Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Depavali, Janmastami, Kumbamela, Nyepi, Tumpek, dan Siva Ratri adalah sedikit dari sekian banyak hari raya dalam agama Hindu. Namun ternyata jika kita bandingkan hari raya – hari raya umat Hindu di India dengan di Indonesia dan di Bali khususnya, terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Meskipun secara prinsip mungkin sama, namun dilihat dari nama dan waktu penyelenggaraannya, kebanyakan hari raya umat Hindu di Bali tidak ada di India dan demikian juga sebaliknya. Mungkin satu-satunya perayaan yang secara prinsip dan memiliki nama yang sama hanyalah Siva Latri.

Dasar perayaan Siva Ratri terutama sekali dapat kita temukan dalam cerita-cerita yang disampaikan dalam kitab-kitab Purana. Meskipun memberikan hikmah yang serupa, namun ada beberapa versi perayaan Siva Ratri ini.  Di dalam Hari Bhakti Vilas, Adhyaya 14 – sloka 200, yang dikutip dari Skanda Purana, bagian Nagara Khanda dikatakan: “yani kany atra lingani sthavarani  carani ca tesu sankramate  devas tasyam ratrau yato harah siva ratris tatah prokata  tena sa hari vallabhah, Dalam bentuk apapun bentuk Siva Lingam yang bisa ditemukan di bumi ini, pada hari keempatbelas di malam bulan mati pada bulan palguna, saat itu, dewa Siva (Hara), pemimimpin para dewa, akan hadir (masuk) di dalam lingam tersebut. Karena itu, hari siva ratri ini merupakan hari yang sangat dicintai oleh Sri Hari”. Dalam versi seperti yang di disebutkan dalam sloka ini, pada hari keempat belas  tepatnya di malam bulan mati, dewa Siva memasuki setiap bentuk Linga yang ada di alam semesta (khususnya di bumi) karena tepat di hari ini, beliau di kutuk oleh seorang Rsi supaya alat kelamin beliau jatuh ke bumi. Linga sebenarnya melambangkan alat kelamin dewa siva yang jatuh ke bumi untuk memberikan kesempatan kepada para pemujanya untuk berhubungan lebih dekat dengan beliau. Sedangkan dalam sloka yang lain juga di uraikan bahwa hari Siva Ratri merupakan hari kemunculan dewa Siva dari amarah dewa Brahma. Ketika beliau muncul dari amarah dewa Brahma, tangisan beliau menggentarkan seluruh alam semesta. Karena itulah beliau juga di kenal dengan nama Rudra (orang yang menangis). Terlepas dari dua versi cerita yang mengawalinya, seluruh umat Hindu di dunia lebih mengenal Siva Ratri sebagai hari dimana  dewa Siva melakukan Yoga Samadi atau meditasi untuk kesejahtraan alam semesta.

Meski dasar pemahaman pelaksanaan Siva Ratri di Indonesia dan di belahan dunia yang lain sama, namun uniknya ternyata dari segi waktu pelaksanaannya terdapat perbedaan yang mencolok. Perayaan Siva Ratri di Indonesia yang didasarkan pada tradisi turun-temurun sebagaimana tertuang dalam lontar Waraspati Tatwa yang banyak ditemukan di Bali dihitung berdasarkan  penanggalan Tahun Saka, yaitu jatuh pada Panglong keempatbelas, sasih kapitu. Sehingga dengan penanggalan ini, perayaan Siva Ratri di Indonesia pada tahun 2011 ini sudah dilaksanakan pada hari Senin, 3 Janauari dua bulan yang lalu. Sedangkan umat Hindu yang mengikuti tradisi di India, penanggalan didasarkan pada sistem kalender yang diturunkan dari kitab Jyotisastra, dan perhitungannya disesuaikan dengan sloka Skanda Purana sebagaimana yang telah dikutip di atas, yaitu selalu jatuh pada hari keempatbelas di malam bulan mati pada bulan palguna. Sehingga dengan sistem penangalan ini, Siva Ratri tahun 2011 jatuh pada tanggal 3 Maret.

Terlepas dari kontroversi penetapan hari raya Siva Ratri ini, hendaknya kita menyadari bahwasanya kehidupan beragama adalah kehidupan yang dimaksudkan untuk melakukan pertapaan dengan mengatur tindakan, perkataan dan pikiran (kayika vacika manacika ca). Pertapaan ini dapat dilatih lebih intense pada even-even hari raya karena biasanya dengan adanya hari yang dispesialkan seperti itu, manusia akan memiliki sugesti yang lebih kuat terhadap dirinya sendiri dan memberikan dorongan untuk lebih berusaha mengendalikan diri lebih kuat. Para pengikut Veda, memandang pertapaan sebagai hal yang sangat penting dalam melatih seseorang mengendalikan ketiga hal tersebut diatas sehinga mampu mengatur dirinya sendiri. Tanpa seseorang menjalani kedisiplinan dalam hidupnya, maka meskipun dia berada dalam badan manusia, dia tidak akan mampu mengangkat karakternya kedalam katagori sebagai manusia. Karena itu sastra menyebut orang seperti itu sebagai “dvi-pada-pasu” atau binatang berkaki dua. Mengembangkan karakter manusia bagi umat manusia merupakan hal yang sangat penting di dalam masyarakat. Karena itu kesusatran Veda menekankan dan berkali-kali mengingatkan umatnya untuk mengembangkan karakter yang baik. Perayaan-perayaan yang disebutkan dalam kitab suci Veda dimaksudkan untuk mendidik umat mengingat lila Tuhan Yang Maha Esa dan pada saat yang sama melalui pantangan-pantangn yang ditetapkan ditujukan untuk mengembangkan karakter yang baik di dalam diri manusia.  Disamping itu perayaan juga dimaksudkan untuk mengembangkan sikap kerja sama dengan sesama manusia di masyarakat.

Karena hari Siva Ratri merupakan hari yang sangat spesial bagi dewa Siva dan merupakan hari yang juga sangat dicintai oleh Sri Hari, maka semua umat Hindu baik dia adalah Sivaism, Vaisnava atau dari garis perguan yang lainnya sebaiknya merayakan Siva Ratri dan mengikuti pantangan-pantangan yang ditetapkan. Kesusastraan Veda menyebutkan bahwa siapapun yang melakukan tapa brata di hari Siva Ratri akan dianugrahi berkat sesuai dengan keinginan mereka oleh dewa Siva. Pada hari Siva Ratri ini, seseorang dianjurkan untuk mengikuti brata berpuasa satu hari penuh, tidak tidur semalaman dan melakukan monobratha. Istilah monobratha di sini bukanlah berarti tidak berbicara sama sekali, tetapi tidak membicarakan hal-hal bersifat material dan hanya membicarakan kerohanian seperti mendiskusikan kitab suci dan kegiatan rohani Tuhan Yang Maha Esa dan/atau dewa Siva sesuai dengan yang diuraikan di dalam sastra. Dengan berpuasa sehari dan tidak tidur di malam hari ini, maka secara otomatis seseorang akan mendapatkan banyak waktu luang untuk melakukan kegiatan kegiatan spiritual dibandingkan dengan hari-hari biasa. Namun jika dengan berpuasa akan menyebabkan diri kita jatuh sakit dan lemah sehinga akhirnya tidak mampu melakukan kegiatan spiritual seperti bersembahyang, membaca kitab suci atau ikut serta dalam mendengarkan dharma wacana, maka dianjurkan untuk tidak melakukan puasa karena kegiatan sembahyang dan mengikuti upacara lebih penting dari berpuasa.

Hari raya tidak dimaksudkan untuk memuaskan indria-indria jasmani. Tapi hari raya dimaksudkan untuk memuaskan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan untuk menjalankan dharma bukan untuk menghancurkan pilar dharma. Di dalam kitab Veda diuraikan bahwa ada empat pilar utama Dharma dan empat pilar utama Adharma. “tapah saucam daya satyam  iti pada krte krtah  dyutam panah striya sunah  yatra adharma catur vidhah, Pertapaan, kebersihan (kesucian), cinta kasih, dan kejujuran merupakan sifat umum di jaman satya yuga (dimana dharma masih berdiri kokoh). Berjudi, mabuk mabukan, berjinah dan pembunuhan (termasuk pembunuhan binatang yang tidak diperlukan yang meskipun dengan atas nama yajna) merupakan empat pilar adharma”. Karena perayaan suci merupakan perayaan yang menyimbulkan kejayaan Dharma, kalau seseorang melaksanakan kegiatan adharma, maka itu sama dengan menghina dan mencemari hari raya tersebut.  Dengan demikian, seseorang mesti mengerti dan berusaha untuk menghindari perjudian, perzinahan, mabuk-mabukan dan pembunuhan (termasuk pembunuhan terhadap binatang yang tidak diperlukan). Dengan menghindari keempat kegiatan berdosa tersebut, maka seseorang akan mampu membawa diri seseorang ke dalam kedudukan kebaikan sehinga seseorang akan lebih mudah untuk mengontrol diri. Tanpa seseorang mampu mengontrol diri, merupakan hal yang mustahil untuk menjadi orang yang disiplin. Sehingga sangatlah disayangkan ketika banyak orang menyalahgunakan dan mengatasnamakan hari raya untuk menikmati kepuasan indria yang tidak dianjurkan di dalam sastra. Karena bergadang semalam suntuk dan memiliki banyak waktu luang, seseorang mengunakan kesempatan ini untuk berjudi, mabuk-mabukan, dan keluyuran malam-malam dengan dengan tujuan yang tidak jelas. Inilah penyimpangan terbesar yang harus segera disadari oleh setiap penganut Veda.

Sambil mengadakan tapa brata, hendaknya hari raya juga dilaksanakan dengan meriah, seperti pertunjukan permainan drama, dharma wacana, tarian atau kesenian lainnya yang berhubungan dengan kegiatan kegiatan Tuhan dan cerita-cerita rohani yang berkaitan dengan hari raya tersebut sebagaimana diuraikan di dalam purana dan kesusastraan-kesusastraan Veda lainnya. Dengan mengikuti festival perayaan seperti ini, secara otomatis, kegiatan seseorang akan terbawa oleh pengaruh suasana hari raya. Dan dengan demikian seseorang bisa melatih kedisiplinan di dalam dirinya masing-masing. Selain itu, perayaan seperti ini juga dimaksudkan agar seseorang mengenang kesalahan yang mereka telah lakukan dan agar kedepannya dapat berusaha menghindari kesalahan atau kegiatan berdosa yang serupa.

“namas tu rudräya parvaté-pataye”

Om tat sat

Translate »
%d bloggers like this: