“Sebelum membaca artikel ini, mungkin ada baiknya menyimak presentsi dalam bentuk powerpoint yang bisa di download di link ini”

Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 WIB ketika sebuah ruangan di Gedung Hijau Bank Indonesia telah dipenuhi oleh sedikitnya 40 orang. Yang hadir pun bukan hanya dari kalangan pegawai Bang Indonesia, tetapi beberapa diantaranya ternyata merupakan orang Parisada, Departemen Agama, Departemen Keuangan dan juga Mahasiswa STAH Jakarta. Hari Jum’at, 28 Januari 2011 kala itu memang agak berbeda dengan acara hari Jum’at sebelumnya.

Sebelum dibuka oleh Bapak Nyoman Ariawan, yang juga merupakan seorang pegawai BI, acara dimulai dengan persembahyangan Tri Sandya dan meditasi bersama yang berlangsung sekitar 15 menit. Setelah itu diikuti dengan pemaparan presentasi powerpoin berjudul “Merekonstruksi Hindu” yang langsung dipaparkan oleh penulis buku kontroversial itu sendiri, yaitu Bapak Ngurah Heka Wikana. Dalam slide powerpoinnya tersebut, terlihat penjabaran yang sangat mendetail tentang apa saja yang melatar belakangi buku itu ditulis, bagaimana kesalahan-kesalahan pemahaman umat Hindu saat ini dan juga termasuk bagaimana ajaran filsafat yang sesungguhnya yang berdasarkan pada sloka-sloka ajaran Veda yang dalam hal ini penulis banyak mengutip dari sloka-sloka Bhagavad Gita, Bhagavata Purana, Padma Purana, Chaitanya Caritamrita dan sebagainya.

Dari dua puluh lima poin distorsi yang disampaikan oleh penulis, terdapat beberapa poin yang sangat ditekankan dalam penyampaian presentasinya. Poin-poin tersebut antara lain mengenai masalah carut-marutnya pemahaman Hindu di Indonesia tentang siapa itu Tuhan,  tentang konsepsi pemahaman Catur Yoga yang menurut penulis dipahami secara keliru, tentang Mukti atau Moksa, tentang Catur Varna dan Catur Ashrama, Ahimsa, Yadnya atau korban suci, tentang dewa, konsep Maya dan juga konsep Sura dan Asura.

Saat presentasi penulis yang menjelaskan mengenai miskonsepsi Tuhan, penulis mengatakan bahwasanya saat ini kebanyakan umat Hindu di Indonesia masih berpandnagan bahwa Tuhan yang sejati adalah Brahman, yaitu Tuhan yang tanpa wujud dan bentuk (nirakara), tanpa sifat (nirguna), tanpa ciri (nirvisesa), dan tanpa substansi apapun (avyaktam).  Padahal menurut pandangan penulis, jika Tuhan memang Ia yang maha lengkap dan sempurna, maka Tuhan tidak hanya tidak berwujud, tidak bersifat dan tidak berciri, tetapi dalam satu-kesatuan waktu yang sama Tuhan haruslah berwujud pribadi. Karena itu dengan menyebutkan sloka Bhagavata Purana 1.2.11 dan 1. 3.28, Brahma Samhita 5.1,5.35, 5.37 dan 5.40; serta Bhagavad Gita .9.4-5, 6.31, 13.3, 13.13-18, 14.27, 15.15, 15.17 dan 18.61, penulis menjabarkan bahwa Tuhan sejatinya memiliki tiga aspek yang lengkap, yaitu Tuhan sebagai Bhagavan yang berwujud pribadi, sebagai Brahman yang tanpa wujud dan sebagai Paramatman yang berada di mana-mana. Penulis juga menganalogikan Tuhan sebagai sebuah api. Api hanya dapat disebut sebagai api jika ia dalam satu-kesatuan yang lengkap sebagai cahaya api yang tampak, panas api yang tidak tampak dan percikan api berupa foton cahaya yang menyebar ke mana-mana.

Melanjutkan pembahasan mengenai Tuhan ini, penulis mengatakan bahwa Tuhan sering kali disalah mengerti mempersonifikasikan diriNya menjadi dewa-dewa. Umat Hindu dikatakan banyak menganggap bahwa dewa dan Tuhan adalah sama. Jika Tuhan muncul sebagai pencipta, maka Dia menjadi dewa Brahma. Jika muncul sebagai pemelihara, maka menjadi dewa Visnu dan jika melakukan tugas sebagai pelebur, maka menjadi dewa Siva. Penulis dengan tegas menolak asumsi seperti ini. Menurutnya, Dewa dan Tuhan sangat jauh berbeda. Tuhan tetaplah Tuhan dan dewa hanyalah sebuah jabatan yang diemban oleh jiva-jiva yang sama seperti mahluk hidup yang lainnya. Hanya saja dewa-dewa tersebut adalah jiva-jiva yang telah banyak sekali mengumpulkan karma bajik sehingga layak dilahirkan dan diangkat menjadi dewa. Lebih lanjut penulis juga mengatakan bahwa dewa sejatinya adalah pelayan Tuhan yang bekerja hanya untuk kepuasa Tuhan. Untuk menguatkan pendapatnya ini, penulis mengutip sloka Bhagavata Purana 7.9.13 dan juga Padma-Purana sebagaimana dikutip dalam Caitanya Caritamrita Adi-lila 3.91.

Poin berikutnya yang sangat mengundang kontroversi adalah masalah Catur Yoga yang selama ini dipahami sebagai empat jalan berbeda menuju Tuhan. Penulis sendiri beranggapan bahwa Catur Yoga bukanlah empat jalan yang berbeda, tetapi merupakan empat tingkatan ajaran kerohanian yang harus dilalui secara bertahap dari tahap karma yoga, jnana, dhyana dan yang paling akhir adalah tahapan bhakti atau penyerahan diri total kepada Tuhan. Kesimpulan ini penulis dapatkan dari Bhagavad Gita sloka 4.3, 8.22, 9.34, 11.54, 13.19, 18.65 dan 18.67-68. Tentu saja poin ini menimbulkan tanda tanya besar dalam hati beberapa peserta bedah buku.

Mengenai konsep Moksa atau Mukti yang selama ini dipahami oleh beberapa umat Hindu sebagai penyatuan Atman (jiva) dengan Brahman (Tuhan) dengan tegas ditolak penulis. Penulis sama sekali tidak sepakat dengan konsep penyatuan Atman dengan Brahman ini. Penulis mengatakan bahwa sloka Veda mengatakan “Brahman Atman Aikyam, Brahman (Tuhan) dan Atman (Jiva) adalah kekal”, maka jika memang keduanya kekal, tidaklah mungkin Tuhan dan Atman itu menyatu. Berkenaan dengan ini, penulis mengutip sloka Bhagavata Purana 10.2.32 dan 3. 29.13 yang menyatakan bahwa terdapat dua jenis mukti, yaitu mukti temporer yang bersifat sementara yang disebut sayudja-mukti yang merupakan penyatuan antara atman dengan Bramajyoti yang merupakan cahaya rohani Tuhan danyang kedua adalah mukti yang bersifat permanen karena telah kembali ke kedudukannya yang asli sebagai pelayan Tuhan yang kekal. Dalam tingkatan mukti permanen ini penulis mengatakan bahwa sang Atman akan tinggal bersama Tuhan di planet yang sama (salokya), mendapat badan rohani yang serupa denganNya (samipya) dan menikmati kemewahan hidup yang sama denganNya (sarsti).

Distorsi mendasar yang menurut penulis harus segera dipahami karena merupakan pondasi dasar ajaran Veda adalah mengenai Tri Guna, atau tiga sifat alam yang mempengaruhi mahluk hidup. Menurut penulis, selama ini umat Hindu cenderung memahami bahwa Tri Guna dalam kehidupan manusia akan selalu ada dan tergantung pada sifat yang mana yang lebih mempengaruhinya. Jika tamas lebih mempengaruhi seseorang, maka dia cenderung malas. Jika sifat rajas yang mempengaruhi dia akan menjadi aktif dan giat tetapi jika satvam yang dominan, maka orang tersebut akan menjadi semakin bijak. Dikatakan pula bahwa selama ini umat Hindu memahami ketiga sifat ini akan selalu saling mendominasi dalam 24 jam kehidupan manusia. Manusia bisa tidur di malam hari karena tamas menyelimutinya. Aktif di siang hari karena rajas yang menyelimuti. Namun demikian, berdasarkan kutipan sloka Bhagavad Gita 14.26 dan 7.14 penulis mengatakan bahwa manusia seharusnya bisa lepas dari ketiga sifat alam tersebut dan hanya menyerahkan diri kepada Tuhan sehingga mencapai posisi visuda-satvam.

Setelah memaparkan beberapa poin-poin distorsi ini, penulis menyinggung dengan cukup lengkap mengenai akibat-akibat distorsi termasuk juga bagaimana usaha pemimpin Hindu di Indonesia pada awal kemerdekaan menyusun formula yang meniru konsep agama mayoritas agar bisa diakui sebagai agama resmi. Padahal menurutnya, Hindu sebenarnya tidak perlu meniru apapun dari agama lain karena Hindu sangat lengkap. Apa yang ada di agama lain sudah pasti ada di Hindu, tetapi apa yang ada di Hindu, belum tentu ada dalam konsep agama lain.

Setelah penjabaran presentasi dari penulis usai, acara bedah buku dilanjutkan dengan makan siang bersama yang diawali dengan pengucapan doa makan bersama dipimpin oleh seorang pemangku. Setelah makan siang, barulah acara kembali dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi pertama, Bapak Ariawan selaku moderator memberi kesempatan kepada tiga orang penanya pertama. Pertanyaan pertama dilontarkan oleh Bapak Sandiasa yang merupakan salah satu pegawai BI, Bapak Made Sukada dan Bapak Ketut Arnaya yang juga merupakan ketua PHDI Tangerang Selatan.

Bapak Sandiasa melontarkan cukup banyak pertanyaan. Beberapa diantaranya yaitu mengenai kenapa Bhagavad Gita bisa dikatakan sebagai kesimpulan Veda, padahal Bhagavad Gita hanyalah satu bagian kecil dari salah satu parwa dalam Mahabharata. Menjawab pertanyaan ini, penulis berusaha meyakinkan dengan membacakan sloka Bhagavad Gita 15.15 dan Gita Dhyaya sloka 4. Pertanyaan Bapak Sandiasa yang kedua mengenai avatara Krishna dan Buddha yang menjurus kepada siapa yang paling otentik dan kenapa saling bertentangan dijawab oleh penulis dengan mengatakan bahwa setiap Avatara Tuhan adalah kekal dan muncul ke dunia material ini dengan tujuan spesifik tertentu. dalam menyelamatkan orang-orang bajik dan membinasahkan orang-orang jahat Lebih lanjut penulis mengatakan bahwa tujuan Buddha Avatara adalah Ahimsaya paro dharma, yaitu mengembalikan prinsip-prinsip ahimsa (tidak menyakiti) agar para pemimpin agama waktu itu tidak lagi membunuh sembarangan dengan kedok upacara agama padahal tujuan di balik itu hanyalah untuk kepuasan lidah dan perut. Penulis juga menjelaskan secara panjang lebar bahwa untuk mengembalikan prinsip-prinsip Veda yang menyimpang ini tidak hanya dilakukan oleh Buddha Avatara, tetapi juga dilanjutkan oleh misi Sankaracharya yang merupakan penjelmaan dewa Siva dan pada akhirnya dilanjutkan lagi oleh penjelmaan Sri Krishna sebagai Sri Chaitanya Maha Prabhu. Pertanyaan yang ketiga mengenai apakah Sri Krishna menerima reaksi dosa dari kegiatannya ber-avatara dijawab dengan tegas oleh penulis bahwasanya Krishna sebagai Tuhan Yang Maha Esa tidak akan pernah menerima dosa apapun karena semua kegiatan Beliau adalah lila (permainan rohani) semata.

Selanjutnya Bapak Made Sukada mempertanyakan kenapa pengungkapan distorsi ajaran Hindu ini baru diungkapkan sekarang, padahal sudah terjadi begitu lama dan bagaimana sebenarnya wujud dari Tuhan yang sebenarnya. Menjawab pertanyaan ini penulis mengatakan bahwa sebenarnya mungkin menurut manusia waktu yangs udah berlalu ini terlalu lama, tetapi menurut Tuhan dan mahluk hidup yang lebih tinggi seperti dewa Brahma, sebenarnya masih sangat singkat. Seperti contohnya distorsi yang terjadi sebelum jaman Buddha harus dibenahi dengan proses ribuan tahun melalui dua Avatara berikutnya. Lalu mengenai perwujudan Tuhan, penulis membacakan sloka-sloka Brahmasamhita yang berbunyi: “ īśvarah paramah krsnah, sac-cid-ānanda-vigrahah anādir ādir govindah, sarva-kārana-kāranam…….” dan sekali lagi penulis mengatakan bahwa Tuhan adalah maha lengkap. Tuhan berwujud, tetapi dalam satu-satuan waktu yang sama Dia juga tidak berwujud dan berada di mana-mana.

Ketua PHDI Tangerang Selatan, Bapak Ketut Arnaya mempertanyakan apakah buku ini berdasarkan hasil penelitian atau hanya sekedar pemikiran penulis semata. Penulis menjawab bahwa buku ini merupakan hasil kajian diam-diam selama penulis melakukan dinas di beberapa pelosok di Indonesia selama bertugas di instansi perpajakan. Jadi apa yang disampaikan penulis bukanlah angan-angan belaka meskipun kebanyakan tulisan penulis lebih menyoroti Hindu Bali yang terkesan introvet. Pertanyaan Bapak Ketut Arnaya yang kedua mengenai pentingnya konsep Panca Yadnya dalam Hindu dijawab oleh penulis dengan mengatakan bahwa sebenarnya Panca yadnya tidak perlu dilakukan secara lengkap oleh seorang penganut Veda jika penganut Veda tersebut sudah mengembangkan pelayanan bhakti yang murni kepada Tuhan. Dalam sesi tanya-jawab dengan Bapak Ketut Arnaya ini, penulis juga banyak menyinggung mengenai apa sebenarnya tujuan dari penerbitan buku ini dan bagaimana pemimpin Hindu pada awal kemerdekaan berusaha dengan berbagai cara mencari pengakuan agar Hindu diakui secara resmi.

Pada sesi berikutnya, proses tanya jawab semakin kurang terarah. Bapak Wiadnyana dan Bapak Deepak melontarkan beberapa pertanyaan yang sangat kritis. Bapak Wiadnyana mempertanyakan apakah buku “Merekonstruksi Hindu” ini bisa mengayomi semua sekte yang ada atau tidak dan apakah Veda hanya Bhagavad Gita sehingga penulis kelihatannya lebih banyak mengutip Bhagavad Gita dari pada bagian-bagian Veda yang lainnya. Pertanyaan dari Bapak Deepak juga hampir serupa dengan pertanyaan yang diungkapkan Bapak Wiadnyana. Bapak Deepak mempertanyakan judul buku yang dipakai penulis. Kenapa harus menggunakan kata “Merekonstruksi Hindu”, bukan “Merekonstruksi Bhagavad Gita”? Pertanyaan ini muncul karena Bapak Deepak melihat penulis lebih banyak menggunakan acuan Bhagavad Gita.

Dalam proses diskusi kedua ini, proses tanya jawab tidak lagi berlangsung secara tertib. Sering kali peserta diskusi dan penulis saling memotong satu sama lain. Banyak hal-hal yang sebenarnya diluar topik bedah buku malahan dibeberkan dan dijadikan topik perdebatan yang tidak berujung. Debat kusirpun akhirnya tidak terelakkan. Bedah buku yang dialokasikan hanya akan berlangsung sampai jam 13.30 WIB akhirnya molor sampai hampir jam 16.00 WIB. Dan sampai akhir diskusi pun masih begitu banyak pertanyaan yang belum sempat dipecahkan sehingga kesimpuan yang dihasilkan dalam bedah buku ini masih sedikit ngambang.

Secara pribadi, banyak hal yang bisa saya petik dari proses bedah buku ini. Meskipun tujuan penulis sebenarnya sangat baik, tetapi dengan nada penyampaian yang kurang tepat yang mungkin disebabkan karena penulis kurang melihat background para audien menyebabkan begitu banyak hal-hal positif yang penulis sampaikan mental secara mentah-mentah. Baik penulis sebagai narasumber dan audien kelihatannya sudah memegang pendiriannya masing-masing sehingga yang terjadi bukanlah proses diskusi yang saling membangun, tetapi perdebatan yang tiada ujung. Namun terlepas dari sisi negatif ini, baik penulis dan audien, terutama sekali para pegawai BI yang telah melaksanakan dan memfasilitasi bedah buku ini perlu kita berikan applause dan penghargaan yang sebesar-besarnya. Semoga usaha-usaha konstruktif dalam membangun Hindu pada masa mendatang akan selalu ada di setiap benak umat Hindu.

Om tat sat

%d bloggers like this: