Om Svastyastu

Mungkin sering sekali kita mendengar istilah jaman Kaliyuga, tetapi apakah ini mitos atau bualan belaka? Mari kita buktikan bersama dengan ajaran etika terlebih dahulu, yang tentunya akan sangat berkaitan dengan Jaman Kaliyuga ini.

Dalam ajaran Wrhaspati tattwa dijelaskan bagaimana seharusnya seseorang menjalani kehidupannya. meskipun kita memang dalam jaman Kaliyuga, tapi sangatlah penting untuk kita maknai lagi apa yang telah ditulis oleh leluhur kita. Leluhur kita begitu mengerti dan tahu akan apa yang akan terjadi pada setiap jaman. Maka dari itu leluhur kita menuliskan wejangan-wejangannya agar kelak berguna bagi kita semua.

 Wrhaspati Tattwa sloka 60 :

Ahimsa ngaranya tan pamati-mati. Brahmacharya ngaranya tan ahyun arabya. Satya ngaranya tatan mithyavacana.Awyawaharika ngaranya tan awiwada, tan adol awelya, tan paguna-dosa. Astainya ngaranya tan amaling-maling, tan angalap drewya ning lyan yan tan ubhaya.

Artinya :

Ahimsa artinya tidak membunuh-bunuh. Brahmacarya artinya tidak mau beristri. Satya artinya tidak berbohong. Awyawaharika artinya tidak berperkara, tidak berjual beli tidak mau menghakimi demikian saja mana salah mana yang benar terhadap orang lain. Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengambil hak milik orang lain sebelum disetujui.

 Dalam Nitissastra (V3) dikatakan :

Wasita nimittanta manemu laksmi,

Wasita nimittanta pati kapangguh,

Wasita nimittanta manemu dukha,

Wasita nimittanta manemu mitra.

 Artinya :

Karena kata-kata engkau mendapat kebahagiaan

Karena kata-kata engkau menemui ajalmu

Karena kata-kata engkau menderita nestapa

Karena kata-kata engkau mendapat kawan.

 

Nitisastra IV sloka 10

Pangdening kali murkaning jana wimoha matukar arebut kawiryawan.

Tan wring ratnya makol lawan bhratara wandhawa, ripu kinayuh pakasrayan

Dewa- drewya winasa dharma rinurah kabuyutan inilan padasepi

Wyartha ng sapatha su prasasti linebur tekaping adharma murka ring jagat

 Artinya :

Karena pengaruh jaman Kali, manusia menjadi kegila-gilaan, suka berkelahi, berebut kedudukan yang tinggi-tinggi. Mereka tidak mengenal dunianya sendiri, bergumul melawan saudara-saudaranya dan mencari perlindungan kepada musuh. Barang-barang suci dirusakkan, tempat –tempat suci dimusnahkan, dan orang-orang dilarang masuk ke tempat suci, sehingga tempat itu menjadi sepi. Kutuk tak berarti lagi, hak istimewa tidak berlaku, semua itu karena perbuatan orang-orang yang murka

Tulisan-tulisan yang saya cetak tebal adalah untuk menjadi fokus renungan kita.Yang pertama “tidak mau menghakimi demikian saja mana salah mana yang benar terhadap orang lain”. Secara sadar saya telah menyadari juga bahwa dominan dari kita cenderung untuk tidak melakukan hal ini. Mengapa? Karena saya kira banyak yang sudah mengaku paling bisa, paling benar dan paling hebat. Entah apakah ini disengaja atau tidak, sering sekali terjadi diskusi intern agama Hindu contohnya yang justru malah kelihatan saling menghakimi, saling mengaku paling benar, dan yang lainnya salah. Jika kita bisa memaknai kembali apa pesan leluhur kita, tentunya damai pulalah diri kita ini dan secara tidak langsung akan mendamaikan lingkungan kita juga. Ada kalanya benar kata pepatah “diam berarti emas” dan ada pula kalanya benar bahwa “diam berarti tidak tahu”. Namun seorang yang bijaksana adalah orang yang tahu sesuatu, tetapi bisa memposisikan dirinya, kapan pengetahuannya digunakan,dan untuk apa pengetahuannya ? Akan lebih baik ketika kita mengaku “bahwa kita tahu diri kita tidak tahu”

Yang kedua “Karena kata-kata engkau mendapat kawan.” Benar sekali adanya demikian, kata-kata memang sangat ampuh untuk mendapatkan kawan, seyogyanya kitapun bisa memilih mana yang merupakan kawan dan mana yang hanya mengaku kawan bagi kita. Demikian pula dalam berbagai diskusi intern seharusnya kita bias membicarakan hal lain yang lebih bermanfaat dibandingkan harus memamerkan sesuatu yang berasal dari satu sumber. Sama saja seperti dua orang anak yang diberi masing-masing hadiah yang sama oleh ayahnya, namun karena hadiah itu terbungkus kertas kado yang berbeda, masing-masing anak hanya melihat dari warna pembungkusnya saja. Dan akhirnya membanding-bandingkan dan akhirnya bertengkar karena satu sama lain kukuh merasa memiliki yang terbaik. Setelah terbuka hadiah itu, apa yang didapat? Ternyata isinya sama. Hanya satu penyesalan yang didapat, rasa malu dan rasa tanggung ingin meminta maaf, ternyata mereka baru menyadari bahwa mereka adalah saudara.

Apabila hal-hal seperti ini dibudayakan, bukankah sama saja kita melakukan hal yang sia-sia? Dimana seharusnya dengan berdiskusi kita makin bisa menambah teman, mengetahui berita bervariasi bagaimana pengalamannya dengan Hindu? Apakah mesti kita bertanya tentang Tuhan? Bagi saya Tuhan itu Privasi, jadi jika ada yang bertanya siapa Tuhan mu? Saya boleh tidak menjawab.

“Bergumul melawan saudara-saudaranya dan mencari perlindungan kepada musuh” melek sedikit, kalau kita membaca kitab suci tentu tak akan sama dengan membaca watak ramalan Bintang atau Zodiak. Kebiasaan membaca Zodiak adalah heran dan kagum ternyata watak kita bisa diramalkan dengan baik. Biasanya juga kita membaca dengan keras mana yang baik-baik saja, sedangkan yang buruk dibaca dalam hati. Beda dengan membaca Kitab suci, membaca kitab suci seperti membaca bocoran Wikileaks, dimana kita harus waspada dan mencari bagaimana cara mengurangi atau menghindari hal-hal yang negatif seperti tulisan diatas bagaimana ciri-ciri jaman Kaliyuga ini. Hal yang perlu kita lakukan adalah menghindarinya, karena manusia masih bisa berkarma.dengan karma lah, kita bisa memanfaatkan ajaran-ajaran Veda dengan baik.

Nah Fokus terakhir adalah “Barang-barang suci dirusakkan,tempat–tempat suci dimusnahkan” Ini bermakna universal,bagi seluruh manusia. Jangan sampai hal ini terulang lagi, dimana benda-benda yang mempunyai nilai kultus dan memiliki makna Historical religius bagi agama tertentu dirusak lagi. Marilah kita perangi karma buruk kita dari Asubha Karma menjadi Subha karma. Jika semua manusia percaya Karma Phala, maka untuk berpikir jahat sekalipun kita akan takut. untuk itulah mari kita jaga bersama apa yang leluhur kita berikan kepada kita. Semoga kita bisa menjaga semua yang beliau berikan kepada kita.

Saya berharap positif sekali di tulisan pendek ini. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Semua agar kita sadar bahwa kita semua bersaudara, dan ciri-ciri jaman Kaliyuga memang sudah kentara dalam kehidupan kita,secara sadar,maupun tidak.

 Om Santih Santih Santih Om

%d bloggers like this: