I. Definisi Pengetahuan

Veda mendefinisikan pengetahuan sebagai berikut. “Ksetra-ksetrajnayor jnanam yat taj jnanam, mengerti (perbedaan antara) badan jasmani (ksetra) dan sang makhluk hidup (ksetrajna)  disebut pengetahuan” (Bhagavad Gita 13.3). Definisi ini dapat dikatakan secara lebih jelas sebagai:   ”Mengerti dan menginsyafi perbedaan antara badan jasmani yang material Dan sementara (ksetra) dengan sang makhluk hidup penghuninya yang spiritual Dan kekal-abadi (ksetrajna) disebut pengetahuan“. Tetapi para sarjana duniawi berwatak materialistik dan atheistik yang tidak mempercayai adanya sang makhluk hidup (ksetrajna atau jiva) didalam badan, menganggap cara- cara memuaskan indriya badan jasmani secara lebih baik, lebih nikmat, lebih efisien dan lebih canggih, sebagai  pengetahuan. Dengan kata lain, menurut mereka, teknologi itulah pengetahuan. Selanjutnya mereka juga berkata bahwa berusaha mengerti sang jiva (roh atau ksetrajna) yang tidak bisa dibuktikan ada secara material, adalah kegiatan tidak bermanfaat, percuma alias sia-sia.

II. Pengetahuan Spiritual Dan Material

Berdasarkan definisi pengetahuan tersebut diatas, Veda merinci adanya 2 (dua) macam pengetahuan yaitu:

  1. Atma-tattva (=jiva-tattva), pengetahuan spiritual tentang sang makhluk hidup (atma atau jiva). Pengetahuan rohani ini juga disebut brahma-tattva.
  2. Maya-tattva, pengetahuan tentang badan jasmani dan alam material (keduanya disebut prakrti).

Oleh karena sang makhluk hidup (jiva) dan alam material (termasuk badan jasmani) adalah masing-masing merupakan tenaga marginal (tatastha-sakti) dan tenaga material (bahiranga-sakti) Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna yang mutlak spiritual, maka Beliau menyimpulkan,”Adhyatma vidya vidyanam, dari segala macam pengetahuan, Aku adalah pengetahuan spiritual tentang Tuhan (God) – Bhagavad Gita 10.32.

Jadi pengetahuan spiritual Veda sudah mencakup pengetahuan material tentang alam material dan badan jasmani. Karena itu, Veda menyatakan, “Jnanam jneyam jnana-gamyam, Ia (Tuhan) adalah pengetahuan (jnana), Ia adalah obyek pengetahuan (jneyam) dan Ia adalah tujuan pengetahuan (jnana-gamyam)-Bg.13.18. Disini jnana = pengetahuan spiritual.

III. Pengetahuan (Jnana)

Veda menyatakan bahwa Sri Krishna adalah pengetahuan (jnana) karena Beliau berhakekat spiritual-mutlak dan menjadi asal-mula segala sesuatu (Bg.10.8 dan BS.5.1).

Jiva (=ksetrajna) adalah diri sejati setiap orang dan setiap  makhluk  hidup. Ia berhakekat spiritual dan secara kwalitatip (spiritual) sama dengan Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME, Krishna. Tetapi secara kuantitatif, ia berbeda dari Tuhan. Sebab sang jiva berpotensi kecil dan terbatas, sedangkan Tuhan (Bhagavan) berpotensi besar tak terbatas.

Sebagai tenaga marginal (tatastha-sakti) Tuhan, sang jiva juga disebut para-prakrti dan senantiasa berada dibawah kendali Tuhan (Bg.7.5 dan 9.10). Dan sang jiva hidup bahagia selamanya jikalau ia kembali pada kedudukan dasarnya  sebagai pelayan Sri Krishna dan berserah diri kepadaNya.

Sang jiva hanya mungkin berserah diri kepada Sri Krishna jika ia mencintai (bhakti kepada)Nya. Karena itu,urusan hidup utama sang jiva berjasmani manusia adalah melakukan pelayanan bhakti (cinta-kasih) kepada Beliau.

Agar bisa kembali melakukan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna Veda memberikan sang jiva pengetahuan rohani (jnana) tentang bhakti yang terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu:

a. SAMBANDHA-JNANA. Pengetahuan tentang hubungan sang jiva dengan Tuhan (bhagavan). Ini menyangkut 5 (lima) macam hubungan rasa, yaitu: santa-rasa, dasya-rasa, sakhya-rasa, vatsalya-rasa dan madhurya-rasa. Pengetahuan ini tercantum pada bab I dan II Vedanta-sutra. 

 

b. ABHIDHEYA-JNANA 

 

Pengetahuan tentang cara sang jiva membina kembali hubungan bhaktinya tsb. Diatas dengan tuhan. Ini berkenaan dengan 9 (sembilan) proses bhakti yaitu: sravanam, kirtanam, smaranam, arcanam, pada-sevanam, vandanam, dasyam, sakhyam dan atma-nivedanam. Pengetahuan  ini  tercantum pada bab III Vedanta-sutra. 

 

c. PRAYOJANA-JNANA 

 

Pengetahuan tentang hasil (phala) dari hubungan tersebut yakni kebahagiaan abadi yang dinikmati sang jiva dari pelayanan cinta-kasih (bhakti) timbal-balik dengan Tuhan (bhagavan) di dunia rohani. Pengetahuan ini tercantum pada bab IV Vedanta-sutra. 

 

 

 

IV. Obyek Pengetahuan (Jneyam)

Obyek pengetahuan (jneyam) adalah  Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME. Dikatakan demikian karena alam material beserta  segala makhluk penghuninya yang menjadi subyek pengetahuan bisa dipahami secara benar hanya dengan mengerti hakekat sumber keberadaannya yaitu Tuhan.

Obyek pengetahuan berarti sesuatu yang harus diketahui. Begitulah, Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna sebagai obyek pengetahuan harus diketahui,dimengerti dan dipahami dengan benar. Dalam hubungan ini Beliau berkata,”Vedais ca sarvair aham eva vedyah, maksud seluruh pustaka Veda adalah agar semua orang mengetahui bahwa Aku adalah Tuhan YME” (Bg.15.15). Tetapi seseorang tidak mungkin mengerti Beliau dengan indriya-indriya jasmani yang terbatas dan tidak sempurna. Dikatakan,”Atah sri krsna namadi na bhaved grahyam indriyaih sevon mukhe hi jihvadau svayam eva spuraty adah, orang tidak bisa mengerti dengan benar nama, wujud, sifat dan kegiatan Sri Krishna dengan indriya- indriya jasmani yang terbatas dan tidak sempurna. Tetapi, bila  dia  mau menyibukkan diri dalam pelayanan kepadaNya dan menyibukkkan lidahnya dengan mengucapkan nama-nama suciNya, maka barulah dia bisa mengerti Beliau pribadi” (Padma-purana sebagaimana dikutip dalam BRS. 1.2. 234).

Pelayanan (seva) kepada Sri Krishna dan mengucapkan nama-nama suciNya (kirtanam) adalah bagian dari proses bhakti. Karena itu, Sri Krishna bisa diketahui dengan benar sebagai obyek pengetahuan (jneyam) yakni sebagai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME hanya melalui jalan kerohanian bhakti. (Perhatikan Bg.4.3, 8.22, 9.34, 11.54, 13.19, 18.65 dan 18.67-68).

 

V. Tujuan Pengetahuan (Jnana-Gamyam)

Tujuan pengetahuan (jnana-gamyam) adalah Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna. Dikatakan demikian, sebab dengan hidup berdasarkan pengetahuan spiritual Veda, sang jiva berjasmani manusia jadi insyaf diri dan mengerti bahwa Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME, dan sungguh mencintaiNya. Sehingga pada saat ajal dia hanya ingat kepadaNya dan mencapai Beliau di dunia rohani Vaikuntha-loka (perhatikan Bg.7.1, 8.5, 8.7-8, 8.10, 8.13-14, 9.22, 9.34, 12.8, 12.14 dan 18.65).

Di dunia rohani Vaikuntha-loka, sang jiva kembali hidup kekal dan bahagia dalam hubungan cinta-kasih (bhakti) timbal-balik dengan Sri Krishna. Karena itu, secara umum dikatakan bahwa pengetahuan menuntun seseorang mengerti dan mencapai Tuhan dan hidup kekal-bahagia bersamaNya di alam spiritual atau dunia rohani.

 

VI. Definisi Lain Tentang Pengetahuan

Oleh karena Sri Krishna adalah pengetahuan (jnana), obyek pengetahuan (jneyam) dan tujuan pengetahuan (jnana-gamyam), maka Veda menyatakan pula, “Sa vidya tan matir jaya, pengetahuan sejati (spiritual) adalah keinsyafan yang menyebabkan seseorang semakim khusuk berpikir tentang Tuhan” (Bhag.4.29.49).

Dibagian lain pustaka  Veda dikatakan sebagai berikut, “Menjauhi kegiatan memuaskan indriya jasmani adalah mukti (pembebasan). Khusuk dan bersuka-ria dalam kegiatan memuaskan indriya jasmani adalah belenggu (ikatan). Itulah pengetahuan. Sekarang, anda boleh berbuat menurut keinginanmu” (Astavakra-Smrti 15.2).

Dari kedua definisi pengetahuan ini dapat disimpulkan bahwa Sri Krishna dicapai hanya melalui keinsyafan (realization) dan pengendalian indriya-indriya jasmani (sense-control). Keinsyafan dan pengendalian indriya jasmani secara otomatis sudah tercakup dalam kegiatan pelayanan bhakti kepadaNya.

 

VII. Kehidupan Berpondasi Atma-Tattva

Kehidupan yang berpondasi pengetahuan spiritual (atma-tattva) mennuntun sang manusia jadi insyaf diri, “Aku adalah jiva rohani-abadi yang berkedudukan dasar sebagai pelayan kekal Sri Krishna dan bukan badan jasmani yang material dan sementara dengan nama si Anu”. Dengan berpikir seperti itu, sang manusia menjadi tidak terikat pada hal-hal material seperti harta-kekayan, jabatan duniawi, sanak keluarga, kampung-halaman, dsb. Oleh karena insyaf diri dan tidak terikat seperti itu, maka sifat-sifat kedewataan (daivi-sampad) berkembang pada dirinya. Sang manusia  yang insyaf diri ini tekun dan mantap melakukan pelayanan bhakti (cinta-kasih) kepada Sri Krishna. Dia sungguh mencintai Beliau, dan sebagian besar waktunya habis untuk melakukan kegiatan spiritual (pelayanan bhakti) demikian.

Karena senantiasa sibuk dalam pelayanan bhakti kepada Sri Krishna, maka dia mengatasi jerat maya nan halus yaitu tri-guna dan men-capai tingkat spiritual brahma-bhuta. Pada tingkat spiritual ini, dia senantiasa bahagia (perhatikan Bg.14.26 dan 18.54).

Pada saat ajal, sang manusia yang tergolong sura (deva) ini hanya ingat obyek kecintaannya yaitu Sri Krishna, dan dengan demikian mencapai mukti, bebas dari kehidupan material dunia fana dan kembali pulang ke dunia rohani Vaikuntha-loka (perhatikan Bg.16.5).

 

VIII. Pengetahuan Material (Maya-Tattva)

Pengetahuan tentang dunia fana dan badan jasmani yang ter wujud dari tenaga  material (maya)  Sri Krishna disebut pengetahuan material  (maya-tattva). Alam material atau dunia fana dan badan jasmani yang nampak ini terwujud dari: 5 unsur materi kasar (akasa, udara, api, air dan tanah) dan 3 unsur materi halus (ego, kecerdasan dan pikiran) – Bg. 7.4. Badan jasmani adalah ibarat pakaian bagi sang jiva  untuk  tinggal  di alam material (Bg.2.22). Badan jasmani diibaratkan pula sebagai kendaraan bagi sang jiva untuk menikmati kesenangan material dunia fana (Bg.18.61). Oleh karena, tidak mengakui adanya sang jiva dalam badan jasmani yang menyebabkan badan jasmani hidup dan aktip berkegiatan, dan tidak mengakui adanya Tuhan yang mengendalikan alam material, para sarjana duniawi yang berwatak materialistik dan atheistik berpendapat bahwa pengetahuan material adalah pengetahuan sejati. Lalu mereka mengerti pengetahuan sebagai berikut. “Pengetahuan (knowledge) adalah cara-cara (teknik) memuaskan indriya badan jasmani secara lebih baik, lebih nikmat, lebih effisien dan lebih canggih agar hidup bahagia dengan memanfaatkan segala sumber kekayaan alam yang ada dan tersedia“.

 

IX. Kehidupan Berpondasi Maya-Tattva

Kehidupan yang berpondasi penetahuan material (maya-tattva) menyebabkan sang jiva berjasmani manusia tidak insyaf diri. Dia berada dalam kegelapan (avidya) dan selalu berpikir,”Aku adalah badan jasmani yang bernama si Anu dan urusanku adalah bekerja  keras  mengumpulkan harta-kekayaan agar hidup bahagia di dunia fana ini”. Dengan berpikir seperti itu, sang jiva yang disebut manusia ini menjadi sangat terikat dan melekat pada hal-hal material seperti: harta kekayaan, pangkat dan jabatan duniawi, kampung-halaman, sanak-keluarga, dsb.

Oleh karena tidak insyaf diri dan amat terikat demikian, maka sifat-sifat asurik (asuri-sampad) berkembang pada dirinya. Dia sibuk bekerja keras mengumpulkan kekayaan agar bisa memuaskan indriya jasmani dengan berbagai cara agar hidup bahagia di dunia fana. Seluruh waktunya di siang hari habis untuk kerja keras mencari harta. Dan dimalam hari waktunya habis untuk menikmati hubungan badan dan tidur.

Dengan selalu sibuk mengejar kesenangan material seperti itu, sang jiva berjasmani manusia ini tidak sadar bahwa dirinya semakim kuat diikat oleh jerat maya nan halus yaitu tri-guna. Akibatnya, dia semakim dalam terbenam dalam lumpur kehidupan material sebagai jiva-bhuta (makhluk terikat) yang bekerja keras dalam kesengsaraan (perhatikan Bg.15.7).

Ketika sudah tua dan ajal semakim mendekat, sang jiva yang berwatak asurik ini diliputi oleh ketakutan, kekhawatiran, kecemasan  dan kesedihan. Pada saat ajal, dia hanya ingat pada semua  kegiatan  pamerihnya yang berdosa dan akhirnya jatuh ke neraka (perhatikan Bg.16.16). Sungguh malang nasib  orang  yang hidupnya berpondasi maya-tattva.

 

X. Ringkasan : Perbedaan Praktis Antara Atma-Tattva Dan Maya-Tattva

 

No PENGETAHUAN SPIRITUAL  (ATMA-TATTVA) 

PENGETAHUAN MATERIAL (MAYA-TATTVA) 

1 Mencakup pengetahuan tentang jiva (makhluk hidup) dan prakrti (alam fana dan badan jasmani) dalam hubungannya dengan Tuhan (Bhagavan). 

 

Hanya mencakup pengetahuan tentang prakrti (alam fana dan badan jasmani). 

 

2 Menuntun sang manusia jadi insyaf diri melalui pengendalian indriya-indriya badan jasmani. 

 

 

Menyebabkan sang manusia terjerumus dalam kebodohan (avidya) karena sibuk dalam banyak kegiatan pamerih memuaskan indriya  jasmani  dengan  berbagai  cara dan upaya. 

 

3 Menuntun sang manusia jadi tidak terikat pada hal-hal material seperti harta-kekayaan, pangkat, sanak-keluarga, dsb. 

 

Menyebabkan sang manusia amat terikat pada hal-hal material seperti harta-kekayaan, jabatan sanak-keluarga, dsb. 

 

4 Menyibukkan sang manusia dalam kegiatan spiritual pelayanan bhakti (cinta-kasih) kepada Sri Krishna. 

 

Menyibukkan sang manusia dalam beraneka-macam kegiatan pamerih memuaskan indriya jasmani. 

 

5 Menyebabkan sifat-sifat dewani (daivi-sampad) berkembang pada diri sang manusia. 

 

Menyebabkan sifat-sifat asurik (asuri-sampad) berkembang pada diri sang manusia. 

 

6 Menuntun sang manusia lepas dari jerat maya nan halus yaitu tri-guna, tiga sifat alam material:sattvam (kebaikan), rajas(kenafsuan) dan tamas(kegelapan). 

 

Menyebabkan sang manusia semakim 

kuat diikat oleh jerat maya nan halus

yaitu triguna, tiga sifat alam material:

sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan)

dan tamas (kegelapan).

 

7 Menuntun sang manusia ke tingkat spiritual brahma-bhutayang senantiasa membahagiakan. 

 

Menyebabkan sang manusia semakim 

terbenam dalam kehidupan material

dunia fana sebagai jiva-bhuta yang bekerja keras dalam kesengsaraan.

 

8 Pada saat ajal sang manusia hanya ingat Sri Krishna dan terus kembali pulang ke dunia rohani kebahagiaan abadi Vaikuntha-loka. 

 

Pada saat ajal sang manusia hanya 

ingat pada kegiatan-kegiatan pamerihnya yang berdosa. Akibatnya, ia jatuh ke neraka dan kemudian lahir lagi dengan badan jasmani baru tertentu.

 

 

 

XI. Kebodohan Yang Menjadi Sumber Derita

Pada jaman Kali yang disebut modern sekarang ketika sifat alam tamas (kegelapan) begitu tebal menutupi kesadaran penduduk dunia, pengetahuan material (maya-tattva) dianggap pengetahuan sejati. Sedangkan pengetahuan spiritual (atma-tattva) dianggap bukan pengetahuan, melainkan khayalan semata.

Karena itu, orang-orang tidak perduli pada dirinya  sebagai  jiva rohani-abadi. Mereka selalu sibuk dengan urusan menyenangkan badan jasmani melalui beraneka macam cara pemuasan indriya.

Begitulah, beraneka-macam kegiatan asurik memuaskan indriya jasmani merajalela di masyarakat manusia modern. Tetapi mereka tidak sadar bahwa kegiatan asurik memuaskan indriya secara berlebih-lebihan adalah sumber segala malapetaka yang menimpa kehidupan sang manusia.

Mala-petaka berupa kerusakan alam, pencemaran lingkungan,pemanasan global, perang, teror bom, bom  bunuh  diri, kerusuhan sosial dan berbagai tindak kekerasan lain, banjir, tornado, tsunami, tanah longsor, gempa, gunung meletus dan bencana alam lain, narkoba, korupsi, kolusi, pelacuran, beraneka-macam kegiatan tipu-menipu dengan judul ber-bisnis dan bermacam-macam perbuatan amoral lain tiada henti mendera masyarakat manusia modern yang dikatakan paling beradab.

Semua mala-petaka yang menyengsarakan ini dan  tiada henti menimpa orang-orang modern Kali-Yuga, terjadi semata-mata karena mereka bodoh. Bodoh akibat tidak tahu dirinya sejati adalah jiva rohani-abadi. Dan kebodohannya ini menyebabkan mereka hidup sesat yakni memuaskan indriya jasmani dengan beraneka-ragam cara yang menjadi pangkal derita, dianggap sumber kebahagiaan.

Singkatnya, oleh karena hampa pengetahuan spiritual (atma-tattva) maka manusia hidup sengsara dan menderita

 

Sumber: Ngurah Heka Wikana (Haladara Prabhu)

 

%d bloggers like this: