Dalam Bhagavad Gita 10.40 Sri Krishna berkata, “Nanto’smi mama divyanam vibhutinam, wujudKu yang rohani nan mulia tidak terbatas”. Sedangkan Brahma sang Pencipta  dunia fana berkata “Advaitam acyutam anadim ananta rupam, Sri Acyuta (Krishna) yang satu tiada duanya itu, tidak berawaldan memiliki wujud beraneka-ragam tak  terbatas” (Brahma Samhita 5.33).

Menurut Veda, perwujudan Tuhan dapat diinsyafi dengan mengerti:

  1. alam semesta material adalah wujud semesta Tuhan (Bhagavata Purana 1.5.20, Idam hibhagavan iva. Mundaka Upanisad 2.1.10, purusam evedam visvam),
  2. para Avatara yang turun ke dunia fana dalam beraneka-macam wujud untuk menegakkan dharma dan membasmi adharma (Brahma Samhita 5.39,ramadi murtesu kala niyamena tistham nanavataram ….),
  3. huruf OM (Pranava Omkara) yang mengawali setiap mantra Veda adalah juga wujud Tuhan (Bhagavad Gita 7.8, pranavah sarva vedesu. Bhagavad Gita 9.17, vedyam pavitram omkara),
  4. Nama suci Tuhan seperti Rama, Hari atau Krishna adalah wujud Tuhan pula (Padma-Purana, nama cintamani Krsna … abhinatvam nama naminoh, sebagaimana dikutip dalam Padyavali 25),
  5. Arca Vigraha, gambar Tuhan yang dipuja di kuil/mandir adalah juga wujud Tuhan (Padma Purana, arcye visnau siladhir .. Yasya va narakisah).

Mengenai Arca, dalam Bhagavata Purana 10.40.7 Para bhakta berdoa, “Yajanti tvam maya vai bahu murtyeka murtikam, Tuhanku, meskipun Anda mewujudkan diri dalam berbagai macam rupa dan bentuk, tetapi Anda tetap satu tiada dua, dan kami hanya menyembah diri-Mu saja”.

Dalam Caitanya Caritamrta dikatakan, “Pratime ne ha tumi saksad vrajendra nandana, Tuhanku tercinta, Anda bukanlah patung, melainkan Anda adalah putra Nanda Maharaja sendiri” (CC Madhya-Lila 5.96).

Pendapat/pandangan keliru terhadap pemujaan Arca Vigraha Tuhan dapat diringkas sebagai berikut.

Ada 9 (sembilan) proses bhakti (Bhagavata Purana 7.5.23) yaitu:

  1. Sravanam (mendengar tentang Sri Krishna beserta lila Beliau).
  2. Kirtanam (memuji-muji Sri Krishna dan lila-Nya nan ajaib).
  3. Smaranam (mengingat Sri Krishna dan lila-Nya).
  4. Pada sevanam (melayani kaki Padma-Nya).
  5. Arcanam (memuja Arca Vigraha Beliau).
  6. Vandanam (memanjatkan doa-doa pujian kepada-Nya).
  7. Dasyam (menjadi pelayan-Nya).
  8. Sakhyam (menjadi sahabat karib-Nya), dan
  9. Atma nivedanam (berserah diri kepadan-Nya).

Dalam kitab Bhakti Rasamrta Sindhu, proses Arcanam termasuk kegiatanan Bhajana-Kriya dalam tangga/tahapan jalan kerohanian bhakti. Tangga/tahapan ini adalah:

  1. Sraddha (keyakinan teguh pada kebenaran kitab suci).
  2. Sadhu-sanga (bergaul dengan para rohaniawan suci).
  3. Bhajana-kriya (memuja dan melayani Arca vigraha Tuhan).
  4. Anartha-nivrtti (terhapusnya kotoran hati dan pikiran).
  5. Nistha (mantap dalam jalan kerohanian bhakti).
  6. Asakti (kemelekatan kepada Tuhan).
  7. Bhava (bangkitnya cinta-kasih kepada Tuhan), dan
  8. Prema (pencapaian cinta murni sejati kepada Tuhan) (Bhakti Rasamrta Sindhu 1.4.15-16).

Dalam Bhakti Rasamrta Sindhu Purva Vibhaga 1.2.90 dikatakan, “Sri murter anghri sevane, seseorang hendaklah melayani kaki padma kaki Tuhan. Dan dalan Caitanya Caritamrta Madhya-Lila 22.128 dikatakan, “Sri murtira sraddhaya sevana, seseorang hendaklah melayani murti Tuhan dengan penuh kepercayaan.

Ada 8 (delapan) jenis Arca vigraha yaitu:

  1. Arca terbuat dari kayu.
  2. Arca terbuat dari logam (emas, perak, tembaga, dsb).
  3. Arca terbuat dari tanah lihat.
  4. Arca terbuat dari kain dan cat.
  5. Arca terbuat dari pasir.
  6. Arca terbuat dari batu.
  7. Arca terbuat dari permata, dan
  8. Arca yang di-bayangkan dalam pikiran (Bhagavata Purana 11.27.12).

Bhakta murni melihat Arca Vigraha Sri Krishna sebagai Beliau pribadi karena hatinya diliputi oleh bhakti (cinta-kasih) kepada-Nya. Sebab dikatakan,“Premanjana cchurita bhakti vilocanena santah sadaiva  hrdayesu vilokayanti yah syamasundaram,  bhakta  murni (santa) melihat Beliau sebagai Syamasundara didalam hatinya yang diliputi salep prema” (Brahma Samhita 5.38). Itu berarti sang bhakta melihat Arca Vigraha-Nya sebagai Beliau sendiri.

Dalam Bhagavad Gita 6.30 Sri Krishna sendiri berkata,”Yo mam pasyati sarvatra, dia (bhakta-Ku) melihat Aku dimana saja”. Itu berarti sang bhakta pun melihat Beliau pada Arca Vigraha-Nya. Dengan kata lain, dia melihat Arca Vigraha-Nya adalah Beliau pribadi.

Cinta (bhakti) kepada tuhan timbul jika seseorang bebas dari anartha. Anartha adalah kotoran yang menyelimuti hati dan pikiran yaitu:

  1. Asat trsna, kemelekatan pada harta/jabatan/kesenangan material dunia fana
  2. Hrdaya daurbalyam, kepicikan/kelemahan hati.
  3. Aparadha, kesalahan dalam pelayanan bhakti kepada arca vigraha tuhan (seva-aparadha) dan kesalahan kepada para bhakta lain (vaisnava-aparadha).
  4. Brahma-tattva, filsafat yang tidak mengakui adanya wujud pribdi rohani Tuhan yaitu filsafat mayavada.

Contoh praktis melihat berdasarkan cinta antara lain;

  1. Video si bayi dilihat oleh sang ibu sebagai si bayi itu sendiri.
  2. Jepit rambut si gadis tercinta di lihat oleh sang pemuda sebagai si gadis kekasihnya sendiri.
  3. Foto mendiang suami dilihat oleh sang janda sebagai suaminya sendiri.

Apa bedan Arca vigraha dan berhala? Arca vigraha adalah wujud Tuhan yang dibuat dan diperlakukan sesuai petunjuk sastra (kitab suci veda), sedangkan berhala adalah wujud yang dibuat berdasarkan imaginasi seseorang dan diperlakukan sesuai dengan kehendak orang itu.

Veda menyatakan ,”Atah sri krsna namadi na bhaved grahyam indriyaih sevon mukhe hi jihvadau svayam eva spurathy adah, nama,wujud dan hal-hal lain tentang Sri Krishna tidak dapat dipahami secara benar dengan indriya jasmani kasar. Hanya setelah seseorang melakukan pelayanan bhakti dengan lidahnya mengucapkan nama-nama suci Beliau serta menikmati prasadam-Nya, dia menjadi tersucikan dan berangsur-angsur mengerti tentang diri pribadi Beliau” (Padma Purana sebagaimana dikutip dalam Bhakti Rasamrta Sindhu 1.2.234).

Canakya Pandita berkata,”Na devo vidyate kastha na pasane na mrumaye, Tuhan tidak ada pada patung yang terbuat dari kayu, batu atau tanah. Bhave hividyate devas, Tuhan ada dalam bhakti. Tasmad bhave hi karanam, maka bhakti adalah penyebab Beliau ada pada patung itu” (CN.8.11).

Patung/gambar/lambang/simbul menunjukkan identitas:

  1. Gambar/foto sang Ayah diakui oleh si Anak sebagai ayahnya sendiri. Ketika temannya yang jahil meludahi gambar/foto itu, si Anak jadi marah dan langsung memukul temannya itu.
  2. Bendera merah putih adalah lambang negara Indonesia dan dianggap negara Indonesia itu sendiri. Sebab, bila seseorang merobek bendera itu didepan umum, dia akan segera ditangkap polisi.
  3. Patung pahlawan dianggap si Pahlawan itu sendiri. Sebab bila seseorang merusak patung itu, dia akan segera ditangkap polisi.

Jadi dalam kehidupan sehari-hari, gambar/foto, bendera dan patung itu tidak dianggap sebagai benda mati yang tidak bermakna apapun. Tetapi semua itu dianggap sebagai sesuatu yang bermakna, sakral dan harus dihormati. Begitu pula, Arca Vigraha dilihat dan diperlakukan oleh bhakta-Nya sebagai Beliau pribadi, bukan sebagai benda mati yang berwujud khayal tanpa makna apapun. Karena itu, bila pemujaan kepada Arca Vigraha Sri Krishna dianggap kegiatan khayal dan sesat, dan dengan demikian para bhakta yang melakukannya adalah orang-orang bodoh atau pandir, maka semua  orang  di muka Bumi yang menghormati lukisan leluhurnya, bendera kebangsaannya dan juga patung pahlawannya, adalah manusia-manusia pandir pula.

Sungguhkah begitu? Tentu saja tidak. Sesungguhnya mereka yang mecela pemujaan Arca Vigraha Tuhan itulah orang-orang bodoh dan dungu karena berpikir dangkal, picik dan miskin pilsafat.

Atas karunia-Nya yang tidak bersebab, Sri Krishna berkenan hadir dihadapan para penyembah (bhakta)-Nya sebagai Arca Vigraha agar mereka mudah berhubungan dengan-Nya dan melayani-Nya sesuai dengan petunjuk kitab suci Veda.

Petunjuk Veda agar sang bhakta memuja dan melayani Arca Vigraha-Nya sama halnya seperti  petunjuk Jawatan Pos agar setiap orang (tanpa argumen) memasukkan suratnya ke kotak Pos yang telah tersedia dan surat itu pasti akan sampai ke tujuan.

Begitu pula, dengan memuja dan melayani Arca Vigraha Sri Krishna dibawah bimbingan guru kerohanian, pasti doa-doa pujian sang bhakta di dengar oleh Beliau. Makanan yang dia persembahkan kepada Arca Vigraha-Nya, pasti disantap dengan senang hati oleh Beliau. Dan pelayanan yang dilakukan kepada Arca Vigraha-Nya, pasti menyenangkan Beliau pribadi.

Analogi pilosofis tentang pemujaan Arca Vigraha dapat di analogikan bagai Anak kecil dungu berkata kepada Ayahnya,”Wah, ini kotak Pos tidak punya tangan dan kaki. Bagaimana ia bisa membawa surat ke tempat lain?”. Demikian juga mereka yang mencela pemujaan Arca Vigraha Tuhan sebagai pemujaan berhala dan kesesatan, tidak sadar bahwa dirinya sebodoh dan sedungu si Anak kecil itu ketika berkata,”Wah, ini patung adalah benda mati yang tidak bisa bergerak. Bagaimana mungkin ia bisa mendengar doa, menikmati hidangan dan merasakan layanan pemujanya?”. Seseorang hanya bisa mengerti bahwa Arca Vigraha Sri Krishna adalah Beliau sendiri hanya dengan melaksanakan proses bhakti: Arcanam. Seperti halnya anda bisa mengerti apa sebenarnya susu yang enak itu hanya dengan meminumnya, bukan dengan meraba, mencium ataupun melihatnya.

Sementara mencela pemujaan Arca Vigraha, orang-orang materialistik dan atheistik membuat gambar dan patung sang Pemimpin yang telah mati dan menghormatinya dalam setiap upacara kenegaraan. Penganut ajaran non-Vedik juga berkata bahwa Tuhan maha besar tidak terbayangkan dan tak terpikirkan, tetapi mereka selalu berkata bahwa dirinya bertemu dengan Tuhan setiap kali mereka sembahyang dan sungguh mencintai-Nya. Disamping itu semua praktek keagamaan non-Vedik juga menggunakan simbol-simbol tertentu yang secara sadar ataupun tidak di sadari adalah simbolisasi “perwujudan” dari Tuhan.

Special Thanks to Haladara Prabhu that provided materials for this article.

Translate »
%d bloggers like this: