Orang Hindu, apa lagi non-Hindu yang pernah membaca kitab suci Veda secara sepenggal-sepenggal sudah pasti pernah menemukan kisah-kisah dan pernyataan-pernyataan yang kadang kala satu dengan yang lainnya dapat dikatakan berbeda 180 drajat.

Dalam Rg. Veda I.64.46 disebutkan; “Mereka menyebutnya dengan Indra, Mitra, Varuna dan Agni, Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa, Para maharesi (Vipra/orang bijaksana) memberi banyak nama, mereka menyebutnya Indra Yama, Matarisvān”. Sloka ini seolah-olah menyatakan bahwa para dewa sama dengan Tuhan. Sehingga tidaklah mengherankan jika buku-buku agama Hindu untuk sekolah formil selama ini selalu mengangkat permasalahan dewa-dewa dengan Tuhan ini dengan menganalogikannya sebagai satu orang yang sama, tetapi karena pada waktu berbeda mereka mengambil tugas kewajiban yang berbeda, akhirnya dipanggil dengan sebutan yang berbeda juga. Sebagai contoh jika seseorang sedang mengajar, maka dia dipanggil guru, tetapi saat dia pulang ke rumah anaknya memanggil bapak/ibu dan pasangannya memanggil suami/istri. Tetapi jika pada waktu yang lain dia pergi ke sawah dan mencangkul, dia akan dipanggil sebagai petani. Analogi ini tampaknya sangat masuk akal untuk membenarkan anggapan bahwa Tuhanpun juga demikian. Tuhan bisa dipanggil Brahma saat Beliau bertugas sebagai pencipta, dapat dipanggil Visnu saat bertugas sebagai pemelihara dan dipanggil Siva saat bertugas sebagai pelebur. Kebingungan akan mulai terjadi jika seseorang mulai membaca kitab suci Veda yang lainnya. Ambillah contoh saat kita membaca sloka Bhagavad gita 9.25 yang mengatakanOrang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke planet leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah mahluk-mahluk seperti itu dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku“. Tentu saja sloka ini dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa dewa dan Tuhan itu berbeda. Melihat perbedaan ini, akhirnya dalam pandangan non Hindu dan bahkan orang Hindu sendiri memilih untuk mengatakan bahwa yang disebut sebagai kitab suci Veda hanyalah Catur Veda, dan Veda-Veda Smrti lainnya dikatakan hanyalah merupakan Veda pelengkap yang tidak harus ada. Lebih jauh juga dikatakan bahwa Veda-Veda Smrti bukanlah wahyu Tuhan, tetapi hanya merupakan karya sastra karangan para Rsi dan hanya berupa dongeng belaka yang mengajarkan manusia baik dan buruk.

Dari sekian banyak kisah-kisah kontradiksi, setidaknya dalam kitab Bhagavata Purana dan kitab Lingga Purana disebutkan sebuah kisah yang sangat bertolak belakang. Dalam kitab Bhagavata Purana, Visnu Purana, Padma Purana, dan juga Mahabharata disebutkan bahwa Narasimha adalah Avatara Tuhan dalam lila-Nya menghancurkan Raksasa Hiranyakasipu. Dalam Bhagavad Gita juga disebutkan bahwa perwujudan rohani Avatara tidak bisa dihancurkan dan akan tetap kekal selamanya. Tetapi secara mengejutkan dalam kitab Lingga Purana disebutkan bahwa Sri Narasimha lari terbirit-birit dan terbunuh secara mengenaskan.

Kontradiksi yang lain juga dapat ditemukan dalam menjalani ritual keagamaan. Beberapa kitab Veda menyebutkan bahwa seorang penekun spiritual harus secara ketat melakukan Panca Yama Bratha dan Panca Nyama Bratha. Seorang penekun spiritual tidak boleh melakukan pembunuhan, tidak boleh mabuk-mabukan, harus jujur, tidak melakukan hubungan seksual yang tidak sah, hidup sederhana, tidak boleh mencuri dan lain sebagainya. Tetapi dalam kitab yang lain, terutama yang masuk dalam kitab Tantra kiri, disana dijelaskan bagaimana seseorang bisa mencapai pembebasan dengan melakukan ritual seks, makan daging, mabuk-mabukan dan juga menggunakan obat-obatan aditif. Yang jelas kedua jalan yang dijelaskan di sini betul-betul saling bertolak belakang.

Melihat kontradiksi-kontradiksi yang sangat jauh ini, bagaimana kita bisa menjelaskan keberadaan kitab suci Veda? Apakah kita harus mengakui bahwa ajaran Veda memang tidak singkron karena ditulis oleh orang yang berbeda yang artinya memang tidak murni wahyu Tuhan? Atau harus diakui bahwa kitab suci Veda hanya merupakan karya sastra manusia yang berkembang dari waktu ke waktu sebagaimana yang dikatakan oleh para peneliti-peneliti Barat dewasa ini? Ataukah ada penjelasan yang lebih masuk akal yang lain?

Beberapa kalangan seperti Max Muller, Alexander Duff, William Carey, James Mill, Sir William Jones, H.H. Wilson, Monier Williams dan juga Moriz Winternitz yang mencoba memahami Veda secara induktif, membagi jaman Veda menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha.  Menurut mereka Veda pertama kali dibawa oleh bangsa Arya yang hijrah dari Eropa menuju Punjab di Lembah Sungai Sindhu sekitar 2500 sampai dengan 1500 SM. Mereka adalah kalangan politeisme yang menyembah banyak dewa seperti dewa Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siva dan sebagainya sebagaimana yang tertuang dalam kitab-kitab Catur Veda. Berikutnya pada saat memasuki jaman Brahmana dikatakan bahwa kaum Brahmana berkuasa paling besar atas varna-varna yang lainnya. Sehingga pada saat itu dikatakan lahirlah kitab Brahmana yang menguraikan prihal ritual yang didasarkan pada kitab Sruti, yaitu Catur Veda. Setelah itu dikatakan terjadi perkembangan dalam masyarakat yang mulai mendalami kebatinan, pendalamam filsafat ketuhanan sehingga muncullah kitab Upanisad yang menguraikan filsafat ketuhanan yang sangat mendalam. Sementara itu akibat lahirnya raja putra Sudhodana, yaitu Siddhanta yang menafsirkan Veda dari sudut pandang logika dan menghasilkan sistem Yoga dan Samadhi untuk mencapai Tuhan digolongkan sebagai jaman Buddha.

Teori yang diklaim berdasarkan hasil penelitian ilmiah yang dikemukakan oleh Max Muller dan peneliti-peneliti Indologis inilah yang saat ini diterima secara luas oleh masyarakat dunia. Sepintas teori mereka terlihat sangat meyakinkan karena klaim-klaim “bukti ilmiah” yang sedang digandrungi oleh masyarakat dunia saat ini. Teori bangsa Arya yang dipropagandakan Max Muller, seorang Indologis kelahiran Jerman yang kemudian mengabdikan diri pada Oxford University, Inggris sebagai pengajar bahasa Sansekerta dan penerjemah kitab suci Veda atas perintah kolonial Inggris yang menjajah India waktu itu berawal dari banyaknya kosa kata “arya” yang dia temukan dalam kitab suci Veda. Untuk mendukung motif tersembunyi kolonial Inggris, tentu saja dia mengarahkan agar masyarakat India percaya bahwa para kolonial Inggris adalah saudara tua mereka mengingat leluhur orang India yang membawa Veda adalah dari Indojerman. Tentu saja teori ini pada dasarnya tidaklah berdasar, karena yang dimaksud dengan kata “arya” dalam Veda bukanlah ras atau kelompok manusia. Hal ini tersurat dengan jelas dalam Manusmrti (X.43-45): “Namun sebagai akibat kelalaian mereka menjalankan upacara suci, karena mereka mengacuhkan ajaran para resi suci, orang- orang berikut dari kaum yang mulia (ksatriya Arya) telah merosot hingga kedudukan para pelayan : Paundraka, Choda, Dravida, Kamboja, Yawana, Sakha, Paradha, Pahlawa, Cina, Kirata, dan Darada.”

Belakangan ini para arkeolog telah menemukan banyak sekali benda-benda bersejarah yang membantahkan teori bangsa Arya dan pembagian pewahyuan Veda menjadi empat jaman sebagaimana dicetuskan oleh Max Muller dan koloninya. Dokumen-dokumen berupa surat-surat Max Muller kepada istrinya yang dengan sangat jelas memperlihatkan adanya teori konspirasi bermotif politis dalam pencetusan teorinya tersebut juga telah mulai dipublikasikan ke khalayak umum. Namun sayangnya teori para sarjana barat ini telah mendarah daging dalam buku-buku sejarah dan filsafat dunia. Celakanya, umat Hindu melalui lembaga-lembaga resmi Hindu yang harusnya secara proaktif mempelajari Veda dari Veda itu sendiri juga lebih mempercayai teori-teori para ilmuan Barat kaum Indologis ini. Merekapun dengan bangga menyatakan bahwa Veda merupakan peradaban paling kuno yang selalu berkembang dan berkembang. Mengalami metamorfose dari agama politeisme pada jaman Veda, lalu menjadi agama yang mengedepankan ritual, sampai akhirnya menjadi agama monoteisme pada jaman Upanisad. Apakah orang-orang Hindu ini benar-benar dapat dikatakan sebagai Hindu sementara apa yang mereka yakini lebih mengarah pada pemahaman teori kaum Indologis? Kalau merek benar-benar orang Hindu yang meyakini Veda sebagai kitab suci, kenapa mereka tidak mempercayai kebenaran pemaparan Veda?

Kembali ke topik awal. Untuk menjawab kenapa ajaran Veda bervariasi dan kadang kala seolah-olah seperti beroposisi salah satunya dapat disimak dari sloka Brahma Vaitarta Purana. Brahma Vaitarta Purana mengatakan bahwa kitab-kitab suci Veda [terutama sekali dalam kontek ini Purana] terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kitab-kitab dalam sifat Tamasik (kebodohan), kitab-kitab dalam sifat Tajasik (nafsu) dan kitab-kitab dalam sifat Sattvik (kebaikan). Lebih lanjut dalam sloka-sloka Veda yang lainnya sebagaimana juga sedikit disinggung dalam Bhagavad Gita bab 17 dikatakan bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan spiritual yang berbeda. Sehingga tidaklah memungkinkan untuk mengajarkan ajaran spiritual secara sama rata. Harus ada pembagian-pembagian Veda yang diperuntukkan untuk golongan tertentu sesuai dengan kecerdasan spiritualnya. Mereka yang baru berada dalam level tamas (kebodohan) akan cenderung mengikuti kitab-kitab Veda yang tergolong tamasik. Sehingga meskipun secara spiritual tergolong tingkatan yang sangat rendah jika dipandang dari standar yang ditetapkan dalam kitab-kitab sattvik, namun setidaknya dengan mereka menerapkan standar tersebut, mereka tidak akan jatuh ke dalam kehidupan asurik dan berprilaku di luar Dharma. Dengan mereka tekun melakukan ajaran Veda dengan tingkatan spiritual terendah sekalipun, maka secara bertahap mereka akan semakin maju dalam spiritual dan berpindah dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya yang lebih tinggi. Walaupun perkembangan peningkatan spiritual ini mungkin tidak terjadi dalam satu kali penjelmaan.

Lalu alur logika yang mana yang dapat anda gunakan untuk menjawab ketidaksingkronan ajaran Veda yang telah saya paparkan? Jika anda bukan orang Hindu, maka jawaban manapun yang anda katakan, tentunya sah-sah saja. Tetapi kalau anda orang Hindu, tetapi mengesampingkan sloka-sloka Veda yang menjelaskan hal tersebut dan lebih memilih teori-teori mereka yang mengklaim diri “para ahli”, maka sepertinya “kehinduan” anda perlu dipertanyakan lagi.

Om tat sat

Mohon baca juga artikel: “Pustaka Suci Veda”

%d bloggers like this: