Di dalam Bhagavad Gita, bab 4 sloka 9 Sri Krishna bersabda: “janma karma ca me divyam evaà yo vetti tattvataù tyaktvä dehaà punar janma naiti mäm eti so ‘rjuna, Orang yang mengetahui sifat rohani kemunculan dan kegiatanKu tidak akan dilahirkan lagi setelah meningalkan badannya melainkan akan mencapi tempat tingalKu, wahai Arjuna”.

Ada begitu banyak tempat di bumi ini yang sangat indah secara material dan Tuhan mempunyai kuasa penuh untuk muncul dan berlila dimanapun beliau inginkan. Karena beliau adalah Yang Maha Kuasa, maka tidak seorangpun akan mampu melarang Beliau. Tetapi tetap beliau memilih untuk muncul dan berlila di Vraja-dhama. Tuhan memilih Vraja-dhama karena di sana ada penyembah murniNya. Hanya itulah alasan Beliau untuk muncul di suatu tempat. Kalau hanya untuk membunuh Kamsa, atau raksasa yang lainnya, Tuhan tidak perlu turun ke bumi ini. Hanya dengan memerintahkan Devi Maya atau dewa kematian, Yamaraj, beliau mampu membunuh para raksasa dengan mudah. Tetapi karena beliau ingin memuaskan dan menikmati bersama penyembahNya maka beliau muncul di muka bumi ini.

Karena rasa cinta bhakti yang murni para Gopi dan Gopa di Vrindavana, Sri Krishna memilih Vraja sebagai tempat favoritNya. Di Vraja Dhama, beliau mempunyai tiga tempat favorit karena tempat itu memberikan fasilitas yang khusus kepada Sri Krishna dan penyembahNya menikmati kegiatan mereka. Tempat itu adalah tepi sungai Yamuna, bukit Govardhana dan hutan Vrindavana.

Sri Krishna melakukan lilaNya yang rohani di Vraja-dhama lima ribu tahun yang lalu. Beliau muncul di Mathura di dalam penjara yang berada dibawah kekuasaan Kamsa. Setelah beberapa jam dari kemunculan Beliau, Vasudeva membawaNya ke Gokul ke rumah Nanda Maharaj. Setelah kurang lebih 3 atau 4 tahun, karena rasa sayang para vrajavasi, takut jika Krishna digangu oleh raksasa yang sering berusaha membunuh Krishna, yang dimulai dari Raksasi Putana, mereka pindah ke seberang sungai Yamuna menuju Nanda-gaon (Nanda Grama). Di sana Sri Krishna bersama Balarama melakukan aktivitasNya selama kurang lebih sampai berumur 10 tahun. Dari Nanda Grama Krishna pindah ke Mathura untuk memuaskan para penyembah Beliau yang di Mathura. Setelah beberapa tahun meluangkan waktu beliau di Mathura, kurang lebih pada waktu Beliau berumur 28 sampai 29 tahun, Beliau mendirikan kota di tengah lautan di Dvaraka, di daerah bagian barat India.

Meskipun kejadian ini telah terjadi lima ribu tahun silam, namun Sri Krishna dalam aprakrita lila (kegiatan yang terselubung), Beliau masih berada di Vraja-dhäma sampai saat ini dan kalau seseorang mempunyai kualifikasi, mereka masih bisa melihat Sri Krishna sedang bermain-main di Bukit Govardhan bersama anak anak gembala sapi. Diantara tempat- tempat suci di mana Tuhan, Sri Visnu melakukan lilaNya, hanya di Vraja-dhäma Beliau menginjakan kaki padmaNya setiap hari tanpa alas kaki. Beliau mengembalakan sapi setiap hari dan berkeliling di hutan Vrindävana, bukit Govardhan dan tempat-tempat lainya tanpa alas kaki. Jadi tanah suci Vrindävana sebenarnya penuh dengan debu bekas jejak kaki Sri Krishna secara langsung. Bahkan sampai sekarang kita bisa melihat di beberapa tempat di bukit Govardhana dan tempat lainya, jejak kaki Sri Krishna yang berbekas di atas batu (Govardhan sila). Selain itu, Sri Caitanya Mahäprabhu dan para pengikut Beliau, para Gosvämi dan lain lain, lima ratus tahun yang lalu, mengadakan perjalanan di Vraja-dhäma tanpa alas kaki. Mereka berkeliling di Vraja-dhäma dan menginjakan kaki padma mereka. Debu yang menyentuh kaki padma para vaisnava yang agung seperti itu bisa mengangkat seluruh alam semesta pulang ke dunia rohani.

Meskipun keagungan Vraja-dhäma tidak bisa dibandingkan dengan tempat suci manapun di alam semesta material ini, namun keberadaan dan keagungan Vraja sempat terpendam selama beberapa ribu tahun setelah Sri Krishna menutup lilaNya di bumi ini. Banyak tempat yang penting yang berhubungan dengan kegiatan rohani Sri Krishna di Vraja, termasuk Rädhä Kunda, tempat suci tertingi di seluruh alam semesta, sempat terlupakan dan bahkan tidak ada yang tahu dimana lokasi tempat-tempat tersebut. Melihat keadaan seperti itu, Sri Caitanya Mahäprabhu, secara pribadi datang ke Vrindävana untuk menggali atau menemukan tempat-tempat suci tersebut. Beliau juga mengirim para pengikutNya seperti Lokanath Gosvämi, Rupa Gosvämi, Sanatan Gosvämi dan lain-lain, yang tidak lain merupakan para rekan pribadi Sri Krishna yang muncul dalam lilä Beliau sebagai Sri Caitanya, untuk melajutkan pencaharian terhadap tempat-tempat dimana Sri Krishna melakukan kegiatanNya di Vraja bumi.

Mungkin orang akan berpikir, Bagaimana kita bisa mempercayai kalau itu adalah tempat yang sama dimana Sri Krishna melakukan kegiatanNya di Vraja sedangkan mereka, para Gosvämi, tidak hadir lima ribu tahun yang lalu? Sri Krishna bersifat kekal, maka beliau juga mempunyai rekan yang kekal. Rekan rekan beliau tersebut selalu muncul bersama beliau dalam berbagai bentuk. Atas keinginan Sri Krishna, para penyembahNya bisa mengingat segala sesuatu yang terjadi di masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi karena lima ribu tahun silam Sri Krishna dan para gopi dan gopa berlila di tempat ini, hanya Sri Krishna, gopa dan gopilah yang bisa memastikan dimana tempat mereka berlila. Seperti yang disampaikan sebelumnya, para gosvämi tidak lain dari gopa dan gopi yang menjelma di dalam lila Sri Caitanya sebagai orang yang berada dalam pelepasan ikatan (Gosvämi atau para sannyasi). Jadi atas keinginan Sri Caitanya, yang merupakan Sri Krishna pribadi, mereka mengingat tempat-tempat dimana mereka melakukan lilä lima ribu tahun lalu. Karena itu tidak ada hal yang perlu diragukan lagi mengenai kebenaran pendapat mereka. Selain itu para goswami juga mengunakan dasar sastra yang dapat dipercaya untuk memastikan tempat-tempat tersebut seperti Purana, itihasa dan lain lain.

Vraja-dhäma yang berada di bumi ini tidaklah berbeda dengan Goloka Vrindävana. Ketika Sri Krishna turun ke bumi, Beliau membawa tempat tingal Beliau yang kekal ke dunia material ini. Meskipun Goloka di bumi ini dengan yang ada di dunia rohani tidak berbeda, namun dinyatakan bahwa Vraja-dhäma di dunia material lebih berkarunia dari pada goloka Vrindävana di dunia rohani. Di dunia rohani, hanya roh-roh yang sepenuhnya bebas dari pencemaran dunia material dan memiliki cinta bhakti yang murni kepada Sri Krishna yang akan diizinkan untuk masuk. Sedangkan orang yg masih memilki bahkan sedikit motif material tidak akan diizinkan bahkan hanya untuk mendekati perbatasan Goloka sekalipun. Sedangkan Vraja yang sama, yang bermanifestasi di bumi ini, mengijinkan dan memberikan kesempatan bahkan kepada para raksasa atau orang yang sangat berdosa sekalipun untuk masuk ke Vraja dhäma. Sriman Gopi Parana Dhana Prabhu, seorang murid senior Srila Prabhupäda, sering menjelaskan bahwa, Kadang kadang ada orang naik bus atau kereta api yang secara tidak sengaja berhenti dan turun di vraja hanya untuk membeli teh atau kopi. Meskipun secara tidak sengaja seperti itu, karena telah menginjakan kakinya di tanah suci Vraja, mereka sebenarnya secara tidak sadar telah mendapatkan keuntungan yg tidak bisa dibandingkan dengan mengunjungi ribuan tempat suci lainnya dan mandi di berbagai tempat suci dimuka bumi ini.

Di dalam buku kecil ini penulis berusaha menguraikan segelintir dari keagungan tempat-tempat di Vraja-dhäma. Disini tidak akan diuraikan semua tempat di Vraja, tetapi hanya akan menguraikan beberapa tempat yang memungkinkan untuk dikunjungi. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan tuntunan untuk mereka yang berkunjung ke Vraja dalam waktu yang singkat dan juga untuk mereka yang belum pernah mengunjungi Vraja sehingga mereka mendapat kesempatan merasakan dan menikmati keindahan Vraja di dalam meditasi mereka. Selain itu, buku ini juga dimaksudkan untuk menambah keyakinan kita pada kisah-kisah yang diuraikan di dalam kitab suci adalah merupakan sejarah yang memang benar-benar nyata dan bukan sekedar dongeng atau mitologi, dengan bukti yang masih kita dapat lihat sampai sekarang seperti yang akan diuraikan di sini.

Cerita-cerita dalam buku ini dimaksudkan untuk membantu para pembaca untuk bermeditasi pada kegiatan Sri Krishna. Berkunjung ke tempat suci dimaksudkan untuk mengingat kegiatan Sri Krishna atau para penyembahnya di tempat-tempat tersebut. Berkunjung ke tempat suci, seperti Srila Prabhupada sampaikan, bukan hanya untuk mandi dan berpikir bahwa saya sekarang sudah disucikan dan bebas dari dosa. Tapi hal yang paling penting adalah mendapat pergaulan dari para sadhu atau orang suci yang tingal di tempat-tempat suci tersebut dan menikmati manisnya kegiatan Sri Krishna dari mereka atau dari karya-karya yang mereka tingalkan untuk kita. Kisah-kisah yang disampaikan di dalam buku kecil ini diambil dari berbagai sumber khususnya dari buku-buku Prabhupäda dan dari para Gosvämi dan pengikut mereka.

Comment dari Srila Bhakti Raghava Swami Maharaj

Om Surabhyai namah

Om Sri-gurave namah

I am pleased and delighted to go through Sriman Bhagiratha däsa’s first book, Perjalanan Such di Tanah Vraja written in his local language of Bahasa Indonesia. Before commenting on the book, I would like to first speak something about the author.

This young writer first came in contact with Kåñëa consciousness in Bali, Indonesia, while still a secondary year school student. By the good association of dedicated devotees like Dhritama däsa, Kisora Krishna däsa and others, he soon developed a strong attachment for devotional service and devotee association. It was at the Krishna Balaräma temple in Denpasar during the late nineties that we first had the good opportunity to meet. At that time he knew but a little English. However, he showed great eagerness to learn, to study and to serve. Soon after his graduation he joined as a full time devotee.

Desiring to give an opportunity for a few devotees from Indonesia to become more closely familiar and connected with the Vedic culture, we arranged for a three year Yoga Student Sponsorship for both Kisora däsa and Bhagiratha däsa. This was during the year 2004. By some divine arrangement, it was around this time that the proposed BBT Sanskrit gurukula program, Srimad-Bhägavatam Vidyäpéöham, was soon to open in Govardhan. This traditional gurukula was to be headed by His Grace Gopéparäëadhana däsa, a senior disciple of Srila Prabhupäda and one of the senior-most Sanskrit Editors for the BBT. This was a rare and unique opportunity for Bhagiratha däsa to be admitted in their three year study program. By Krishna’s mercy, although still relatively new to the English language, he was enrolled in the first batch of students, most of who were from foreign countries. Since the gurukula needed a pujari to worship Sri Sri Gaura Nitäi, the authorities requested Bhagiratha däsa to take up that service. Not having yet received Brahmana Diksa, it was decided to hold a fire yajïa in Govardhana itself which was conducted by Gopéparäëadhana däsa himself.

During his three years of study, Sriman Bhagiratha däsa proved to be a diligent student. With the association of foreign devotees, he quickly improved his English. As the head püjäré (priest) for the gurukula, he worshiped Sri Sri Gaura Nitäi with care and attention.  He stayed mainly in Govardhan but regularly travelled to the various holy places in Vraja, a new world uncovering at every visit. It was during this time that he became acquainted with the Sanskrit language to which he took keen interest and was able to master very quickly. By the mercy of Sri Sri Gaura Nitäi, he also got an opportunity to begin personally serving Sri Sri Krishna Balaräma in the form of two Sri Giriräja Govardhana çiläs. He graduated from Srimad-Bhägavatam Vidyäpéöham in the year 2008 and received the title Bhagavat-sastri.

The book he has written carries the viewers on a holy pilgrimage to the most attractive of all holy places, Sri Vraja dhäma, where daily Lord Krishna performs His nitya-lilä, eternal pastimes, with His eternal associates the gopis and gopas on the banks of the Yamunä and in the 12 forests of Vrindävana.  It is reminiscent of Jéva Gosvämi’s tour of the land of Navadvipa in the company of Lord Nityänanda which is nicely described by Srila Bhaktivinoda Thakura in his work Sri Navadvépa-dhäma-mähätmyam in the section Parikramä-khaëòa. The tour Bhagiratha däsa takes us on covers all of the most important holy places of Vraja beginning with descriptions of Mathurä and then followed by all the main Krishna lilas (pastimes) in Gokula, Vrindävana, Varñäëä and Nanda-gräma. The author describes the various temples and pastimes related to Lord Krishna giving the readers vivid glimpses into the spiritual world by decorating the book with pictures of local temples, sacred kunda and many other items of interest.

Whoever reads these descriptions will be reminded of the following daily pastimes of the Lord: “Lord Krishna would loudly sound His flute as He entered the forest of Sri Vrindävana, thus giving inconceivable bliss to all the residents of His hometown, Vraja-dhäma. These simple pastimes of playfully entering the forest, playing on the flute and so forth were performed daily in the spiritual land of Vrindävana.” [SB 10.15.2] Srila Prabhupada also explains that all these holy places which are present in Bhauma Våndävana (in the material world) are none different than those in Goloka Vrindävana (in the spiritual world) and also nondifferent than Krishna Himself: These places on earth are nondifferent from those original abodes, for they are facsimiles of those original holy places in the transcendental world. They are as good as Sri Krishna Himself and are equally worshipable. Lord Caitanya declared that Lord Krishna, who presents Himself as the son of the King of Vraja, is worshipable, and that Vrindävana-dhäma is equally worshipable.” [CC Adi 5.18]

For those who have not yet an opportunity to physically visit Vraja, this book will serve as an excellent introduction. For those who already have had the good fortune to visit Vraja, the book will help rekindle one’s profound meditation on Sri Vrindävana dhäma. Discovering the holy sites in the holy land of Vrindävana is the continuing service undertaken by none other than Sri Caitanya Mahäprabhu who personally sent his foremost disciples, the six Goswamis of Vrindävana, to excavate these holy sites and who forever invites the conditioned souls to rediscover their lost connections with the spiritual realm.

We are grateful to Sriman Bhagératha däsa for having written so extensively about the most wonderful of holy places, Vrindävana-dhäma. We pray that Lord Krishna, the focus and constant meditation for all the residents of Vrindävana, be merciful upon both the author and the reader so that we can all develop our dormant love for Krishna.

Sriman Bhagiratha däsa presently stays in Bali and is now married to Srimati Tusmila Permana Dewi (bhaktin) also from Bali. He occasionally visits India to take devotees on holy pilgrimages in and around Vraja. Soon after returning to Indonesia he became involved with the establishment of Varnäsrama College and ancient traditional gurukula in Gianyar on the island of Bali. He has helped organize the yearly Global Varnasrama Seminar in Bali for the last two consecutive years.

Terjemahan:


Saya sangat puas dan senang saat membaca buku pertama Sriman Bhagiratha däsa berjudul “Perjalanan Suci di Tanah Vraja” yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Sebelum saya berkomentar pada buku ini, pertama-tama saya ingin sedikit berbicara tentang si penulis.

Penulis muda ini awalnya ketemu kesadaran Krsna di Bali – Indonesia ketika dia masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Atas pergaulan yang baik dari para penyembah seperti Dhritatma Dasa, Kisora Krishna Dasa dan yang lainnya, dengan perkembangan yang pesat dia mengembangkan keterikatan kuat dalam pengabdian suci dan pergaulan pada para penyembah. Ketika berada di Krishna Balarama Mandir di Denpasar, kami mendapatkan kesempatan untuk ketemu satu sama lain sekitar tahun 1998-1999. Saat itu dia tidak begitu fasih dalam berbahasa inggris. Namun dia meperlihatkan semangat yang kuat untuk belajar dan melayani. Segera setelah lulus sekolah dia bergabung sebagai brahmacari asram.

Berkeinginan untuk memberikan kesempatan kepada beberapa penyembah dari Indonesia untuk lebih akrab dan dekat berhubungan dengan kebudayaan Veda, pada tahun 2004 kami mengatur beasiswa untuk program pendidikan yoga selama tiga tahun untuk Kisora Däsa

dan Bhagiratha Däsa. Atas karunia Yang Maha Kuasa, pada saat itu program gurukula BBT untuk program belajar bahasa sansekerta, Srimad-Bhägavatam Vidyäpéöham, dicanangkan akan segera dibuka. Gurukula tradisional ini dipimpin oleh H.G. Gopiparäëadhana däsa, seorang murid senior Srila Prabhupäda dan salah satu dari senior editor Sanskrit di BBT. Ini adalah suatu kesempatan yang jarang dan khusus bagi Bhagiratha däsa untuk dapat diterima dalam program belajar tiga tahun mereka. Atas karunuia Krishna, meskipun relatif masih sangat awam dalam bahasa inggris, dia diterima sebagai murid angkatan pertama dimana kebanyakan muridnya berasal dari Negara-negara asing. Karena gurukula memerlukan pujari untuk memuja Sri Sri Gaura Nitäi, para otoritas meminta Bhagiratha Däsa untuk melakukan pelayanan tersebut. Karena belum menerima brahmana diksa, maka diputuskan untuk melaksanakan upacara yajïa di Govardhana yang dilakukan langsung oleh Gopiparäëadhana däsa.

Selama tiga tahun belajar, Sriman Bhagiratha däsa terbukti sebagai murid yang tekun. Atas pergaulan dengan para penyembah dari Negara asing, dia mengembangkan bahasa ingrisnya dengan pesat. Sebagai kepala pujari (pendeta) untuk gurukula, dia memuja Sri Sri Gaura Nitäi dengan penuh perhatian. Dia tinggal di daerah Govardhana. Tetapi secara teratur dia mengunjungi berbagai tempat suci di Vraja, sebuah penemuan dunia baru di setiap kunjungan. Pada waktu inilah dia mempelajari bahasa sansekerta dimana dia menekuninya dengan serius sehinga menguasainya dengan cepat. Atas karunia Sri Sri Gaura Nitai, dia juga mendapat kesempatan melayani Sri Sri Krishna Balaräma di dalam bentuk dua Sri Giriräja Govardhana çiläs. Dia lulus dari Srimad-Bhägavatam Vidyäpéöham pada tahun 2008 dan menerima gelar Bhagavat-Sastri.

Buku yang telah dia tulis membawa pembaca pada sebuah perjalanan suci ke tempat suci yang paling menarik diantara semua tempat suci, Sri Vraja Dhama, dimana setiap hari Sri Krishna melakukan nitya- lilä, kegiatan kekal, dengan rekan kekalNya yaitu para gopa dan gopi di tepi sungai Yamunä dan di dua belas hutan Vrindävana. Hal ini mengingatkan pada perjalanan Jiva Gosvämi di Navadvipa didampingi oleh Sri Nityänanda yang dijelaskan dengan baik oleh Bhaktivinoda Thakura dalam karyanya Sri Navadvépa-dhäma-mähätmyam pada bagian Parikramä-khaëòa. Perjalanan yang dibawakan untuk kita oleh Bhagiratha Däsa mencangkup semua tempat penting di Vraja diawali dengan uraian Mathurä dan diikuti dengan semua tempat utama Krishna lilä di Gokula, Vrindävana, Varñäëä dan Nanda gräma. Penulis menguraikan berbagai kuil dan kegiatan yang berhubungan dengan Sri Krishna yang memberikan pembaca gambaran yang hidup tentang dunia rohani dengan menyajikan foto-foto kuil, kunja dan banyak hal lain di dalam buku ini.

Siapapun yang membaca deskripsi ini akan diingatkan pada kegiatan Tuhan sehari hari berikut: “Tuhan Sri Krishna meniup serulingNya dengan keras sambil Beliau memasuki hutan di Sri Vrindävana, sehingga memberikan kebahagiaan yang tidak terbayangkan pada semua penduduk desanya, Vraja-dhäma. Kegiatan sederhana ini, yaitu kejenakaan memasuki hutan, bermain seruling dan sebagainya, dilakukan setiap hari di tanah spiritual Vrindävana.” [SB 10.15.2]. Srila Prabhupäda juga menjelaskan bahwa tempat suci yang hadir di Bhauma Vrindävana (di dunia material) ini tidak berbeda dengan Goloka Vrindävana (di dunia rohani) dan juga tidak berbeda dengan Krishna sendiri: “ Tempat-tempat yang berada di dunia ini tidak berbeda dengan tempat aslinya karena tempat-tempat itu merupakan cerminan tempat suci yang asli yang berada di dunia rohani. Tempat-tempat itu sama dengan Krishna sendiri dan sama-sama patut dipuja. Tuhan Sri Caitanya menyatakan bahwa Krishna, yang menjadikan dirinya sebagai putra raja Vraja patut dipuja dan begitu juga Vrindävana Dhäma juga sama-sama patut dipuja.” [CC Adi 5.18]

Bagi mereka yang secara fisik belum mendapatkan kesempatan mengunjungi Vraja, buku ini akan memberikan pengenalan yang sangat bagus. Bagi mereka yang beruntung telah berkunjung ke Vraja, buku ini akan membantu untuk mengingat kembali meditasi yang dalam pada Sri Vrindävana Dhäma. Penemuan tempat suci di tanah suci Våndävana adalah kelanjutan pelayanan yang dilakukan oleh Sri Caitanya Mahäprabhu yang secara pribadi mengirim muridnya yang paling utama, enam gosvami Vrindävana, untuk mencari tempat tempat suci ini dan terus mengundang roh-roh yang terikat untuk menghidupkan kembali hubungan mereka dengan dunia spiritual yang telah terputus.

Kita harus berterimakasi kepada Sriman Bhagiratha däsa karena telah menulis secara ekstensif tentang tempat suci yang paling mulia, Våndävana Dhäma. Kita berdoa semoga Sri Krishna, tujuan dan acuan meditasi bagi para penduduk Vrindävana, akan berkarunia kepada penulis dan pembaca sehingga bisa mengembangkan cinta bhakti rohani kepada Krishna yang telah terpendam.

Sriman Bhagiratha däsa saat ini tinggal di Bali dan sekarang sudah menikah dengan Srimati Tusmila Permana Dewi (bhaktin), yang juga berasal dari Bali. Dia sekali-kali berkunjung ke India untuk mengantar para penyembah berziarah di dalam dan di sekitar Vraja. Segera setelah tiba di Indonesia, dia berkecimpung di dalam menyelenggarakan pendidikan Varnasrama dan traditional gurukula di Gianyar-Bali. Dia telah membantu untuk mengorganisir global varnasrama seminar tahunan di Bali selama dua kali dalam 2 tahun berturut-turut.

Krishna matir astu,

Bhakti Räghava Swami

Dapatkan eBooknya pada link di bawah ini

Download


Translate »
%d bloggers like this: