Dalam sebuah milis, seorang rekan diskusi berkeluh kesah dengan berkata sebagai berikut:

“Di Bali banyak bertumbuh aliran-aliran baru. Mungkinkah ada yg kurang dari Hindu Bali sehingga banyak orang yang memilih mengikuti aliran baru sebagi bentuk pencarian diri yang tidak puas dengan Hindu Bali? Ataukah hanya ikut-ikutan trend baru agar gaul? Padahal sepengetahuan saya Hindu Bali merupakan gabungan dari bermacam-macam aliran/sekte, diataranya sekte Vaisnava, Siva Siddhanta, Siva Pasupata, Buddha (sagota), Indra, Sora (Surya Raditya), Bhairawa dan sekte bayu. Sekte-sekte ini dilebur menjadi satu oleh Mpu Kuturan dengan konsep tri murti-nya dan diwarisi sampai sekarang. Tapi menurut saya apa yang anda cari pada suatu tingkat tertentu, anda akan mendapati bahwa di Bali itu sudah ada. ibaratnya seperti mencari jarum yang hilang didalam ruangan yang gelap, saking gelapnya kita malah memilih mencarinya di luar yang mana lebih terang dan santai saja melakukannya.”

Saya yakin apa yang diungkapkan oleh seorang rekan Hindu Bali di atas juga pernah terlintas dalam benak orang Hindu Bali yang peduli dengan keberadaan budaya Bali dan agamanya. Memang benar bahwasanya saat ini di Bali tumbuh subur berbagai macam aliran, baik dari ajaran Hindu, maupun non-Hindu. Sebenarnya apa pemicu dibalik semua ini?

Meskipun sudah banyak penelitian sejarah dilakukan untuk mengungkap bagaimana dan kapan Hindu mulai ada di Bali, namun tetap saja belum ada kata sepakat bulat. Pakem umum sebagaimana dimuat dalam buku-buku sejarah Nasional mengatakan bahwa sebelum masuknya Hindu ke Bali, masyarakat Bali masih berada dalam jaman prasejarah. Masyarakat Bali prasejarah dikatakan hidup dengan sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Mereka dikatakan merupakan masyarakat pemuja roh leluhur, masyarakat yang memuja gunung dan batu besar dan belum mengenal Tuhan Yang Esa. Pemujaan kepada Tuhan baru dikenal setelah Rsi Markandeya yang berasal dari Gunung Raung di Jawa Timur datang ke Bali pada abad ke-8. Dikatakan pula bahwa Rsi Markandeya datang ke Bali dalam dua kali priode. Periode pertama beliau datang dengan membawa 800 pengikut. Namun kedatangan beliau pertama ini gagal karena pengikutnya banyak yang meninggal terjangkit penyakit aneh dan dimangsa binatang buas. Setelah beliau kembali ke Jawa dan mendapatkan petunjuk, barulah beliau datang lagi ke Bali dengan membawa 400 orang pengikut. Kedatangan beliau kedua ini merupakan awal kesuksesan beliau menata agama Hindu di Bali. Beliau juga membuka lahan pertanian di Desa Taro Gianyar, menanam panca datu yang berupa perak, tembaga, emas, besi dan campuran keempat logam di kaki gunung agung tempat pura Besakih berdiri sekarang.

Pertanyaannya, apakah benar sebelum kedatangan Rsi Markandeya pada abad ke-8 masyarakat Bali begitu bodohnya sehingga memuja megalitik berupa batu besar dan gunung? Apakah benar mereka hanya memuja leluhur dan roh halus tanpa pernah berpikir tentang sesuatu yang maha besar, sosok yang merupakan pencipta segala jenis ciptaan?

Meskipun masih belum dimasukkan ke dalam kurikulum Nasional, teori-teori baru yang membantahkan pakem saat ini sudah mulai diakui kebenarannya. Profesor Stephen Oppenheimer, Profesor Arysio Santos dan didukung oleh bukti-bukti arkeologis yang diungkapkan oleh Stephen Rosen mengungkapkan bahwa peradaban dunia jauh lebih tua dari pada apa yang dikatakan oleh teori sejarah saat ini. Yang paling mengejutkan, Profesor Stephen Oppenheimer dan Profesor Arysio Santos malahan mengungkapkan dengan sangat yakin bahwa Indonesia pernah menjadi pusat peradaban dunia yang oleh Plato disebut dengan benua Atlantis. Lebih jauh lagi, Anand Krishna dalam salah satu bukunya mengatakan bahwa wilayah kekuasaan Panca Pandawa pada jaman Mahabharata, 5000 tahun yang lalu bukan hanya di India, tetapi melingkupi wilayah Asia Barat, Asia selatan termasuk Nusantara, sampai ke benua Australia. Di Daerah Batukaru, Tabanan sendiri ditemukan manuskrip yang menjelaskan bahwa daerah Batukaru sudah menjadi pusat spiritual dunia sejak ribuan tahun lalu. Jika bukti-bukti dan teori yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh ini benar, maka seharusnya peradaban yang sangat tinggi dan keberadaan Hindu di Bali khususnya sudah ada jauh sebelum kedatangan Rsi Markandeya. Sehingga dengan demikian, pernyataan bahwa leluhur orang Bali sebelum abad ke-8 merupakan pemuja roh leluhur dan mahluk halus serta mengikuti sistem kepercayaan megalitik perlu dipertanyakan lagi.

Terlepas dari perdebatan kapan dan bagaimana Hindu bisa dianut oleh masyarakat Bali, yang jelas di Bali sudah berkembang berbagai macam masab seperti apa yang diungkapkan oleh seorang rekan Hindu Bali di atas. Ada masab Siva, Pasupata, Bhairawa, Vaisnava, Dodha (Sogatha), Brahmana, Resi, Sora (Surya), Ganapatya dan sebagainya. Kesemua masab ini akhirnya mulai dapat disatukan oleh Mpu Kuturan melalui pesamuhan agung di daerah Bataanyar, Gianyar pada abad ke-13. Penyatuan ini menghasilkan cikal bakal bentuk Hindu Bali yang memiliki ciri khas antara lain:

  1. Dewa Brahma, Visnu dan Siva disebut sebagai Tri Murti dan dianggap sebagai tiga perwujudan Tuhan dengan fungsi yang berbeda.
  2. Organisasi kemasyarakatan tertata dengan sistem desa pekraman yang memiliki kayangan tiga berupa pura puseh, bale agung dan pura dalem.
  3. Pada setiap rumah didirikan pura merajan yang memiliki bangunan suci berupa rong tiga sebagai tempat pemujaan leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa.

Akibat proses sejarah yang begitu panjang, konsep keagamaan yang ditanamkan oleh Mpu Kuturan ini mengalami evolusi secara bertahap. Nilai-nilai keagamaan yang sebelumnya berdiri dalam masab-masab tersendiri secara bertahap mulai menyatu. Sehingga tidaklah mengherankan jika antara sistem kepercayaan, budaya, adat-istiadat dan kehidupan sosial masyarakat Bali tidak bisa dibedakan.

Seiring dengan masuknya pengaruh Cina, sistem keagamaan di Bali juga mengalami proses pembaharuan. Uang kepeng Cina mulai digunakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi upacara, penyebutan nama Tuhan mulai menggunakan istilah Cina seperti “Sang Hyang”, konsep pemujaan kepada leluhur menjadi semakin kuat. Berbagai hiasan-hiasan upacara dari kertas seperti pada saat upacara pembakaran mayat mulai digunakan. Bahkan mungkin tarian Barong di Bali juga merupakan adopsi dari Barong Say. Semua hasil proses akulturasi ini masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Masih banyak bangunan-bangunan suci Cina juga di-sungsung (menjadi tempat pemujaan) oleh orang Bali.

Mulai dari proses penyatuan berbagai masab, akulturasi dengan budaya Cina dan modernisasi seiring dengan perkembangan jaman, Agama Hindu di Bali selalu menampakkan wajahnya yang berbeda. Jika pada awalnya upacara keagamaan  dilakukan dengan sangat sederhana, pada saat masuknya budaya Cina mulai memunculkan berbagai macam variasi tambahan. Jika pada jaman pra kemerdekaan kelihatan begitu eksotis dengan tata cara berpakaian yang sederhana, maka pada jaman modern ini masyarakat Bali sudah menggunakan Jas dan bahkan rok kamben ke tempat suci. Sebuah loncatan budaya dan keagamaan yang tidak dapat dikatakan kecil.

Globalisasi dan berkembangnya pariwisata di Bali memberikan warna yang unik terhadap perkembangan masyarakat Bali. Di satu sisi terjadi pertumbuhan ekonomi yang sangat besar. Tetapi di sisi lain terjadi juga pergeseran nilai-nilai sosial budaya ke arah yang negatif. Sikap hidup materialistik, gaya hidup meniru orang Barat, judi dan prostitusi tumbuh subur di mana-mana, degradasi moral dan memudarnya pemahaman filosofi ajaran Hindu akibat lemahnya sistem pendidikan agama semakin menjadi-jadi. Ujung-ujungnya sangat banyak orang Bali yang tidak kuat dengan ajaran agama yang secara tradisi mereka terima secara turun-menurun. Akibatnya, mereka yang berpikir lebih terbuka, yang tidak mau dikekang oleh tradisi, yang rindu akan spiritualitas dan bosan dengan berbagai upacara yang tidak dia mengerti mulai mencari bentuk-bentuk spiritualitas yang lain. Mereka yang kurang beruntung akhirnya “diselamatkan” oleh kaum agama-agama “tetangga”. Namun mereka yang lebih beruntung, akhirnya menemukan bentuk-bentuk lain dari ajaran Hindu. Ada yang berusaha menghilangkan dahaga spiritual mereka dengan cara menggali lontar-lontar kuno peninggalan leluhur dan menemukan kembali bentuk-bentuk ajaran sebelum terjadinya penyatuan aliran oleh Mpu Kuturan. Dan ada juga yang sampai jauh-jauh pergi ke India dan menemukan spiritualitas mereka dalam berbagai jenis wajah-wajah Hindu di sana.

Kenapa harus menyalahkan perubahan? Kenapa harus menyalahkan derasnya penyelamatan oleh agama lain dan eksodus masyarakat ke dalam bentuk-bentuk lain dari Hindu? Pernahkah orang Hindu Bali berpikir dan mengoreksi diri kenapa banyak masyarakat Bali berpindah keyakinan? Pernahkah kita berpikir Hindu Bali seperti apa yang harus diikuti sebagai syarat Ajeg Bali?

Saya rasa sama sekali tidak ada yang salah dengan munculnya berbagai bentuk Hindu diluar Hindu Bali saat ini karena memang pada dasarnya mereka kembali ke bentuk awal Hindu sebelum adanya Pesamuan Tiga. Disamping itu juga tidak ada standar Hindu Bali seperti apa yang harus diikuti. Apakah Hindu Bali saat ini? Hindu Bali sebelum Hindu pasca kemerdekaan diakui? Hindu Bali pra kemerdekaan atau Hindu Bali pra Danghyang Nirarta dan Mpu Kuturan? Tidak penting berkutat pada masalah penampakan luar. Tetapi jauh lebih penting melihat substansi ajaran Veda yang mereka ikuti dan bagaimana mereka bisa menerapkan filosofi Veda dalam kehidupan sehari-hari sehingga Dharma, Artha dan Kama-nya tercapai. Tidak penting apakah mereka mengikuti masab Siva, Vaisnava, Bhairava atau apapun. Kesadaran setiap manusia sangat berbeda-beda, sehingga mereka memang harus menjalani level-level ajaran Veda yang berbeda. Justru yang harus dikawatirkan adalah eksodus orang Bali meninggalkan Hindu. Bali masih akan tetap eksotis meski masyarakatnya kembali lagi ke berbagai bentuk aliran karena memang Bali dibangun atas filosifi universal ajaran Veda. Tetapi Bali sudah dipastikan akan berubah drastis jika pondasi dasarnya tidak lagi berkiblat pada Veda.

Kembali ke permasalahan awal, kenapa orang Bali banyak yang eksodus menganut berbagai bentuk lain dari Hindu Bali mayoritas atau ke agama lain? Tanyalah pada bagaimana Hindu Bali saat ini? Sudahkan ia bisa memberikan “kenyamanan” pada penganutnya? Sudahkah terjadi transfer ilmu yang cukup yang membuat mereka berbangga pada “ke-Hindu-Bali-annya”? Jika anda memang peduli dengan Hindu Bali, maka tentukanlah Hindu Bali seperti apa yang anda kehendaki untuk dipertahankan dan jagalah para penganutnya tetap nyaman ada di dalamnya.

Om Tat Sat

%d bloggers like this: