Agama Hindu adalah agama tertua di dunia dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Meskipun agama tertua, tetapi tidak berarti bahwa Hindu adalah agama yang sudah kuno atau primitif. Justru sebaliknya, Hindu adalah agama yang selalu relevan dan tidak pernah ketinggalan atau bertentangan dengan kemajuan jaman. Hindu agama yang ajarannya sangat lengkap dan sempurna.

Mengapa Hindu agama yang lengkap ajarannya? Karena Hindu adalah agama yang ajarannya di dasarkan pada kitab suci Weda. Berbeda dari agama yang lain yang kitabnya hanya satu buku. Misalnya  dalam agama Islam hanya mempunyai satu kitab suci yaitu kitab suci Al Qur’an yang hanya satu buku tunggal. Begitu juga dengan agama Kristen atau agama Katolik yang kitabnya hanya terdiri dari satu kitab Injil. Agama-agama tersebut hanya punya satu kitab, sehingga dapat dipastikan bahwa ajaran-ajaran agamanya terbatas, tidak luas, tidak universal.

Sedangkan dalam agama Hindu, kitab suci Weda tidak hanya satu buku, atau tidak hanya satu kitab, melainkan banyak sekali kitab-kitab yang disebut kitab Weda. Ada ratusan buku yang termasuk dalam kitab Weda atau diakui sebagai bagian dari kitab Weda. Pembagian Weda sendiri terdiri dari kitab Sruti dan kitab Smerti, yaitu Sruti adalah kitab yang diwahyukan, sedangkan kitab Smerti adalah kitab-kitab pelengkap yang merupakan hasil perenungan para maharesi Hindu jaman dahulu.

Sebagai kitab suci agama Hindu maka ajaran Weda diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk waktu tertentu. Diyakini sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkan (mewahyukan) adalah Tuhan yangMaha Esa disebut apauruseya.  Apapun yang diturunkan sebagai ajarannya kepada umat manusia adalah ajaran suci terlebih lagi bahwa isinya itu memberikan petunjuk-petunjuk atau ajaran untuk hidup suci.

Kitab Catur Weda adalah disebut kitab Sruti. Selain itu ada kitab-kitab lain yaitu kitab-kiab Upanisad. Kitab-kitab upanisad itu jumlahnya ada sekitar 108 buah. Kitab upanisad adalah kitab-kitab yang merupakan penjelasan erhadap kitab Aranyaka. Menurut Made Titib (1996) kitab-kitab Aranyaka membayangi (diambil alih) oleh kitab-kitab Upanisad, sama halnya dengan kitab-kitab Brahmana membayangi  (diambil alih oleh kitab-kitab Aranyaka). Para brahmacarin mempelajari kitab-kitab Samhita, para grahasta mempelajari kitab-kitab Brahmana yang menjelaskan tentang tugas dan kewajiban atau upacara sehari-hari sedangkan para Wanaprasta mempelajari kitab-kitab Aranyaka, demikian pula para samyasin khussus mempelajari kitab-kitab Upanisad yang mengandung ajaran filsafat.

Para guru agung dimasa yang silam tidaklah mengklaim dirinya sebagai orang yang berjasa, melainkan hanyalah memelihara dan melanjutkan ajaran kebijaksanaan kuno. Tendesi filosofis dari kitab-kitab Samhita dikembangkan dalam kitab-kitab Upanisad. Upanisad merupakan kesimpulan dari kitab-kitab Aranyaka, oleh karena itu pula kitab-kitab Upanisad disebut Wedanta.  Upanisad berarti duduk dekat dibawah kaki guru dan menerima ajaran yang bersifat rahasia dari guru. Vedanta tidak hanya berarti akhir dari kitab Weda, tetapi juga merupakan puncak tertinggi dari ajaran Weda. Terdapat sejumlah besar daftar nama-nama kitab Upanisad, secara formal disebutkan 108 buah, namun kenyataannya lebih dari jumlah itu. Dari jumlah yang banyak itu, hanya sebelas atau dua belas yang sangat penting.

Kitab-kitab Weda meberikan wejangan tentang rahasia tertinggi terhadap umat manusia. Kitab-kitab ini berisi intisari dari kitab-kitab Weda dan merupakan dasar kebenaran spiritual bagi seseorang yang mencari pencaerahan spiritual.  Pada jaman dahulu upanisad itu ajarannya diterima oleh para murid yang sedang berguru kepada para guru suci dengan cara duduk dekat dikaki guru suci tersebut. Mereka biasanya tinggal didalam hutan, atau daerah terpencil yang jauh dari keramaian masyarakat umum. Ajaran yang disampaikan oleh para guru suci itu dianggap rahasia, karena menyangkut filsafat ketuhanan tingkat tinggi, yang tidak mudah dipahami oelh masyarakat umum atau masyarakat awam. Karena itu para murid duduk dihadapan guru, biasanya selama beberapa jam, dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru tersebut.

Bagaimana Upanisad di Jaman Modern?

Kalau pada jaman dulu ada hutan dan ada tempat sunyi untuk para murid duduk didekat kaki guru, apakah itu masih dimungkinkan untuk jaman modern yang sudah tidak mendukung untuk melakukan hal itu?  Bukankah sulit utnuk duduk didekat guru seperti jaman dulu, padahal sekarang sistem belajarnya menggunakan kelas-kelas dan para siswanya duduk di bangku? Apakah masih dimungkinkan sistem upanisad itu diterapkan?

Menurut pendapat saya, cara duduk di dekat kaki guru itu tetap bisa dilakukan. Mengapa? Ingat bahwa ajaran Weda itu selalu relevan dengan perkembangan jaman bukan? Jadi mestinya bisa dilakukan walaupun mungkin agak sulit.Mungkin yang bisa dilakukan adalah pendidikan agama Hindu diluar kelas atau diluar pendidikan yang disekolah resmi. Kalau disekolah resmi mungkin tidak dimungkinkan karena sistemnya memang beda. Tapi duduk didekat kaki guru itu masih bisa dilakukan. Misalnya di ashram-ashram yang ada di Bali dan daerah lain, sistem itu masih dilakukan. Pada waktu ada sanyasin atau guru kerohanian yang datang dari India atau dari Barat yang Hindu maka umat atau para murid duduk didekat kaki guru itu untuk mendengarkan pelajaran kerohanian yang diberikan oleh guru itu. Itu adalah bukti bahwa sistem pendidikan agama Hindu yang ajarannya disebut menjadi kitab Upanisad itu masih bisa dilakukan bahkan untuk jaman modern sekarang ini.

Masalahnya adalah di Indonesia umat Hindu jarang punya sanyasin yang tugasnya sebagai guru kerohanian yang tugasnya sama seperti para maharesi pada jaman dahulu. Sehingga sulit untuk mempraktekkan sistem upanisad tersebu. Kebanyakan para pemimpin umat kita terutama pedanda dan pendetanya baru mahir memimpin ritual upacara besar-besaran, dan biasanya tidak menguasai filsafat seperti yang ada dalam kitab upanisad. Mereka hanya banyak pakai kitab-kitab lontar yang kadang kadang filsafatnya tidak menyentuh perasaan umat Hindu. Jadi semakin sulit untuk mempraktekan sistem upanisad itu di Indonesia. Pendeknya tidak berkualifikasi untuk melakukan sistem itu lagi.

Tapi di India yang merupakan tempat asli berkembangnya agama Hindu, sampai sekarang pola belajar seperti sistem upanisad yaitu duduk di dekat guru itu masih bisa dipraktekakan dan masih terus berlangsung dijaman modern ini.

 

Kesimpulan

Sistem upanisad yang menghasilkan ajaran yang sekarang kita sebut dengan kitab Upanisad masih tetap bisa dijalankan sampai saat jaman modern ini sekalipun. Perlu kita ingat bahwa sifat Weda adalah anadi dan ananta, yang artinya akan tetap relevan dengan perkmbangan jaman sampai kapanpun. Masalahnya adalah kita kesulitan untuk mencari guru kerohanian yang bnar-benar mampu mengajarkan filsaafat Upanisad seperti jaman dulu. Selain itu juga semakin sedikit manusia modern yang tertarik untuk belajar agama sungguh-sungguh, karena mereka lebih tertarik untuk memuaskan nafsu dan kepuasan indrianya. Jadi masalahnya bukan ajaran Wedanya yang tidak sesuai jaman, tapi manusianya yang memang tidak mau lagi bersusah-susah menjalankan ajaran-ajaran Weda. Tapi sampai kapanpun, ajaran Weda adalah kekal abadi. Om Tat Sat

 

Daftar Pustaka

Made Titib, 1996. Pengantar Weda untuk Program DII Agama Hindu. Jakarta: Penerbit Hanuman Sakti.

 

Oleh : Suryanto, M.Pd

 

Translate »
%d bloggers like this: