpi berada bersama Anda. Pilih satu kata kunci dan resapkan melalui metode mantra (kata itu dihirup bersama helaan napas).
  6. Buat catatan. Catatlah apa yang Anda alami selama menggumuli mimpi itu dalam suasana doa di hadapan Tuhan. Tuliskan cepat, tanpa menilai apa yang muncul. Anda dilatih terbuka pada pola baru dalam berpikir dan bertindak, sesuai apa yang muncul.
  7. Tinjau kembali. Malam hari, baca dan tinjau kembali mimpi dan doa serta sahutan Anda terhadap mimpi itu. Perhatikan bagaimana semua itu membantu Anda menemukan makna dan petunjuk arah yang termuat dalam mimpi, supaya bisa memilih dan menjalankan pola hidup Anda.

Buku tafsir mimpi tertua yang pernah ditemukan ditulis tahun 1100 SM. Hal ini mengindukasikan bahwa sejak jaman dahulu kala manusia sudah sangat tertarik mengamati fenomena mimpi dan saat inipun penelitian tentang mimpi juga sudah banyak dilakukan di beberapa universitas dan lembaga riset.

Kembali menurut Wolfgang Bock dalam bukunya Menafsir Mimpi, Bahasa Sandi Tuhan, mengatakan bahwa salah satu fungsi mimpi adalah mengangkat pikiran, khayalan,dan hasrat hati manusia yang dalam hidup sadar kurang diperhatikan dan arena itu, mimpi juga memiliki motif menyeimbangkan kondisi pribadi supaya kepribadian seseorang tidak tumbuh pincang.

Lebih jauh dia mengatakan; “Suka atau tidak suka, mimpi itu mengingatkan Anda, supaya Anda mau melihat kebenaran. Kadang kebenaran itu ditayangkan dengan cara amat mengejutkan, supaya diperhatikan,” mimpi juga menambah pengetahuan vital, agar kita dapat memperbaiki sikap terhadap seluruh kehidupan dan situasi nyata yang dihadapi. Melalui mimpi, bawah sadar kita akan memainkan tugas membimbing dan merencanakan, guna memberi arah lebih baik kepada sikap dan pendirian pikiran  alam sadar. Alam pikiran sadar kita seringkali tidak mau atau tidak ingin memahami persoalan apa adanya. Namun, melalui mimpi, kemampuan kita untuk menipu diri dan berpura-pura akan dijungkir balikkan, sehingga kita dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya, ungkap Wolfgang Bock lagi.

Okay, sampai disini kita percayai dulu apa yang dikatakan Wolfgang Bock bahwa mimpi dapat membawa kita dari kepura-puraan menuju pada kenyataan yang adalah saling bertolak belakang. Kita juga iyakan dulu bahwa melalui hal ini setiap orang dapat menerima mimpi yang merupakan bahasa sandi Tuhan.

Karena yang pro atas kebenaran mimpi sebagai kata sandi atau dapat dikatakan wahyu Tuhan ini adalah penganut Alkitab, sekarang mari kita uji ayat-ayat mimpi dalam Alkitab yang jumlahnya banyak sekali.

Ketika aku sedang tidur, kulihat sebuah pohon yang tumbuh di tengah-tengah bumi. Pohon itu sangat tinggi; batangnya besar dan kuat. Puncaknya sampai ke langit, sehingga dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:10-11]Pohon yang Tuanku lihat itu begitu tinggi, sehingga puncaknya sampai ke langit, dan dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:20]

Dan Iblis membawanya ke puncak gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadanya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. [Matius 4:8]

Yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang. [Ayub 9:6]..Tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya. [Ayub 26:11]
Note: Ibrani/hebrew untuk tiang = ammuwd; langit = shamayim, ‘owr = petir, halilintar; penggunaan kata petir bukan tiang ada di Ayub 37:11

.. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. [Mazmur 19:4-6]

untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang fasik dikebaskan dari padanya [Ayub 38:13]…..dan juga kilat petirnya ke ujung-ujung bumi. [Ayub 37:3]..Karena ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi. [Ayub 28:24]

[note: mereka akan berkilah bahwa tidak ada perbedaan antara tanah dan bumi dalam bahasa inggris..namun ayat2 ini berbicara bumi bukan tanah , lihat di Ayub 38:4, ‘…meletakan dasar bumi..’]

Sebab itu orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujizat-Mu; tempat terbitnya pagi dan petang Kaubuat bersorak-sorai.[Mazmur 65:8]

engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”[Yesaya 41:9]

Ya TUHAN, kekuatanku dan bentengku, tempat pelarianku pada hari kesesakan! Kepada-Mu akan datang bangsa-bangsa dari ujung bumi serta berkata: “Sungguh, nenek moyang kami hanya memiliki dewa penipu, dewa kesia-siaan yang satupun tiada berguna. [Yeremiah 16:19]

Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya [AMSAL 8:27]

Yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi–TUHAN itulah nama-Nya. [Amos 9:6]

Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit! [Ayub 22:14]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alkitab yang lainnya yang banyak diantaranya hanyalah bersumber dari mimpi.

Jika kita analisa pernyataan mimpi-mimpi Alkitab diatas sudah barang tentu merupakan kesalahan yang sangat fatal dan secara nyata sudah dibantah oleh ilmu pengetahuan modern saat ini. Pertanyaannya, apakah mimpi mereka yang tercantum dalam Alkitab adalah Wahyu Tuhan atau hanya Mimpi? Jika memang wahyu, kenapa bisa salah? Jika memang itu hanya mimpi yang bukan Wahyu Tuhan, kenapa tercantum dalam Alkitab? Apakah Alkitab adalah kumpulan buku tafsir mimpi? Jika satu bagian ini saja kebenarannya diragukan karena jelas-jelas hanya sebuah mimpi, lalu apakah bagian lain dari Alkitab yang memang mencantumkan banyak ayat-ayat mimpi dapat dipercayai benar 100%?

Karena itu hati-hatilah menafsirkan mimpi, iya kalau mimpinya dari Tuhan, kalau dari Iblis atau karena bunga tidur bagaimana? 🙂

%d bloggers like this: