I. DEFINISI TENTANG TUHAN

Veda mendefinisikan Tuhan sbb. “Janmady asya yatah, Tuhan (God) adalah Ia dari siapa segala sesuatu berasal” (VS.1.1.2). Dengan kata lain.  Tuhan adalah sumber atau asal-mula segala-sesuatu. Jadi alam material beserta segala makhluk penghuninya berasal dari Tuhan. Berdasarkan definisi tsb. maka segala wujud, bentuk, rupa, ciri, sifat, kegiatan, prilaku dan hubungan yang kita miliki dan lakukan pasti ada pada Tuhan,  sebab Ia adalah sumber/asalnya. Oleh karena kita adalah insan-insan pribadi dengan beraneka-macam wujud, bentuk, rupa, sifat, ciri, kegiatan dan hubungan yang berasal dari Tuhan, maka pastilah Tuhan adalah Insan pribadi pula. Dan oleh karena menjadi asal keberadaan kita, maka Ia disebut Insan pribadi paling utama. Atau Ia adalah individu paling utama yang memiliki wujud, sifat, ciri, kegiatan dan hubungan tak terbatas.

Tuhan sebagai Insan atau Individu paling utama disebut Purusottama. Dan  sebagai Kepribadian Paling utama, Ia disebut Sri Bhagavan.

 

II. TIGA ASPEK TUHAN

Veda menjelaskan tentang Tuhan sbb. “Vadanti  tat tattva vidas tattvam jnanam advayam brahmeti paramatmeti bhagavan iti sabdyate, para rohaniawan mulia yang telah menginsyafi/mengerti tentang Tuhan menyebut-Nya sebagai Brahman, Paramatma dan Bhagavan” (Bhag.1.2.11). Brahman adalah aspek impersonal Tuhan. Ia adalah cahaya (energi) yang memancar dari diri pribadi Tuhan (Bhagavan), berhakekat serba meliput, berada dimana-mana, tak terbagi-bagi, tanpa wujud, sifat  &  ciri apapun. Paramatma adalah aspek setempat Tuhan yang bersemayan didalam hati badan jasmani setiap makhluk (Bg.15.15) dan inti atom (paramanu) setiap unsur materi alam fana (BS.5.35). Bhagavan adalah aspek personal / individual Tuhan yang selamanya berhakekat spiritual.

Tuhan dengan ketiga aspekNya ini dapat diibaratkan sebagai api  yang juga memiliki tiga aspek keberadaan yaitu nyala, panas dan cahaya. Apakah api itu? Api adalah kesatuan dari nyala, panas dan cahaya. Begitu pula, apakah Tuhan (God) itu?  Tuhan adalah kesatuan dari Brahman, Paramatma dan Bhagavan.  Nyala adalah wujud api yang menjadi sumber panas dan cahaya. Tanpa nyala tidak mungkin ada panas dan cahaya. Begitu pula, Bhagavan adalah wujud pribadi Tuhan  yang menjadi  sumber keberadaan Paramatma dan Brahman. Tanpa Bhagavan, tidak mungkin ada Paramatma dan Brahman. Karena itu, dari ketiga aspek Tuhan ini, Bhagavan (Kepribadian Tuhan YME) adalah yang paling utama. Sebab, dengan mengerti hakekat Bhagavan, otomatis hakekat Paramatma dan Brahman terpahami.

Ketiga aspek Tuhan ini disebutkan pula oleh Sri Krishna dalam Bhagavad-gita secara implisit sebagai berikut, “Maya tatam idam sarvam jagad avyakta murtina, olehKu dalam aspekKu yang  tak ber-wujud nyata (sebagai Brahman) seluruh alam semesta ini ter-liput.  Mat sthani sarva bhutani, segala makhluk ada padaKu (dalam aspekKu sebagai Brahman). Na caham tesu avasthitah, tetapi  Aku (sebagai Bhagavan) tidak ada pada diri semua makhluk itu. Na ca mat sthani bhutani, juga semua ciptaan ini tidak bersandar padaKu (dalam aspekKu sebagai Bhagavan). Pasya me yogam aisvayam, lihatlah kekuatan yoga-mistikKku. Bhuta-bhrn na ca bhuta-stho mamatma bhuta bhavanah, meskipun Aku (sebagai Paramatma) memelihara semua makhluk hidup dan meskipun Aku (sebagai Brahman) berada dimana-mana, namun Aku sendiri (sebagai Bhagavan) adalah sumber sejati segala ciptaan material ini” (Bg.9.4-5).

 

III. BHAGAVAN, KEPRIBADIAN TUHAN YME

Bhagavan berasal dari kata bhaga = kehebatan dan van = pemilik. Jadi sebagai Sri Bhagavan, Tuhan memiliki segala macam kehebatan secara lengkap, penuh dan sempurna. Dikatakan, “Bhagavan adalah Ia yang paling kuat/perkasa, paling termasyur/terkenal, paling kaya, paling berpengetahuan/mengetahui, paling tampan/menarik-hati, dan  paling  bebas/ merdeka” (Visnu-Purana 6.5.47). Dikatakan lebih lanjut oleh Veda, “Krsnas tu bhagavan svayam, Sri Krishna (putra Vasudeva dan Devaki)  adalah  Sri Bhagavan itu sendiri” (Bhag.1.3.28). Dikatakan demikian karena hanya Sri Krishna lah satu-satunya kepribadian yang memiliki semua kehebatan tersebut secara penuh, lengkap dan sempurna. Fakta ini ditunjukkan ketika Beliau melaksanakan lila (kegiatan rohani) Nya di Bhumi dimasa lalu menjelang akhir Dvapara-Yuga.

Sri Krishna menyatakan bahwa diriNya adalah asal-mula/sumber segala sesuatu. “Aham sarvasya prabhavah, Aku adalah asalmula segala sesuatu. Mattah sarvam pravartate,  segala  sesuatu berasal dariKu” (Bg.10.8). Brahma, sang pencipta dunia fana, berkata, “Anadir adir govinda sarva karana-karanam, Sri Govinda  (Krishna) tidak berasal dari apapun dan siapapun, karena Beliau adalah sebab (sumber) adanya segala sesuatu” (BS.5.1).

Kedua sloka Veda yang dikutip ini bersesuaian dengan  definisi tentang Tuhan (pada bagian I) yakni “Janmady asya yatah, Tuhan adalah Ia  dari siapa segala sesuatu berasal” (VS.1.1.2). Jadi Tuhan itu adalah Sri Krishna pribadi. Atau, Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME. Karena itu, Beliau berkata, “Vedais ca sarvair aham eva vedyah, tujuan seluruh pustaka suci Veda adalah agar semua orang mengetahui bahwa Aku adalah Tuhan YME” (Bg.151.15).

 

IV. PARAMATMA, ASPEK SETEMPAT TUHAN

Sebagai Bhagavan (Kepribadian Tuhan YME), Sri Krishna senantiasa berada di tempat tinggalNya dunia rohani Goloka-dhama. Tetapi pada saat yang sama Beliau juga berada (tinggal) sebagai Paramatma di hati badan jasmani setiap makhluk hidup di dunia fana (perhatikan Bg.6.31, 13.3, 13.13-18, 15.15, 15.17 dan 18.61). Bagaimana hal ini bisa terjadi? Veda mengibaratkan Tuhan seperti matahari. Meskipun satu dan berada di langit, tetapi setiap orang melihat matahari berada didepan dirinya. Matahari yang satu dan sama itu bersinar indah dihadapan setiap orang. Seperti itulah keberadaan Sri Bhagavan Krishna dalam aspekNya sebagai Paramatma. Sebagai Paramatma, Sri Krishna menjadi saksi (upadrsta) dan pengatur (anumanta) kegiatan para makhluk hidup (jiva) dalam pengembaraan mereka di alam material (lihat Bg.13.23 dan 18.61).  Sebagai Paramatma, Sri Krishna  dan sang jiva (makhluk hidup) bersemayan di hati badan jasmani yaitu jantung. Dikatakan, “Dva suparna sayujya sajhaya samanam vrksah, Paramatma dan Atma (= Jiva) adalah bagaikan dua burung bersahabat yang hinggap di satu pohon. Satu burung (sang atma) asyik menikmati buah pohon. Sedangkan burung kedua (Paramatma) hanya menyaksikan kegiatan sahabatnya itu (Mundaka Upanisad 3.1.1-2) dan Svetasvatara Upanisad 4.7).

Maksud pernyataan kedua Upanisad tsb. adalah  sang  makhluk hidup (atma) sibuk melakukan berbagai macam kegiatan pamerih dan menikmati hasilnya. Sedangkan  Tuhan (Paramatma)  hanyalah menyaksikan sang atma berkegiatan demikian.

Konsep Veda tentang Paramatma berada didalam hati badan jasmani setiap makhluk hidup (jiva) dan mengarahkan pengembaraan mereka di alam material sesuai dengan karma yang diperbuat, adalah jawaban atas pertanyaan mengapa semua serangga, burung dan binatang mampu pergi amat jauh mencari makan dan kembali ke sarangnya dengan selamat tanpa tersesat.

 

V. BRAHMAN, ASPEK IMPERSONAL TUHAN

Brahman adalah  sesungguhnya  brahmajyoti, cahaya (energi) yang memancar dari diri Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME, Krishna. Karena itu, Beliau menyatakan, “Brahmano hi prathistaham, Aku adalah sumber keberadaan Brahman impersonal” (Bg.14.27).

Brahma, sang pencipta alam fana, berkata, “Yasya prabha prabhavato ..           tad brahma niskalam anantam asesa bhutam … govindam  adi  purusam, Brahman yang tak berwujud dan serba meliput adalah cahaya badan Sri Govinda (Krishna)”- BS.5.40. Dikatakan pula, “Sei brahma govindera haya anga kanti, Brahman ini adalah tidak lain dari pada cahaya pribadi Sri Govinda (CC.Adi-lila 2.15). Yad advaitam brahmopanisadi tad api asya tanu-bha, apa yang di-katakatan oleh kitab-kitab Upanisad sebagai Brahman yang tiada duanya, adalah cahaya diri pribadi Tuhan (CC Adilila 1.3).

Seperti halnya cahaya matahari adalah tidak lain dari pada energi yang memancar dari matahari dan menopang kehidupan di alam material. Begitu pula, Brahman adalah cahaya (energi) Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna yang memancar dari diriNya dan menopang kehidupan di seluruh alam semesta-alam semesta material. Dalam pustaka Veda, kata “brahman”memiliki banyak arti. Ia bisa berarti Tuhan, bisa berarti makhluk hidup, cahaya (energi) Tuhan,  keseluruhan unsur materi alam fana, tingkat spiritual, pengetahuan spiritual atau kitab suci Veda.

 

VI. TENAGA (ENERGI) TUHAN (BHAGAVAN)

Veda (Visnu-Purana 6.7.61) menyatakan bahwa Sri Krishna yang juga disebut Sri Visnu atau Narayana, memiliki 3 (tiga) macam tenaga (energi) yang dapat diringkas sebagai berikut.

Karena itu Veda menyatakan, “Purnasya purnam adaya purnam evavasis yate, Kepribadian Tuhan YME maha lengkap-sempurna. Meskipun segala sesuatu yang beraneka-macam berasal (ter-cipta) dariNya, namun Beliau tetap sebagai Kepribadian Tuhan YME nan lengkap-sempurna” (Isa-Upanisad, Mantra pembukaan, dan Brhad-Aranyaka Upanisad 5.5.1).

 

VII. SVAMSA DAN VIBHINNAMSA TUHAN

Svamsa adalah perbanyakan pribadi Sri Krishna. Semua perbanyakan pribadiNya ini tergolong (dan disebut) Visnu-tattva.Didunia fana, Mereka adalah para Visnu-avatara yang berfungsi melaksanakan proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam material. Sedangkan Vibhinnamsa adalah perbanyakan kecil berbeda dan terpisah dari Tuhan Krishna. Ia adalah para makhluk hidup  yang  disebut ksetrajna atau jiva. Jumlah mereka tak terhitung dan merupakan tenaga marginal Tuhan yang senantiasa berada dibawah kendaliNya. Di dunia fana, para jiva memperoleh (=menghuni) beraneka-macam badan jasmani sesuai dengan karma yang diperbuat pada masa penjelmaan sebelumnya. Mereka di-sebut jiva-tattva. Baik Visnu-tattva maupun jiva-tattva secara kwalitatip sama yakni sama-sama berhakekat spiritual. Tetapi secara kwantitatip mereka berbeda karena berbeda potensi. Perbedaannya dapat diringkas sebagai berikut.

IX. DIRI PRIBADI TUHAN

Veda menjelaskan tentang diri pribadi Sri Krishna sebagai berikut.

  1. BadanNya berwarna gelap bagaikan awan hujan, kedua mataNya seindah bunga padma mekar, mahkota kepalanya ber-hiaskan bulu ekor burung merak, dan ketampananNya nan unik mempesonakan berjuta-juta devi cinta (BS.5.30).
  2. Setiap anggota badan wujud rohaniNya itu dapat berfungsi sebagai semua anggota badan lainnya (BS.5.32).Meskipun Beliau adalah kepribadian awal paling bahari (sepuh), namun Beliau senantiasa kelihatan sebagai pemuda remaja nan segar tampan dan menawan (BS.5.33).
  3. Sri Krishna adalah kepribadian tunggal nan mutlak. Pada diri-Nya tidak ada perbedaan antara tenaga/energi (sakti) dengan si pemilik tenaga (saktiman). Meskipun dari diriNya tercipta berjuta-juta alam semesta, namun tenaga/energi (sakti) Nya tetap utuh pada diriNya. Seluruh alam semesta ada pada diriNya. Dan pada saat yang sama Beliau bersemayan di dalam inti atom (paramanu) setiap unsur materi alam fana (BS.5.35).
  4. Beliau memiliki sifat, ciri dan wujud tak terbatas (BS.5.38) dan turun ke dunia fana dalam beraneka-macam Avatara seperti Vamana,Nrsimha,Rama, dsb.Semua Avatara ini adalah perbanyakan diri pribadiNya (BS.5.39). Dan cahaya badanNya yang amat cemerlang adalah brahmajyoti yakni Brahman impersonal (BS.5.40).

 

X.TEMPAT TINGGAL TUHAN

Tempat tinggal Sri Krishna adalah dunia rohani atau alam spiritual  yang oleh Veda dijelaskan sebagai berikut.

  1. Dunia rohani atau alam spiritual disebut Vaikuntha-loka, tempat tanpa kecemasan. Ia berada diluar alam semesta material (prakrti) kita ini. Diangkasa rohani ada banyak Vaikuntha-loka. Jumlahnya tak terhitung. Disetiap planet Vaikuntha bertahta perbanyakan diri pribadi (svamsa) Sri Krishna seperti: Kesava, Janardhana, Padmanabha,Vamana, dsb.
  2. Planet Vaikuntha ter-tinggi yang menjadi tempat  tinggal Sri Krishna disebut Goloka-dhama yang dikatakan seindah bunga padma mekar (BS.5.2).
  3. Di Goloka-dhama semua pohon dan tanaman memuaskan segala keinginan. Disana tanah adalah permata yang  memenuhi  segala kebutuhan. Disana air adalah amrta, setiap kata adalah nyanyian nan merdu dan setiap gerak tubuh adalah tarian gemulai. Disana cahaya penuh kebahagiaan dan para penduduk sungguh menyenangkan. Disana sapi perah (surabhi) yang jumlahnya tak terhitung, senantiasa memancarkan air susu. Disana  kehidupan  kekal,  tidak ada masa lalu atau masa yang akan datang, sehingga disana tidak  ada  kematian atau pun kelupaan (BS.5.56).
  4. Singkatnya, dunia rohani tempat tinggal Sri Krishna adalah alam spiritual nan kekal, penuh kebahagiaan dan pengetahuan.

 

XI. KEGIATAN TUHAN DI TEMPAT TINGGALNYA

Di Goloka-dhama tempat tinggalNya, Sri Krishna senantiasa bersukaria menggembalakan sapi-sapi surabhi yang susunya memenuhi segala keinginan. Sementara bersuka-ria seperti itu, Beliau dilayani dengan penuh hormat dan cinta-kasih (bhakti) oleh ratusan ribu Devi Laksmi atau Gopi (BS.5.29). Demikianlah, di tempat tinggalNya Goloka-dhama Sri Krishna bernyanyi, berdendang, bergurau, menari, bercanda, bermain-main dan melakukan beraneka-macam kegiatan suka-cita  rohani  lainnya bersama para Gopi atau Laksmi itu. Mereka melakukan semua kegiatan suka-cita rohani itu dalam hubungan cinta-kasih (bhakti) timbal-balik berdasarkan madhurya-rasa, hubungan sebagai kekasih. Kegiatan suka-cita rohani itu berlangsung kekal dengan kebahagiaan yang terus bertambah-tambah.

 

XII. MENGETAHUI SIAPA TUHAN  BERARTI TAHU SEGALA SESUATU

Telah dijelaskan bahwa Tuhan adalah sumber/asal-mula segala sesuatu. Dan segala kehidupan serta ciptaan material yang beraneka-ragam ini  adalah tidak lain dari pada transformasi tenaga/energi (sakti) Nya yaitu: para-sakti (tenaga rohani), ksetrajna-sakti (tenaga marginal) dan avidya-sakti (tenaga material). Karena itu, siapapun yang  tahu, mengerti dan menginsyafi bahwa Sri Krishna adalah Tuhan YME berarti dia telah tahu dan mengerti  hakekat segala sesuatu. Sebab Beliau berkata, “Yo mam evam  asammud-ho janati purusottamam sa sarva-vid, siapapun yang mengetahui Aku sebagai Kepribadian Tuhan YME tanpa  ragu, hendaklah  dimengerti bahwa dia telah mengetahui segala sesuatu” (Bg.15.19). Hal yang sama dikatakan pula oleh kitab Chandogya-Upanisad  (6.2.1),”Yad vijnanena sarva vijnanam pratijnatam, dengan  mengetahui Tuhan, maka segala sesuatu jadi bisa diketahui”. Tetapi untuk bisa mengerti bahwa Sri Krisna adalah Tuhan YME seseorang harus berpola hidup suci yakni  bebas  dari  segala macam dosa. Sebab Beliau berkata, “Orang yang mengerti Aku sebagai Yang tidak terlahirkan dan tanpa awal, Tuhan penguasa seluruh jagat, ia yang  tidak terkhayalkan, sarva-papaih pramucyate, bebas dari segala macam dosa” (Bg.10.3).

 

XIII. SUCIKAN DIRI UNTUK BISA MENGERTI TUHAN

Pada masa Kali-Yuga yang di-sebut jaman modern sekarang, mensu-                    cikan diri dari dosa-dosa untuk bisa mengerti Tuhan  hanya mungkin dilakukan dengan  sevon mukhe hi jihvadau, melakukan  pelayanan  cinta-kasih (bhakti) kepada Sri Krishna dan menyibukkan lidah mengucapkan nama-nama suciNya secara tekun dan teratur setiap hari  (Padma-purana sebagaimana dikutip dalam BRS 1.2.234).

Tentang pengucapan nama-nama suci Sri Krishna, dikatakan sebagai berikut, “Harer nama harer nama harer nama eva kevalam kalau nasty eva nasti eva nasti eva gatir anyatha, pada jaman Kali tidak ada cara lain, tidak ada cara lain, tidak ada cara lain untuk maju dalam jalan spiritual mensucikan diri selain dari pada mengucapkan/mengumandangkan nama suci, nama suci, nama suci Sri Hari” (Brhan-Naradiya Purana 38.126). Hari adalah nama lain Sri Krishna. Karena itu, ucapkan/kidungkan/kumandangkan/nyanyikanlah secara tekun dan teratur nama-nama suci Sri Krishna yang  tersusun berupa maha-mantra Kali-santarana Upanisad ini.

HARE KRISHNA HARE KRISHNA KRISHNA KRISHNA HARE HARE HARE RAMA HARE RAMA RAMA RAMA HARE HARE

 

Dengan mengumandangkan maha-mantra ini secara tekun dan teratur, diri kita akan tersucikan, segala kecemasan sirna dan kita akan berbahagia.

 

Disusun oleh: Ngurah Heka Wikana (Haladara Prabhu)

 

%d bloggers like this: