I. DEFINISI BHAKTI

Bhakti didefinisikan sebagai: “Hrsikena hrsikesa sevanam bhaktir ucyate, menyibukkan seluruh indriya jasmani untuk melayani sang Penguasa seluruh indriya yaitu Hrsikesa disebut bhakti” (Narada Pancaratra sebagaimana dikutip dalam BRS Purva-Vibhaga 1.12). Hrsikesa adalah nama lain Tuhan yang Maha Esa, Sri Krishna (perhatikan Bg.2.10). Definisi lain bhakti adalah, “Tad arpitakhilacarata, mempersembahkan semua hasil kerja kepada Tuhan” (Narada Bhakti Sutra sloka 19). Kedua definisi ini adalah pengertian bhakti secara praktis. Oleh  karena seseorang hanya mungkin mau melayani Tuhan seperti itu atau mau menghaturkan semua hasil kerjanya kepada Beliau jikalau dia mencintaiNya, maka secara literal bhakti berarti cinta-kasih.

 

II. BHAKTI BERHAKEKAT NAISKARMYA DAN MENSUCIKAN

Naiskarmya berarti tidak menimbulkan akibat (phala) baik ataupun buruk bagi si pelaku kerja. Dan dengan melaksanakan tugas-pekerjaan  dalam pelayanan bhakti (cinta-kasih) kepada Sri Krishna, seseorang menjadi bebas dari segala akibat (phala) kerja dan tersucikan. Dalam hubungan ini Sri Krishna berkata, ”Apapun yang anda perbuat dan kerjakan, tat kurusva mad arpanam, lakukan semua itu sebagai persembahan kepadaKu. Subhasubha phalair evam  moksyase  karma-bandhanaih, dengan cara ini anda bebas dari akibat kerja baik atau pun buruk (Bg.9.27-28).Yajnarthat karma, laksanakan pekerjaanmu sebagai yajna untukKu. Anyatra loko’yam karma bandhanah, jika tidak maka hasil (phala) kerjamu akan mengikat anda di dunia fana (Bg.3.9)”.

Sri Krishna lebih lanjut berkata, ”Karma suddhir mad arpanam, pekerjaan itu tersucikan jika dilakukan sebagai persembahan kepadaKu (Bhag.11.21.15). Mayi bhaktim param kurvan karmabhir na sa badhyate, orang yang melakukan pelayanan bhakti kepadaKu, tidak diikat oleh hasil kerjanya (Bhag. 11.29.28)”. Bekerja melayani Tuhan YME, Sri Krishna dengan mempersembahkan hasilnya kepada Beliau, menuntun seseoran jadi sarvopadhi vinirmuktam tat paratvena nirmalan, bebas dari ikatan material dan dengan cara ini hidupnya disucikan (Narada Pancaratra sebagaimana di-kutip dalam BRS purva VIbhaga 1.12).

Hanya bekerja untuk kepuasan Tuhan Yang Maha Esa bisa disebut bhakti. Sebab, Sri Krishna selamanya berhakekat mutlak-spiritual (lihat Bg.4.6 dan 9, dan 14.19), sehingga Beliau mampu meniadakan segala akibat baik ataupun buruk dari kerja (karma) yang dilakukan seseorang sebagai persembahan kepadaNya. Terutama sekali, pelayanan bhakti yang dilakukan kepada Sri Krishna menghancurkan segala reaksi (phala) kegiatan berdosa (asubha-karma). Kepada bhaktaNya Uddhava, Beliau berkata, ”Uddhava yang baik, pelayanan bhakti kepadaKu adalah bagaikan api unggun yang membakar segala reaksi dosa seberapapun banyaknya menjadi abu” (Bhag.11.14.19).

 

III. BHAKTI SEJATI

Bhakti sejati disebut pula bhakti murni atau bhakti utama. Apakah bhakti sejati itu? Tentang hal ini dikatakan sebagai: “Anyabilasita sunyam jnana-kamady anavrttam anukulyena krsnanusilanam bhaktir uttama, bhakti sejati kepada Sri Krishna berarti melayaniNya dengan cara begitu rupa untuk menyenangkan Beliau. Pelayanan demikian harus bebas dari keinginan memperoleh imbalan, bebas dari pengetahuan tentang Tuhan impersonal dan bebas dari segala kepentingan pribadi” (BRS. 1.1.11).

Jadi bhakti sejati berarti pelayanan yang dilakukan semata-mata untuk memuaskan Tuhan YME, Sri Krishna berdasarkan cinta-kasih. Bukan untuk menyenangkan sesuatu yang lain dan bukan pula untuk memperoleh imbalan berupa kekayaan material, kekuasaan duniawi dan  bahkan  termasuk mukti, kelepasan dari kehidupan material dunia fana yang menyengsarakan. Karena itu Sri Krishna menjelaskann tentang bhakta sejati sebagai: “Bhakta yang telah sepenuh hati berserah diri kepadaKu dan mantap dalam pelayanan  bhakti kepadaKu, tidak menginginkan apapun termasuk mukti dariKu” (Bhg.11.20.34). “BhaktaKu yang mantap dalam pelayanan bhakti kepadaKu dengan senantiasa ingat diriKu dan lilaKu, tidak menginginkan jabatan Brahma atau jabatan Indra, ataupun kekuasaan atas Tri Bhuvana, pemilikan delapan siddhi dan juga tidak mendambakan mukti” (Bhag.11.14.14).

Para bhakta sejati Tuhan berdoa sebagai berikut.

  • Tuhanku, seandainya setelah mencapai mukti hamba tidak memiliki kesempatan mendengar tentang keagunganMu sebagaimana diperbincangkan oleh para bhaktaMu yang murni, maka biarlah hamba tidak pernah mencapai mukti.  Hamba  berdoa kepadaMu agar dianugrahi berjuta-juta mulut dan telinga supaya bisa terus-menerus mengumandangkan dan mendengar tentang keagunganMu (Bhag.4.20.24).
  • Tuhanku, seandainya hamba meninggalkan pelayanan bhaktiku kepadaMu dan mencapai Dhruva-loka atau memiliki kekuasaan atas seluruh Tri Bhuvana. Tetapi hamba tidak menginginkan satu pun dari semua ini. Dan hamba juga tidak menginginkan kekuatan yoga mistik ataupun mukti. Hamba hanya ingin berhubungan denganMu dalam pelayanan bhakti nan tulus (Bhag.6.11.25).

Karena itu, mempersembahkan hasil (phala) kerja (karma) kepada deva-deva tertentu bukanlah bhakti. Sebab,

  1. Sang penyembah deva ingin memperoleh berkah material dari para deva itu.
  2. Para deva apapun tidak mampu meniadakan akibat (phala) baik ataupun buruk dari kerja (karma) yang dilakukan seseorang. Sebab, para deva itu berada pada tingkat material dan diikat oleh hukum karma (perhatikan Bg.18.40).

 

IV. HANYA DENGAN BHAKTI SESEORANG TERTUNTUN KE TINGKAT SPIRITUAL

Tentang hal ini, Sri Krishna berkata, ”Mam cayo’vyabhicarena bhakti-yogena sevate sa gunan samatityaitan brahma-bhuyaya kalpate, orang yang tekun dalam pelayanan bhakti kepadaKu tanpa pernah gagal (terhenti), seketika mengatasi tri-guna dan mencapai tingkat  spiritual  brahma-bhuta” (Bg.14.26).  Berada pada tingkat spiritual brahma-bhuta berarti seseorang bebas dari ikatan jerat maya nan halus yaitu tri-guna, tiga sifat alam material: sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan dan tamas (kegelapan). Dengan kata lain, pada tingkat spiritual brahma-bhuta, sang jiva lepas dari cengkraman maya, tenaga material Sri Krishna yang mengkhayalkan. Dikatakan bahwa pada tingkat spiritual brahma-bhuta, seseorang senantiasa berbahagia, tidak pernah sedih, tidak menginginkan hal-hal material apapun, bertindak sama kepada semua makhluk, melakukan pelayanan bhakti murni kepada Tuhan, dan hidup suci (Bg.18.54 dan 6.27).

Bahwa hanya bhakti menuntun ke tingkat spiritual dapat dijelaskan dengan analogi berikut.

“SEBATANG BESI JADI MERAH MENYALA DAN MAMPU MEMBAKAR KARENA TERUS-MENERUS DITARUH DALAM API. BEGITU PULA, DENGAN SELALU BERHUBUNGAN DALAM PELAYANAN BHAKTI KEPADA SRI KRISHNA YANG MUTLAK SPIRITUAL, SANG BHAKTA BERADA PADA TINGKAT SPIRITUAL”.

V. HANYA DENGAN BHAKTI ORANG BISA MENGERTI DAN MENCAPAI TUHAN

Sri Krishna berulang-kali menyatakan bahwa Beliau hanya bisa dimengerti dan dicapai dengan bhakti (cinta-kasih) kepadaNya. “Bhaktya tuananyaya sakya aham eva vidho’rjuna, Arjuna, Aku hanya bisa dicapai dengan bhakti tulus (Bg.11.54). Bhaktya mam abhijanati yavan yas casmi tattvatah tato mam tattvato jnatva visate tad anantaram, seseorang bisa mengerti Aku sebagai Kepribadian Tuhan YME hanya dengan bhakti. Bila dia sepenuhnya sadar kepadaKu dengan bhakti demikian, maka dia bisa kembali ke dunia rohani” (Bg.18.55). Perhatikan pula Bg.4.3, 8.22, 9.34,13.19, 18.65 dan 18.67- 68, dan lihat juga Bg.7.17, 8.10, 9.29 dan 12.14-20.

Jalan kerohanian (yoga) lain (karma, jnana dan dhyana) yang tidak didasarkan pada penyerahan diri dalam pelayanan Bhakti tidak memungkinkan orang mengerti bahwa Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME. Beliau berkata, “Naham vedair na tapasa na danena na cejyaya sakya evam vidho drastum drstavan asi mam yatha, wujudKu yang spiritual ini tidak bisa dimengerti dengan belajar Veda, pertapaan keras, banyak beramal dan juga dengan rajin sembahyang. Bukan dengan cara-cara ini Aku bisa dimengerti” (Bg.11.53). Sri Krishna lanjut berkata, “Meskipun dengan ikhtiar keras seseorang berusaha menekuni sistem yoga mistik, pengetahuan filosofis  (sankhya), melakukan pertapaan (tapasa), menuruti berbagai pantangan (vrata), melaksanakan banyak ritual (yajna), mempelajari Veda sendiri (svadhyaya), mengajarkan pengetahuan Veda kepada orang lain (vakya)  atau  hidup sebagai  sannyasi, namun dia tetap tidak akan bisa  mencapai  diriKu” (Bhag.11.12.9).

Veda menyatakan, ”Satu benda dipahami secara berbeda oleh indriya-indriya jasmani yang berbeda, karena benda itu memiliki ciri-ciri berbeda. Begitu pula, Tuhan itu satu, tetapi Ia nampak (dimengerti secara) berlainan-lainan sesuai dengan penjelasan (bagian-bagian) Sastra yang berbeda-beda” (Bhag.3.32.33). Contoh praktis dari sloka ini adalah benda yang disebut susu.  > Bila dilihat mata, ia berwarna putih, bila disentuh tangan, ia terasa hangat, bila dicium oleh hidung, ia berbau gurih, bila didengar oleh telinga, ia disebut susu, bila diminum, ia terasa enak oleh lidah. Seseorang tidak akan pernah bisa mengerti apakah sesungguhnya susu itu dengan melihat, menyentuh, mengendus atau mendengar. Seseorang bisa mengerti susu itu dengan benar hanya jikalau dia minum susu itu. Begitu pula, seseorang bisa mengerti dan mencapai Sri Krishna hanya dengan bhakti.

 

VI. HANYA DENGAN BHAKTI SESEORANG SUNGGUH DISUCIKAN

Veda menyatakan bahwa penyucian diri melalui proses karma-yoga (sebagaimana tercantum dalam bagian Karma-Kanda Veda) dengan menghaturkan ritual (yajna) kepada para deva adalah kunjara saucavat, ibarat gajah mandi (Bhag.6.1.10). Setelah bersih dengan mandi di sungai, si gajah akan kembali melumuri dirinya dengan lumpur ketika merasa kepanasan. Begitu pula, setelah melakukan pensucian diri (prayascitta), sang karmi akan kembali berbuat dosa. Sebab, keinginan memuaskan indriya jasmani tetap kuat menyelimuti hatinya.

Veda menyatakan pula bahwa pensucian diri melalui proses jnana-yoga (sebagaimana tercantum dalam bagian Jnana-Kanda Veda) dengan  menginsyafi diri berdasarkan pengetahuan Veda (jnana-vimarsanam – Bhag. 6.1.11) dan hidup suci berdasarkan aturan Veda, mengandung keinginan untuk menjadi sama seperti Tuhan. Dan sang jnani kerap kali berpikir kekeliru dengan  menganggap diri telah menjadi Brahman impersonal, Tuhan tanpa wujud, tanpa sifat dan tanpa ciri apapun.

Begitu pula, pensucian diri melalui proses dhyana-yoga mengandung keinginan memperoleh kekuatan mistik (siddhi) dengan meditasi  kepada Tuhan (Paramatma). Dan sang yogi  kerap-kali berpikir keliru dengan menganggap diri telah sama hebat dengan Tuhan.  Dalam menuruti proses pensucian diri dengan jnana dan dhyana-yoga, kemungkinan gagal amat besar. Sehingga dalam kehidupannya, orang yang disebut jnani atau yogi kembali menjadi karmi dan berkegiatan pamerih. Tetapi dengan menekuni jalan kerohanian bhakti, seseorang benar-benar disucikan. Veda berkata, “Kecit kevalaya bhaktya vasudeva parayanah  agham dhunvanti kartsnyena niharan iva bhaskara, orang yang sungguh-sungguh melakukan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna, mampu menghancurkan segala benih keinginan berdosa tanpa ada kekemungkinan tumbuh lagi (dihati nya), seperti  halnya  sang surya melenyapkan kabut dengan sinarnya” (Bhag.6.1.15).

Pensucian diri melalui proses karma, jnana dan dhyana-yoga tanpa penyerahan diri kepada Tuhan adalah bagaikan mencampur sebotol air kotor dengan satu sendok bubuk kimia. Tidak berapa lama, air kelihatan bersih karena kotoran mengendap didasar botol. Tetapi begitu botol digoyang sedikit saja, maka air akan kembali jadi kotor. Begitu pula, sedikit saja terjadi godaan kenikmatan indriyawi pada dirinya, sang karmi, jnani  atau yogi kembali larut dalam kegiatan  pamerih memuaskan indriya jasmani yang menjadi sumber dosa. Karena itu, dengan menuruti jalan kerohanian bhakti, seseorang bisa bebas dari segala keinginan berdosa dan sepenuhnya tersucikan. Dalam hubungan ini, Rishi Sanat Kumara berkata: “O Raja mulia, sang manusia begitu kuat dibelenggu oleh keakuan palsu di dalam hatinya. Ia bagaikan di-ikat kuat oleh banyak tali. Hanya orang yang berkesadaran Krishna (melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan) mampu membuka ikatan-ikatan tali yang membelenggu orang itu. Mereka yang sibuk melaksanakan ritual (yaitu para karmi), mereka yang sibuk berdiskusi tentang pengetahuan pilosofis Veda (yaitu para jnani) dan mereka yang sibuk melengkapi diri dengan kekuatan mistik (yaitu para yogi), tidak mampu membuka ikatan-ikatan tali yang membelenggu orang itu” (Bhag. 4.22.39).  Tali-tali yang mengikat kuat ini adalah berneka-macam keinginan meterial memuaskan indriya jasmani yang memdorong orang berbuat dosa.

VII. HANYA BHAKTI SUNGGUH-SUNGGUH MEMBAHAGIAKAN

Kegiatan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna yang dilakukan selama hidup di dunia fana sungguh membahagiakan. Dikatakan, “Pengetahuan (tentang bhakti)  ini adalah raja pendidikan, paling rahasia dari segala  rahasia, dan merupakan  pengetahuan paling  murni.  Sebab, pengetahuan ini memberikan pemahaman langsung tentang sang diri (jiva) melalui keinsyafan, dan merupakan kesempurnaan praktek agama yang susukham kartum avyayam, berhakekat kekal dan dilaksanakan dengan penuh rasa bahagia” (Bg.9.2).

Veda menyatakan bahwa kebahagiaan yang dirasakan dari melaksanakan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna adalah seperti kebahagia yang dirasakan oleh seorang pengembara yang tiba di rumah setelah melakukan perjalanan lama yang menyengsarakan (Bhag.2.8.6)

Kemajuan pelayanan bhakti yang membahagiakan ini diibaratkan oleh Veda seperti proses makan (Bhag.11.2.42)

 

PROSES MAKAN PROSES  BHAKTI 

 

A.  Seseorang merasakan makanan itu enak dan nikmat dan berpuas hati (tustih). Ia tak perduli pada apapun yang terjadi disekitanya ketika makan enak demikian. A.  Sang bhakta senang melakukan pelayanan cinta-kasih (bhakti) kepada tuhan dan tak perduli pada apapun yang tidak terkait dengan pelayanannya itu.
B. Tiap suap makanan memberikan nutrisi (pusti) yang menopang hidupnya. 

B. Setiap kegiatan pelayanan bhakti memberikan sang bhakta tambahan keinsyafan tentang Tuhan (paresanubhava).
C. Akhirnya rasa laparnya hilang  (ksud-apaya), ia tidak lagi berminat makan. 

 

C. Akhirnya sang bhakta menjadi tidak terikat lagi pada hal-hal material (virakti) karena telah benar-benar menginsyafi tuhan.

 

Dalam Narada Bhakti-Sutra (1.5) dikatakan, “Yat prapya na kincit vanchati na socati na dvesti na ramate notsahi bhavati, setelah mencapai bhakti (cinta-kasih) kepada Tuhan, seseorang bebas dari rasa pemilikan dan tidak pernah sedih. Dia bebas dari segala keterikatan material dan secara spiritual bahagia”.

Bhakti yang membahagiakan dapat dijelaskan dengan analogi berikut. Seperti halnya para pengiring yang melayani sang Raja otomatis menikmati semua kebahagiaan istana. Begitu pula, kebahagiaan yang  diperoleh dari melaksanakan prinsip-prinsip hidup tri-varga (dharma, artha dan kama) otomatis terkandung dalam pelayanan bhakti kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna.

 

VIII. BHAKTI PALING PASTI MEMBERIKAN HASIL DAN PALING AMAN

Tentang hal ini, Veda berkata: ”Nehabhikrama naso’ sti pratyavayo na vidyate, dalam menempuh jalan rohani (bhakti) ini, tidak ada kerugian ataupun kemunduran. Svalpam apy asya dharmasya trayate mahato bhayat, sedikit saja kemajuan pada jalan rohani (bhakti) ini dapat melindungi orang dari marabahaya paling besar” (Bg.2.40). Apa itu marabahaya paling besar? Itu adalah lahir lagi ke dunia fana dengan memperoleh badan hewan atau makhluk rendah lain.

Kepada Rishi Vyasa, Devarishi Narada berkata, “Tyaktva sva dharmam caranam bhujam harer bhajan na’pakto’tha patet tatet tato yadi, jika setelah meninggalkan kegiatan pamerih memuaskan indriya jasmani dan bekerja dalam pelayanan bhakti kepada Sri Hari, seseorang lalu jatuh, tidak ada kerugian apapun baginya. Yatha kva vabhadrani abhud amusya kim ko vartha apto’bhajatam sva dharmatah, sebaliknya orang yang bukan bhakta yang melaksanakan kegiatan-kegiatan materialnya dengan sempurna, tidak memperoleh manfaat (spiritual) apapun” (Bhag.1.5.17).

Rishi Kavi (salah satu dari sembilan Yogendra) memberi tahu Raja Nimi, “Yan asthaya  naro rajan na  pramadyeta karhicit dhavan nimlya va netre na skhalen na patet iha, O sang Raja, orang yang menekuni jalan rohani bhakti, tidak pernah bingung. Bahkan seandainya dia menutup kedua matanya dan berlari (pada jalan rohani ini), dia tidak akan  jatuh atau menabrak sesuatu”(Bhag.11.2.35). Disini kata yan menunjuk jalan kerohanian bhakti.

Sri Krishna sendiri menjamin bhaktaNya tidak akan pernah gagal. Beliau berkata, “Kaunteya pratijanihi na me bhaktah pranasyati, wahai putra Kunti (Arjuna) umumkan dengan berani bahwa bhaktaKu tidak akan pernah gagal” (Bg.9.31).

IX. BHAKTI MELUNASI SEGALA HUTANG DAN MEMBAHAGIAKAN SEMUA MAKHLUK

Bahwa bhakti melunasi segala hutang, dikatakan oleh Veda sebagai: “Yah sarvatma saranam saranyam gato kumundam parihrtya kartam, orang yang telah sepenuh jiwa-raga berserah diri kepada Sri Mukunda dengan meninggalkan segala kegiatan material pamerih ,maka, devarsi bhutapta nrnam pitrnam na kinkaro nayam rni ca rajan, O sang Raja, dia tidak lagi berhutang budi kepada para deva, rishi, sanak-keluarga, sahabat, masyarakat atau leluhur” (Bhag.11.5.41). Mukunda adalah nama lain Tuhan YME, Sri Krishna.

Bahwa bhakti membahagiakan semua makhluk, oleh Veda dijelaskan: “Seperti halnya menyiramkan air pada akar  pohon menyebabkan batang, cabang, ranting  dan daun  pohon tumbuh dan berkembang; seperti halnya memuaskan perut  menyebabkan seluruh indriya dan  anggota badan sehat dan terpelihara, tathaiva sarvarhanam acyutejya, begitu pula, dengan memuaskan Sri Acyuta, maka semua makhluk jadi berpuas-hati (Bhag.4.31.14).

Dikatakan pula, “Tan mulatvat acyutejya sarva jivatma tarpanam, dengan memuja dalam pelayanan bhakti kepada Sri Acyuta yang menjadi asal-mula alam semesta, maka semua makhluk jadi puas” (Bhag.7.14.36). Acyuta adalah nama lain Sri Krishna.

 

X. BHAKTI OTOMATIS MEMBERIKAN PHALA SEMUA KEGIATAN SALEH

Tentang hal ini, Sri Krishna berkata, ”Segala hasil (phala)  yang dicapai melalui kegiatan pamerih (karma), pertapaan (tapasa), pengetahuan spiritual (jnana), ketidak-melekatan pada hal-hal duniawi (vairagya), yoga-mistik (yoga), amal (dana) dan melaksanakan tugas-tugas  keagamaan (dharma) dan cara-cara saleh lain untuk mensucikan kehidupan, sarvam madbhakti-yogena, semua ini dengan mudah dicapai dengan melakukan pelayanan bhakti kepadaKu” (Bhag.11.20.32 – 33).

 

XI. TAHAPAN DALAM MENGEMBANGKAN BHAKTI

Bhakti (cinta-kasih) kepada Tuhan sudah terkandung dalam hati setiap orang, seperti halnya  kemampuan  berjalan sudah terkandung dalam diri setiap bayi. Yang diperlukan hanyalah pelatihan (training). Dan pelatihan bhakti ini disebut sadhana-bhakti yang terdiri dari 8 (delapan) tahapan berikut (BRS.1.4.15-16).

Tahapan Penjelasan
1. Sraddha  

Seseorang harus memiliki kepercayaan pada kebenaran kitab suci Veda.
2. Sadhu-sanga  

Berdasarkan sraddha tersebut. seseorang harus bergaul dengan para sadhu (orang suci) yaitu para bhakta (vaisnava) yang telah maju dalam jalan kerohanian bhakti.
3.  Bhajana-kriya  

Dengan bimbingan para sadhu, seseorang hendaklah melakukan praktek kerohanian bhakti kepada Sri Krishna dengan membuat altar di rumah dan melaksanakan arati  (persembahyangan) secara teratur setiap hari.
4.  Anartha-nivrtti  

Dengan melakukan bhajna-kriya secara teratur, maka segala kotoran (anartha) yaitu berbagai keinginan material memuaskan indriya jasmani yang menutupi hati dan mendorong berbuat dosa, berangsur-angsur dibersihkan.
5.  Nistha  

Jika hati telah bersih dari segala anartha (kotoran) itu, maka seseorang jadi mantap (nistha) dalam melakukan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna.
6.  Asakti  

Dengan mantap (nistha) dalam pelayanan bhakti, seseorang menjadi tidak tertarik lagi pada hal-hal material. Ini disebut asakti.
7.  Bhava  

Dengan tidak tertarik lagi pada hal-hal material (asakti), maka cinta-kasih (bhava) kepada Sri Krishna berkembang di hati sang bhakta.
8. Prema 

Cinta-kasih (bhava) kepada Sri Krishna lalu berkembang jadi matang dan disebut prema.

 

XII. TINGKAT-TINGKAT PREMA

Tingkat-tingkat prema (cinta-kasih kepada Tuhan) adalah (antara lain):

  1. Rati.
  2. Sneha.
  3. Mana.
  4. Pranaya.
  5. Raga.
  6. Anuraga.
  7. Bhava.
  8. Mahabhava.
  9. Ruddha-mahabhava.
  10. Adi-ruddha-mahabhava, dan
  11. Madanakya-mahabhava.

Prema dikatakan bertingkat demikian karena ia memiliki intensitas cinta berbeda-beda mulai dari intensitas rendah sampai paling tinggi. Ini dapat diibaratkan seperti gula. Ia berawal dari cairan manis yang, bila dikentalkan, akan berubah jadi gula. Bila gula dijadikan lebih kental, ia menjadi gula-gula. Dan bila gula-gula dijadikan lebih kental, ia menjadi gula batu atau kanda-misri. Begitu pula, prema yang berawal dari rati, bila intensitasnya meningkat, ia menjadi sneha. Bila intensitassneha meningkat, maka ia menjadi mana. Bila intensitas mana meningkat, maka ia menjadipranaya, dan seterusnya sampai menjadi madanakya-mahabhava.

 

XIII. DUA PRINSIP UTAMA DALAM MELAKUKAN BHAKTI

Dua prinsip utama dalam melakukan bhakti adalah:

  1. Anukulyena krsnanusilanam, memuja dan melayani Sri Krishna dengan cara baik yang menyenangkan Beliau.
  2. Anukulyasya grahanam pratikulyasa varjanam, tolak dan tinggalkan semua kegiatan dan hal-hal lain yang tidak mendukung bhakti, dan laksanakan kegiatan serta terima hal-hal lain yang mendukung bhakti kepada Sri Krishna.

 

XIV. DUA MACAM BHAKTI

Dari segi praktis, ada 2 (dua) macam bhakti disebutkan dalam Veda. Keduanya dapat dijelaskan secara ringkas sbb.

MACAM BHAKTI 

 

PENJELASAN
1.  Vaidi-bhakti  

Dicapai dengan secara tekun dan teratur melaksanakan prinsip-prinsip bhakti dalam kehidupan sehari-hari dibawah bimbingan guru kerohanian (acarya). Vaidhi-bhakti ini disebut pulaSadhana-siddha dan dicapai oleha para vaisnava mulia.
2. Raganuga-bhakti Dicapai secara spontan atas  karunia  guru dan  Sri Krishna tanpa perlu melaksanakan aturan-aturan praktek bhakti. Raganuga-bhakti ini disebut  pula Krpa-siddha atau Nitya-siddha dan dicapai oleh para istri brahmana di Gokula, Vali Maharaja dan aistri, dan Rishi Sukadeva.

 

XV. SEMBILAN PROSES BHAKTI

Menurut Veda (Bhag.7.5.23), ada 9 (sembilan) proses bhakti yang dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut.

PROSES BHAKTI 

 

U R A I A N KESEMPURNAAN DICAPAI OLEH 

 

1. Sravanam  

Mendengar tentang Sri Visnu (Krishna) beserta kegiatan-kegiatan rohani (lila)Nya yang mentakjubkan Pariksit Maharaja. 

 

2. Kirtanam  

Mengagungkan Tuhan dengan mengumandangkan nama-nama suci dan meperbincangkan lilaNya yang mentakjubkan. 

 

Sukadeva Gosvami. 

 

3. Smaranam  

Mengingat Tuhan dan lilaNya yang mengagumkan. 

 

Prahlada Maharaja. 

 

4. Pada-sevanam  

Melayani kaki padmaNya. 

 

Laksmidevi. 

 

5. Arcanam  

Memuja Tuhan berupa Arca-vigrahaNya. 

 

Prthu Maharaja. 

 

6. Vandanam  

Memanjatkan doa-doa pujian kepadaNya. 

 

Akrura. 

 

7. Dasyam  

Menjadi pelayanNya yang setia. 

 

Hanuman. 

 

8. Sakhyam  

Menjadi sahabat karibNya. 

 

Arjuna. 

 

9. Atma-nivedanam  

Berserah diri penuh kepadaNya. 

 

Vali Maharaja. 

 

 

Ke 9 (sembilan) proses bhakti ini disebut abhideya-jnana, pengetahuan tentang  bagaimana cara sang makhluk hidup (jiva) membina  kembali hubungan cinta-kasih (bhakti) dengan Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna. Pengetahuan (abhideya-jnana) ini tercantum dalam Bab III Vedanta-Sutra.

 

XVI. HUBUNGAN BHAKTI ANTARA MAKHLUK HIDUP DENGAN TUHAN

Hubungan bhakti (cinta-kasih) antara sang makhluk hidup (jiva) dengan Kepribadian Tuhan YME (Bhagavan) ada 5 (lima) macam yaitu: a. Santa-rasa. b. Dasya-rasa. c. Sakhya-rasa. d. Vatsalya-rasa, dan e. Madhurya-rasa. Kelima macam hubungan ini dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut.

HUBUNGAN DALAM 

 

P EN J E L A S A N
a. Santa-rasa  

Hubungan netral. Dalam hubungan ini sang jiva terikat kepada Sri Krishna dan selalu khusuk berpikir tentang Beliau. Ia tidak mendambakan alam surgawi ataupun mukti, dan menganggap kedua hal ini  (Surga dan mukti) tidak lebih baik dari alam neraka. Ia tidak memiliki keinginan material dan sepenuhnya merasa tertarik kepada Sri Krishna. Ia menyadari kedudukan dasarnya sebagai bawahan Tuhan, tetapi tidak berhubungan intim (dekat) denganNya (Bhag.11.19.36 dan CC Madhya-lila 19.215 dan 218). 

 

b. Dasya-rasa  

Hubungan sebagai pelayan Tuhan.  Dalam hubungan ini sang jiva lebih bisa memahami keagungan Tuhan. Ia di-liputi oleh rasa kagum dan hormat kepadaNya. Dan Tuhan senantiasa senang dengan pelayanannya. Semua sifat dan ciri santa-rasa  Semua sifat dan ciri santa-rasa ada pada dasya-rasa. Tetapi kelebihan dasya-rasa dari santa-rasa adalah pelayanan langung yang dilakukan kepada Tuhan (CC Madhya-lila 19.219-221). 

 

c. Sakhya-rasa 

Hubungan sebagai sahabat karib Tuhan. Karena me-miliki amat banyak phala subha-karma, maka anak-anak gembala  sapi  bisa bermain-main bersama Sri Krishna sebagai teman-temanNya. Mereka saling melayani, saling gendong, bersukaria dalam beraneka-macam permainan dan berhubungan intim sebagai para sabahat, dan menganggap diri setara antara satu dengan yang lain. Semua sifat dan cirisanta-rasa dan dasya-rasa ada pada sakhyarasa. Tetapi, karena hubungan sebagai sahabat didominasi oleh rasa persahabatan yang setara, maka rasa hormat dan takjub dalam dasya-rasa tidak nampak pada sakhya-rasa (Bhag.10.12.11 dan 10.18.24, dan CC Madhya-lila 19.222-224). 

 

d. Vatsalya-rasa  

Hubungan sebagai orang tua Tuhan. Dalam hubungan ini semua sifat dan ciri santa-rasa, dasya-rasa dansakhya-rasa berubah jadi semangat pelayanan (tanggung-jawab) membesarkan. Dalam vatsalya-rasahubungan intim dalam sakhya-rasa meningkat. Sehingga sebagai orang tuaNya, seseorang (seperti ibu Yasoda) bisa memarahi atau  “menghukum” Tuhan. Dalam  vatsalya-rasa, sang jiva menganggap diri sebagai “pemelihara dan pelindung” Tuhan. Dan Beliau dianggap sebagai obyek yang harus dilindungi yaitu putra. Karena itu, semua sifat dan  ciri  santa-rasa,dasya-rasa dan sakhya-rasa ada pada vatsalya-rasa(CC Madhya lila 19.226-228). 

 

e. Madhurya-rasa  

Hubungan sebagai kekasih Tuhan. Dalam hubungan ini, keterikatan kepada Sri Krishna, pelayanan kepadaNya, rasa persahabatan denganNya dan pelayanan memelihara diriNya, semua meningkat dalam keintiman. Dalam madhurya-rasa, sang jiva berserah diri penuh dalam pelayanan yang amat intim kepada Tuhan. Karena itu, semua sifat dan ciri santa-rasa, dasya-rasa, sakhya-rasa dan vatsalya-rasaterkandung dalam madhurya-rasa pada tingkat keintiman tertinggi. Dengan demikian, hubungan sebagai kekasih Tuhan memberikan kebahagiaan spiritual tertinggi kepada sang jiva (CC Madhya-lila-19.231-234). 

 

 

Kelima macam hubungan tersebut diatas dapat diringkas sebagai berikut.

Kelima macam hubungan tersebut diatas disebut sambandha-jnana, pengetahuan tentang hubungan cinta-kasih (bhakti) antara sang makhluk hidup (jiva) dengan Kepribadian Tuhan YME (Bhagavan). Pengetahuan (sambandha-jnana) ini tercantum dalam Bab I dan Bab II Vedanta- Sutra.

Setelah lepas dari kehidupan material dunia fana yang  memenyengsarakan, sang jiva mencapai mukti  yakni  kembali tinggal di dunia rohani dan disana mengabdikan diri kepada Tuhan dalam salah satu dari kelima macam hubungan tersebut diatas. Begitulah, sang jiva hidup kekal dan bahagia di dunia rohani dalam hubungan cinta-kasih (bhakti) timbal balik denganNya. Pengetahuan tentang kebahagiaan nan kekal yang dicapai dari melaksanakan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna dalam salah satu dari lima macam hubungan diatas  yang merupakan hasil (phala) dari  menuruti jalan kerohanian bhakti (bhakti-yoga), disebut prayojana-jnana. Pengetahuan (prayojana-jnana) ini tercantum dalam Bab IV Vedanta Sutra.

 

XVII. KWALIIKASI DALAM MELAKASANAKAN BHAKTI

Kualifikasi material (pendidikan, pangkat, jabatan dan kedudukan di masyarakat dsb.) tidak penting dan tidak berperan. Yang penting dan berperan adalah ketulusan dan keteguhan hati serta semangat besar. Sebab, bhakti secara sempurna (berhasil) bisa dilaksanakan oleh Dhruva, anak lelaki usia 5 tahun, sang gajah Gajendra, Kubja, si penjual bunga yang berbadan bungkuk, Sudama sang brahmana miskin, Vidura putra pelayan, dan juga Raja Ugrasena yang tetap teguh dalam bhakti meskipun disekap dalam penjara.

Bhakti dapat dilaksanakan oleh seseorang dalam kondisi apapun. Sebab, bhakti secara sempurna (berhasil)  dilaksanakan oleh Prahlada ketika masih berada dalam kandungan ibunya. Dhruva  ketika  masih  kanak-kanak, Raja Ambarisa ketika masih remaja, Raja Dhrtarastra ketika sudah tua. Ajamila ketika menjelang ajal, Raja Citraketu ketika menjadi demon bernama Vrtasura, dan Raja Yudhisthira ketika berada di neraka.

 

XVIII. JENIS BHAKTA

Orang yang menekuni jalan kerohanian bhakti yaitu bhakta ada 3 (tiga) jenis yakni :

  1. Kanistha-bhakta memuja Tuhan berdasarkan kepercayaan saja. Ia tidak tahu bagaimana mestinya berprilaku kepada bhakta lain atau orang-orang pada umumnya (Bhag.11.2.47).
  2. Madhyama-bhakta memuja Tuhan sebagai obyek cinta-kasih tertinggi, bersahabat karib dengan para bhaktaNya, kasihan kepada mereka yang (dari segi rohani) bodoh, dan menjauhi mereka yang berwatak iri-hati (Bhag.11.2.46).
  3. Uttama-bhakta melihat Tuhan bersemayan dalam segala sesuatu dan segala sesuatu itu berkaitan denganNya, dan ada padaNya (Bhag.11.2.45 dan lihat pula Bg.6.30). Ia sungguh percaya kitab suci, sepenuhnya mencintai Tuhan dan semua kegiatannya berhakekat spiritual (CC Madhya lila 22.63).

 

XIX. PRINSIP-PRINSIP YANG BERMANFAAT UNTUK BHAKTI

Adapun prinsip-prinsip kehidupan yang bermanfaat untuk melaksanakan bhakti adalah:

  1. Semangat.
  2. Berusaha maju berdasarkan keyakinan (bahwa Tuhan pasti menolong).
  3. Sabar.
  4. Berkegiatan sesuai dengan aturan hidup spiritual.
  5. Meninggalkan pergaulan dengan orang-orang Atheis (non-bhakta), dan
  6. Menuruti jejak-langkah para acarya (Upadesamrta sloka 3).

 

XX.  PRILAKU YANG MERUSAK BHAKTI

Prilaku yang merusak bhakti adalah:

  1. Makan lebih dari seperlunya atau  mencari penghasilan melebihi yang diperlukan.
  2. Terlalu keras berusaha mencapai hal-hal duniawi yang sulit diperoleh.
  3. Berbicara secara tidak perlu tentang hal-hal duniawi.
  4. Mempraktekkan petunjuk kitab suci semata-mata untuk kepentingan menuruti dan bukan untuk kemajuan spiritual. Atau menolak petunjuk kitab suci dan berkegiatan bebas menuruti kemauan sendiri.
  5. Bergaul dengan orang-orang bermental materialistik yang tidak tertarik pada kegiatan spiritual bhakti.
  6. Tidak pernah merasa puas mengejar keberhasilan duniawi. (Upadesamrta sloka 2).

 

XXI. TANPA BHAKTI, HIDUP SIA-SIA

Telah dijelaskan bahwa hanya dengan menekuni jalan kerohanian bhakti hidup seseorang disucikan, tertuntun ke tingkat spiritual, dia mengerti dan mencapai Tuhan, dan hidup bahagia bersamaNya di dunia rohani nan kekal. Karena itu, tanpa bhakti hidup seseorang sia-sia belaka. Dalam Hari Bhakti Sudhodaya (3.11.12)dikatakan, ”Orang yang tidak melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan, maka kelahirannya di keluarga bangsawan, pengetahuannya yang luas tentang kitab suci, keakhliannya mengucapkan mantra-mantra Veda dan  kepayahannya melakukan pertapaan, semuanya ini adalah bagaikan hiasan pada mayat”.

Dikatakan pula, “Tuhan yang hamba puja, selama seseorang tidak  jadi bhaktaMu, maka kemelekatannya pada kekayaan dan kedudukan material adalah para pencuri baginya; rumahnya nan besar dan mewah adalah penjara baginya, dan kasih-sayangnya kepada sanak-keluarga adalah rantai besi yang mengikat kedua kakinya” (Bhag.10.14.36).

 

Sumber: Haladara Prabhu (Heka Wikana)

 

%d bloggers like this: