Pernahkah kita berpikir kenapa seseorang dikatakan telah pergi atau telah tiada pada saat dia meninggal? Bukankah badannya masih terbujur kaku tidak bergerak? Siapakah yang telah pergi?

Dengan demikian bukankah pada dasarnya sebagian besar orang meyakini bahwa kita ini bukan badan kasar ini, tetapi sesuatu di balik itu yang pada dasarnya tidak akan pernah mati disaat badan ini membusuk.

Bhagavad Gita 7.4 dan Katha Upanisad 1.3.3-4 menjelaskan bahwa badan setiap mahluk hidup, baik yang kompleks seperti badan manusia maupun badan binatang bersel satu terdiri dari 3 unsur, yaitu unsur material kasar dan halus serta unsur spiritual.

Dikatakan bahwa unsur penyusun badan kasar ini terdiri dari 20 jenis unsur material kasar yang nampak oleh mata (gross material body), yaitu;

Sedangkan unsur halus penyusun badan material ini terdiri dari;

  1. Ahamkara, Ego atau keakuan palsu
  2. Manah, pikiran
  3. Buddhi, Kecerdasan.

Ketiga material ini membentuk badan halus yang tidak tampak oleh mata.

Unsur material kasar dan halus ini dalam Bhagavad Gita 7.5 disebut sebagai Apara-prakrti, tenaga material dari Tuhan (external energy).

Sedangkan unsur spiritual yang juga disebut atma, isvara, purusa, ksetrajna yang tidak dapat dijangkau oleh pengamatan material dalam Bhagavad Gita 7.5 disebut Para Prakrti, atau tenaga marginal dari Tuhan yang merupakan penyebab badan jasmani ini dapat hidup dan beraktifitas.

Badan jasmani yang berhakekat sementara mengalami 6 (enam) tahap perkembangan yaitu: (a) Lahir. (b) Tumbuh dewasa. (c) Menghasilkan keturunan (kawin). (d) Kondisinya merosot. (e) Menjadi tua, dan akhirnya (f) Mati.

Dikatakan, “Asann api klesada asa dehah, badan jasmani yang sementara ini adalah sumber segala derita (Bhagavata Purana 5.5.4). Idam kalevaran asesa rujam, badan jasmani adalah sarang beraneka macam penyakit (Bhagavata Purana 7.9.25)”. Sementara itu Bhagavad Gita 2.22 mengumpamakan bahwa badan jamani ini bagaikan pakaian yang dipakai oleh Jiva/atman yang bersifat kekal. Sedangkan Bhagavad Gita 18.61 dan Katha Upanisad 13.3.3-4 menganalogikan badan dan panca indria persepsi sebagai kereta, panca indria pekerja sebagai lima buah kuda penarik kereta, pikiran sebagai tali kendali, kecerdasan sebagai kusir dan sang Jiva yang diselimuti ego sebagai penumpang kereta.

Badan jasmani di-ibaratkan pula sebagai kota yang memiliki 9 gerbang (gapura) yaitu:  (a) Dua lobang mata, (b) Dua lobang telinga, (c) Dua lobang hidung, (d) Satu lobang mulut, (e) Satu lobang anus, dan (f) Satu lobang kemaluan. Dikatakan bahwa sang jiva hidup aman dan tenang di dalam kota badan jasmaninya bilamana ia menutup semua gerbang kotanya sehingga musuh tidak bisa masuk.

Padma Purana menyatakan bahwa di alam semesta material ini ada 8.400.000 (delapan juta empat ratus ribu) jenis badan jasmani sesuai dengan tingkat kesadaran (keinsyafan diri) sang makhluk hidup (jiva).

Badan-badan tersebut (sebagaimana telah dijelaskan diatas) disediakan oleh Sri Krishna sebagai sarana (baju, kendaraan atau tempat tinggal) bagi sang makhluk hidup (jiva) untuk menikmati alam material  dalam ikhtiarnya hidup bahagia secara terpisah dari-Nya.

Badan jasmani jenis manusia mencakup badan jasmani Deva (Sura), Asura, Gandharva, Apsara, Kinnara, Kimpurusa, Carana, Yaksa, Rakasasa, Pisaca dan berbagai makhluk halus seperti Vetala, Yatudhana dan ber macam-macam Bhuta.

Jenis-jenis badan jasmani setiap mahluk hidup ini diberikan kepada sang jiva sesuai dengan karmanya.

Veda menyatakan,”Durlabham manusam janma, kelahiran dengan badan jasmani manusia amat sulit diperoleh (Bhagavata Purana 7.6.1). Nrjanma akhila janma sobhanam, lahir dengan badan jasmani manusia adalah paling berharga dari semua jenis kelahiran (Bhagavata Purana 5.13.21)”.

Badan jasmani manusia adalah bagaikan perahu yang sangat baik dan cocok untuk menyeberangi samudra kehidupan material yang menyengsarakan. Sang guru kerohanian = nakhoda andal, dan ajaran Veda = angin bagus yang mendorong perahu ke tempat tujuan yaitu alam spiritual Vaikunthaloka (perhatikan Bhagavad Gita 4.34).

Bila seseorang tidak memanfaatkan badan jasmaninya sebagai manusia untuk melakukan kegiatan spiritual pelayanan bhakti kepada Sri Krishna, maka praktis dia berkegiatan  seperti binatang yaitu hanya sibuk dalam urusan makan, tidur, berketurunan dan bertahan diri. Akibatnya, dia tetp terjerat dalam linghkaran samsara.

Proses sang jiva menggunakan badan jasmani untuk menikmati kesenangan material dunia fana, dijelaskan oleh Devarishi Narada kepada Raja Pracinabarhisat dengan menuturkan cerita allegoris tentang Raja Puranjana (Bhagavata Purana  skanda 4 Bab 25-29). Adapaun nama-nama allegoris (kiasan) setiap unsur badan jasmani dan hal-hal lain yang terkait dengannya adalah sebagai berikut.

Proses sang jiva memanfaatkan fasilitas badan jasmani untuk menikmamati dunia fana, dijelaskan secara allegoris sebagai berikut.

Sang jiva menikmati obyek-obyek indriya (wujud, aroma, rasa, suara dan sentuhan) yang memberinya kebahagiaan material dengan selalu ditemani oleh dua pelayan/pengawal buta yaitu Nirvak (tangan) dan Pesakrt (kaki).

Setelah menikmati kesenangan material melimpah selama hidupnya, proses sang jiva meninggalkan badan jasmaninya secara terpaksa, dijelaskan secara allegoris sebagai berikut.

Oleh karena pada saat ajal Raja Puranjana hanya ingat kepada istri tercinta, maka dia (sebagai jiva rohani-abadi), setelah menjalani hukuman di neraka selama ribuan tahun karena dosa membunuh banyak binatang, kemudian lahir sebagai putri Raja Vidarbha dengan nama putri Vaidarbhi.

Karma bajik yang diperbuat selama hidup sebagai Raja Puranjana, menyebabkan putri Vaidarbhi mendapatkan suami saleh, seorang bhakta, bernama Malayadhvaja. Karena kegiatan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna yang dilakukannya bersama sang suami, akhirnya Vaidarbhi mendapatkan pencerahan spiritual dan mencapai keinsyafan diri dari Beliau dalam aspek-Nya sebagai Paramatma.

Dengan mengetahui perbedaan badan jasmani dan spiritual ini, semoga kita dapat berangsur-angsur sadar akan kedudukan kita yang sejati, yaitu sebagai Jiva/Atman.

Bhagavad Gita 13.3 sendiri menyatakan bahwa yang disebut pengetahuan adalah memahami /mengerti /menyadari /menginsyafi perbedaan antara badan jasmani yang material dan sementara dengan sang jiva (roh) yang spiritual abadi. Karena itu hanya mereka yang insyaf akan sang diri (jiva)-lah yang layak disebut orang yang berpengetahuan.

Special thanks to:

Haladara Prabhu, Bhagiratha Prabhu, Sadaputa Prabhu, who has provided material and inspiration in every articles in this web

%d bloggers like this: