Seorang sahabat yang ketika melihat Bhagavad Gita terbitan Bhaktivedanta Book Trust (BBT) hasil terjemahan dan pemaparan Srila Prabhupada, seorang Acharya pendiri International Society for Krishna Consiciousness (ISKCON) atau yang akrab dengan sebutan “Hare Krishna” nyeletuk dan berkata; “Bli, kenapa harus “Bhagavad Gita Menurut Aslinya”? Padahal saya memiliki banyak seri Bhagavad Gita yang lain. Beberapa diantaranya adalah Bhagavad Gita hasil karya Nyoman S. Pendit, Sai Baba, dan hasil karya Made Titib. Apa judul Bhagavad Gita ini tidak bisa dirubah menjadi “Bhagavad Gita Menurut Srila Prabhupada”? Bukankah dengan mengklaim “Menurut Aslinya” itu artinya Bhagavad Gita yang lain yang saya miliki tidak asli?”.

Hal yang sama terjadi pada diskusi di salah satu artikel di website ini beberapa waktu lalu. Terdapat komentar yang tidak kalah serunya memperdebatkan masalah keotentikan terjemahan kitab suci Veda yang satu ini. Beberapa kalangan meragukan terjemahan Srila Prabhupada karena tampak seolah-olah berbeda dari Bhagavad Gita yang ada sebelumnya. Bhagavad Gita Srila prabhupada adalah salah satu dari segelintir terjemahan Bhagavad Gita yang mengatakan dengan tegas bahwa Sri Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Mereka yang sudah terlanjur mengerti Sri Krishna sebagai tokoh fiktif pewayangan cenderung mengatakan bahwa Krishna ahanyalah media penyampai pesan, bukan Tuhan. Sementara itu dapat dikatakan tidak ada satupun terjemahan Bhagavad Gita di Indonesia selain yang diterbitkan BBT mengatakan krishna adalah Tuhan. Sebuah kontroversi yang sangat menarik. Lalu, sebenarnya seberapa jauh Prabhupada menjamin terjemahannya yang paling otentik sehingga dapat membenarkan pernyataan beliau bahwa Krishna memang Tuhan Yang Maha Esa?

Yang di sebelah kiri adalah Bhagavad Gita terbitan BBT dan yang sebelah kanan adalah yang dicetak oleh Narasi


Belum habis perdebatan mengenai “Bhagavad Gita Menurut Aslinya” buah karya Srila Prabhupada ini, muncul lagi sebuah Bhagavad Gita yang tidak kalah kontroversinya. Sebuah penerbit yang menggunakan nama “Penerbit Narasi” (www.penerbitnarasi.blogspot.com) mengeluarkan lagi sebuah Bhagavad Gita yang juga mengatasnamakan Srila Prabhupada. Pada cover Bhagavad Gita yang dicetak tebal dengan balutan warna hitam tersebut dengan jelas bertuliskan “BHAGAVAD GITA : Pedoman mengenai tugas kehidupan manusia di dunia. A. C. Bhaktivendata Swami Prabhupada. Penemu/arcada (guru) dari komunitas Kesadaran Krishna Internasional”. Dilihat sepintas lalu, buku Bhagavad Gita terbitan Narasi ini sama menariknya dengan Bhagavad Gita terbitan BBT. Hanya saja setelah diperhatikan lebih seksama ternyata ada sebuah kejanggalan. Tulisan-tulisan yang merupakan bahasa sansekerta ternyata tidak tercetak sebagaimana mestinya sehingga kalau dilafalkan dengan aturan pelafalan bahasa Sansekerta, akan terjadi degradasi makna. Kejadian ini sepertinya diakibatkan karena penulis tidak mengetahui font jenis apa yang seharusnya mereka gunakan. Atau mungkin penulis sama sekali tidak mengetahui aturan penulisan sansekerta yang baik dan benar.

Membuka halaman berikutnya, terdapat doa yang sama sebagaimana tercantum dalam Kata Pengantar Bhagavad Gita terbitan BBT. Tetapi lagi-lagi ada yang janggal. Penulisan kata sansekerta dalam terjemahan mantra tersebut tidak menunjukkan kaedah yang benar. Kesannya sama seperti suatu tulisan yang awalnya dibuat pada komputer dengan font yang katakanlah “Balaram” kemudian dibuka pada komputer lain yang tidak memiliki font yang sama sehingga akhirnya dibuka dengan menggunakan font arial. Terjemahannyapun sangat kacau. Yang seharusnya diterjemahkan Tuhan (dari kata: God) diterjemahkan ‘Dewa”. Yang seharusnya diterjemahkan Dewa (dari kata: Demigod) diterjemahkan “setengah dewa”, yang seharunya diterjemahkan “kaki padma” diterjemahkan “kaki bunga teratai”. Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan penulisan dan penerjemahan yang pada akhirnya mendistorsikan makna yang seharusnya.

Halaman yang menunjukkan sebagian kecil dari kekeliruan penterjemahan dalam buku Bhagavad Gita terbitan Narasi


Sebuah kasus pembiasan makna Bhagavad Gita terbitan Narasi di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kasus-kasus yang serupa di seluruh dunia. Penerbit Narasi sendiri nyata-nyata menggunakan nama Srila Prabhupada dan garis perguruan Sri Chaitanya dalam bukunya, tetapi kenapa mengalami degradasi yang sangat jauh?

Jika di Indonesia terdapat sekitar 5-10 terbitan Bhagavad Gita, maka di India sendiri terdapat setidaknya 500 seri Bhagavad Gita yang berbeda. Lalu bagimana jika kita hitung seluruh jenis terbitan Bhagavad Gita di seluruh dunia? Sudah pasti akan kita temukan lebih banyak lagi seri-seri Bhagavad Gita yang lain. Meski Bhagavad Gita adalah bagian dari kitab suci Hindu, namun keberadaan Bhagavad Gita dapat diterima oleh seluruh lapisan dan golongan masyarakat. Kalangan masyarakat diluar Hindu sendiri sering mengutip ajaran-ajaran Bhagavad Gita. Katakanlah dua orang pastor, yaitu dari Semarang, Kwee Tek Hoay (1957) dan satu lagi dari Kediri, Tan Khoen Swie (1959) karena ketertarikannya dengan ajaran Bhagavad Gita sampai pernah menterjemahkan dan menerbitkan Bhagavad Gita yang tentunya ditafsirkan sesuai dengan agamanya. Demikian juga dengan penyair Amir Amsah dan Sumantri Mertodipuro juga pernah menterjemahkan Bhagavad Gita kedalam bahasa Indonesia dalam majalah Mimbar Indonesia pada akhir tahun 1950-an.

Keuniversalan ajaran Bhagavad Gita sudah menghilhami sekian banyak manusia. Tetapi sayangnya masing-masing dari mereka menafsirkan ajaran Gita sesuai dengan pemikiran mereka sendiri. Seorang Pastur menafsirkan Gita dengan mengaitkannya dengan ajaran Katolik, seorang politikus menterjemahkannya dengan kaca mata politik, seorang tentara melihatnya sebagai “kidung pembangkit nafsu membunuh”. Sementara yang lain seperti contohnya penerbit Narasi ini melakukan penerbitan Bhagavad Gita hanya karena tergiur keuntungan bisnis semata. Mereka melihat pasar Bhagavad Gita yang begitu luas sehingga hanya dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris semata mereka berusaha menterjemahkan Bhagavad Gita As It Is. Padahal mereka sendiri tidak mengerti substansi ajarannya. Akibatnya terjemahannya sangatlah kacau. Kata “Founder Acharya of ISKCON” yang harusnya diterjemahkan sebagai “Acharya pendiri ISKCON” diterjemahkan menjadi “Penemu/acarda (guru) ISKCON”.

Jadi, apa yang harus diperhatikan dalam penerjemahan dan pemberian ulasan Bhagavad Gita? Cukupkah seseorang harus mengenyam pendidikan S2/S3 di bidang tata bahasa Sansekerta? Cukupkah hanya dengan title S.Ag, M.Ag atau Dr of Philosophy? Sayangnya jawabannya ternyata “belum cukup”. Dalam Bhagavad Gita 4.2 sudah dengan jelas disebutkan; “evaḿ paramparā-prāptam imaḿ rājarṣayo viduḥ, Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para raja yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu”. Jika memang demikian perintah dari Bhagavad Gita sendiri, lalu apa kualifikasi para sarjana duniawi yang tidak mengikuti garis perguruan berhak menterjemahkan dan memberikan komentar kitab suci yang paling populer ini? Apa lagi jika usaha penerjemahan yang mereka lakukan ternyata hanya ditunggangi motif bisnis semata tanpa mengerti dan memperhatikan substansinya. Tentunya akibatnya akan sangat fatal bukan?

Sama halnya dengan seorang yang berlatar belakang sarjana ekonomi dan tidak pernah mengenyam pendidikan kedokteran tetapi berusaha menulis buku-buku tentang kedokteran demi untuk bisnis. Meskipun dia mengklaim bahwa dia melakukan terjemahan dari bahasa asing dengan gramatikal baku, tetapi tetap saja hasilnya tidak akan sesempurna mereka yang memang memiliki background kedokteran karena dia memang tidak memiliki kualifikasi dalam bidang kedokteran. Sudah pasti hal ini disebabkan karena ada istilah-sitilah dan proses-proses tertentu yang hanya bisa dimengerti dengan tepat melalui pembelajaran dan praktek langsung serta mungkin memerlukan waktu yang cukup lama. Demikian juga halnya dengan proses penterjemahan dan pengulasan sloka-sloka Bhagavad Gita. Hanya mereka yang mengikuti suksesi garis perguruan (parampara), mempelajari, mengerti dan mempraktekkan ajaran Bhagavad Gita sajalah yang berhak melakukannya. Tidak seorangpun yang tidak mengerti dan menerapkan ajaran Bhagavad Gita secara langsung yang memiliki kualifikasi menterjemahkan Bhagavad Gita. Apa lagi Veda sudah dengan sangat jelas memperingati kita bahwasanya panca indria kita sangat terbatas. Panca Indria kita cendrung mengkhayal, menipu dan berbuat salah. Karena itu mempelajari Veda yang spiritual dan transendental tidak bisa dilakukan secara pratyakña (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumäna (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris). Veda menetapkan bahwa ia hanya bisa dipelajari dan dimengerti secara sabda-pramana, mendengar dari sumber yang benar dan sah yaitu dari para guru kerohanian dalam garis paramparä yang sah dan jelas (perhatikan Bg.4.34 dan 4.2). Karena itu, Veda disebut Sruti, pengetahuan yang diperoleh dari mendengar, dan Smrti, pengetahuan yang diingat dari cara mendengar.

Meski pada kenyataannya di dunia menyebar begitu banyak edisi Bhagavad Gita, namun untungnya hampir tidak ada pendistorsian sloka-sloka aslinya. Satu-satunya perbedaan yang pernah saya temukan pada sloka aslinya terletak pada perbedaan jumlah sloka dalam salah satu babnya. Setelah penelusuran dan bertanya kepada Guru dan Sadhu, ternyata perbedaan sloka terjadi akibat perbedaan pemenggalan baris tanpa menambah atau mengurangi substansi apapun. Perbedaan pemenggalan ini dapat dilakukan jika kita menggunakan anustup (aturan pelantunan) yang berbeda.

Karena itu, jika anda ingin membeli dan mempelajari Bhagavad Gita, pastikan bahwa penerjemah dan pemberi ulasan dalam Bhagavad Gita tersebut adalah mereka yang benar-benar ada dalam garis perguruan yang bonafide, mengerti substansi dan telah mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyatakan demikian, bukan berarti saya mengatakan bahwa Bhagavad Gita hasil karya Srila Prabhupada terbitan BBT-lah satu-satunya Bhagavad Gita yang otentik sementara yang lainnya kurang tepat. Saya yakin di luar sana masih banyak edisi Bhagavad Gita yang telah diulas dan diterbitkan kembali oleh para Acharya dari sekian banyak cabang garis perguruan Veda penerima ajaran abadi Bhagavad Gita. Andaikan anda tidak merasa confom dengan Bhagavad Gita Srila Prabhupada, maka carilah edisi Bhagavad Gita dari garis perguruan Veda lainnya, tetapi pastikan garis perguruan yang anda ikuti adalah yang bonafide dan otentik.

Om Tat Sat