Hampir sembilan bulan telah berlalu sejak buku “Merekonstruksi Hindu” dipublish secara perdana. Buku karya Ngurah Heka Wikana yang cukup kontroversial ini sejak awal selalu diliputi dengan pro dan kontra. Rekasi keras pertama muncul saat Penulis diundang melakukan bedah buku untuk pertama kalinya di Bank Indonesia (BI) Pusat Jakarta. Entah melalui siapa desas-desus itu beredar, pada hari itu juga Bapak Ketut Wiyana selaku ketua Sabha Walaka PHDI Pusat menerima laporan bahwa dengan adanya buku “Merekonstruksi Hindu” membuat umat Hindu di Jakarta resah. Informasi ini kemudian ditindaklanjuti oleh Bapak Wiyana dengan menghubungi SAKKHI selaku organisasi yang dianggap bertanggung jawab karena Ngurah Heka Wikana adalah juga merupakan anggota SAKKHI. Tidak lama berselang setelah itu, para pengurus SAKKHI memanggil Ngurah Heka Winaka untuk disidang dan diminta keterangan prihal karnyanya tersebut. Mungkin dapat dikatakan sebagian besar orang yang ada dalam Parampara Gaudya Vaisnava dari garis perguruan Srila Prabhupada di Indonesia “heboh”. Beberapa diantaranya sempat menyuruh menarik peradaran buku tersebut dan yang lainnya ada yang memberikan saran untuk memperbaiki gaya bahasa penulisan yang dinilai terlalu frontal dan keras. Mereka takut kalau karya pribadi ini akan berimbas secara organisasi.

Pada suatu malam setelah itu, penulis dan beberapa rekannya yang lain akhirnya menghadap Bapak Ketut Wiyana ke rumahnya guna menyelesaikan permasalahan simpang siur informasi tersebut. Setelah diskusi beberapa saat dan memberikan buku yang dikatakan membuat umat Hindu resah tersebut, Bapak Ketut Wiyana berjanji akan mempelajari buku tersebut dan memberikan sambutan untuk keperluan cetakan yang kedua dengan catatan beberapa substansi dilakukan revisi.

Setelah sekian waktu berlalu, akhirnya sambutan Bapak Ketua Sabha Walaka PHDI untuk buku “Merekonstruksi Hindu” pun muncul.  Sebagai catatan, sambutan berikut tidak sama persis seperti yang Bapak Wiyana tulis, namun sudah mengalami proses editing untuk menyamakan gaya penulisan dan memperbaiki beberapa masalah editorial. Tentu saja saya sebagai editor berusaha agar maksud yang ingin disampaikan Bapak Wiyana tidak mengalami proses perubahan makna. Berikut ini adalah kata sambutan beliau tersebut.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++

SAMBUTAN KETUA SABHA WALAKA PHDI PUSAT

Om Swastyastu

Ngurah Heka Wikana, penulis buku “Merekonstruksi Hindu; Merangkai Kembali Filsafat Veda Yang Terdistorsi” adalah penganut Hindu dari garis perguruan Vaisnava yang meyakini bahwa Sri Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kitab suci Bhagavata Purana, Brahma Vaivarta Purana, Bhagavad Gita dan berbagai pustaka suci Veda lainnya memang bercorak Vaisnava dan membenarkan Sri Krishna adalah Tuhan. Dalam faham Vaisnava Bhagavata, Sri Krishna bukan sekedar Avatara, atau penjelmaan Tuhan, tetapi Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan sumber dari semua Avatara atau biasa dikenal dengan sebutan Purna Avatara. Meskipun dalam Catur Veda tidak mudah menemukan sloka yang menjelaskan secara eksplisit bahwa Krishna adalah Tuhan, namun dalam kitab-kitab Veda Smrti yang juga ditulis oleh Maha Rsi berdasarkan petunjuk Sruti dan dikodifikasi oleh Maha Rsi Vyasa yang juga mengkodifikasi Catur Veda membenarkan Krishna adalah Tuhan. Karena itu, pemujaan terhadap Sri Krishna sebagai Tuhan dan menyebut Beliau Tuhan Krishna, Tuhan Hari, Tuhan Narayana, dan/atau ribuan nama- nama suci Beliau lainnya sangatlah sesuai dengan sastra Veda.

Penjabaran kitab suci Veda yang dilakukan dalam buku ini sudah tepat. Kitab Vayu Purana I.20 dan dipertegas juga dalam kitab Saracamuscaya 39 menyatakan, “Itihasa puranabhyam vedam samupabrmhayet, bibhetyalpasrutad vedo mamayam praharisyati, hendaknya Veda dijelaskan melalui Itihasa dan Purana. Veda merasa takut kalau seseorang yang bodoh membacanya. Veda berpikir bahwa orang itu akan memukulnya”. Ini berarti Itihasa dan Purana-lah tangga untuk mencapai kesempurnaan Veda.

Brahma Vaivarta Puräëa memang mengolongkan kedelapan belas Purana menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok Purana sattvik yang menyimpulkan Visnu adalah Tuhan, kelompok Purana rajasik yang mengagungkan Brahma sebagai yang tertinggi dan kelompok Purana tamasik yang menganggap Siva adalah Tuhan. Karena itu ada perbedaan penyebutan Tuhan pada masing-masing kelompok ini. Dalam Purana yang bercorak Sivaistik, sebagaimana dinyatakan dalam Siva Purana, Tuhan disebut dengan istilah Parama Siva. Dari Parama Siva bermanifestasi menjadi Sadha Siva dan Sadha Siva menjadi Siva. Dalam kitab Bhuvana Kosa III.76 disebutkan bahwa Siva disebut Brahma saat melakukan penciptaan atau Utpati Jagat dengan segala isinya. Siva disebut Visnu saat melindungi dan memelihara alam semesta ini. Dan Siva disebut Rudra saat melakukan peleburan atau pralaya alam semesta material ini. Dalam konsep ini, Brahma, Visnu dan Rudra adalah Siva yang sama yang disebut dalam nama yang berbeda. Dalam konsep ini pula, Sri Krishna adalah Avatara dari Visnu. Namun dalam konsep Vaisnava Bhagavata yang dimuat dalam buku ini, Brahma, Visnu dan Siva pada dasarnya adalah Guna Avatara yang berasal dari Sri Krishna.

Terdapat banyak jenis konsepsi ketuhanan yang lain dalam Veda. Disamping Tuhan disebut dengan banyak nama sebagaimana disebutkan dalam Rg. Veda 164.46, “Ekam zat vipra bahuda vadanti, Tuhan itu eka (satu) tetapi para Vipra atau orang- orang suci menyebutkan dengan banyak sebutan”, ada juga konsep Tuhan tanpa wujud sebagaimana disebutkan dalam Yajur Veda XXXII.3, “Na tasya prastima asti brahman, Tuhan itu sesungguhnya tidak punya wujud”. Dikatakan pula dalam

Yajur Veda XXXI.4 bahwa Tuhan ada di mana-mana meresapi segala sesuatu, “Trpaad uurdhva ud-ait purusah paada-asyeha- abhavat punah, Tuhan itu hanya seperempat ada di alam ini dan tiga seperempatnya lagi berada di luar alam semesta ini. Tidak ada bagian di alam ini tanpa kehadiran Tuhan. Meskipun Tuhan berada di alam ini, Tuhan tidak terkena pengaruh apapun, justru alam ini berada di bawah pengaruh keberadaanNya”. Hal yang serupa juga disampaikan dalam Wrehaspati Tattva, “Vyapi vyapaka nirvikara, Tuhan ada di mana-mana dan tidak terpengaruh oleh keberadaanNya itu”. Disamping konsepsi ini, juga terdapat konsep-konsep keberadaan Tuhan yang lain dalam pustaka suci Veda yang maha luas.

Dalam buku hasil karya Ngurah Heka Wikana ini menganut konsep Dvaita, yaitu sang jiva bisa mencapai moksa dengan kembali ke planet rohani Vaikuntha-loka tempat tinggal Tuhan Krishna yang kekal. Dalam konsep Dvaita, manusia tidak mungkin bisa bersatu luluh dengan Tuhan. Mereka mengenal beberapa jenis moksa, yaitu; Salokya (tinggal di planet yang sama dengan Tuhan), Sarsti (Memperoleh kemewahan yang sama dengan kemewahan Tuhan), Samipya (menjadi rekan pribadi Tuhan), Sarupya (mendapat ciri badan yang sama dengan Tuhan), dan Ekatva (Jivanmukti, menyatu dengan cahaya Brahman). Konsep bersatunya atman atau jiva ke dalam cahaya Brahman menurut filsafat ini bukanlah bersatu lebur dan kekal selamanya, melainkan moksa dalam tingkatan Ekatva hanyalah moksa tahap awal. Pemahaman ini didasarkan pada Bhagavata Purana 3.29.13, dan 9.4.67 serta Vedanta Sutra 4.4.4, dan 4.4.13-14.

Berbeda dengan konsep Dvaita Vaisnava yang disampaikan dalam buku ini, paham Sivaistis juga mengenal konsep Dvaita, Visista Dvaita dan Advaita. Dalam konsep ini, bhakti pada awalnya memiliki jarak dengan Tuhan. Bhakti yang sungguh-sungguh akan menyebabkan sang jiva semakin dekat dengan Tuhan. Tahapan kedekatan dengan Tuhan ini disebut tahap Visista Dvaita. Jika bhakti ini dilakukan dengan terus-menerus secara baik dan bersungguh-sungguh maka puncaknya adalah penyatuan Atman dengan Brahman. Penyatuan inilah yang dalam konsep Sivaistis disebut sebagai moksa.

Dikatakan oleh Swami Satya Narayana bahwa Dvaita, Visista Dvaita dan Advaita itu bagaikan seseorang mencari mangga. Saat memikirkan mangga disebut Dvaita. Setelah melihat mangga disebut Visista Dvaita dan saat memakan mangga disebut Advaita. Tentu saja ini hanyalah merupakan perumpamaan karena mencapai Tuhan tidaklah sama dan tidak sesederhana mencari dan menikmati buah mangga.

Perbedaan konsep ketuhanan dan ajarannya ini bukanlah sesuatu yang dikotomi, tetapi merupakan sesuatu yang sangat mulia dan kekayaan filosofi Veda. Tuhan menyadari bahwasanya setiap manusia memiliki tingkatan spiritual yang berbeda sehingga satu jenis laku spiritual tidak bisa dipaksakan kepada seluruh orang. Melainkan setiap orang akan mengikuti laku spiritualnya sendiri sesuai dengan guna dan karmanya masing- masing. Sehingga dengan demikian tentu saja memperdebatkan keyakinan seperti ini kepada orang yang memiliki level spiritualitas berbeda adalah kesia-siaan belaka. Tuhan adalah Ia yang acintya, yang tidak terpikirkan, dan dalam sastra Hindu Jawa Kuno dikatakan, “tan kagrahita dening manah muang indriya, tidak terjangkau oleh pikiran dan indriya”. Karena itu, diskusi dan perdebatan pertentangan konsep Dvaita dan Advaita ini harus disikapi dengan kecerdasan spiritual. Kurang indah kalau penganut Dvaita menjatuhkan dan menuduhnya memahami Veda yang terdistorsi. Demikian juga sebaliknya kurang elok jika penganut Advaita menuduh penganut paham Dvaita memelintir ajaran Veda.

Pemahaman tentang dewa di buku ini juga disajikan dalam sudut pemahaman yang berbeda. Jika dalam buku ini dikatakan dewa adalah mahluk hidup yang juga akan mengalami kematian namun mengemban tugas dalam pemerintahan alam material, maka dalam pemahaman yang lain, seperti pada kitab Bhuwana Kosa dinyatakan bahwa Tuhan sebagai Parama Siva disebut Brahma saat mencipta, disebut Visnu saat memelihara dan disebut Rudra pada saat melakukan peleburan. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta dev, yang artinya sinar. Devana artinya bersinar. Jika Tuhan diumpamakan Matahari, maka dewa diumpamakan sebagai sinar Matahari. Dalam hal ini mungkin muncul pendapat yang mengatakan bahwa sinar Matahari bukanlah Matahari itu sendiri. Ada juga yang berpendapat bahwa Matahari dan sinar Matahari tidaklah bisa dipisahkan. Perbedaan pandangan ini bukanlah perbedaan yang mudah dilogikakan dan dipecahkan hanya dengan debat pendek dan tuduhan pendistorsian singkat. Hal ini memerlukan Dharma tula yang dialogis. Jangan sampai setiap perbedaan dipertentangkan dengan saling mengklaim dan memonopoli kebenaran secara sepihak. Sikap saling klaim sepihak hanya akan menghabiskan waktu, tenaga dan dana. Kita hanya akan sibuk mencari argumentasi untuk menangkis tuduhan lawan. Hal itu juga bisa menggoyahkan keakraban sosial. Sebaiknya gunakan waktu dan semua potensi yang ada untuk memperbaiki diri dan kebersamaan untuk menumbuhkan nilai-nilai materiil dan spirituil secara seimbang dan berkelanjutan untuk membangun SDM yang berkualitas, yang sehat jasmani dan rohani serta profesional.

Memang ada beberapa prilaku umat Hindu yang mengatasnamakan adat yang justru bertentangan dengan ajaran Dharma yang disampaikan oleh kitab suci Veda. Demikian juga memang ada banyak kesalahan pengamalan ajaran Veda yang lebih banyak ditekan oleh pengaruh feodalisme pemerintahan kerajaan di masa lalu. Namun tentu saja ada beberapa pengaruh feodalisme yang berdampak baik disamping yang berdampak buruk dan bertentangan dengan ajaran Veda. Tradisi adat yang menyimpang seperti itulah yang harus kita perbaiki sama-sama dalam menegakkan ajaran suci Veda. Seyogyanya perbedaan persepsi yang terjadi tidak perlu menimbulkan perdebatan yang dikotomis, namun sebaiknya dilakukan dengan perenungan yang alegoris. Langkah selanjutnya adalah dengan mengamalkan keyakinan sesuai dengan tingkat spiritual masing-masing, meningkatkan keluhuran moral dan daya mental dalam menghadapi dinamika kehidupan agar prilaku dan kebiasaan hidup bersama dalam masyarakat semakin berkualitas. Selanjutnya tumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai dan mampu mengerti perbedaan jalan yang ditempuh dalam koridor mantra-mantra suci Veda.

Buku ini sangat baik dibaca oleh umat Hindu pada khususnya dan para penekun filsafat pada umumnya karena mampu memberikan wawasan dari sudut pandang yang berbeda dalam memahami kitab suci Veda dan khasanah agama Hindu yang sangat luas. Pembaca harus dapat memahami buku ini dengan cerdas dan bijaksana sehingga jika ada hal-hal yang terasa bertentangan yang menimbulkan ketidaksetujuan dapat ditindaklanjuti dengan cara cerdas, arif dan bijaksana. Bagi yang memiliki level pemahaman yang sejalan, haruslah tidak serta merta menghujam dan mengecam pandangan filsafat dan laku spiritual yang dianggap keliru dalam buku ini. Demikian juga bagi pihak yang merasa terpojokkan semoga tidak serta merta bersikap defensif dengan semua yang disampaikan dalam buku ini. Mari saling memahami level spiritualitas kita masing-masing dan berusaha lebih tekun dalam mendalami filosofi Veda dan menegakkan Dharma. Swami Sivananda dalam bukunya “All About Hinduism” menyatakan bahwa agama Hindu menyediakan hidangan spiritual kepada setiap

orang sesuai dengan perkembangan diri pribadinya masing- masing. Karena itu tidak ada pertentangan dalam perbedaan Hindu yang indah ini. Keberadaan perbedaan konsepsi dan cara mempraktekkan Hindu bertujuan agar semua jenis tipologi manusia dapat menjangkau ajaran Hindu yang universal sebagai tuntunan untuk meningkatkan kemampuan hidupnya berjalan di jalan Dharma. Itulah sebabnya kenapa dikatakan setiap orang mendapatkan sradha-nya masing-masing sesuai dengan kapasitas dan level spiritualnya sehingga seseorang tidak bisa pindah dari satu level pemahaman ke level yang lainnya secara instan. Dengan kekayaan konsepsi filosofi Veda ini, sebenarnya dapat dikatakan bahwa spiritualitas semua orang di dunia bisa diayomi hanya dengan pustaka suci Veda.

Kitab suci Veda dan Tuhan Yang Maha Esa dipahami secara berbeda oleh masing-masing orang. Dalam Lontar Wrehaspati Tattva Sloka 4 menceritakan tentang kondisi beberapa orang buta yang berusaha mengerti gajah dengan merabanya. Ada yang menyatakan gajah itu bagaikan kipas karena yang dirabanya adalah kupingnya. Ada yang mengatakan gajah itu seperti kayu karena yang diraba adalah gadingnya. Ada yang mengatakan seperti ular karena yang diraba adalah belalainya. Ada yang mengatakan seperti lumbung karena yang diraba adalah badannya. Dan ada pula yang mengatakan gajah seperti pilar karena yang diraba adalah kakinya. Demikianlah jika orang mempelajari Veda secara parsial, maka perbedaan persepsi pasti akan selalu terjadi. Tetapi bagi mereka yang sudah memiliki kadar spiritual dan intelektual tinggi, dengan hati nurani yang cerah akan mampu menjelaskan Veda dan mampu menampung setiap aspek manusia serta menuntunnya dalam meniti jalan material dan spiritual setahap demi setahap.

Akhir kata, semoga buku ini dapat dibaca oleh khalayak ramai dengan cerdas, arif dan bijaksana sehingga para pembaca memiliki pandangan yang semakin luas tentang ajaran Hindu yang sangat kaya akan konsep filsafat. Semoga kita semua dapat menempuh jalan spiritual menuju Tuhan setahap demi setahap dan mencapai tujuan kehidupan sebagaimana disampaikan dalam Manava Dharmasastra I.89, yaitu; “prajnam raksanam dhanam, masyarakat dalam kehidupan yang aman, damai dan sejahtera”.

Om Shanti Shanti Shanti Om

%d bloggers like this: