Kata mitologi, berasal dari bahasa Inggris “myth”. Dalam kamus Webster New World College Dictionary 3rd Edition, kata “myth” diartikan sebagai : “1) any fictitious story; or unscientific account, theory, belief, etc 2) any imaginary persons or thing spoken as though existing.” Artinya : 1) sembarang kisah atau cerita fiksi (tidak nyata/hayalan/dongeng); atau kejadian, teori dan kepercayaan dan lain-lain yang tidak bersifat ilmiah. 2) sembarang orang atau sesuatu yang dianggap seolah-olah benar-benar ada.

Penyebutan Veda sebagai kitab mitos berawal pada masa Kolonial Inggris mulai resmi menjajah India sejak mereka memenangkan pertempuran yang dikenal sebagai Battle of Plassey tahun 1757 [Satsvarupa, 1977]. Beberapa saat setelah itu, sebuah organisasi khusus, Royal Asiatic Society didirikan oleh para Indologis (sarjana-sarjana barat dan misionaris Kristen yang mempelajari dan menterjemahkan Veda dengan tujuan mencari kesalahannya dan memudahkan penyebaran ajaran Kristen) yang membonceng pemerintahan kolonial. Oleh karena banyaknya sloka-sloka Veda yang membahas hal-hal metafisik yang diluar logika mereka, menyebabkan Veda diolok-olok sebagai kitab dongeng atau mitos. Mereka tidak mampu memahami kehidupan-kehidupan lain di susunan alam lain yang diceritakan Veda. Mereka juga tidak memahami bagaimana siddhi (kesaktian) Yoga seperti menghilang, melihat jarak jauh, melakukan teleportasi, menciptakan benda-benda tertentu dapat terjadi. Ketaatan mereka akan ajaran Kristen yang menyimpulkan bahwa bumi dan langit baru diciptakan 6000 tahun yang lalu membutakan mata mereka akan Veda yang menyatakan alam semesta ini sudah diciptakan 155,52 Triliun tahun yang lalu. Disamping itu, hal ini juga terjadi kerena pendekatan empiris dimana mereka hanya menghandalkan kesimpulan berdasarkan panca indra mereka yang terbatas.

Para Indologis juga mulai membuka sekolah dan perguruan tinggi Kristen dan menyebarkan propaganda yang menjelek-jelekkan Hindu. Alexander Duff (1806 – 1878) mendirikan Scots College di Calcutta, yang ia cita-citakan menjadi “headquarters for a great campaign against Hinduism” (pusat kampanye besar melawan Hindu). Alexander Duff & William Carey juga tidak segan-segan menyebut kitab-kitab Veda sebagai “absurdities meant for the amusement of children” yang artinya “serangkaian takhayul yang dimaksudkan untuk hiburan anak- anak”. Sedangkan H.H Wilson mengatakan bahwa “Takhyul (Veda) mereka berpondasi kebodohan. Selama pondasi ini belum dibongkar, maka bangunan diatasnya (yaitu veda), bagaimanapun gila dan busuknya, akan tetap dipercaya…… karena itu, tunjukkan bahwa otorita mereka (yaitu para brahmana) tidak berguna”.

Celakanya, ternyata virus Veda sebagai kitab mitos tidak hanya menjangkiti pemikiran penganut non Vedic, tetapi akhirnya juga menular pada penganut ajaran Veda “modern”. Mereka cenderung mengatakan cerita-cerita yang ada di luar logika mereka sebagai simbol/kiasan/dongeng yang memberi pesan moral semata. Masalahnya, benarkah ajaran Veda hanyalah dongeng/cerita khayalan? Apakah kitab suci Hindu sejajar dengan dongen putri sinderela, pangeran kodok serta dongeng si kancil dan si buaya yag juga menyiratkan pesan moral? Jika anda setuju akan pandangan ini, untuk memperkaya khasanah ajaran Hindu, kenapa dongeng-dongen ini tidak diserap dan dimasukkan sebagai kitab Veda tambahan saja? Bukankah jauh lebih menarik dan lebih mudah dimengerti oleh putra-putri anda?

Apakah anda bangga mengikuti sebuah kitab suci “khayalan” yang hanya didasari atas cerita bohong? Kalau anda orang Hindu yang memiliki pemikiran empiris dan mengatakan Veda sebagai cerita dongeng, maka anda bodoh masih bertahan menjadi Hindu. Harusnya anda segera hijrah meningalkan “dongeng Veda” lalu mencari kitab suci ilmiah yang berdasarkan fakta. Hanya saja, kemana anda harus mencari? Anda tidak akan menemukan ajaran yang bersifat scientific modern yang murni secara total dalam kitab agama manapun. Anda hanya dapat menemukannya dalam jurnal-jurnal ilmiah. Dan andapun harus sadar bahwa “kitab suci” anda yang baru tersebut akan terus mengalami revisi akibat pemahaman ilmiah yang selalu berubah.

Terkait dengan perdebatan panjang antara orang Hindu yang meyakini Veda sebagai kebenaran dengan orang Hindu yang meyakini bahwa ajaran Veda hanya kiasan belaka terjadi lagi dalam majalah Media Hindu edisi April 2010 halaman 52-54. Disana terjadi perdebatan yang cukup alot antara GN. Yadnya, penulis artikel yang mencoba membantahkan anggapan bahwa Purana adalah dongeng dengan redaksi Media Hindu sendiri. Tidak segan-segan redaksi menuliskan komentar langsung dalam artikel yang dikirimkan oleh GN. Yadnya. Kedua pihak punya argumen masing-masing yang cukup kuat tetapi menurut saya semuanya memiliki dasar analisis dan arah pemecahan masalah yang lemah. Adapun problem utama yang dituduhkan pada tulisan GN. Yadnya adalah mengeni metode penulisan artikelnya yang lebih fokus pada truth claim, yaitu pembenaran dari sumber itu sendiri dan penggunaan istilah yang berbeda dengan disiplin ilmu redaksi Media Hindu sehingga sudah barang tentu menimbulkan miss conception.

Jika kita berpikir secara empiris induktif sebagaimana yang digunakan dalam metodologi ilmiah modern maka hal ini wajar dan artikel yang dibuat GN. Yadnya memang sangat lemah. Sedangkan pemaparan yang disampaikan redaksi kelihatannya sangat kuat dipandang dari sisi akademis dengan berbagai istilah “ilmu filsafat modern”-nya. Sayangnya apa yang disanggah oleh redaksi bukanlah arah kesimpulan artikel yang ingin disampaikan oleh GN. Yadnya, tetapi lebih mengarah pada sentimen pribadi dengan black campaign yang pada akhirnya tidak mengarah pada kesimpulan yang bernilai positif bagi pembaca. Setidaknya perdebatan yang terjadi antara redaksi Media Hindu dengan GN. Yadnya ini merupakan gambaran kesuksesan para Indologis dalam menanamkan bom waktu penghancuran terstruktur Veda. Jika tidak segera disadari dan diatasi, sudah barang tentu akan mencerai-beraikan pengikut Veda dan pada akhirnya akan menghancurkan Hindu dari dalam.

Sekarang mari kita coba melihat kedua metode pendekatan yang digunakan dalam melakukan analisa sains modern dengan metode pemahaman kitab suci Veda. Untuk memudahkan pemahaman, kita coba cuplik satu studi kasus, yaitu tentang proses penciptaan alam semesta modern, dalam hal ini Big Bang dengan teori penciptaan Veda yang diambil dari Bhagavata Purana dan Brahma Samhita. Sebagai informasi, Bhagavata Purana atau disebut Srimad Bhagavata adalah kitab yang sangat sering dituduh sebagai kitab dongeng dan karya sastra yang tidak valid. Tuduhan Bhagavata Purana sebagai kitab dongeng juga terjadi dalam perdebatan dalam Media Hindu edisi April 2010 sebagaimana yang sudah saya sampaikan sebelumnya.

Dalam Bhagavata Purana dan Brahma Samhita dijelaskan bahwa di luar konsep ruang dan waktu seperti yang kita pahami saat ini, Maha-Vishnu berbaring di lautan Karana (Lautan Penyebab). Dikatakan bahwa dari pori-pori Maha-Vishnu muncullah “benih-benih alam semesta” yang jumlahnya tak terhingga. Ketika Maha-Vishnu memandang benih- benih itu, Beliau memberikan energi kepada elemen tersebut dengan melakukan ekspansi dan masuk ke dalamnya sehingga alam semesta mulai mengembang dalam kecepatan yang sangat tinggi. Dalam masing-masing alam semesta, perlahan-lahan terbentuklah unsur-unsur alam, mulai dari yang paling ringan hingga yang lebih berat. Dan alam semesta terus menerus mengembang. Alam semesta-alam semesta tersebut eksis dalam kurun waktu satu kali nafas Maha-Vishnu. Saat Maha-Vishnu mengeluarkan nafas, alam semesta diciptakan. Dan pada saat Beliau menarik nafas, alam semesta dileburkan (Cremo, 2004 : 465).

Sekarang perhatikan bahwa baik teori Big Bang maupun uraian Weda mengenai asal usul alam semesta memiliki banyak persamaan dan bahkan dapat dikatakan teori penciptaan Veda jauh lebih lengkap dari Big Bang karena berhasil menjelaskan fenomena white hole – black hole yang menjadi fenomena ganjil dalam ilmu modern saat ini. Big Bang juga mengusulkan adanya lautan energi yang tidak dapat dipahami sebagai sumber munculnya alam semesta. Kitab Weda juga menyatakan hal yang sama. Beberapa ahli kosmalogi menyatakan ada black hole yang menelan alam semesta pada suatu masa, dan sebagai konsekuensinya sudah barang tentu ada kemungkinan adanya white hole sebagai lawan dari black hole yang memuntahkan alam semesta. Weda juga menyebutkan bahwa alam semesta muncul dan terserap ke dalam lubang, dalam hal ini adalah pori-pori kulit Maha-Wishnu. Keduanya juga menyebutkan bahwa pada tahap awal terjadi proses mengembang yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat cepat.
Big Bang dan uraian Weda sama-sama menyatakan bahwa pada saat terjadinya proses mengembang, alam semesta memancarkan cahaya radiasi, keduanya menyatakan bahwa alam semesta terus menerus mengembang, dan sama-sama menyebutkan bahwa proses itu melibatkan alam semesta yang jumlahnya tidak terhingga.
Tentu saja, perbedaan keduanya juga tampak jelas. Uraian Weda menyatakan bahwa penciptaan alam semesta itu terjadi melalui campur tangan Tuhan dalam wujudnya sebagai Maha-Vishnu, sedangkan teori Big Bang menyatakan alam semesta “dimuntahkan” dari lautan energi, yang kalau ditanya lebih jauh, apa dan bagaimana asal mula energi itu, para ahli yang mengusulkan teori itu juga akan bungkam. Mereka akan menjawab bahwa energi itu ada begitu saja tanpa ada kecerdasan ilahi (divine intelligent) yang mengatur dibalik semua proses tersebut.

Disinilah letak tidak adilnya metode pembuktian empiris induktif yang diklaim sebagai medode ilmiah dan mutlak benar oleh para ilmuwan modern yang mengkritik Weda. Ketika kita jelaskan bahwa alam semesta ada karena diciptakan oleh Tuhan, maka mereka akan bertanya: “Lalu, siapa yang menciptakan Tuhan?” Kalau kita jawab “Tuhan itu ada begitu saja tanpa ada yang menciptakan, dan takterdefinisikan, sebab dari segala sebab, sumber segala sesuatu”, para ilmuwan itu akan menyebut Veda dogmatis, fanatik, dan tidak scientific. Tapi lihatlah, bukankah mereka juga berbuat dogmatis ketika mereka mengusulkan teori Big Bang, dan teori-teori lainnya? Ambillah contoh, ketika kita tanyakan darimana asalnya “lautan energi” yang mereka sebut sebagai sumber pelontar “benih- benih” alam semesta itu? Dari mana asalnya white hole dan black hole yang menjadi “pelontar” dan “penelan” alam semesta itu? Mereka juga akan menjawab “lautan energi itu ada begitu saja, terjadi secara kebetulan, tanpa ada yang menyebabkan….” Nah, bukankah itu tidak menyelesaikan masalah? Bukankah mereka mulai dari tengah- tengah, bukan dari asal usul alam semesta itu sendiri? Bukankah seharusnya, kalau mereka menyebut “asal-usul” alam semesta, mereka harus bisa menjelaskan asal-usul lautan energi yang menjadi sumber munculnya alam semesta itu? Ilmuwan itu juga menyebut bahwa “benih” alam semesta yang belum mengembang itu bersifat “immeasurably small, dense, and hot” yang artinya baik ukuran, sifat padat, maupun panasnya tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dan secara matematis. Dan karena mereka scientist, kita dipaksa percaya begitu saja dengan penjelasan mereka, yang sebenarnya juga sama dengan jawaban kita saat mereka bertanya siapa yang mengadakan Tuhan. Bukankah itu juga dogmatis? Bukankah itu juga mitologi?

Suatu ketika Mr. Carl Sagan, seorang ahli kosmologi melakukan show di sebuah TV di Amerika. Dengan bantuan animasi dan simulasi komputer, Mr. Sagan mempresentasikan semua teori yang dikemukakan oleh para ahli fisika astronomi saat ini. Dijelaskannya tentang panjang gelombang cahaya galaxy yang terus bertambah, alam semesta mengembang, teori Big Bang, efek Dopler, dan sebagainya. Para pemirsa terkejut, ketika menjelang akhir acaranya Mr. Sagan terlihat berada di India, berdiri di depan sebuah temple Sri Krishna yang telah berusia ribuan tahun. Mr. Sagan berkata “Para ilmuwan menemukan semua teori yang telah saya paparkan tadi pada tahun-tahun terakhir ini saja, sedangkan di sini, di India, orang sudah mengetahui informasi itu sejak ribuan tahun yang lalu, dari kitab-kitab Weda…” (Danavir Gosvami, 2002).

Sebuah studi kasus lagi tentang ilmu mekanika dalam fisika. Pada awalnya kita mengenal Mekanika Newton. Newton terkenal karena 3 hukumnya, yaitu; (1) dikatakan bahwa suatu benda akan tetap bergerak atau tetap diam jika tidak ada gaya yang diberikan padanya, (2) gaya [F] yang diberikan pada suatu benda bermasa [m] akan berbanding lurus dengan percepatannya [a], (3) suatu benda yang diberikan gaya [F] akan memberikan reaksi dengan memberikan gaya yang besarnya sama dengan arah berlawanan [-F]. Selama bertahun-tahun Hukum Newton diyakini sebagai kebenaran mutlak dalam ilmu fisika. Hanya saja seiring dengan berjalannya waktu dimana ilmu fisika tidak lagi hanya berkutat pada hal-hal makro, tetapi mulai bergerak ke arah sub atomik dan dalam perhitungan waktu sampai mendekati kecepatan cahaya ternyata Hukum Newton tidak sanggup lagi memberikan pembenaran sebagaimana yang ditemukan di lapangan. Hukum Newton tidak mampu mejelaskan kenapa terjadi dilatasi waktu pada saat partikel sub atomik bergerak mendekati kecepatan cahaya. Dalam perhitungan super makro, hukum Newton juga tidak mampu menjelaskan kenapa fenomena lubang hitam (black hole) dapat terjadi. Menyadari kelemahan teori Newton yang sudah terlanjur dianggap sebagai kebenaran ini, para fisikawan akhirnya mengungkapkan gagasan baru mengenai fisika quantum dimana dikatakan bahwa ruang dan waktu tidak bersifat linier sebagaimana padangan Newton. Fisika quantum inilah saat ini yang memberikan penjabaran bahwa black hole terjadi akibat terjadinya singularitas pada kurva ruang dan waktu yang mengakibatkan medan gravitasi sangat besar di titik singular tersebut dan mengakibatkan benda-benda yang terdapat disekitarnya jatuh kedalam lubang tersebut.

Kelihatannya fisika quantum saat ini sudah sangat sempurna dalam penyelesai masalah-masalah yang kita temukan baik dalam sekala makro, super makro maupun masalah-masalah sub atomik, namun sadarilah bahwa jika suatu saat jika kita menemukan problem baru dimana fisika quantum kita saat ini sudah tidak sanggup lagi menjelaskan fenomena yang ada sebagaimana yang dialami oleh teori Newton, maka kitapun harus merelakan “kekalahan” fisika quantum saat ini dengan teori-teori yang baru. Demikianlah seterusnya, ilmu eksakta yang kita bangga-banggakan sebagai kebenaran mutlak juga pada dasarnya bersifat sangat relatif dan terus berubah. Dengan demikian dapatkan kita mengatakan bahwa adanya ketidaksesuaian yang terjadi mengenai apa yang disampaikan Veda yang diturunkan secara empiris deduktif dengan ketidakmampuan teori modern menjelaskan apa yang disampaikan Veda adalah berujung pada ke-absurd-an Veda sebagai dongeng belaka? Tidakkan kita boleh berargumen bahwa teori kelimuan modern kita saat ini belum mampu menjelaskan apa yang disampaikan Veda?

Dengan menerapkan alur logika yang sama dengan permasalahan penciptaan alam semesta dan kenyataan bahwa ilmu pengetahuan ilmiah adalah ilmu yang terus berkembang sebagaimana yang sudah dipaparkan diatas, mari kita coba membuktikan apakah kitab-kitab Purana adalah dongeng atau bukan. Sebagaimana sudah sedikit disinggung di depan, kitab-kitab Purana menceritakan berbagai macam kejadian di masa lampau yang tidak semuanya terlacak oleh pengamatan ilmu-ilmu eksakta saat ini. Kata Purana dapat diartikan sebagai “ancient times” yang menurut New Oxford American Dictionary berarti “the very distant past and no longer in existence” atau terjemahan bebasnya “kejadian yang sudah terjadi pada waktu yang sangat lampau dan tidak dapat ditemukan lagi saat ini”. Mengacu pada Matsya Purana, terdapat lima topik pembahasan yang terdapat dalam Purana, yaitu:

  1. Sarga: penciptaan alam semesta
  2. Pratisarga: penciptaan kedua (secondary creations), dan juga penciptaan setelah peleburan/kiamat.
  3. Vamśa: silsilah para dewa dan rsi-rsi
  4. Manvañtara: penciptaan manusia dan silsilahnya
  5. Vamśānucaritam: sejarah keturunan dan raja-raja dinasti surya dan candra yang berkuasa di muka Bumi.

Sehingga dengan demikian cakupan dari Purana sangatlah luas dan sebagian bersifat abstak. Dalam kaitannya dengan Vamśānucaritam, Purana juga menceritakan kembali poin-poin penting yang disampaikan dalam itihasa (Mahabharata dan Ramayana). Sehingga tidaklah salah dengan cakupan pembahasan yang sangat luas dan dalam kurun waktu yang sangat panjang ini tidak semua bukti-bukti arkeologi bisa dikumpulkan untuk membenarkan semua pernyataan kitab-kitab Purana. Orang yang berpikir secara empiris induktif akan lebih mudah mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Purana adalah dongeng yang tidak masuk akal. Kenapa? Karena ilmu mereka memang belum cukup untuk membuktikan semua hal yang disampaikan oleh kitab-kitab Purana.

Jika orang yang berpikir empiris induktif menolak Purana dan menolak semua otoritas Veda berdasarkan sudut pandangnya yang sempit, itu sangatlah wajar. Namun sangatlah aneh disaat ada orang yang menolak Veda Smrti (Purana dan Itihasa) tetapi sangat mengagungkan Catur Veda. Jika kita membaca Catur Veda, maka disana akan kita temukan doa-doa pujian kepada para dewa, khususnya dewa Indra, Agni, Surya, Varuna dan dewa-dewa lainnya. Disana juga diceritakan banyak hal-hal pada dasarnya sama-sama tidak bisa dirasionalisasikan dengan pendekatan empiris induktif. Jika memang sama-sama tidak masuk akal, lalu kenapa harus menerima Catur Veda dan menolak kitab Purana? Sangat tidak masuk akal bukan?

Dalam Bhavisya Purana disebutkan; “Rg. Yajuh Samatharvas ca bharatam pancaratrakam mula ramayana caiva veda iti eva sabditah … puranani ca yaniha vaisnavani vido viduh, Rg, Yajur, Sama dan Atahrva Veda, Mahabharata, Pancaratra dan Ramayana dan juga kitab-kitab Purana serta Vaisnava tergolong pustaka Veda”. Lebih lanjut dalam Chandogya-Upanisad 7.1.4 disebutkan; “Itihasa Puranah Pancamah vedanam vedah, kitab-kitab Itihasa dan Purana termasuk Veda kelima”. Demikian pula dalam Mahabharata Moksa-Dharma 3.40.11 dikatakan; “Itiihasa Puranam ca pancamo veda ucyate, kitab-kitab Itihasa dan Purana disebut Veda kelima”. Jadi dari petikan sloka-sloka ini sangat jelas dikatakan bahwa Itihasa dan Purana adalah bagian dari Veda yang tidak terpisahkan. Tentunya dengan pengutipan sloka-sloka secara cross reference disini dapat membantahkan anggapan truth claim sebagaimana yang dituduhkan redaksi Media Hindu. Kecuali mereka tidak mengakui kebenaran semua kitab-kitab ini dan hanya menjadikan Catur Veda sebagai pegangan. Namun tentunya anggapan ini tidak bisa diterima karena pada kenyataannya untuk mengerti dan melantunkan Catur Veda dengan benar, seseorang harus mengerti Siksa (ilmu mengucapkan mantra-mantra Veda), Vyakarana (ilmu tata-bahasa), Nirukti, (kamus Veda), Canda (lagu/irama/tembang membaca sloka-sloka), Jyotisha (ilmu Astronomi untuk menentukan hari baik melaksanakan ritual), dan Kalpa (pengetahuan tentang ritual dan aturan hidup sehari-hari) dimana kesemua kitab ini pada dasarnya tidak termasuk ke dalam kategori Catur Veda. Padalah  sebagaimana kedudukan kitab-kitab Purana, Catur Veda sendiri juga tidak pernah menyebutkan keberadaan kitab-kitab pendukung ini secara ekplisit. Lalu apakah dengan demikian kita bisa menolak keberadaan Purana dan menerima kitab Siksa, Nirukti, Canda dan sejenisnya dimana kesemuanya ini sama-sama tidak disinggung secara nyata oleh Catur Veda? Vayu-Purana 1.20 sendiri kembali menegaskan, “Itihasa puranabhyam veda samupa-brmhayet bibhetyalpasrutad vedo mamayam prahisyati, Veda hendaklah dipelajari melalui kitab-kitab Itihasa dan Purana. Pustaka Veda takut bila ia dipelajari oleh orang bodoh karena ia merasa sakit seperti dipukul-pukul oleh orang bodoh itu”. Mahabharata (Adi-Parva 1.267) juga menegaskan aturan yang sama. Jadi apakah orang yang meyakini otritas Catur Veda tanpa mengakui Veda-Veda yang lain akan mampu menguasai ajaran Catur Veda? Sangat mustahil bukan?

Menurut Brahma-Vaivarta Purana terdapat 18 Purana utama yang berikutnya dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu Purana dalam sifat Satvik, Rajasik dan Tamasik. Dari ke-18 Purana ini, Bhagavata Purana atau Srimad Bhagavatam dianggap sebagai Purana yang paling utama karena menguraikan lila Bhagavan (Tuhan Yang Maha Esa). Bhagavata Purana 1.1.3 dan Garuda Purana (Brahma Kanda , 1.45) juga menegaskan bahwa Bhagavata Purana adalah buah matang pengetahuan Veda, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Bhagavata Purana adalah ringkasan dari Veda itu sendiri yang juga dikodifikasi oleh Maha Rsi Vyasa. Menurut Bhagavata Purana 1.3.21 Maha Rsi Vyasa pada dasarnya adalah Avatara/penjelmaan Tuhan itu sendiri. Cross reference pembenaran bahwa Maha Rsi Vyasa adalah penjelmaan Tuhan yang mengkodifikasi seluruh Veda tercantum juga dalam Vishnu Purana, Skanda 3, Bab 3: “Pada setiap Dvapara Yuga, Sri Visnu, dalam wujud Vyasa, untuk mengajarkan kebaikan bagi umat manusia, membagi Veda yang seharusnya satu menjadi beberapa bagian: untuk mengatasi keterbatasan kemampuan, energi dan ingatan manusia, Ia membuat Veda menjadi empat kali untuk mengatasi keterbatasan manusia; dan dalam perwujudannya dengan tujuan klasifikasi Ia dikenal dengan sebutan Vedavyasa”. Dan lebih lanjut disebutkan dalam Vishnu Purana, Skanda 3, Bab 4: “Ketahuilah, Maitreya, Vyasa dipanggil Krishna Dvaipayana (Vedavyasa) sebagai perwujudan Sri Narayana; tidak ada yang lain lagi di muka bumi ini yang mampu menyusun Mahabharata . . . yang merupakan perwujudan Vasudeva. . . menyusun Rig, Sama, and Yajur Vedas , pada saat yang sama kesemua itu adalah intisari, Dia adalah jiva dari semua perwujudan spiritual. Dialah yang menciptakan, membedakan Vedas , menyusun Vedas , dan membaginya kedalam sub divisi dan cabang-cabang: Dia adalah penyusun semua cabang Veda: Dialah yang mengumpulkan seluruh cabang; Karena Dia, Tuhan yang abadi, inti dari seluruh Ilmu Pengetahuan”. Jadi dari sloka ini kita mendapat gambaran bahwa Tuhan menjelma sebagai pengkodifikasi Veda setiap Dvapara Yuga menjelang Kali Yuga dengan tujuan memudahkan dan menyederhanakan agar ajaran-ajaran Veda dapat dimengerti dan dipahami oleh orang-orang Kali Yuga yang tidak beruntung akibat kemerosotan spiritual, berumur pendek, tidak sabar dan ingatan mereka yang lemah. Sloka-sloka yang menyatakan keutamaan Bhagavata Purana dapat ditemukan dalam kitab-kitab Purana yang lainnya. Salah satunya dalam Bhagavata-Mahatmya, bagian dari Padma Purana menyebutkan; “Kitab suci yang dikenal sebagai Srimad-Bhagavatam disampaikan pada jaman Kali ini oleh Rsi Sukadeva Gosvami [Putra Vyasadeva] yang menghancurkan ketakutan dari cengkraman waktu yang bagaikan rahang ular. Tidak ada cara lain yang lebih kondusif dalam memurnikan pikiran. Seseorang dapat mendengarkan Srimad-Bhagavatam hanya karena karma baiknya di masa lalu. (1.11-12)… Semua kejahatan pada Kali-yuga akan dengan segera dihilangkan hanya dengan melantunkan Srimad-Bhagavatam, bahkan seperti srigala yang bergemuruh bagaikan singa. (1.62)… Jika anda mencari kesadaran spiritual yang lebih tinggi, bacalah setengah dari seperempat sloka Srimad-Bhagavatam . (3.33)… Memang, ini adalah kebenaran besar dalam jaman Kali untuk mencuci segala kesakitan, kemiskinan, kemalangan dan dosa serta untuk penaklukan nafsu dan amarah. Jika energi maya dari Tuhan adalah yang paling sulit disingkirkan oleh para Dewa sekalipun, lalu bagaimana hal itu bisa diatasi oleh manusia? Karena itu disarankan untuk mendengarkan Srimad-Bhagavatam. (3.64-65)… Seperti gelembung dalam air atau nyamuk diantara mahluk hidup yang lain, orang-orang yang tidak mendengarkan penjelasan Srimad-Bhagavatam hanya lahir untuk mati. (5.63)”. Dengan adanya sloka-sloka ini, seseorang juga tidak dapat membantah keberadaan Bhagavata Purana kecuali dia membantahkan keberadaan semua Purana dan sebagai implikasinya pada akhirnya dia juga harus membantahkan keberadaan kitab suci Veda.

Kenapa Maha Rsi Vyasa menuliskan Bhagavata Purana yang dikatakan sebagai ringkasan dari Veda? Rsi Vyasa sudah menjabarkan ritual-ritual pemujaan kepada para Dewa yang bertujuan membuahkan hasil (karma-kanda) dengan mengkodifikasi Catur Veda. Beliau juga telah menjabarkan berbagai teori filosofis ketuhanan (jnana-kanda) dengan mengkodifikasi 108 Upanisad dan berikutnya menyusun Vedanta Sutra yang dikatakan sebagai ringkasan dari kitab-kitab Upanisad. Dan beliau mengkodifikasi Bhagavad Gita yang juga merupakan bagian dari Bhisma Parwa dalam Mahabharata yang dikatakan sebagai Veda-Shiddanta (kesimpulan Veda). Suta Goswami mengatakan dalam Bhagavata Purana Skanda 1 Bab 5 dan 6 bahwa Maha Rsi Vyasa tidak puas dan merasa ada yang kurang meskipun sudah menyusun Mahabharata dan mengkodifikasi sekian banyak kitab suci Veda. Lewat nasehat Dewa Rsi Narada Muni yang beliau terima sebagai guru kerohaniannya, beliau akhirnya mengkodifikasi Bhagavata Purana yang terutama sekali menjelaskan ringkasan kegiatan-kegiatan rohani Tuhan Yang Maha Esa dalam cinta kasih bhakti yang sangat mendalam.

Penjelasan dalam paragraf yang terakhir ini memang benar hanya berdasarkan truth claim dan hanya disampaikan dalam Bhagavata Purana itu sendiri. Namun tentunya untuk membuktikan truth claim ini tidak semata-mata hanya dengan menemukan cross reference sloka-sloka dari kitab-kitab Veda yang lain, tetapi mari kita selediki berdasarkan isi dari Bhagavata Purana itu sendiri. Jika memang Bhagavata Purana merupakan ringkasan dari Veda, maka sudah barang tentu apa yang disampaikannya haruslah tidak bertentangan dengan kitab-kitab Veda yang disusun sebelumnya. Perlu digaris bawahi bahwa arti ringkasan disini tidak berarti semua sloka Veda termuat dalam sloka-sloka Bhagavata Purana yang hanya berjumlah sekitar 18.000 sloka jika dibaca dengan anustup Gayatri, tetapi apa yang dimaksudkan dalam kitab-kitab suci Veda yang lain dimuat dalam Bhagavata Purana, meski tidak dengan sangat mendalam.

Bhagavata Purana menyatakan bahwa Visnu, Govinda atau Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan sumber dari semua dewa dan mahluk lainnya. Kenyataan ini juga didukung oleh pernyataan dalam sloka Catur Veda; “Om tad visnoh paramam padam sada pasyanti surayah, para Deva selalu menengadah ke arah tempat tinggal Visnu yang maha utama” (Rg. Veda 1.2.22.20). Svetasvatara-Upanisad 6.7 juga menyatakan bahwa Tuhan adalah pengendali utama diatas para dewa dan pengendali-pengendali lainnya dengan menyebutkan; “Tam isvaranam paramam mahesvaram, Tuhan adalah  pengendali tertinggi atas semua pengendali”. Demikian juga dengan pernyataan-pernyataan dari Itihasa dan Purana-Purana lainnya yang secara eksplisit maupun implisit tidak pernah membantahkan apa yang disampaikan oleh Bhagavata Purana. Lalu bagaimana kita bisa meragukan kebenaran apa yang disampaikan oleh Bhagavata Purana dan mengatakan Bhagavata Purana sebagai kitab palsu?

Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia tidak sempurna karena indriya-indriya jasmani terbatas, tidak sempurna, dan cendrung mengkhayal, menipu dan berbuat salah. Karena itu mempelajari dan mengerti Veda yang spiritual dan transendental tidak bisa dilakukan hanya secara pratyaksa (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumana (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris). Veda menetapkan bahwa ia hanya bisa dipelajari dan dimengerti dengan sempurna secara sabda-pramana, mendengar dari sumber  yang  benar dan sah yaitu dari para Acarya (guru kerohanian) secara parampara (proses menurun/deduktip) dalam garis perguruan (sampradaya) sah dan jelas (perhatikan Bhagavad Gita 4.34 dan 4.2). Karena itu, Veda disebut sruti, pengetahuan yang diperoleh dari mendengar; dan smrti, pengetahuan yang diingat dari cara mendengar. Tetapi proses sabda-pramana ini disalah mengerti oleh para sarjana duniawi berwatak materialistik yang berpegang teguh pada proses empiris-induktip. Mereka berkata bahwa proses sabda ini mengharuskan orang percaya secara membuta, patuh dan tunduk pada dogma, berpegang pada keyakinan tanpa dasar atau khayalan. Menurut mereka, proses sabda tidak bisa dipercaya karena tidak ilmiah yaitu tidak didukung bukti-bukti empiris yang dapat dilihat. Padahal pada kenyataannya apa beda pembuktian empiris induktif yang dilakukan dengan mengatasnamakan sains? Sama-sama bermasalah bukan? Sesungguhnya mempelajari sesuatu yang abstak dengan proses sabda atau mendengar dari sumber/orang yang mengetahui dan telah mengalami kebenaran itu adalah proses yang paling sederhana. Ini bukan dogma, kepercayaan atau keyakinan buta dan bukan pula khayalan, tetapi ini adalah cara yang paling mudah untuk mengerti sesuatu yang abstak dibandingkan harus berputar-putar dengan berbagai trial and error sebagaimana kasus teori penciptaan yang telah saya sampaikan dalam penjabaran sebelumnya. Veda tidak pernah melarang pembuktian secara empiris induktif, bahkan Veda memiliki cabang filsafat samkya yang khusus membahas hal ini, namun untuk hal-hal yang diluar logika manusia, sesuatu yang abstarak yang sulit dijangkau mau tidak mau harus dimengerti dengan sabda pramana dari guru, sastra dan sadhu.

Jadi akar permasalah mengenai dongeng atau tidaknya Purana adalah pada sudut pandangan dan pendekatan yang digunakan oleh orang yang berusaha memahaminya. Jika dia memahami dengan sudut pandangan ilmiah yang masih sangat terbatas, sudah barang tentu dia tidak akan mampu mengerti akan kebenaran yang terkandung di dalam kitab-kitab Purana dan Veda pada umumnya. Namun jika dia mengikuti petunjuk Veda dengan menerima proses sabda-pramana untuk mengerti hal-hal yang tidak terjangkau oleh pratyaksa dan anumana pramana, maka kebenaran yang disampaikan oleh Purana akan tampak sangat jelas.

Catatan: Untuk beberapa sumber arkeologi yang baru-baru ini ditemukan dan menguatkan pembenaran bahwa Veda bukan mitos, dapat dilihat di situs Stephen Knapp (Sri Nandanandana dasa).

  1. Arkeologi yang ditemukan tahun 2002
  2. Arkeologi yang ditemukan tahun 2003
  3. Arkeologi yang ditemukan tahun 2004 dan 2005
  4. Arkeologi yang ditemukan tahun 2006 dan 2007
  5. Arkeologi yang ditemukan tahun 2008 dan yang terbaru
  6. Jejak arkeologi sungai Sarasvati
  7. Ayodya dan penelitian pada kuil Sri Rama

Sumber:

  1. Newsletter Sanatana Dharma, Narayana Smrti Ashram edisi 13/Juni 2005
  2. Heka Wikana, Pustaka Suci Veda, Bandung, 2007
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Puranas
  4. http://www.stephen-knapp.com/
Translate »
%d bloggers like this: