Varna berarti golongan sosial, dan Asrama berarti tingkat/tahap kehidupan spiritual. Menurut Veda (Bhagavad Gita 4.13), seseorang masuk golongan sosial (varna) tertentu ditentukan oleh:

  1. Guna (sifat/watak/tabiah/perangai/ciri) yang melekat  pada  diri pribadinya.
  2. Karma (pekerjaan/profesi).

Veda menetapkan bahwa seseorang yang masuk varna (golongan sosial) tertentu, tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan/kegiatan varna lain. Ini disebut professionalisme.

Sementara hidup berdasarkan aturan-aturan varna-nya, seseorang harus berusaha maju dibidang spiritual dengan meningkatkan status asrama (tingkat kehidupan spiritual) nya dengan  cara  berikut.

  1. Secara ketat menuruti prinsip-prinsip kehidupan spiritual sesuai petunjuk Veda.
  2. Mempersembahkan segala hasil kerja sebagai yajna kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna yang juga disebut Sri Vishnu atau Narayana (dan 1000 nama Tuhan lainnya dalam Visnu Sahasra nama).

Lembaga sosial-spiritual varna-asrama dimaksudkan untuk menyenangkan Tuhan dan mensucikan diri sang manusia. Hal ini ditunjukkan oleh sloka-sloka Veda berikut.

Dalam Vishnu-Purana dikatakan,”Varnasrama caravata purusena parah puman visnor aradhyate pantha nanyat tat tosa karanam, Sri Vishnu di puja dengan melaksanakan secara benar tugas pekerjaan masing-masing ber-dasarkan  prinsip – prinsip lembaga sosial-spiritual varna-asrama.  Karena  itu, setiap orang hendaklah menuruti  aturan  lembaga ini, sebab tidak ada cara lain lagi untuk menyenangkan Beliau” (Vishnu-Purana 3.8.9).

Dalam Bhagavata-Purana dikatakan,”Varnasrama vibhagasah svanusthitasya dharmasya samsidhir hari tosanam, manusia dikelompokkan kedalam varna dan asrama sesuai dengan tugas pekerjaannya masing-masing untuk mencapai kesempurnaan hidup  dengan menyenangkan Sri Hari” (Bhagavata Purana 1.2.13).

Selanjutnya dikatakan, “Ete varnah svadharmena yajanti sva gurun harim sraddhayatma visudhy artham, golongan sosial  (varna)  manusia yang berbeda-beda ini di-dasarkan pada tugas pekerjaan (sva-dharma) masing-masing dan dimaksudkan untuk menyenangkan  Sri  Hari dibawah bimbingan guru kerohanian dengan penuh keyakinan  (sraddha) supaya kehidupan setiap orang tersucikan” (Bhagavata Purana 3.6.34).

Ada 4 (empat) varna (golongan sosial) manusia di masyarakat yaitu

  1. Brahmana (kaum intelektual/cendekiawan).
  2. Kshatriya (kaum prajurit/serdadu pembela dan penyelenggara pemerintahan negara).
  3. Vaisya (kaum petani dan pedagang), dan
  4. Sudra (kaum buruh/pekerja).

Ke-empat golongan sosial ini disebut catur-varna.

Ada 4 (empat) tahap/tingkat kehidupan spiritual (catur-asrama) yaitu:

  1. Brahmacari (masa belajar menuntut ilmu pengetahuan spiritual.
  2. Grhastha (masa hidup bekeluarga).
  3. Vanaprashtha (masa hidup lepas dari keluarga dan tinggal di hutan), dan
  4. Sannyasi (masa hidup bebas dari kemelekatan pada kehidupan material dunia fana).

Mengenai Catur-Varna, Veda menjelaskan dengan sloka-sloka berikut.

  1. Dalam Bhagavad-Gita Sri Krishna berkata, “Catur varnyam maya srstam, empat golongan sosial manusia dimasyarakat diciptakan olehKu”(Bhagavad Gita 4.13)
  2. Dalam Rg Veda dikatakan,“Brahmanosya mukham asad bahu rajanyah urutad asya yad vaisyah pad bhyam sudro’ jayata, kaum brahmana muncul dari kepala wujud universal Tuhan, kaum kshatriya (Raja) muncul dari kedua tangan-Nya, kaum vaisya muncul  dari kedua  paha-Nya, dan kaum sudra muncul dari kedua kaki-Nya” (Rg Veda 8.4.19).
  3. Dalam Bhagavata-Purana dikatakan, “Mukha bahuru padabhyah purusah catvaro jajnire varna vipradayah prthak, ke-empat varna ini yaitu Brahmana, Kshatriya, Visya dan Sudra lahir dari kepala, tangan, paha dan kaki wujud semesta Tuhan” (Bhagavata Purana 11.5.2).

Menganai Catur Asrama, Veda menjelaskan dengan  sloka  berikut, “Brahmacaryam hrdo mama, brahmacari muncul  dari hati-Ku. Grhasramo jaghanatah, grhastha  muncul dari pinggang-Ku. Vaksah sthalad vane vasah, vana-prashtha muncul dari dada-Ku. Dan  sannyasah sirasi sthitah, sannyasi muncul dari  kepala wujud  universal-Ku” (Bhagavata Purana 11.17.14).

(catatan: pernyataan organ tubuh Tuhan disini adalah sebuah ungkapan metafora)

Oleh karena lembaga sosial Catur Varna bukan ciptaan manusia tetapi diciptakan oleh Tuhan sejak terwujudnya alam semesta material, maka lembaga Catur Varna ini sangat alamiah dan universal. Sebab tanpa memandang suku,bangsa dan agama,budaya, paham kehidupan, adat-istiadat, sistem pemerintahan, nilai dan aturan sosial yang dianut oleh penduduknya, disetiap masyarakat manusia pasti ada Catur Varna ini. Begitulah, disetiap masyarakat masyarakat manusia pasti ada:

  1. Kaum intelektual (brahmana)
  2. Kaum prajurit/serdadu pelindung rakyat dan penyelenggara pemerintahan negara (kshatriya)
  3. Kaum petani dan pedagang (vaisya), dan
  4. Kaum buruh/pekerja (sudra).

Bilamana setiap varna melaksanakan tugas pekerjaannya masing-masing secara professional maka terwujudlah jagadhita, dunia sejahtera, makmur, aman dan damai.

Begitu pula, lembaga Catur Asrama bukan ciptaan manusia, tetapi diciptakan oleh Tuhan sejak terwujudnya alam semesta material. Sehingga lembaga Catur Asrama inipun sangat alamiah dan universal. Sebab lembaga spiritual ini menuntun sang manusia untuk mencapai tujuan hidupnya sejati yaitu mukti, kelepasan dari kehidupan material dunia fana yang  penuh  duka  dan  derita, dan kembali pulang kedunia rohani Vaikunthaloka yang kekal abadi (sat) penuh pengetahuan (cit)dan kebahagiaan (ananda).

Dengan kata lain, Varna-Asrama adalah lembaga sosial-spiritual untuk mewujudkan tujuan agama (dharma) yaitu “Moksartham jagadhita ya va iti dharmah”.

Menurut Veda, masyarakat manusia berfungsi serupa dengan badan jasmani si  manusia  itu sendiri. Dan berdasarkan penjelasan sloka-sloka Veda sebagaimana yang telah dikutip sebelumnya, hubungan antara Catur Varna dengan badan jasmani sang manusia adalah sebagaimana nampak pada gambar disampin ini.

Seseorang dikatakan hidup normal jikalau badan jasmaninya lengkap/utuh yaitu memiliki kepala, tangan, paha dan kaki. Dan seseorang hidup enak, nyaman dan senang jika keempat bagian badan jasmaninya itu melakukan fungsi masing-masing secara harmonis yaitu bekerja untuk memuaskan perut. Perut puas/kenyang berarti seluruh badan terpelihara dan sehat.

Begitu pula, masyarakat manusia bisa tumbuh dengan baik hanya apabila di masyarakat itu terdapat Catur-Varna. Dan masyarakat hidup aman, nyaman dan senang jika ke-empat Varna itu melaksanakan tugas pekerjaannya masing-masing secara harmonis untuk menyenangkan Sri Krishna dengan mempersembahkan hasil kerjanya sebagai yajna kepada Beliau. Tuhan puas dan senang itu berarti segala kebutuhan hidup manusia secara otomatis terpenuhi secara melimpah, sehingga masyarakat manusia hidup makmur dan sejahtera (jagadhita).

Penjelasan pilosofis Catur-Varna ini dapat diringkas sebagai berikut

Menurut Veda, Catur-Asrama adalah ibarat tangga spiritual yang harus dilalui oleh setiap orang yang sungguh-sungguh ingin mengakhiri kehidupan materialnya yang penuh derita di dunia fana. Karena itu dikatakan:

  1. Brahmacari muncul dari hati wujud semesta Tuhan berarti masa hidup sebagai Brahmacari adalah pijakan tangga spiritual pertama untuk mensucikan hati agar seseorang memiliki sifat-sifat kedewataan (daivi-sampad) dibawah bimbingan guru kerohanian (Acarya)
  2. Grhastha muncul dari pinggang wujud semesta Tuhan berarti masa hidup sebagai Grhastha adalah pijakan tangga spiritual kedua untuk untuk melahirkan keturunan berwatak dewani (suputra) yang mampu menyelamatkan orang-tua dan leluhur dari kehidupan neraka
  3. Vanaprashtha muncul dari dada wujud semesta Tuhan berarti masa hidup sebagai Vanaprashtha adalah pijakan tangga ke tiga untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan meninggalkan keluarga dan hidup sebagai pertapa di hutan
  4. Sannyasi muncul dari kepala wujud semesta Tuhan berarti masa hidup sebagai Sannyasi adalah pijakan tangga spiritual keempat untuk melepaskan diri dari segala kemelekatan material dunia fana supaya bisa kembali kepada Tuhan.

Dengan hidup menuruti prinsip-prinsip lembaga spiritual CaturAsma sesuai petunjuk Veda, manusia terbimbing dalam jalan spiritutual keinsyafan diri untuk mencapai mukti, kelepasan dari kehidupan material dunia fana dan kembali ke dunia rohani dan  tinggal  disana dalam hubungan cinta-kasih (bhakti) timbal-balik dengan  Tuhan selamanya.

Jikalau sang manusia, kata Veda, tidak menuruti empat tahap kehidupan spiritual ini selama hidupnya yang begitu singkat di dunia fana, maka ia akan tetap terperangkap dalam lingkaran samsara (derita) dunia fana. Ia akan lahir lagi dengan badan jasmani baru seraya mengulang segala kegiatan material serupa yang telah pernah dilakukan dalam masa penjelmaan sebelumnya.

Penjelasan pilosofis Catur Asrama ini dapat diringkas sebagai berikut

Veda memberitahu saya dan anda bahwa kehidupan ideal berpondasi lembaga sosial-spiritual Varna-Asrama terwujud di masa lampau ketika Bumi  diperintah oleh para Rajarishi (Raja berhati suci) seperti Maharaja Ramacandra dan Maharaja Yudhissthira.

Selama pemerintahan Sri Ramacandra di  Ayodhya,  tidak ada wanita jadi janda, orang tidak takut pada binatang buas dan tidak ada orang sakit. Tidak ada pencuri dan perampok, penduduk hidup aman, damai, sejahtera, dan tidak ada orang meninggal pada usia muda. Para warga (penduduk) berbudi luhur, tidak ada tindak kekerasan apapun terjadi di masyarakat, dan rakyat sangat menghormati sang Raja. Setiap orang sehat jasmani dan rohani, dan hidup sampai usia 10.000 tahun. Pohon-pohon berbunga dan berbuah lebat, hujan turun  secara  teratur, udara nyaman dan angin berhembus segar menyenangkan. Setiap orang hidup senang dengan tugas-pekerjaannya sesuai dengan Varna dan Asrama nya masing-masing. Tidak ada orang bicara bohong dan setiap orang berprilaku menyenangkan (Ramayana Yudha Kanda Bagian Akhir).

Pada masa pemerintahan Maharaja Yudhisthira  di Hastinapura, awan di langit secara teratur mencurahkan hujan. Bumi  mengsilkan pangan dan segala keperluan hidup lain secara melimpah. Oleh karena cukup makanan dan diperlakukan dengan kasih sayang, semua sapi  gemuk, hidup damai dan setiap hari membasahi padang rumput dengan air susu yang menetes dari puttingnya. Penduduk tidak pernah terserang penyakit apapun, tertimpa derita pisik atau mental, mengalami cuaca terlalu panas atau terlalu dingin. Mereka hidup aman dan puas dengan tugas pekerjaannya masing-masing sesuai dengan Varna dan Asramanya, dan saling menghormati. Semua sungi, samudra, bukit, gunung, hutan, pohon dan tumbuhan menghasilkan keperluan hidup secara melimpah (Bhagavata-Purana).

Guna (sifat/watak/tabiat/perangai) dan karma (pekerjaan/profesi) sebagai dasar penggolongan Catur Varna di sebutkan secara amat  jelas di dalam Veda.

Dalam Bhagavad-Gita, Sri Krishna berkata,”Catur varnyam maya srstam guna karma vibhagasah, empat varna (golongn sosial) manusia ini tercipta olehKu berdasarkan guna dan karma” (Bhagavad Gita 4.13)

Selanjutnya dikatakan, “Brahmana-ksatriya visam sudranam ca parantapa karmani pravibhaktani, penggolongan sebagai Brahmana, Kshatriya, Vaisya dan Sudra, O Penakluk musuh, didasarkan pada tugas pekerjaan masing-masing” (Bhagavad Gita 18.41).

Dalam Bhagavata Purana dikatakan, “Vipra ksatriya vit sudra ye atmacara laksanah, seseorang digolongkan Brahmana, Kshatriya, Vaisya atau Sudra berdasarkan atmacara, tugas-pekerjaan (karma)-nya sendiri” (Bhagavata Purana 11.17.13).

Kualifikasi seorang Brahmana menurut –Bhagavad Gita 18.42 dan Bhagavata Purana 11.17.16 adalah sebagai berikut:

(a)    Kedamaian hati (samah)

(b)   Terkendali diri (damah )

(c)    Kesederhanaan (tapah)

(d)   Kesucian (saucam)

(e)   Toleransi (ksantir)

(f)     Kejujuran (arjavam)

(g)    Berpengetahuan  rohani (jnanam)

(h)   Bijaksana. (vijnanam)

(i)      Agamis (astikyam)

(j)     Berpuas-hati (santosah)

(k)    Pengampun (ksanthih)

(l)      Bhakti  kepada Tuhan (bhakti), dan

(m) Berkasih-sayang (daya)

Kualifikasi  Kshatriya menurut Bhagavad Gita 18.43 dan Bhagavata Purana 11.17.17 adalah sebagai berikut:

(a)    Kepahlawanan (sauryam)

(b)   Berwibawa (tejah)

(c)    Teguh hati (dhrtih)

(d)   Penuh inisiatip (daksyam)

(e)   Keberanian bertempur (yuddha)

(f)     Murah hati (danam)

(g)    Berjiva pemimpin (isvara)

(h)   Kuat  fisik (balam)

(i)      Toleransi (titisah), dan

(j)     Pengabdian kepada kaum Brahmana (brahmanyam)

Kualifikasi  Vaisya menurut Bhagavad Gita 18.44 dan Bhagavata Purana 11.17.18 adalah sebagai berikut:

(a)    Membajak sawah/ladang (krsi)

(b)   Memelihara sapi (go raksya)

(c)    Berdagang (vanijyam)

(d)   Berpegang teguh pada kebudayaan Veda (astikyam)

(e)   Selalu semangat ber-amal (dana nistha)

(f)     Tidak munafik (adambhah)

(g)    Melayani kaum Brahmana (brahma sevanam), dan

(h)   Semangat mengumpulkan kekayaan (atustir arthopayacair)

Kualifikasi  Sudra menurut Bhagavad Gita 18.44 dan Bhagavata Purana 11.17.19 adalah sebagai berikut:

  1. Melayani/membantu (paricara) orang-orang lain sesuai dengan keakhlian secara tulus, khususnya melayani para Brahmana, sapi, para Deva dan pihak lain yang layak dihormati
  2. Selalu berpuas hati dengan seberapa pun  banyaknya upah yang diperoleh dari kegiatan membantu/melayani (tatra labdhena santosah)

Kualifikasi setiap Varna diuraikan hampir disetiap kitab Smrti (Itihasa dan Purana) dan dalam berbagai kitab Dharma Sastra.

Brahmana disebut kaum intelektual/cendekiawan yang bertugas memberikan nasehat dan petunjuk tentang kehidupan berdasarkan pengetahuan spiritual Veda kepada rakyat yang termasuk  dalam tiga golongan sosial (varna) lainnya.

Kshatriya disebut kaum prajurit/serdadu yang bertugas melindungi rakyat/masyarakat dan menyelenggarakan pemerintahan negara.

Vaisya disebut kaum petani/pedagang yang bertugas memproduksi bahan makanan dan kebutuhan hidup lainnya dan mendistribusikannya melalui perdagangan kepada rakyat/masyarakat.

Sudra disebut kaum buruh/pekerja yang bertugas membantu/melayani ketiga golongan sosial (varna) lainnya dalam melaksanakan tugas pekerjaannya masing-masing.

Oleh karena tugas pekerjaan (karma) nya  adalah membantu/melayani (paricarya) ketiga Varna  lainnya, maka kaum Sudra (buruh/pekerja) mencakup mereka yang bekerja  yaitu antara lain; Pembantu rumah tangga, Buruh/kuli bangunan, Buruh perkebunan, Pekerja Toko/Pabrik/Swalayan, Porter di terminal/bandara/pelabuhan, Buruh tambang, Sopir/pengemudi kendaraan angkutan umum, Pilot pesawat terbang komersil, Dokter beserta petugas medis/kesehatan, Insinyur dan akhli mekanik, Calo/broker, Petugas kebersihan kota, Pelukis, pemahat dan pematung, Photografer, Pegawai negeri non militer, Pegawai perusahaan swasta, Para penghibur yaitu tukang sulap, pelawak, penyanyi, pemain drama, penari, pemain film dan petinju/atlit/olah-ragawan, Penyiar radio/TV, Tukang pijat, tukang cuci, baby sitter, tukang kayu, tukang batu dan tukang jahit, Buruh di pasar, Nahkoda  kapal, Perancang model, Pemusik profesional, Pengusaha diluar sektor pertanian, Para intelektual (guru, dosen, pengajar dan wartawan) yang memanfaatkan profesinya sebagai mata pencaharian dan Berbagai pekerja upahan lainnya diluar sektor pertanian.

Veda sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 11.17.21 mengikat manusia dengan tugas kewajiban umum yakni setiap orang Brahmana, Kshatriya, Vaisya dan Sudra harus menuruti prinsip-prinsip dharma berikut;

(a)    Tidak melakukan tindak kekerasan (ahimsa)

(b)   Berpegang teguh pada kejujuran (satyam)

(c)    Tidak mencuri/korupsi (asteyam)

(d)   Selalu berbuat untuk kesejahteraan semua makhluk lain  (bhuta priya hitehaca), dan

(e)   Membebaskan diri dari nafsu, kemarahan dan keserakahan (akama krodha lobhasa).

Kelima hal ini disebut pula tugas-kewajiban universal, sebab sifat-sifat  dan kualifikasi  demikian dihormati dan dianjurkan dilaksanakan oleh setiap masyarakat manusia baik itu masyarakat sosialis, komunis, kapitalis, atheistik, sekularistik ataupun masyarakat materialistik lainnya.

Menurut Bhagavata Purana 11.17.20, bila seseorang memiliki sifat-sifat yang berlawanan dari kelima prinsip dharma tersebut  yaitu:

(a)    Berwatak kotor (asaucam)

(b)   Tidak jujur (anrtam)

(c)    Suka mencuri (asteyam)

(d)   Tidak percaya kitab suci (nastikyam)

(e)   Suka bertengkar (suska vigrahah)

(f)     Penuh nafsu (kamah) dan pemarah (krodha), dan

(g)    Diliputi oleh bermacam-macam keinginan memuaskan indriya jasmani (tarsah),

maka dia disebut Candala

Menentukan Varna seseorang tidaklah sulit, sebab Veda telah menegaskan, “Yasya lal laksanam proktam pumso varnabhivyanjakan, golongan sosial (varna) seseorang di tentukan oleh ciri-ciri yang telah diuraikan (yaitu guna dan karma). Yad anyatrapi drsyeta tat tenaiva vinirdiset, sehingga meskipun lahir dalam keluarga yang Varna nya berbeda, seseorang harus diterima kedalam Varna tertentu sesuai dengan ciri-cirinya itu” (Bhag.avata Purana .11.35). Maksudnya, orang yang lahir dalam keluarga Brahmana tetapi sifat (guna) dan profesi (karma) nya menunjukkan dia seorang Sudra, maka dia harus dianggap Sudra.

Klaim palsu/keliru/sesat yang menyatakan diri tergolong kedalam Varna (golongan sosial) tertentu berdasarkan kelahiran dan tidak sesuai dengan sifat/watak (guna) dan pekerjaan (karma) sehari-hari, disebut Kasta. Karena itu, Varna tidak sama dengan Kasta.

Dari keempat Varna (golongan sosial) yang ada di masyarakat, kaum Brahmana adalah yang paling penting/paling utama, seperti halnya kepala adalah bagian yang paling penting/utama dari badan setiap orang.

Jikalau kepala (otak/pikiran) berfungsi baik, maka otomatis tangan, paha dan kaki berfungsi baik pula dan bekerja sama secara harmonis untuk memuaskan perut. Perut puas/kenyang otomatis menyebabkan kepala, tangan, paha dan kaki itu sendiri tetap sehat dan terpelihara serta berfungsi dengan baik.

Begitu pula, jikalau kaum Brahmana melaksanakan tugas kewajibannya secara baik yaitu memberikan nasehat/petunjuk tentang kehidupan berdasarkan pengetahuan Veda, maka otomatis kaum Kshatriya, Vaisya dan Sudra me-laksanakan tugas kewajibannya dengan baik pula untuk menyenangkan Tuhan. JIkalau Tuhan puas/senang, maka otomatis semua makhluk akan hidup senang dan sejahtera.

Proses menyenangkan Tuhan demi kesejahteraan  segala  makhluk, dijelaskan oleh Veda secara pilosofis sebagai  berikut, “Yatha taror mulani secanena trptyanti  tad  skanda bhujopasakah pranopaharac ca yathendriyanam  tathaiva sarvarhanam acyutejya, seperti halnya menyiramkan air ke-akar pohon menyebabkan batang, cabang, ranting dan daunnya tumbuh dan berkembang; seperti halnya memuaskan perut menyebabkan seluruh indriya jasmani tetap sehat dan terpelihara, begitu pula dengan menyenangkan Sri Acyuta (Krishna), segala makhluk jadi senang dan hidup sejahtera” (Bhagavata Purana 4.31.14).

Telah dijelaskan bahwa Catur Asrama adalah lembaga spiritual yang bagaikan tangga menuju dunia  rohani. Dengan memanjat tangga spiritual ini, sang manusia mampu mengakhiri derita kehidupan materialnya di dunia fana yaitu; Kelahiran (janma), Usia tua (jara), Penyakit (vyadhi), dan Kematian (mrtyu). Dan selanjutnya pulang kembali ke dunia rohani.

Menurut Veda, watak/sifat (guna) dan  kegiatan/perbuatan (karma) setiap orang ditentukan oleh unsur-unsur Tri Guna (yaitu sattvam, rajas dan tamas) yang paling dominan menyelimuti badan jasmaninya. Dikatakan, “Yaya kalu tu sattvasya deva rsin, bila  sifat  alam sattvam (kebaikan) dominan, maka berkembanglah sifat kedewata dewataan. Rajaso ‘ suram tamaso yaksa raksamsi, bila sifat alam rajas (kenafsuan) dominan, maka berkembanglah sifat Asura. Dan bila sifat alam tamas (kegelapan) dominan, maka berkembanglah sifat ke Raksasaan” (Bhagavata Purana 7.1.8).

Hubungan antara Catur Varna dengan Tri-Guna dijelaskan oleh Veda sebagai berikut,”Catvaro jajnire varna gunair vipradaya prthak, manusia dikelompokkan menjadi 4 (empat) golongan sosial (varna) sesuai dengan macam kombinasi sifat – sifat alam (Tri-Guna) yang menyelimuti dirinya” (Bhagavata Purana 11.5.2).

Penjelasan atas sloka Veda ini dapat diringkas sebagai berikut.

Pada bagian V dimuka telah dikutip sloka Veda tentang Catur Asrama, “Brahmacaryam hrdo mama grhasramo jaghanatah vaksah sthalad vane vasah sannyasah sirasi sthitah, Brahmacari muncul dari hati wujud semesta-Ku, Grhastha muncul dari pinggang-Nya, Vanaprashtha muncul dari dada-Nya dan Sannyasi muncul dari ke pala wujud semesta-Ku itu” (Bhagavata Purana 11.17.14).

Berdasarkan sloka tersebut, hubungan antara Catur  Asrama dengan Tri-Guna dapat diringkas sebagai berikut.

Dalam hubungannya dengan lembaga sosial spiritual Varna-Asrama yang merupakan pondasi kehidupan beradab, maka menurut Veda, seseorang di katakan maju dan berhasil dalam hidupnya di dunia fana jika dia tergolong Brahmana dan hidup sebagai Sannyasi. Sebab, tingkat Varna dan Asrama tertinggi ini menuntun dia menuju alam rohani Vaikunthaloka.

Dengan adanya penggolongan alamiah manusia kedalam Catur Varna, maka manusia diwajibkan bekerja secara professional  untuk kesenangan Tuhan; seperti halnya kepala, tangan, paha dan kai bekerja secara professional dalam hubungan harmonis satu dengan yang lain untuk mengenyangkan perut.

Veda amat menekankan agar setiap orang bekerja secara professional dan melarang keras setiap orang melakukan/mengambil pekerjaan yang bukan professinya. Dikatakan,”Sreyan  svadharma viguna na prakyah svanusthitah para  dharmena, adalah lebih baik melaksanakan pekerjaan sendiri walaupun tidak sempurna dari pada melaksanakan pekerjaan orang lain dengan sempurna. Sebab, jivanti sadyah patati jatitah,  orang yang bekerja tidak sesuai dengan tugasnya sendiri, melanggar aturan (kitab suci) dan disisihkan dari golongan sosialnya”(Manu Smrti 10.7)

Pentingnya professionalisme kerja ini ditekankan berulang-kali oleh Sri Krishna, “Sreyan svadharma vigubah paradharmat sva nusthitat, jauh lebih baik melaksanakan tugas-pekerjaan sendiri meskipun tidak sempurna dari pada melaksanakan tugas-pekerjaan orang lain. Sebab, sva dharma nidhanam sreyah  para dharmo bhayavahah, mati dalam melaksanakan tugas pekerjaan sendiri lebih baik dari pada melaksanakan tugas-pekerjaan orang lain karena berbahaya menunuruti pola hidup orang lain; dan svabhava niyatam karma kurvan napnoti kilbisam, bekerja sesuai dengan sifat dan watak sendiri tidak terkena reaksi dosa” (Bhagavad Gita 3.35 dan 18.47).

Setiap golongan sosial (varna) dapat mencapai kesempurnaan hidup dengan bekerja secara professional  dan  mempersembahkan hasil kerjanya sebagai  yajna  kepada Sri Krishna. Dikatakan, “Svakarmana tam  abhyarcya  siddhim vindati manavah, dengan mempersembahkan (hasil) kerjanya sendiri (sebagai yajna) kepada Tuhan, sang manusia mencapai kesempurnaan hidup” (Bhagavad Gita 18.46). Kesempurnaan hidup = mukti, lepas dari kehidupan material dunia fana yang penuh duka dan derita.

Veda tidak mewajibkan kaum wanita menjalani pendidikan spiritual seperti kaum lelaki dan menuruti aturan spiritual Catur-Asrama agar secara rohani bisa maju. Pendidikan bagi kaum wanita berpusat pada pelaksanaan tugas-pekerjaan rumah-tangga seperti mengolah hasil Bumi  menjadi bahan makanan, memasak, menjahit, menenun pakaian, membuat hiasan rumah dan  kegiatan  industri rumah tangga lainnya.

Dalam hubungan ini, Veda menyatakan, “Na strisvantantayam arhati, kaum wanita tidak layak hidup dan bergaul bebas di masyarakat seperti kaum lelaki” (Manu Smrti 9.13). Mengapa dikatakan begitu? Sebab wanita tergolong kaum lemah baik secara pisik maupun mental, sehingga harus selalu dilindungi ketika masih kanak-kanak oleh orang-tua (ayah-ibu)-nya, oleh suaminya ketika sudah menikah dan oleh putra-putrinya ketika sudah tua.

Setelah mencapai usia dewasa, seorang wanita harus segera  menikah  dengan seorang Brahmacari. Sebab dikatakan, “Vicemaha vaivahiko viddhih  strinam,  bagi seorang wanita, pernikahan (vivaha) itu sama dengan diksa, inisiasi” (Manu Smrti 2.67). Itu langkah pertama yang harus dilakukan. Langkah kedua adalah, sebagai istri, sang wanita harus melayani suaminya dengan sebaik-baiknya agar sang  suami maju secara rohani. Sebab dikatakan, “Patiseva gurau vasah, melayani suami dengan  tulus  di rumah sama dengan tinggal di Gurukula”(Manu Smrti 2.67)

Langkah ketiga yang harus dilakukan oleh sang wanita adalah mengerjakan pekerjaan rumah-tangga dengan senang hati. Sebab dikatakan, “Grhartho’ gnir parikriya, mengerjakan pekerjaan rumah-tangga dengan senang hati sama dengan melaksanakan agnihotra-yajna setiap hari” (Manu Smrti 2.67).

Langkah ke-empat adalah, “Nityam tad vrata dharanam, secara rutin menuruti aturan/pola hidup sang suami, atau hidup sesuai dengan kehidupan suami” (Bhagavata Purana 7.11.25). Misalnya, jika sang suami seorang Brahmana, maka si istri harus hidup sesuai aturan/pola hidup seorang Brahamana.

Dengan hidup menuruti aturan Veda  dan  setia kepada suami, sang wanita menjadi  istri  saleh. Sebab dikatakan, “Suddha  nari  pativrata, istri yang selalu setia kepada suami (dalam kesenangan  maupun kesusahan) adalah wanita saleh”.

Peranan istri sebagai pendamping suami dalam menyeberangi samudra kehidupan material dengan menggunakan perahu Varna- Asrama Dharma dapat diringkas sebagai berikut.

(a)    Mengingatkan suami bila dirasa menyimpang dari aturan hidup Varna dan Asrama nya

(b)   Dengan teguh dan setia menuruti kehidupan spiritual Grhastha bersama sang suami, dan

(c)    Dengan segala ketulusan hati merelakan suami menempuh kehidupan Vanaprashtha.

Namun, hal ini tidak berarti Veda membatasi peran seorang wanita. Wanita dapat seperti laki-laki asalkan dia mampu melakukannya. Hal ini dibuktikan dengan dikenalnya 32 Brahmavadinis (Rsi wanita) yang juga bertindak sebagai penerima Veda, antara lain yaitu; Maitreyi, Gargi, Lopamudra dan lain-lain.

Lembaga Varna Asrama pada jaman kaliyuga ini hanya tinggal bayangan yang terputar-balik yaitu profesi Sudra dominan, dijadikan cita-cita kehidupan, didambakan, dikagumi dan dihormati. Sedangkan profesi Brahmana di-lalaikan, di anggap tidak bermanfaan buat kehidupan, dianggap pola hidup hina, rendah, tidak rasional, keliru, sesat dan menyengsarakan.

Lembaga Varna-Asrama dianggap doktrin kehidupan keliru dan tidak manusiawi. Sebab lembaga sosial-spiritual ini:

  1. Dianggap mewajibkan setiap orang hidup melarat sejak kecil sampai tua dan sampai saat ajal tiba
  2. Tidak menghargai ke bebasan individu untuk berikhtiar sesuai dengan kemauannya agar hidup bahagia di dunia fana
  3. Tidak ilmiah dan alamiah, sebab mereka yang menyatakan diri Brahmana, tidak memiliki kualifikasi sebagai Brahmana, dan justru menjadi sumber pertentangan dan pertengkaran di masyarakat.

Kebenaran lembaga Varna-Asrama tidak dipahami dengan benar karena mayoritas penduduk jaman Kali yang disebut modern adalah kaum Sudra.

Dan lembaga sosial-spiritual Veda ini di-campakkan pada jaman modern sekarang karena kaum Brahmana sejati hampir tidak ada lagi.

Bagaimana kondisi kedidupan varna-asrama saat ini?

  1. Rakyat dididik untuk mengejar kesenangan material semu dan sementara
  2. Hutan di muka Bumi  rusak binasa
  3. Para Pemimpin/Pejabat negara korup
  4. Alam dan lingkungan hidup semakim parah terkena polusi
  5. Moralitas manusia semakim merosot
  6. Manusia bekerja keras dalam kesia-siaan, dan
  7. Berbagai macam penyakit, tindak kekerasan dan bencana alam semakim menyengsarakan kehidupan manusia.
%d bloggers like this: