1. Arti Merekonstruksi

  1. Merekonstruksi Hindu berarti menyusun kembali bagian-bagian ajaran Veda yang beraneka-macam itu secara sistematik sehingga dengan jelas diketahui maksud sebenarnya dari setiap bagian ajaran Veda yang berbeda-beda itu, dan juga maksud utama (pokok) ajaran Veda secara keseluruhan sebagai kitab suci umat Hindu.
  2. Jadi merekonstruksi Hindu berarti merekonstruksi ajaran Veda. Sebab Veda adalah kitab suci Hindu dan Hindu adalah sebutan bagi orang-orang yang menganut ajaran Veda.

 

2. Maksud Ajaran Veda Yang Berbeda-Beda

Maksud ajaran Veda yang berbeda-beda itu adalah untuk memenuhi berbagai keinginan sang manusia. Pada umumnya keinginan manusia dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam yaitu:

  1. Ingin hidup bahagia di dunia (Bhumi) sesuai petunjuk Veda. Untuk ini Veda menyediakan ajaran Karma-Kanda.
  2. Ingin menikmati kebahagiaan secara lebih super di alam material dengan meningkatkan kemampuan pikiran dan indriya-indriya jasmani melalui pengetahuan pilosofis Veda dan pemilikan berbagai kemampuan mistik alamiah (siddhi). Untuk ini, Veda menyediakan ajaran Jnana-Kanda.
  3. Ingin sepenuhnya mengabdikan diri kepada Tuhan dalam setiap masa kehidupan. Untuk ini Veda  menyediakan ajaran  Upasana-Kanda.

 

3. Maksud Utama (Pokok) Ajaran Veda Secara Keseluruhan

Secara keseluruhan, Veda di-maksudkan agar manusia mengerti bahwa Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME, asal mula segala sesuatu. Beliau  berkata, “Vedais ca sarvair aham eva vedyah, tujuan pokok Veda adalah agar manusia mengetahui Aku sebagai Tuhan YME” (Bg.15.15).

 

4. Alasan Merekonstruksi Hindu

Alasan saya merekonstruksi Hindu adalah karena hampir seluruh ajaran Veda telah terdistorsi.  Dan terdistorsi berarti ajaran Veda:

  • Dibuat menyimpang dari maksud/makna sebenarnya.
  • Dimengerti secara salah/keliru.
  • Ditafsirkan sedemikian rupa sehingga maksud/makna aslinya hilang.
  • Dipahami berdasarkan teori materialistik yang berubah-ubah.
  • Dimengerti berdasarkan prinsip-prinsip adat, budaya dan tradisi masyarakat setempat.
  • Dipahami berdasarkan pandangan hidup (pilsafat) yang sedang ngetrend (dominan di-ikuti oleh mayoritas penduduk).
  • Dipakai sebagai sarana politik meraih kekuasaan duniawi dan kekayaan material, bukan sebagai pedoman hidup untuk menginsyafi diri dan mengerti Tuhan (God).

Singkatnya, “terdistorsi berarti ajaran veda dimengerti/dipahami dan dilaksanakan secara berbeda dari apa yang dimaksudkan oleh veda itu sendiri“.

 

5. Sebab-Musabab Distorsi

Sebab-musabab terjadinya distorsi adalah:

  1. Isi ajaran Veda amat luas dan bervariasi.
  2. Munculnya ajaran-ajaran rohani dan pilsafat baru pada masa Kali-Yuga (yaitu Buddha, Jaina, Sikh, Kristen, Islam, pilsafat Mayavada dan ajaran-ajaran rohani tamasik diluar Veda).
  3. Pola hidup materialistik, sekularistik dan hedonistik menjangkiti seluruh aspek kehidupan manusia modern.
  4. Munculnya ajaran-ajaran rohani lokal karena pertimbangan  politik dan kekuasaan dari para Raja yang memerintah di masa lalu (yaitu ajaran-ajaran Siva-Buddha, Kejawen, dan sebagainya).
  5. Sifat alam tamas (kegelapan) amat tebal menutupi kesadaran orang-orang modern Kali-Yuga, sehingga mereka selalu berpikir keliru. Yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar, dsb. (perhatikan Bg.18.32 dan Bhag.12.3.30).

Ke-lima penyebab ini disebut faktor-faktor distorsi.

 

6.  Pokok-Pokok Ajaran Veda Yang Terdistorsi

Berikut  adalah ringkasan pokok-pokok ajaran Veda yang terdistorsi.

No. PERNYATAAN VEDA DISTORSI 

1. Tentang Kitab Suci  Veda Itu Sendiri
a. Veda menyatakan diri berasal dari sumber spiritual yaitu Tuhan, “Brahmaksara samudbhavam, Veda berasal dari Tuhan sendiri (Bg.3.15). ……Tene brahma hrdaya adi kavaye, Veda pertama kali diajarkan  oleh Tuhan Krishna  kepada  deva Brahma (melalui suara serulingNya yang masuk) kedalam hatinya, sehingga Brahma disebut sang Adi Kavi pertama(Bhag. 1.1.1). Rg, Yajur, Sama dan Atharva Veda serta Itihasa keluar dari nafas Tuhan (Brhan- Aranyaka  Upanisad 2.4.10)”. Veda bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari banyak mitos (dongeng) yang asal-usulnya tidak jelas. 

 

b. Veda diajarkan oleh deva Brahma kepada para Rishi. Selanjutnya  mereka (para Rishi itu) mengajarkan Veda kepada murid-muridnya dan seterusnya. Demikianlah Veda dimengerti  dengan proses  menurun/deduktip (parampara) melalui garis perguruan spiritual  (sampradaya) dari para Acarya (guru kerohanian) yang hidup  sesuai  dengan  aturan Veda (perhatikan Bg.4.2). Veda dipelajari secara ilmiah melalui proses empiris-induktip dari siapapun yang telah mempelajarinya.
c. Veda hanya bisa dimengerti dibawah bimbingan sang Acarya dengan menuruti pola hidup spiritual (Bg.4.34 dan 13.8, MS 2.18, Mundaka-Upanisad 2.4.10 dan Mahabharata Moksa-dharma 3.4.11). Veda bisa di-mengerti tanpa  perlu  menuruti pola hidup spiritual dan bimbingan dari Acarya.
d. Veda terdiri dari kitab Sruti (Rg, Sama, Yajur dan Atharva Veda), kitab-kitab Upanisad (termasuk Vedanta Sutra),kitab Smrti (Purana dan Itihasa) dan berbagai kitab Dharma-Sastra (Bhag.1.4.20, Chandogya Upanisad 7.1.4, Brhan-Aranyaka Upanisad 2.4.10  dan  Mahabharata Moksa-dharma 3.40.11. 

 

Hanya kitab-kitab Sruti  tergolong Veda. Smrti adalah kumpulan mitos atau dongeng.Upanisad adalah kumpulan pendapat pilosofis dari berbagai rohaniawan. Dan berbagai Dharma Sastra memuat ajaran yang saling bertentangan.
2. Tentang Tuhan (God)  

Tuhan memiliki 3 (tiga) aspek keberadaan yaitu: a. Bhagavan,Kepribadian TuhanYME b. Paramatma,aspek setempat Tuhan yang bersemayan di hati setiap makhluk hidup dan inti atom setiap unsur materi. Dan, c.Brahman, cahaya (energi) yang memancar dari diri pribadi Tuhan (Bhag.1.2.11 dan 1.3.28, BS.5.1,5.35, 5.37 dan 5.40; Bg.9.4-5, 6.31, 13.3, 13.13-18, 14.27, 15.15, 15.17 dan 18.61). Tuhan sejati adalah Brahman tanpa wujud (nirakara),tanpa sifat (nirguna), tanpa ciri (nirvisesa) dan tanpa substansi apapun (avyaktam). 

 

3. Tentang Alam Material (Prakrti) 

Alam materil/dunia fana berhakekat nyata dan sejati, sebab ia terwujud dari tenaga material (maya) Tuhan. Tetapi keberadaannya sementara karena mengalami proses penciptaan dan peleburan yang berulang-ulang (Bg.7.4, 9.8 dan 9.10). Alam material/dunia fana pada  hakekatnya   tidak nyata, tidak sejati, semu, Khayal alias palsu (mithya).
4. Tentang Makhluk Hidup (Jiva)
Makhluk hidup (jiva) adalah  enaga  marginal (para-prakrti atau tatastha-sakti) Tuhan yang selamanya berada dibawah pengendalianNya (Bg.7.5 dan 9.10). Dan merupakan individu spiritual kekal-abadi (Bg.2.12, 2.16 dan 15.7). 

 

Makhluk  hidup (jiva) pada hakekat nya adalah Brahman (Tuhan) itu sendiri. Karena ditutupi maya Ia tidak menyadari hakekat dirinya sebagai Brahman yang serba meliput dan berada dimana-mana.
5. Tentang Deva (Demigod) 

Deva adalah makhluk hidup (jiva) yang karena memiliki banyak karma bajik, diberikan wewenang oleh Tuhan untuk menangani urusan material tertentu di dunia fana. Karena itu, deva adalah vidhikara, pesuruh Tuhan (Bhag.7.9.13). Oleh karena sang deva bekerja untuk kepuasan Tuhan, maka ia adalah bhakta Tuhan (Padma-Purana sebagaimana dikutip dalam CC Adi-lila 3.91). Deva adalah manifestasi Tuhan dalam melaksanakan urusan  material  tertentu di dunia fana. Karena itu, deva adalah Tuhan itu sendiri. 

 

6. Tentang Jalan Kerohanian (Yoga) 

Jalan kerohanian (yoga) adalah ibarat satu tangga untuk mencapai Tuhan. Tangga yoga ini memiliki empat pijakan yang dari bawah keatas disebut: karma, jnana, dhyana dan bhakti (Bg.6.3-4).Oleh sebab itu, tanpa bhakti, orang tidak bisa mengerti dan mencapai Tuhan (perhatikan bg.4.3, 8.22, 9.34, 11.54, 13.19, 18.65 dan 18.67-68). Karma,jnana,dhyana dan  bhakti adalah jalan kerohanian (yoga) berbeda-beda, tetapi masing-masing menuntun  orang mencapai Tuhan yang sama.
7. Tentang Mukti 

Veda menyatakan bahwa mukti atau moksa (kelepasan dari derita  kehidupan  material dunia fana) ada 2 (dua) macam yaitu: a. Mukti temporer disebut sayujya-mukti,lebur-bersatu dengan Brahman, Tuhan impersonal. b. Mukti permanen yakni sang jiva kembali pada kedudukan dasarnya sebagai abdi/pelayan Tuhan di dunia rohani. Disana ia tinggal bersama Tuhan di planet yang sama (salokya), mendapat  badan ( rohani) yang serupa denganNya (samipya) dan menikmati kemewahan hidup yang sama denganNya (sarsti) -Bhag.10.2.32 dan 3.29.13). Mukti atau moksa berarti  sang jiva kehilangan individualitas dengan bersatu lebur kedalam Brahman, Tuhan impersonalMukti atau moksa berarti sang jiva kehilangan individualitas dengan  bersatu lebur kedalam Brahman, Tuhan impersonal.
8. Tentang Karma Dan Punarbhava 

Orang yang selama hidupnya di Bhumi banyak berbuat subha-karma (kegiatan bajik) kelak ber-punarbhava (lahir lagi) di dunia  fana  setelah ajal dengan  lahir di alam Surgavi (Svarga-loka). Sebaliknya, orang yang banyak berbuat  asubha-karma (kegiatan berdosa) kelak jatuh ke Neraka setelah ajal. Sedangkan orang yang bebas dari akibat (phala) perbuatan (karma) bajik ataupun buruk, kembali pulang ke dunia rohani Vaikuntha-loka, tempat tinggal Tuhan (Bg.9.27-28, 12.6-7 dan 16.16). Orang yang selama hidupnya di Bhumi banyak berbuat subha-karma, setelah mati tidak ber-punarbhava (lahir kemabli) di dunia fana tetapi mencapai Tuhan.Sedangkan orang yang banyak berbuat asubha-karma, setelah mati jatuh ke Neraka.
9. Tentang Ritual Kremasi (AntyastiSamskara)
Kremasi dimaksudkan supaya sang jiva tidak lagi terikat pada badan jasmaninya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan jasmaninya itu yang telah jadi mayat. Sehingga proses evolusi spiritualnya  bi sa dipercepat untuk kelak pulang kembali ke dunia rohani. Dengan ritual kremasi, sang jiva (roh) disucikan. Dan setelah itu ia kembali kepada (menjadi) Tuhan.
10. Tentang Alam Surgawi (Svarga-Loka) 

Svarga loka adalah salah satu dari 14 (empat belas) susunan planet yang ada di alam semesta material. Svarga-loka bukan tempat tinggal Tuhan, sebab ia terkena peleburan (pralaya) pada setiap malam Brahma dan ketia Brahma wafat. Surga (Svarga-loka) adalah tempat tinggal Tuhan.
11. Tentang Catur-Varna 

Empat golongan sosial manusia(caturvarna) di masyarakat ( yaitu: Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra) ditentukan berdasarkan guna (sifat/watak/tabiat) yang melekat pada diri seseorang, dan karma (profesi/pekerjaan) yang ditekuninya (Bg.4.13, 18.41 dan Bhag.1.2.13). Varna (golongan sosial) seseorang di masyarakat ditentukan oleh kelahiran/keturunan.
12. Tentang Catur Asrama 

Empat tahap kehidupan spiritual (catur asrama) manusia (yaitu: Brahmacari, Grhastha, Vanaprastha dan Sannyasi) dimaksud kan agar setiap orang mampu melepaskan diri  dari derita  kehidupan material  dunia fana dan  kembali  pulang ke dunia rohani yang kekal-membahagiakan. Karena  itu, pengetahuan  spiritual Veda  harus  diajarkan sejak masa brahmacari  (masa kanak-kanak dan masa muda menuntut ilmu) su paya kelak seseorang bisa hidup berdasarkan prinsip-prinsip dharma. Semasih kanak-kanak & muda, seseorang hendaklah di-ajarkan pengetahuan material agar kelak bisa mencari  nafkah untuk hidup. Pengetahuan spiritual Veda hanya perlu  dipelajari setelah tua dan tidak lagi mampu bekerja. 

 

13. Tentang Tapa Dan Vrata 

Dengan hidup sederhana (tapa) dan menuruti pantangan-pantangan (vrata) yang ditetapkan oleh kitab suci Veda, seseorang akan mudah mengendalikan indriya-indriya jasmani. Dengan demikian, dia hidup tenang, damai dan bahagia. Terutama sekali,dia mudah mengerti hal-hal spiritual dan menerapkan ajaran Veda  dalam kehidupan sehari-hari. Hidup sederhana berarti hidup miskin. Dan menuruti pantangan-pantangan berarti menyiksa diri. Ini hanya ber-laku  untuk mereka  yang sudah  tua dan tidak lagi mampu menikmati dunia ini.
14. Tentang Kehidupan Di Dunia Fana 

Dunia fana atau alam material  adalah  tempat tinggal sementara penuh duka (Bg.8.15) dan tempat tidak kekal yang tidak menyenangkan (Bg.9.33). Karena berhakekat samsara (menyengsarakan), maka Veda mengajarkan agar manusia menekuni jalan  spiritual (yoga) supaya  lepas dari  samsara kehidupan material dunia fana. Dunia fana sebagai  tempat duka dan derita cuma berlaku bagi orang yang malas bekerja.Dengan bekerja dan ikhtiar keras sang manusia bisa membuat hidupnya enak, senang dan nyaman disini di dunia fana.
15. Tentang Ahimsa 

Jika seseorang sungguh-sungguh menekuni jalan spiritual (yoga), maka dia harus hidup dengan berpegang teguh pada prinsip ahimsa, tidak menyakiti/membunuh makhluk lain. Sebab kebajikan ter-tinggi ada pada ahimsa (Ahimsaya paro dharmah, Veda Smrti). Membunuh hewan/bintang bukan dosa asal dilakukan untuk yajna (ritual) dan dimanfaatkan untuk makanan.
16. Tentang Yajna (Kurban Suci) 

Pada jaman Kali sekarang, Veda melarang pelaksanaan yajna yang mengandung himsa-karma, tindak kekerasan membunuh binatang (Brahma Vaivarta Purana Krsna-Kanda 115.112-113). Sebab, pada masa Kali-Yuga sekarang  tidak ada brahmana yang berkualifikasi melaksanakan pasu-yajna ini. Veda menganjurkan agar penduduk jaman Kali melaksanakan sankirtana-yajna (Bg.9.14, Brhan-Naradiya Purana 38.126 dan 38.97, Visnu Purana 6.2.17, Padma purana Uttara Kanda 72.35 dan Bhag.12.3.51-52). Pasu-yajna dilaksanakan  karena bermanfaat yaitu: a. Binatang yang dijadikan kurban mencapai kehidupan yang lebih tinggi (sebagai manusia). b. Daging si binatang bisa dikonsumsi sebagai makanan.
17. Tentang Tri-Guna 

Seseorang dikatakan berada pada tingkat spiritual (brahma-bhuta) berhubungan dengan Tuhan, jika dia telah mengatasi (=bebas dari) tri-guna, tiga sifat alam material (sattvam, rajas dan tamas) dengan khusuk dalam pelayanan bhakti kepada Tuhan (Bg.14.26) dan berserah diri kepadaNya (Bg.7.14). 

 

 

Tiga sifat alam (tri-guna) ini tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. Sebab, a. Dengan sifat rajas (nafsu) seseorang jadi semangat bekerja. b.Dengan sifat  sattvam (kebaikan) seseorang menikmati kesenangan dari hasil kerjanya. Dan, c. Dengan sifat tamas (kegelapan), seseorang  bisa  ber-istirahat (tidur).
18. Tentang Pengetahuan 

Mengerti/menginsyafi perbedaan antara sang jiva yang spiritual-abadi dengan badan jasmani yang material dan sementara disebut pengetahuan (Bg.13.3). Beraneka-macam cara memuaskan indriya jasmani secara lebih nikmat, lebih canggih dan lebih efisien disebut pengetahuan.
19. Tentang Kali-Yuga
Kali-Yuga (jaman modern sekarang) adalah jaman kegelapan spiritual, jaman  kemunafikan dan kemerosotan ahklak  dan  moral, jaman pertengkaran dan perselisihan, jaman  kepalsuan, jaman edan, jaman kekalutan,jaman kesengsaraan dan penderitaan. Jaman modern sekarang  yang  di-sebut  Kali-Yuga adalah jaman ketika kehidupan manusia paling maju dan paling beradab.
20. Tentang Dharma Dan Adharma 

Berbuat dharma berarti berbuat berdasarkan prinsip-prinsip dharma yaitu: a.Kejujuran (satyam). b.Cinta-kasih (daya). c.Hidup sederhana (tapasa), dan d.Kesucian diri (saucam)   –Bhag.1.17.24.Berbuat adharma berarti: a.Berjudi (dyutam). b.Menyakiti/membunuh makhluk lain  (suna). c.Mabuk-mabukan (panam), dan  d. Berzinah (striyah) — Bhag.1.17.38. Berbuat dharma berarti berbuat baik dan berbuat adharma berarti berbuat tidak baik menurut persepsi masing-masing orang dan sesuai dengan aturan (hukum) Negara, adat-kebiasaan dan nilai-nilai sosial yang dianut masyarakat.
21. Tentang Maya 

Maya adalah tenaga material Tuhan yang unsur-unsur nya adalah tri-guna (Bg.7.14 dan Bhag.11.6.8). Dari maya lah alam material dan badan jasmani segala makhkuk terwujud.Dan Maya adalah khayalan yang timbul dari avidya (kebodohan) dan  bukan  sesuatu yang lain.
22. Tentang Jiva-Bhuta Dan Brahma-Bhuta 

Jiva-bhuta adalah jiva yang merana dalam lingkup samsara dunia fana dan bekerja keras dalam cengkraman maya agar hidup bahagia di alam material (Bg.7.5 dan 15.7).Brahma-bhuta adalah jiva yang telah bebas dari cengkraman maya dan berbahagia pada  tingkat kehidupan  spiritual  pelayanan bhakti murni  kepada  Tuhan (Bg.14.26 dan 18.54). 

 

Orang biasa (jiva-bhuta) adalah ia yang tidak  memiliki  kesaktian (siddhi) sehingga  tidak  mampu melakukan hal-hal ajaib. Orang rohaniwan  hebat (brahma-bhuta) adalah ia yang memiliki  kesaktian (siddhi) sehingga mampu melakukan hal- hal  ajaib seperti keluar api dari telapak tangan, jalan diatas air, dsb.
23. Tentang Maya-Sukha Dan Brahma-Sukha  

Kebahagiaan material semu/khayal dan sementara disebut maya-sukha (Bhag.7.9.43).Kebahagiaan spiritual sejati dan abadi disebut brahma-sukha (Bhag.5.5.1). 

 

Kepuasan indriya jasmani  adalah kebahagiaan  sejati (brahma-sukha). Sebab, jika seseorang  lapar, bagaimana mungkin dia  bahagia?Apa yang disebut kebahagiaan spiritual adalah  kebahagiaan  khayal ( maya-sukha) yaitu kebahagiaan 

mereka yang suka  meng-

khayal karena gagal da-

lam ikhtiarnya hidup ba-

hagia di dunia fana.

 

24. Tentang Sura Dan Asura
Sura adalah makhluk hidup (jiva) yang tergolong bajik, tunduk pada aturan kitab suci  Veda dan Tuhan.Asura adalah makhluk hidup (jiva) yang tergolong tidak bajik dan hidup melawan aturan Veda dan Tuhan (Padma Purana, sebagaimana dikutip dalam CC Adi-lila 3.91). 

 

Orang bajik (sura) adalah orang dermawan yang banyak membantu mereka yang miskin. Orang tidak bajik  (asura) adalah orang  jahat  yang prilaku dan kegiatannya menyusahkan orang lain.
25. Tentang Dunia Rohani 

Drohani atau alam spiritual adalah tempat tinggal abadi, asli dan sejati para makhluk hidup (jiva) dan Tuhan. Dunia rohani penuh dengan ke-aneka-ragaman  penomena, kegiatan dan hubungan antara para jiva dan Tuhan yang selamanya membahagiakan (Bhag.3.15.14-22). Dunia rohani atau alam spiritual adalah alam sunya, ketiadaan, kehampaan atau kekosongan.

 

7. Akibat Distorsi

Jika ajaran Veda yang ter-distorsi di-terima dan di-ikuti, itu  sama  saja dengan mempraktekkan Veda secara salah/keliru dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu artinya sama saja dengan tidak mengikuti ajaran Veda. Lalu apa akibatnya? Veda berkata,”Yah sastra-vidhim utsrjya vartate kama-karatah na sa siddhim avapnoti na sukham na param  gatim, orang yang mencampakkan (tidak menuruti) petunjuk kitab suci dan  berbuat menurut kemauannya sendiri, tidak akan mencapai kesempurnaan hidup ataupun kebhagiaan dan juga tidak mencapai dunia rohani  yang  kekal-abadi (Bg.16.23).

8. Dasar-Dasar Rekonstruksi

Rekonstruksi Hindu yang disajikan disini di-dasarkan pada ajaran pilosofis Veda yang mencakup hal-hal  berikut.

  1. Dua jalan kehidupan yaitu: a. Pravrtti-marga, jalan kehidupan material memuaskan indriya jasmani secara terkendali sesuai aturan Veda agar hidup senang di dunia fana. Dan, b. Nivrtti-marga, jalan kehidupan spiritual supaya lepas dari samsara (derita) kehidupan material dunia fana dan kembali ke dunia rohani (Bhag.7.15.47).
  2. Dua golongan makhluk hidup (jiva) yaitu: a. Sura (deva) yang dikatakan tercipta dari sifat alam sattvam (kebaikan). Dan, b. Asura (demon) yang dikatakan tercipta dari sifat alam rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan) – Bg.16.6 dan Padma Purana sebagaimana dikutip dalam CC Adi-lila 3.91.
  3. Dua macam watak utama (pokok) yaitu: a. Surik (daivi-sampad) yang cendrung pada hal-hal spiritual. Dan, b. Asurik (asuri-sampad) yang cendrung pada hal-hal material (Bg.16.1-2). Dari sini lahir kesadaran spiritual dan kesadaran material.
  4. Dua tujuan (hasil) yang dicapai setelah ajal yaitu :1. Mukti  (kelepasan dari derita kehidupan material dunia fana dan kembali ke dunia rohani) dicapai oleh mereka yang tergolong Sura (Deva). 2. Samsara (kembali dalam siklus kelahirtan dan kematian di dunia fana) dicapai oleh mereka yang tergolong Asura (Demon) – Bg.16.5 dan Bhag.7.15.47.
  5. Dua macam kegiatan/perbuatan yaitu: 1. Subha-karma (perbuatan bajik) berdasakan prinsip-prinsip dharma yakni kejujuran (satyam), cinta-kasih (daya), hidup sederhana (tapasa) dan kesucian diri (saucam). 2. Asubha-karma, perbuatan jahat/berdosa berdasarkan prinsip-prinsip adharma yaitu berjudi (dyutam) berzinah (striyah), mabuk-mabukan (panam) dan tindak kekerasan menyakiti/membunuh makhluk lain (sunah) – Bhag.1.17.24 dan 1.17.38).
  6. Dua kelompok utama kitab suci Veda yaitu: 1. Kitab-kitab Aranyaka berisi aturan hidup nivrtti-marga. 2. Kitab-kitab Brahmana berisi aturan hidup pravrtti-marga.
  7. Tiga sifat alam material (tri guna) yaitu sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan) yang mengikat  segala makhluk hidup di dunia fana (Bg. Bab XIV, MS. Bab XII dan kitab – kitab Smrti lainnya).
  8. Tiga bagian isi Veda yaitu: 1. Karma-kanda, melaksanakan berbagai ritual (yajna) kepada para deva agar hidup nyaman dan senang di dunia fana.  2. Jnana-kanda, melepaskan diri dari akibat (phala) perbuatan (karma yang mengikat di dunia fana dengan menginsyafi aspek Tuhan impersonal sebagai Brahman. 3. Upasana-kanda, melakukan pelayanan cinta kasih (bhakti) kepada Kepribadian Tuhan YME (Bhagavan).
  9. Empat tingkatan jalan kerohanian (yoga) yaitu karma, jnana, dhyana dan bhakti yang ditekuni orang-orang sesuai dengan tingkat kesadarannya masing-masing sesuai dengan kadar tri guna yang dominan menyelimuti dirinya.
  10. Lima tingkat kesadaran berdasarkan kedudukan sang makhluk hidup (jiva) dalam badan jasmani (Bg.3.42) dan kekuatan tenaga material (maya) Tuhan mengkhayalkan sang jiva (Taittiriya Upanisad 2.1-5). Lima tingkat kesadaran ini disajikan pada tabel berikut.
  11. Dua status kehidupan yaitu: 1. Brahma- bhuta, makhluk hidup (jiva) yang telah bebas dari ikatan unsur-unsur maya yaitu tri guna. 2. Jiva-bhuta, makhluk  hidup  (jiva) yang tetap di-ikat oleh unsur- unsur maya  yaitu tri-guna di dunia fana (Bg.14.26, 18.54, 7.5 dan 15.7).
  12. Dua macam kebahagiaan yaitu: 1. Brahma-sukha,  kebahagiaan spiritual sejati dan ber-langsung terus- menerus. 2. Maya-sukha, kebahagiaan material khayal, semu dan berlangsung sebentar saja  (Bhag.5.5.1 dan 7.9.43).

9. MEREKONSTRUKSI HINDU

Berikut disajikan beberapa tampilan rekonstruksi tentang hubungan antara ke 12 (dua-belas) unsur ajaran pilosofis Veda sebagaimana telah diuraikan pada bagian 8 dimuka.

  • REKONSTRUKSI I : Hubungan manusia dengan tri- guna, tingkat kesadaran, watak/sifat dan kegiatan/perbuatan.

PENJELASAN

Para Sura (deva) dikatakan diliputi sifat visuddha-sattvam (kebaikan murni) dan berkesadaran spiritual karena Sura adalah bhakta Sri Krishna

yang sibuk dalam pelayanan bhakti (cinta-kasih) kepadaNya (Padma Purana, dikutip dalam CC Adi-lila 3.91). Karena itu, semua kegiatannya berhakekat naiskarmya, tidak menimbulkan akibat baik atau buruk apapun dan mengatasi tri-guna, berhakekat spiritual dan mensucikan dirinya (Bg.9.27-28 dan 14.26, Bhag.11.14.19 dan BS.5.54). Mereka hidup dalam kebahagiaan spiritual (brahma-sukha). Sebaliknya, para Asura dicengkram kuat oleh tri-guna sehingga berkesadaran materialistik. Mereka sibuk dalam kegiatan material (adharma) memuaskan indriya jasmani dan menikmati kebahagiaan material semu dan sementara (maya-sukha) di dunia fana.

  • REKONSTRUKSI II : Hubungan manusia dengan jalan kehidupan, kitab suci penuntun, status kehidupan dan tujuan yang dicapai.

Inti kegiatan jalan kehidupan Nivrtti-marga adalah pelayanan cinta-kasih (bhakti) kepada Sri Krishna. Sedangkan jalan kehidupan Pravrtti-marga berpondasi tri-varga yaitu dharma, artha dan kama (Bg.18.34). Maksudnya, dalam bekerja mencari artha ,carilah artha (kekayaan) itu berdasarkan prinsip-prinsip dharma untuk memenuhi kebutuhan hidup melalui pemuasan indriya jasmani (kama). Ini disebut jalan kehidupan memuaskan indriya secara terkendali. Dharma  disini  mengacu  pada aturan hidup yang tercantum dalam bagian Karma-Kanda Veda.

  • REKONSTRUKSI III : Hubungan manusia dengan macam kesadaran, jalan kerohanian (yoga), bagian ajaran Veda dan kitab suci penuntunnya.

Disini dikatakan bahwa orang yang tergolong Sura berkesadaran spiritual. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan pada rekonstruksi I, sang Sura adalah bhakta Tuhan Krishna yang juga disebut Sri Visnu atau Narayana. Dalam melakukan pelayanann bhakti kepadaNya, sang bhakta selalu berpikir, “Aku adalah jiva rohani-abadi yang berkedudukan dasar sebagai pelayan kekal Sri Krishna.  Kewajibanku adalah menyenangkan/memuaskan Beliau. Hanya dengan cara ini aku hidup bahagia”.

Sedangkan mereka yang tergolong Asura hidup berdasarkan paham jasmaniah,“Aku adalah badan jasmani ini yang bernama si Anu”, dengan pola pikir materialistik berbeda-beda yaitu egoistik, intelektualistik, mental dan sensual. Semua pola pikir ini di-landasi keinginan  menyenangkan/memuaskan diri sendiri, bukan menyenangkan Tuhan.

 

  • REKONSTRUKSI IV : Hubungan jalan kerohanian (yoga) dengan tingkat kesadaran yang terkait dengan maya dan unsur jasmani dan suasana kehidupan.

PENJELASAN

Orang yang menekuni jalan bhakti dan berkesadaran spiritual dikatakan berada dalam lingkungan tenaga rohani (yoga-maya atau daivi-prakrti) Tu-

han Krishna (Bg.4.13). Karena itu, dia selalu merasa bahagia. Dan dia dikatakan berada pada tingkat spiritual (brahma-bhuta) dan menikmati keba-

hagiaan spiritual abadi (brahma-sukha) – Perhatikan Bg.14.26 dan 18.54. Sedangkan mereka yang menekuni jalan karma, jnana dan dhyana  di-

katakan berada dalam cengkraman tenaga material (maha-maya) Sri Krishna. Sebab mereka masih sibuk dalam usaha, kegiatan dan urusan

untuk memenuhi keinginan diri pribadinya masing-masing (lihat penjelasan pada rekonstruksi III). Karena itu, mereka masih  tetap ter-golong

jiva-bhuta, makhluk hidup yang terperangkap di alam fana dan berjuang keras agar hidup bahagia (Bg.7.5 dan 15.7). Mereka menikmati ma-

ya-sukha, kebahagiaan material semu, khayal dan sementara.

 

  • REKONSTRUKSI V : Hubungan macam kesadaran dengan  tingkat kesadaran, jalan  kerohanian (yoga), nama  praktisi (pelaku) yoga dan tujuan yang dicapai.

PENJELASAN

Kesadran spiritual lahir dari keinsyafan diri,“Aku adalah jiva rohani-abadi yang berkedudukan dasar sebagai pelayan kekal Sri Krishna”. Ka-

rena itu, sang bhakta yang berkesadaran spiritual bertujuan kembali pada kedudukan dasarnya sebagai pelayan Tuhan. Sedangkan kesadaran egoistik, intelektual, mental dan sensual tergolong tingkat kesadaran material karena lahir dari unsur-unsur jasmani

yaitu: ego, kecerdasan, pikiran dan indriya-indriya. Mereka yang berada dalam kesadaran sensual dan mental, amat melekat pada kesenangan material dunia fana. Karena itu, mereka pasti memilih jalan Karma agar hidup lebih enak dan nyaman dengan lahir di alam surgawi. Ini dicapai dengan menghaturkan berbagai ritual (yajna) kepada para deva. Mereka yang berada dalam kesadaran intelektual,pasti menekuni jalan Jnana agar bebas dari akibat (phala) perbuatan (karma) yang mengikat dan menyengsarakan di dunia fana. Mereka ingin bersatu dengan Tuhan impersonal (Brahman). Dan mereka yang berada dalam kesadaran egoistik pasti menuruti jalan Dhyana agar dirinya menjadi hebat dengan memiliki berbagai macam kekuatan mistik alamiah (siddhi). Tujuan ini dicapai melalui meditasi kepada Tuhan (Paramatma).

 

  • REKONSTRUKSI VI : Hubungan jalan kerohanian (yoga) dengan bagian ajaran Veda, nama kitab suci, tri-guna dan nasib setelah tujuan dicapai.

 

 

PENJELASAN

Hanya orang yang menekuni jalan bhakti bernasib paling baik, sebab kecintaan (bhakti) nya kepada Sri Krishna membuat dia berkualifikasi masuk ke dunia rohani dan terus tinggal disana bersama Nya dalam kebahagiaan abadi (Bg.8.22, 9.34, 11.54, 18.55 dan 18.65). Mereka yang menekuni jalan dhyana (dan disebut yogi mistik) dan jalan jnana (yaitu orang jnani) harus jatuh dan lahir lagi ke dunia fana. Berbagai kekuatan mistik alamiah (siddhi) yang telah dimiliki sang yogi, tidak membuat dirinya berkualifikasi masuk ke dunia rohani. Sedangkan sang jnani harus jatuh lagi ke dunia fana setelah mencapai Tuhan impersonal (Brahman). Sebab, keinsyafan dirinya tentang Tuhan tidak sempurna dan dia tidak  mau  mengabdikan diri kepada Kepribadian Tuhan YME (Bhag.10.2.32). Sementara itu, orang yang menekuni jalan karma (dan di-sebut karmi) kembali lagi jatuh ke Bhumi setelah  hasil (phala)  kegiatan bajik (subha-karma) nya habis dinikmati di Svarga-Loka (Bg.9.12 dan Bhag.5.26.37). Selanjutnya dia berputar-putar di alam material dengan berganti-ganti badan jasmani.

 

10. LOGIKA BHAKTI

Dari rekonstruksi III, IV, V dan VI tersebut diatas, dapat di simpulkan bahwa Sri Krishna hanya  bisa di-mengerti dan dicapai dengan jalan bhakti (cinta-kasih) kepadaNya. Kesimpulan ini tidak sulit di-pahami  dengan  menggunakan akal-budi (common-sense) yang dilandasi logika sederhana berikut.

  1. Anda bisa mengerti segala hal yang terkait dengan diri seseorang jika anda bergaul secara dekat/intim/akrab dengannya.  Begitu  pula, anda bisa mengerti Sri Krishna bila anda bisa bergaul secara intim/akrab denganNya. Pergaulan intim ini hanya bisa dilakukan dengan mencintai (bhakti kepada) Nya. Dan Tuhan sendiri secara otomatis (sesuai janjiNya) membuat diriNya dekat/intim/akrab dengan siapapun yang mencintai (bhakti kepada)Nya (perhatikan Bg.12.14-20).
  2. Anda tidak mungkin mau mengajak tinggal serumah orang  yang dengki kepada diri anda. Dan anda hanya mau  mengajak tinggal serumah orang yang senang kepada diri anda. Begitu pula Sri Krishna tidak mungkin mau mengajak sang makhluk hidup (jiva) yang iri-dengki kepada diriNya. Hanya jiva yang cinta (bhakti) kepada diriNya di-perkenankan tinggal bersama Beliau di dunia rohani tempat tinggalNya.

Itulah sebabnya Sri Krishna berulang-kali minta agar kita semua jadi bhaktaNya (Bg.9.34 dan 18.65, dan perhatikan pula Bg.4.3, 6.22, 13.19, 18.67-68 dan Bg.7.17, 8.10 dan 9.29).

 

Sumber: Heka Wikana,

Penulis buku “Merekonstruksi Hindu”

 

Translate »
%d bloggers like this: