Para pendatang sangat senang merebut sumber-sumber rejekinya Krama Bali karena daya saing Krama Bali lumpuh. Sumber rejeki yang ada di depan hidungnya tidak dihiraukannya sehingga kaum pendatang dengan mudah mengambil alih. Krama Bali selalu sibuk diajak berkorban untuk para Bhuta Kala agar “somya” katanya. Bukannya “somya” (damai) yang didapat, tetapi yang didapat malah berbagai penyimpangan prilaku karena secara tidak sadar mereka “nyungsung” Bhuta Kala dalam pikirannya.

Yang “nyungsung” Kala Wisaya menyebabkan katagihan berjudi. Wisaya artinya racun. Racunnya sang Kala Wisaya lebih paten dari narkoba. Karena itulah sulit menghentikan orang yang ketagihan berjudi. Kaum pendatang yang menjadi bandar togel menjadi amat senang. Krama Bali dengan senang membeli nomor dengan harapan mendapatkan uang banyak secara mudah. Sedangkan kaum pendatang sangat senang menjual nomor karena bisa mendapatkan banyak uang dengan mudah. Jika narkoba menyebabkan badan sang pelaku kurus, maka Kala Wisaya menyebabkan harta bendanya lah yang terkuras habis-habisan. Moralnya runtuh, tanah leluhur pun akhirnya dijual. Mencari uang dengan cara lain sulit, tapi menghabiskan uang hanya untuk sebuah nomor togel gampang. Sementara itu Bandar Togel “kedek ngekek” mendapatkan uang dengan cara mudah yang akhirnya digunakan untuk memborong tanah para Krama Bali.

Yang “nyungsung” Kala Dremba menyebabkan mereka ketagihan makan darah dan daging. Dia kehilangan rasa kasih sayang dan menjadi kejam pada mahluk lain. Pada waktu dia menyemblih binatang sama sekali tidak ada rasa kasihan melihat binatang itu meronta-ronta dan menjerit menangis. Yang terbayang dalam pikirannya hanya rasa enak makan lawar, sate, gorengan, guling dan sejenisnya. Pada waktu binatang itu meregang nyawa menggelepar, malah ditertawakan. Dia tidak sadar badannya dipergunakan Kala Dremba untuk bersenang-senang makan daging. Sama seperti orang kesurupan minta pitik (anak ayam) untuk dimakannya. Orang yang kesurupan matanya terpejam, setelah diberi pitik, dia menari-nari dan memakan pitik itu hidup-hidup bersama-sama dengan kotorannya. Setelah itu malah lagi minta arak (minuman keras). Orang yang badannya terlalu sering dimanfaatkan oleh Kala Dremba tentu cepat rusak, sehingga organ-organ di dalam badannya cepat kropos mengalami degradasi seperti maag, asam urat, diabetes, gagal ginjal, serangan jantung, hipertensi dan struk lalu lumpuh. Dokter tidak mampu menyembuhkan karena penyakit itu merupakan buah karmanya membunuh binatang yang tidak berdosa. Mereka lupa tujuan menjelma ke dunia adalah untuk memperbaiki karma dan ingat kepada Tuhan sehingga bisa mencapai Moksa.

“I Belog Mabet Ririh” tidak percaya dengan Hukum Karma, sehingga dia mencari pembenaran pembunuhan binatang dengan alasan “nyupat” untuk korban suci. Boleh saja mencari alibi seperti itu, tapi Dewa Baruna selaku penegak Hukum Karma di dunia ini tetap saja akan menajatuhkan hukuman yang setimpal dengan penderitaan binatang yang disakiti atau dibunuh. Jika dia keburu mati sementara hukumannya belum selesai diterima, maka di “Tanah Barak” (alam roh) dia akan diadili oleh Dewa Yama. Kalau di alam roh belum lunas juga, maka dia harus menjelma ke dunia ini lagi sebagai mahluk hidup yang mengalami nasib yang sama seperti binatang yang pernah dia sakiti.

Dewa Baruna dan Dewa Yama tidak bisa disogok dengan “Banten Guru Piduka, Banten Pemayuh, Bebangkit, Tebesan, Sayut Pengambean, Caru” dan sebagainya. Mereka tidak seperti Hakim di dunia ini yang bisa dininabobokan hanya dengan sejumlah “amplop”.

Kala Ngadag menyebabkan orang suka melanggar aturan yang bisa membahayakan orang lain. Sang WIL menyebabkan orang doyan ke kafe, minum minuman keras dan bikin onar.

Semua prilaku-prilaku ini merobohkan sendi-sendi Dharma. Karena itu mereka tidak mendapat perlindungan Sang Hyang Dharma. Orang yang tidak dilindungi Dharma nasibnya tidak ubanya seperti tanaman tanpa pagar. Ada saja yang iseng datang mencabik-cabiknya. Atau seperti bola mata yang tidak dilindungi oleh kelopak matanya, ada saja yang menyakitinya, baik debu, pasir, asap, percikan sabun, serangga dan sebagainya.

Dari jaman I Kumpi Krama Bali selalu disuruh berkorban untuk “nyomya” para Bhuta Kala dengan janji akan mendaptkan ketentraman dan kedamaian. Tetapi nyatanya malah keributan, percekcokan, sengketa, kekerasan dan saling kroyok yang semakin menjadi-jadi. Bahkan dewasa ini pembunuhan semakin sering terjadi. Pura dan Kuburan yang seharusnya menjadi alat pemersatu Krama Bali malah disengketakan seperti yang terjadi di Banjar Kemoning dengan Banjar Budaga di Kabupaten Kelungkung.

Karena Krama Bali terperangkap dalam jejaring sengketa, tenaga dan pikirannya terkuras untuk bersengketa, maka sumber-sumber rejekinya yang ada di depan hidungnya diabaikan. Datanglah orang dari luar Bali berduyun-duyun merampas sumber-sumber rejeki yang bertebaran di Bali. Setiap tahunnya tidak kurang dari 350.000 orang datang dan menetap di Bali merebut sumber-sumber rejeki yang ada. Kaum pendatang dengan aman menguasai pusat-pusat perekonomian dan tanah-tanah yang strategis. Krama Bali tersingkir ke pinggiran berdesak-desakan di sudut yang sempit. Krama Bali hanya menjadi pembantu di rumahnya sendiri dengan upah yang sangat rendah. Inikah yang disebut “Ajeg Bali” yang dielu-elukan oleh para oknum tokoh Guru Belog Megandong?

Guru belog megandong tidak ubahnya seperti air keras yang malah menghancurkan benda-benda disekitarnya. Siapapun yang bergaul dengan dirinya pasti akan dimakannya. Guru Belog Megandong hanya bertindak atas dasar kepentingannya sendiri dan tidak pernah mementingkan masa depan “Sisya”-nya. Mereka tidak pernah berusaha memberi bantuan kepada anak-anak yatim piatu, anak terlantar, mereka yang sebatang kara, orang jompo, memprakarsai pendidikan murah untuk mencerdaskan anak-anak Krama Bali yang biskin. Bahkan kewajiban mereka sebagai Guru yang seharusnya memberikan siraman rohani dan memberikan pendidikan spiritual pun tidak mereka jalankan. Mereka hanya sibuk mengejar “Daksina”.

Jangan pernah dekat dengan tokoh Guru Belog Megandong seperti ini. Sebaliknya, kita harus mendekati Guru-Guru spiirtual yang bonafide. Sebut saja salah satunya Guru Nihita, yaitu Guru yang terampil memimpin upacara dan mampu membimbing Sisya-nya agar mampu hidup sejahtera di dunia ini (jagathita) dan juga sadar akan spiritual dan mencapai Moksa secara tepat guna dan tepat sasaran sesuai dengan petunjuk kitab suci Veda.

Sebenarnya Krama Bali saat ini pun sangat taat dalam beragama dan mengikuti aturan Veda. Tetapi sayangnya selama ini mereka salah pemimpin. Guru Belog Megandong terlalu sering menelikung ketulusan mereka dalam beragama. Mereka diajak beragama di kulit luarnya saja dan tidak pernah diberi isinya. Jadi pengorbanannya “nyaplir”. Guru Belog Megandong memang mengatakan korban suci yang dilakukan untuk Sang Hyang Widhi, tetapi prakteknya hanya untuk Bhuta Kala, pamer kekayaan, untuk kepuasan indria dan sebagian untuk “daksina” Guru Belog Megandong.

Kritik ini terkesan lancang? Ya… orang yang belum pernah membaca Lontar dan kitab suci Veda bisa saja menyebut kritikan ini lancang. Tapi mereka yang sudah merenungkan ajaran-ajaran tattva kitab suci secara mendalam akan dapat mengerti makna dibalik kritikan pedas ini. Mereka akan kasihan kepada Krama Bali yang dijadikan budak demi kemakmuran Guru Belog Megandong. Guru Belog Megandong hidup enak, tapi Krama Bali malahan hidupnya susah, tidak tentram karena selalu dibayangi oleh bayang-bayang ketakutan. Guru Belog Megandong enak digendong, tetapi Krama Bali tertatih-tatih, nafasnya terengah-engah karena payah menggendong Gurunya yang gemuk dan berat akan dosa.

Krama Bali yang salah memilih Guru dan terperangkap dalam ajarannya yang keliru selamanya tidak akan pernah menemukan Jagathita secara turun-temurun. Jangan pernah memilih Guru yang menyalahgunakan agama agar kita tidak diperbudak oleh kemiskinan, miskin harta dan miskin spiritual. Agama adalah alat yang sama seperti halnya alat-alat yang lainnya. Jika alat itu digunakan dengan cara yang benar maka akan mendatangkan kebaikan. Namun jika alat itu digunakan secara keliru, maka sudah pasti akan menimbulkan bahaya dan penderitaan. Maka jangan sampai Agama dimanfaatkan oleh Guru Belog Megandong untuk memeras Krama Bali.

Hindu sebenarnya adalah agama yang paling lengkap yang cocok untuk kalangan apapun. Hindu tidak pernah memaksakan umatnya harus melakukan caru, membuat banten atau memberi daksina dalam jumlah tertentu. Hindu mengijinkan umatnya memuja Tuhan bahkan tanpa sarana apapun. Hindu tidak pernah menyalahkan umat yang hanya bersembahyang dengan cara bernyanyi seperti halnya orang Kristen di Gereja (Hari Nama Sankirtana), duduk bersimpuh dan bezikir seperti umat Muslim (Berjapa) atau hanya dengan berusaha memusatkan pikiran kepada Beliau dalam segala tindakan. Sama sekali tidak ada batasan. Bagi mereka yang memang mampu dan ingin membuat yadnya yang besar dengan melibatkan banyak masyarakat dan korban suci juga tidak disalahkan. Apa lagi jika persembahan yadnya itu pada akhirnya dibagikan sebagai lungsuran (prasadam) kepada seluruh masyarakat sekitar. Itu merupakan yadnya yang sangat baik. Kenapa dalam Hindu ada banyak jalan yang sangat fleksibel? Karena Hindu menyadari bahwasanya setiap manusia memiliki Guna dan Karma serta kemampuan material yang berbeda-beda sehingga urusan hubungan kepada Sang Pencipta sama sekali tidak bisa distandarkan secara “plek-keciplek”. Semua yadnya yang penting harus dilakukan dengan prinsip tulus iklas, rasa suka cita, tanpa beban, jujur dan berpondasi pada landasar Dharma.

Jadi pada prinsipnya beragama Hindu itu sangatlah mudah. Yang menyebabkan beragama Hindu menjadi rumit adalah karena politik “Daksina Monopoli” Guru Belog Megandong. Upacara sengaja dibikin ruwet dan transfer pengetahuan tidak dilakukan sehingga masyarakat umum tidak mampu menguasainya sehingga terus-menerus membuat ketergantungan kepada mereka. Agar politik “Daksina” itu kelihatannya indah maka dibungkus dengan jargon “Ajeg Bali, melestarikan seni budaya dan pariwisata”. Memang “Ajeg Bali” itu baik, melestarikan seni budaya penting dan mempertahankan pariwisata itu perlu, tapi bukan begitu caranya. Jika Guru itu jujur maka mestinya upacara diatur sedemikian rupa untuk meningkatkan daya tahan Krama Bali di dalam persaingan yang semakin ketat menghadapi kaum pendatang yang militan. Kalau Krama Bali selalu tunduk dengan Guru Belog Megandong maka Krama Bali akan tersingkir seperti nasib orang Betawi di Jakarta. Bali ini hancur bukannya karena tidak “mecaru”, melainkan karena dihancurkan oleh racun intimidasi yang melemahkan daya tahan Krama Bali dan serbuan dari kaum pendatang yang militan. Tanah-tanah yang strategis dikapling-kapling untuk perumahan, untuk pertokoan, tempat hiburan dan hotel yang ternyata dikuasai oleh kaum pendatang. Kalau tanah sudah dikuasai kaum pendatang, lalu apanya yang mau diajegkan? Banyak Krama Bali yang kesulitan ekonomi bahkan harus menjual tegak rumah dan tegak sanggahnya sendiri. Tegak sanggah yang akhirnya dikuasai oleh non-Hindu akhirnya dirobohkan. Kalau sudah begitu, apa yang bisa dilakukan? Kemana yadnya dan caru di sanggah yang memicu penjualan tanah itu? Tidakkah Bhetara dan Bhuta Kala sanggup mempertahankan tegak sanggah itu tetap berdiri setelah dikuasai non-Hindu? Lalu kemana perhatian Guru Belog Megandong? Kenapa mereka tidak memperjuangan tegak sanggah yang dihancurkan itu? Itulah kenapa kita harus menjauhi tokoh Guru Belog Megandong dan beralih kepada Guru Nihita dalam mencari tuntunan beryadnya jika mau betul-betul mensukseskan “Ajeg Bali, Ajeg Hindu, Ajeg Desa Pekraman dan Ajeg Seni Budaya Bali”. Untuk memuluskan semua ajeg ini diperlukan dukungan biaya. Dan dukungan biaya hanya bisa didapat jika semua Krama Bali bisa maju dalam bidang perekonomian dengan menguasai semua lini perekonomian Bali yang ada. Jangan sampai menghambur-hamburkan modal yang ada hanya untuk upacara. Dalam batas-batas tertentu upacara itu dikalahkan oleh Hukum Ekonomi dan oleh Hukum Alam. Jadi beragama dan berupacara jangan membabi buta, harus didukung dengan perhitungan Hukum Ekonomi dan Hukum Alam juga.

Dalam kaitannya dengan hukum alam bisa kita lihat pada kasus upacara “Pakelem”. Upacara Pakelem menenggelamkan banyak binatang dan berbagai sesaji hasil bumi di laut dengan harapan agar air laut tidak ganas. Sudah banyak binatang dan sesajen dikorbankan dan ditenggelamkan, tapi mengapa abrasi pantai semakin parah? Inilah hukum alam. Hukum alam tidak bisa dijinakkan hanya dengan “banten” sebesar apapun. Walaupun kita menghaturkan “Pakelem” sejuta kerbau di laut”, tidak mungkin abrasi itu berhenti tanpa ada tindakan kongkrit melakukan reboisasi hutan bakau. Jangan mimpi dengan upacara-upacara parsial seperti itu. Ada orang yang melakukan upacara besar dan meriah dengan banten yang sangat banyak, menaruh banyak dupa pada setiap pelinggih dengan sembarangan, kemudian tidak diketahui bara dupa yang ditiup angin mengenai kain hiasan pada palinggih tersebut. Akhirnya apa yang terjadi? Semua palinggih dalam pura itu hangus terbakar. Inilah pertanda bahwa kita harus menaati hukum alam karena kita sebagai manusia yang spiritualnya masih rendah belum bisa lepas total dari alam material ini. Kita bukan orang suci, kita bukan dewarsi dan bukan juga seorang yogi yang sudah hebat. Maka dari itu jangan sekali-sekali menentang hukum alam sebelum yakin bahwa diri kita sudah benar-benar lepas dari alam material.

Contoh lain penentangan hukum ekonomi dalam beryadnya adalah jika umpamanya kita punya lahan pertanian sebanyak 15 are, lalu akan melakukan upacara “Ngaben”. Jika upacaranya mengikuti “Swasta Gni” yang amat sederhana maka kita tidak perlu sampai menjual tanah. Tetapi jika kita mengikuti petunjuk Guru Belog Megandong maka kita harus menjual tanah untuk menutupi biayanya yang sangat besar. Sayangnya kebanyakan umat kita malahan terjerat oleh oknum Guru Belog Megandong ini. Mereka Ngaben dengan menjual atau menggadaikan tanah, meminjam uang di Bank dengan harapan leluhur yang mereka Aben akan menolong memberi rejeki agar mampu lagi membeli tanah atau mengembalikan hutang. Tapi “lacur”, setelah upacara selesai ternyata rejekipun tidak kunjung muncul karena leluhur tidak juga datang memberikannya. Kenapa? Karena urusan rejeki material adalah urusan badan material ini. Badan kasar inilah yang bertindak sebagai pencari rejeki. Mereka yang tidak berbadan kasar apa lagi tidak terikat akan material lagi tidak mungkin mau berurusan dengan rejeki lagi. Karena itu rejeki material harus diperoleh dengan berusaha sesuai petunjuk ilmu ekonomi dan tidak cukup hanya dengan berupacara saja.

Ada sebuah certia fiksi yang bisa menjadi perenungan kita bersama. Dikisahkan ada seorang Raja yang memerintahkan Perdana Mentrinya untuk menjual 3 jenis kepada. 3 kepala itu adalah kepada sapi, kepala kambing dan kepala manusia. Sang Perdana Mentri dengan mudahnya bisa menjual kepala kambing dan kepada sapi, tetapi tidak untuk kepala manusia. Bahkan disaat diberikan dengan harga terendah dan bahkan gratis pun tidak seorangpun di kerajaan itu yang mau menerimanya. Artinya, ternyata kepala manusia memiliki harga yang sangat tidak berharga dibandingkan dengan kepada kambing atau sapi. Jadi buat apa harus melakukan upacara pengabenan yang terlalu mahal, dengan membuat bade dan lembu yang serba wah? Kenyataannya mayat manusia itu jauh lebih menjijikkan dari mayat kambing atau sapi kan? Memang benar, pada dasarnya kepala manusia itu sangat berharga bagi sanak saudara yang empunya. Dia berharga dari segi ikatan emosional. Tetapi apakah hanya karena itu harus dijadikan alasan menghabiskan harta benda hanya untuk yang sudah meninggal? Apakah tindakan mengejar gengsi dan pamer itu yang diharapkan? Kenapa tidak disiapkan untuk yang masih hidup atau yang akan lahir saja? Jika leluhur anda bijak, saya yakin dia tidak akan mau menghabiskan harta warisannya hanya untuk upacara mereka. Mereka pasti akan memilih kesejahtraan anak cucunya. Apa lagi kalau ternyata dia akan “numitis” kembali di keluarga itu. Kasihan kan leluhur anda yang numitis menjadi miskin secara material? Masyarakat pun demikian. Mungkin saja masyarakat akan jijik melihat upacara yang “wah” yang “lebih besar pasak dari pada tiang” tersebut sama seperti contoh rakyat kerajaan yang melihat Sang Perdana Menteri sedang menjajakan kepala manusia. Saya tidak bermaksud menentang upacara ngaben yang meriah. Saya setuju jika upacara ini dilandasi memang dengan sumber ekonomi si empunya yang kuat dan bisa menjadi media sosial dan mensejahterakan masyarakat di sekitarnya dan juga sebagai media pelestarian budaya. Tetapi saya sangat anti dengan upacara pengabenan yang merupakan pemborosan sia-sia oleh keluarga yang pas-pasan. Boleh saja alasannya adalah demi melestarikan budaya, tetapi ingatlah bahwasanya masih ada cara lain yang bisa dilakukan dengan arif dan bijaksana. Jangan mau menjadi topeng monyet di Tanah Bali tercinta ini. Anda asyik ber-show ria… sementara yang menikmati “madu” show anda hanyalah para investor yang notabene bukan Krama Hindu Bali.

Sastra agama kita sudah memberi keleluasaan dan anjuran yang pas. Lakukan yadnya sesuai dengan kemampuan. Yang terpenting adalah ketulusan dan cinta bhakti kita. Bahkan jikapun harus melakukan ngaben hanya dengan Swasta Gni yang hanya dengan sebuah “punjung”, sebenarnya tidak masalah. Yang penting korban suci itu benar-benar kita tujukan pada Sang Hyang Widhi dan panjatan doa kita tulus untuk menghantarkan roh leluhur kita menuju alam yang lebih baik.

Tentunya yang bisa memberikan petunjuk dan mau membimbing kita dalam melakukan upacara seperti ini bukanlah Guru Belog Megandong, tetapi mereka para tokoh Guru Nihita-lah yang sanggup. Carilah sosok Guru-Guru Nihita ini. Mereka memiliki ciri-ciri seperti apa yang tertuang dalam kitab suci. Mereka akan sangat rendah hati, bersedia memberi hormat kepada siapapun dan motif mereka berbagi bukan lagi motif material, tetapi murni spiritual.

Namun tentu saja dalam proses pencarian dan pembelajaran ini kita akan berhadapan dan dipergunjingkan oleh orang-orang “Belog Mabet Ririh”. Mereka ini hanyalah orang-orang apriori dan selalu prejudis. Mereka itu adalah orang-orang yang akal sehatnya mati suri yang akan menuduh tulisan-tulisan ini merusak Agama Hindu serta adat-istiadat di Bali. Kita tidak usah mendengarkan orang-orang seperti ini karena mereka tidak ubahnya seperti Guru Belog Megandong. Mereka tidak akan pernah mampu menolong kita bebas dari kemiskinan dan jeratan dogma. Mereka tidak akan mampu menghantarkan kita pada Jagathita dan Moksa.

Hindu adalah agama yang sangat sempurna. Siapapun orangnya jika melaksanakannya sesuai dengan petunjuk kitab suci maka dijamin hidupnya akan makmur, tentram, damai dan akhirnya mencapai moksa. Pelaksanaan yadnya sesuai kitab suci dalam rangka pencapaian dharma ini hanya bisa dilakukan atas bimbingan Guru Nihita agar tidak melenceng dari tujuannya. Jangan takut dipergunjingkan mereka si “Belog Mabet Ririh”. Kitab suci kita menyatakan bahwa orang yang penakut dan tidak melakukan karma sesuai dengan dharmanya sama saja dengan orang yang sudah mati. Krama Bali yang telah terintimidasi oknum Guru Belog Megandong menjadi penakut sehingga ekonominya terpuruk dan mati. Orang-orang penakut selalu menghadapi masalah dengan cara meneropongnya dari sisi yang negatif dan merugikan sehingga mereka gagal mencapai tujuan. Tetapi orang yang pemberani selalu meneropong masalah dari sudut yang positif sehingga mereka sukses. Kita harus berani mengambil tindakan berasaskan pada kitab suci Veda dan bimbingan Guru Nihita yang memberi energi positif. Jangan menyerap energi negatif dari kata-kata seram yang mengintimidasi dari Guru Belog Megandong dan orang-orang “Belog Mabet Ririh”. Capailah kemerdekaan dalam melaksanakan Dharma. Capailah Jagathita dan akhirnya gapailah kesadaran tertinggi untuk mencapai Moksa.

Dalam “aguron-guron” (belajar spiritual lewat berguru), selain Guru Nihita yang mengajarkan petunjuk seluk-beluk yadnya demi mencapai Jagathita, sebaiknya kita juga harus mengenal guru-guru yang lain. Guru-guru itu antara lain:

  • Guru Bodha, mengajarkan kitab suci dan mendorong murid-muridnya berbuat sesuai dengan perintah kitab suci.
  • Guru Veda, mengajarkan arti Veda yang sebenarnya. Menuntut sang murid agar stabil berpegang teguh pada kesadaran spiritual dan mengarahkan pikiran murid-muridnya agar selalu tertuju pada Sang Hyang Widhi.
  • Guru Kamya, menjadikan orang ikut terlibat dalam pekerjaan jasa untuk menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat (bhukti dan mukti)
  • Guru Vancaka, mengajarkan pengetahuan Yoga dan mempersiapkan murid-muridnya menjalani kehidupan spiritual.
  • Guru Suchaka, mengajarkan cara mengendalikan panca indriya melalui berbagai jenis disiplin.
  • Guru Vihita, menghapus semua keraguan, memurnikan pikiran dan memperagakan bagaimana memperoleh realisasi Diri Sejati.
  • Guru Karana, mengajarkan bagaimana mencapai kebahagiaan tertinggi, Moksa.

Dari 8 Guru yang sangat penting ini. Pada akhirnya semua orang harus mengarah pada apa yang diajarkan oleh Guru Karana. Karena sejatinya kita sebagai Atman haruslah kembali kepada Sang Pencipta dan mencapai Moksa untuk dapat lepas dari Samsara dan mencapai kebagaiaan yang sejati.

Jadi akhir kata, mari kita hindari indoktrinisasi dan intimidasi yang dilakukan Guru Belog Megandong. Karena tindakan itu akan membuat pikiran Krama Bali mati rasa dan linglung. Kondisi pikiran yang seperti itu pada akhirnya akan sangat mudah didominasi oleh Sadripu (Enam musuh dalam diri manusia), ahamkara (ego) dan mamakara (kemelekatan). Dari keenam musuh ini, loba, kama dan kroda adalah yang paling berbahaya. Dan avarana dan viksepa sebagai turunan dari ahamkara juga sangat berbahaya. Avarana kerjanya tukang tipu yang menyebabkan seseorang salah lihat dan salah dengar yang ujung-ujungnya menyebabkan seseorang salah mengambil tindakan. Viksepa kerjanya tukang propokator. Orang yang sudah ditipu oleh avarana amat mudah dihasut. Lalu timbullah sang kroda yang meneruskan pekerjaan sehingga membuat amarah sampai mengamuk. Karena Krama Bali kebanyakan beragama hanya dikulit-kulitnya saja, maka bahaya laten tersebut tidak dapat diketahuinya sehingga mereka kebanyakan menjadi budaknya loba, kama, kroda, avarana dan viksepa. Itulah akar masalah yang menyebabkan percekcokan terjadi secara meluas. Kama menyebabkan pemerkosaan dan perselingkuhan, kroda menimbulkan perkelahian dan bahkan pembunuhan dan viksepa menyebabkan saling kroyok dan bunuh diri.

Hal ini tidak bisa di-”somya” dengan “banten caru” sebesar apa pun. Masih ingatkah kita akan usaha “nyomya” untuk menolak bom di Kuta dengan “Caru Karipubaya” yang menelan biaya ratusan juta? Guru Belog Megandong mengatakan kekuatan caru itu dapat menangkal musuh selama 30 tahun. Tetapi apa yang terjadi? Belum genap 2 tahun ternyata sudah ada Bom Bali jilid II. Menyedihkan bukan?

Untuk “nyomya” pikiran orang yang dijajah Sadripu, ahamkara dan mamakara, satu-satunya jalan adalah memberikan pencerahan spiritual oleh Guru Kerohanian yang benar-benar bonafide yang didukung dengan contoh kongkrit. Orang tua, tokoh masyarakat, para pemangku, para sulinggih dan para pejabat sepatutnya menjadi teladan yang bijaksana. Tanpa ada pencerahan, teladan dan transfer ilmu dari para Guru ini kepada para “sisya” seperti sistem yang telah diwariskan Mpu Kuturan kepada masyarakat Bali, maka akan sangat sulit mencapai kedamaian dan kemakmuran (Jagathita) di tanah Bali tercinta ini.

 Artikel terkait: 

Ditulis ulang berdasarkan hasil karya Jero Mangku Wayan Suwen dalam karya tulisnya berjudul “Gurunya Belog Megandong, Krama Bali Angkih-angkih – Kiat Pan Lagas: XVII”.

Jero Mangku Wayan Suwena dapat dihubungi di alamat beliau: Jl. WR. Supratman Gang Gunung Batur No.2 Kesiman, Denpasar Timur. Telp; 0361-223873

Translate »
%d bloggers like this: