Imajinasi yang katanya merupakan rekaan ilmiah hasil karya Hollywood telah berhasil menarik perhatian semua orang. Tidak terkecuali masyarakat awam, para kaum itelektual dan rohaniawanpun tidak henti-hentinya berkoar-koar masalah kapan terjadinya kiamat. Suara pro dan kontra datang dari mana-mana. Uniknya, lembaga agamapun ternyata tidak tinggal diam, sampai-sampai sebuah lembaga agama mengeluarkan fatwa larangan menonton film kiamat tersebut.

Patrick Geryl, seorang pekerja laboratorium di Belgia rela meninggalkan pekerjaannya setelah dia merasa tabungannya mencukupi untuk bertahan hidup sampai tahun 2012. Namun ternyata Patrick bukanlah satu-satunya orang yang bertingkah aneh seperti itu, banyak anggota sekte apokaliptis yang meyakini hari kiamat melakukan hal serupa.

Kenapa kiamat menjadi isu yang sangat penting bagi umat manusia? Jawabannya sudah pasti, yaitu ketakutan pada kematian dan sikap materialistis yang berlebih.

Dari mana isu kiamat 2012 ini berawal? Semuanya datang dari usaha pemecahan misteri kalender suku bangsa Maya Amerika yang terkenal sangat maju dalam ilmu matematika dan astronomi. Para arkeolog mengasumsikan bahwa berakhirnya siklus penanggalan bangsa maya pada tanggal 12 Desember 2012 mengindikasikan bahwa berakhir juga peradaban di Bumi ini. Celakanya hal ini juga dikaitkan dengan isu orbit Bumi yang tepat dalam satu garis lurus dengan pusat tata surya. Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan kondisi seperti itu, maka angin matahari akan mengarah ke Bumi. Adanya sunspot dan sunflare yang jumlahnya membengkak, menyebabkan adanya efek terhadap medan magnet bumi. Dikatakan juga bahwa hal ini terjadi lagi untuk pertama kalinya sejak 26.000 tahun yang lalu.

Benarkah kiamat akan terjadi pada tanggal 12-12-2012? Bantahan demi bantahan sudah datang dari berbagai golongan. Dari para ahli astronomi sudah menjelaskan bahwasanya angin matahari sudah biasa menerpa bumi setidaknya dalam kurun waktu setiap 11 tahun dan terbukti bahwa tidak ada masalah akan hal ini. Tetua suku bangsa Maya sendiri sudah membuka mulut prihal kesalahan tafsir yang dilakukan para ilmuan modern terhadap sistem kalender mereka. Mereka mengatakan bahwa dalam singkronisasi kalender Maya yang menggunakan basis bilangan yang berbeda dengan kalender Masehi menyebabkan seolah-olah terjadi siklus berulang kalender Maya yang jatuh pada tanggal 12 Desember 2012. Adanya akhir siklus ini bukan berarti dunia ini berakhir.

Siapakah Bangsa Maya yang memiliki ilmu astronomi yang sangat canggih tersebut?

Puing-puing peradaban suku Maya yang dulu di hancurkan oleh Christopher Columbus dan koloninya akibat semangat gospel yang membabi buta  sekarang malah diakui sebagai peradaban yang sangat modern dan bahkan menggemparkan dunia akibat tafsir terhadap sistem kalendernya.

Sisa-sisa arkeologi Maya kuno mexico tersebar di bagian Yucatan, Campeche, Tabasco, daerah sebelah timur tengah dari Chiapas dan juga sebagian wilayah Quintana Roo, republik Meksiko. Seluasnya sekitar 125.000 mil persegi, jejak-jejak peradaban ini juga dapat ditemukan di bagian barat Republik Honduras, Peten, dataran tinggi Guatemala dan juga di seluruh Honduras.  Columbus secara keliru menyebut daerah ini sebagai India. Meskipun ia menyadari kesalahan dan mengoreksinya  kemudian, namun penduduk asli Amerika sampai sekarang akhirnya tetap disebut “orang India” atau Indian.

Sudah sangat banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan asal usul bangsa Indian Amerika ini dan hubungannya dengan peradaban kuno yang lain. Beberapa sejarawan meyakini teori yang menyatakan bahwa Suku Indian adalah orang Asia yang menyeberangi Asia melalui Selat Bering di Alaska dan mencapai Benua Amerika sekitar 12.000 – 15.000 tahun yang lalu, dan beberapa kalangan lagi yakin bahwa suku Indian adalah suku asli yang memang dari awal ada di sana. Meski begitu banyak waktu dan biaya telah dihabiskan untuk menguak tabir ini, namun sampai saat ini bangsa Indian kuno tetap terselubung dalam  misteri. Mengutip  pernyataan Glyn Daniel dari bukunya The First Civilization, “dalam waktu 15 tahun, antara 1519-1533, Bangsa Eropa menemukan benua Amerika dan menghancurkan tiga peradaban secara brutal, yaitu Aztec di Meksiko, Maya dari Yuacatan dan Guatemala serta Inca di Peru.” Elaborasi unik peradaban Maya telah menjadi tantangan tersendiri bagi para penjelajah imajinasi dan ahli sejarah. Maya telah mencapai peradaban tertinggi dalam bidang seni, kerajinan, patung dan hieroglif. Terdapat teori yang tak terhitung banyaknya tentang orang-orang kuno ini. Mereka memiliki peradaban yang luar biasa dalam hal sosial, ekonomi, bidang politik dan agama, kalender mereka dan tulisan-tulisan hiroglif. Meskipun ilmuwan modern telah mencapai keberhasilan signifikan dalam memecahkan sistem kalender Maya, namun tak satu pun yang sudah mampu memecahkan sistem tulisan hiroglif mereka.

Apa hubungan antara peradaban-peradaban tertua di dunia seperti peradaban Mesopotamia dan peradaban Mohenjodaro-Harapah (India) dengan peradaban “dunia baru” Amerika?

Kemungkinan adanya hubungan antara peradaban kuno di Asia, khususnya India kuno dengan kebudayaan Amerika kuno tidak dapat diterima oleh banyak sejarawan. Namun juga terdapat ilmuan-ilmuan terkemuka seperti Mackenzie, Hewitt, Tod, Pococke dan Mrs Nuttal sudah mengumpulkan banyak data untuk menunjukkan peradaban Amerika kuno  dipengaruhi oleh peradaban India kuno. Satu hal yang pasti, pada masa pasca-Columbus yang berlangsung sekitar 300 tahun adalah kisah penghancuran kejam dan brutal terhadap bangunan-bangunan, dokumen berharga, dan kuil kuno serta pembantaian yang tidak berprikemanusiaan terhadap penduduk asli Amerika (Indian). Hanya tiga codex dari ‘Chilam Balam’ yang ternyata selamat secara utuh dari tragedi tersebut.

Ada dua penemuan arkeologi khusus yang merujuk tahun 761 M, yang mengarahkan pada hubungan peradaban Maya dengan peradaban kuno India. Yang pertama adalah ukiran dinding (Panel No 3 dari Candi 0-13, di Piedras Negras, Guatemala; direproduksi sebagai Plate 69, halaman 343 dari “The Ancient Maya ‘oleh S. G. Morley) yang terkait dengan puncak peradaban arsitektur dan seni patung bangsa Maya. Tampaknya bahwa adegan yang digambarkan dalam dinding tersebut sangat berkaitan dengan kisah termasyur ‘Ramayana’ dari India. Di sana diperlihatkan seorang raja duduk di tahta dan satu pelayan dengan dua anak-anak berdiri di sebelah kanan tahta. Seorang penjaga berdiri belakang. Di sisi lain raja, tiga tokoh penting berdiri sedangkan petinggi kerajaan yang lain duduk di depan tahta. Raja di atas tahta tersebut diyakini sebagai Suryavanshi Ram (Rama dari dinasti Surya) dengan dua saudara termasyhur berdiri di sampingnya (Bharata dan laksmana). Kedua anak kecil dalah putranya (Kusa dan Lawa). Ukiran-ukiran tersebut mengindikasikan adanya hubungan antara India dengan Meksiko yang berlangsung setidaknya pada abad ke-8. Bentuk relief dan ukiran angka-angka dapat dibandingkan dengan yang ditemukan di gua Ajanta dan Ellora di India.

Penemuan arkeologi lain di tempat yang sama yaitu Piedras Negras Guatemala, adalah sebuah batu stela (No 12, Plate No 18, halaman 61 dari “The Ancient Maya ‘oleh SG Morley). Sebuah kejadian mitologis telah diukir dalam Stela, menggambarkan kematangan arsitektur dan seni bangsa Maya pada tahun 594-889 M. Terdapat gambar dewa dengan delapan tangan (ashtabhuja) yang indah.  Bentuk perwujudan dewa dengan delapan tangan ini hanya dimiliki oleh Hindu, lalu kenapa dapat ditemukan di sisa peradaban suku Maya? Karena penemuan inilah diindikasikan bahwa yang berkuasa di  Meksiko pada waktu penaklukan oleh Spanyol adalah ‘Aztek’ atau Ashtak (Delapan).

Di indikasikan bahwa tempat dimana puing-puing ini ditemukan yaitu di Piedras Negras merupakan distorsi pelafalan bahasa sansekerta sebagaimana yang banyak terjadi selama ini. Yaitu dari kata ‘Priyadarsh Nagraj’.  Morley telah menjelaskan secara terperinci Budaya dan sosial masyarakat maya dalam bukunya ‘The Ancient Maya’, dimana dia mengutip perkataan Uskup Diego de Landa yang saat itu juga berperan memberhanguskan kebudayaan kuno ini.

Uskup Landa mengatakan: “Orang-orang Maya memiliki jumlah berhala dan candi yang sangat banyak. Para bansawan, pemuka agama dan masyarakat melakukan ritual bersama dan mereka juga melakukan persembahan secara pribadi dihadapan berhala mereka dengan berbagai macam persembahan dan sudah pasti hal ini sangat berhubungan dengan India”.

Beberapa penemuan dan hipotesa terakhir mengatakan bahwa para pelaut dan pedagang dari Asia sudah sangat sering melakukan kontak dengan bangsa Amerika kuno. Pada era Mahabharata dan periode berikutnya raja-raja India memiliki armada laut yang besar yang digunakan untuk melakukan perdagangan dengan Negara-negara di Arab, Eropa, Asia tenggara, dan Samudra Fasifik. Penaklukan Malaya oleh Rajendra Chola, kisah Pelaut besar Buddhagupta (Mahanavik), ekspedisi keagamaan orang India untuk menyebarkan Hindu dan Buddha ke Kamboja, Annam, Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Jepang, Korea, Mongolia dan Cina juga merupakan dasar hipotesa yang kuat akan adanya link antara India kuno dengan Amerika kuno.

Cerita rakyat, Buddha Jatakas juga mengisahkan banyak kisah yang berkaitan dengan petualangan maritime/perjalanan laut yang menegaskan bahwa pengarungan samudra adalah bagian yang penting dari budaya India pada waktu itu.

Pembenaran akan adanya link antara India dan Amerika kuno ini juga dibenarkan oleh Dr V. Ganapati Sthapati yang melakukan pendekatan dari segi Vastu sastra, atau ilmu arsitektur kuno Veda. Vastusastra memiliki aturan-aturan ketat dan unik dalam seni bangunan tempat suci maupun tempat tinggal. Vastusastra diyakini sebagai aturan-aturan yang diwariskan dari Maya Danava yang banyak di singgung dalam kitab suci Veda sebagai sosok yang memiliki kemampuan magis dan kemampuan seni arsitektur yang tak tertandingi.

Pada musim semi 1995 Dr V. Ganapati melakukan perjalanan ke Peru untuk meneliti sisa-sisa bangunan kuno di sana. Betapa mengejutkannya dimana disana dia menemukan kesamaan plot, matrik geometri dan sistem pengukuran masyarakat kuno Peru dengan yang tertulis dalam Vasatipurusha Mandala. Beberapa bangunan juga sangat identik dengan kuil kubah yang disebut Vimana di India Selatan.

Dr Sthapati menemukan bahwa sistem pengukuran yang berkembang di India digunakan terutama di wilayah Peru Kushku. Berbagai bangunan juga dibangun secara ketat sesuai dengan prinsip-prinsip Vasati, sebagaimana dikembangkan oleh Maya Danava. Plot, posisi pintu dan jendela, proporsi, bentuk atap, sudut-sudut kecenderungan dari atap, diameter kolom, lebar dinding dan lain-lain secara sempurna sesuai dengan aturan Vasati, yang masih diterapkan di sebagian besar rumah di India saat ini.

Sulit untuk mengatakan bahwa kesamaan seni arsitektur Veda yang berkembang di India dengan yang terdapat di Peru sebagai suatu kebetulan. Tentunya harus terdapat suatu korelasi antara India kuno dengan bangsa kuno yang hidup di Peru. Apakah Maya Danava yang menurunkan Vastusastra berasal dari Amerika dan mengajarkannya di India ataukah dia pergi dari India ke Amerika dan mengembangkan sistem Vastusastra di sana? Bagaimana dia bisa melakukan perjalanan sejauh itu? Hal ini hanya bisa di jawab jika kita memperhitungkan mistik yang dimiliki oleh Maya Danava.

Menurut catatan sejarah Veda, Maya Danava mempengaruhi  peradaban manusia selama 8.000 tahun. Maya danava juga digambarkan sebagai makhluk dari sistem planet lain yang memiliki segala macam kekuatan mistik dan ilmu astronomi. Dikisahkan bahwa Maya Danava bekerja sebagai seorang arsitek di India Selatan dan teks-teks Veda (Vastusasta).

Disamping itu juga terdapat indikasi adanya hubungan linguistic antara India dengan Amerika kuno. Sangat banyak istilah kata bangsa Maya yang sangat serupa dengan bahasa Veda, yaitu sansekerta. Contohnya kata “K’ultanlini” yang mengacu kepada kuasa/kesadaran Ilahi memiliki kemiripan dengan kata dalam sansekerta “Kundalini” yang mengacu pada maksud yang sama. Dan demikian juga dengan istilah “yoga” dalam bahasa bangsa Maya disebut “Yok’hah”.

Istilah Bangsa Maya, “Chilambalam” untuk menyebutkan ruang kuil castle-piramid Chichen Itza, ternyata memiliki plot yang sama dengan  kuil Vimana di India Selatan. Keduanya dibangun dengan  struktur grid  persegi 8 x 8. Dalam aturan Vastusastra, Vasati, grid persegi disebut Manduka Mandala. Pusatnya disusun atas 4 persegi yang berkorelasi dengan Brahmasthana (tempat Brahma). Yang menurut aturan Vastusastra merupakan pusat energy ilahi yang sangat kuat sehingga tidak cocok sebagai tempat tinggal.

Baik bangunan yang didasarkan pada Vasati maupun bangunan-bangunan bangsa Maya menempatkan ruangan tersuci pada lokasi yang sama, dimana dalam istilah mereka disebut sebagai Chilambalam yang artinya  ruang suci. Yang mengejutkannya, di India selatan setelah Shri Rangam terdapat kuil dewa Siva yang juga memiliki struktur yang sama dan ternyata ruangan sucinya juga di sebut sebagai Chidambaram.

Apakah itu berarti bangsa Maya dan Amerika kuno lainnya adalah penganut Veda?

Referensi:

http://www.indiagov.org/perspec/mar99/maya.htm

http://www.cylive.com/content/38511/Were_the_Mayan_Pyramids_Built_By_the_Vedic_Architect_Maya

http://ponniyinselvan.in/ta/node/4805/backlinks

Translate »
%d bloggers like this: