Di bawah ini adalah pengakuan seorang teman(narasumber) secara lisan tentang pengalaman pribadinya terkait dengan roh, hal klenik, dan bathin narasumber sendiri.

Mari kita simak bersama.

Pertama, saya akan menceritakan bagaimana kisah orang tua saya. Karena jarak yang dekat, dibilangan daerah pesisir dimana ada banyak peluang kerja layaknya hotel, Villa, dan kos-kos-an. Seorang lelaki dari Tabanan memutuskan untuk mengadu nasib disana. Dua tahun telah berlalu sampai akhirnya lelaki ini pun memadu kasih dengan seorang wanita asli daerah disana. Siapakah mereka? Mereka tiada lain adalah orang tua saya sekarang. Selama kira-kira setahun mereka berpacaran dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Dua hari menjelang pernikahan, saya dilahirkan dan akhirnya perkawinan harus ditunda. Saat itu umur kandungan baru 5 bulan. Memang, sejujurnya perkawinan itu rencananya akan dilakukan karena hamil dahuluan, bukan karena memang sudah diplaningkan secara matang. Bahkan kelahiran saya terjadi di rumah, bukan dirumah sakit seperti halnya kebanyakan orang modern sekarang ini. Karena saya lahir prematur, akhirnya saya dirawat dirumah sakit selama sekitar 1 bulan.

Setelah satu bulan berlalu dan akhirnya keadaan saya sudah normal, akhirnya perkawinan orang tua saya dilaksanakan juga. Setelah upacara pernikahan rampung, karena pertimbangan kebutuhan dan pekerjaan mengharuskan untuk kedua orang tua saya kembali merantau. Tak ada pilihan lain, akhirnya kami tinggal di rumah ibu. Kehidupan saya dari semenjak itu dominan disana. Setelah umur saya 3 tahunan, karena bapak malu terus-terusan tinggal disana, akhirnya bapak memutuskan untuk nge-kost di dekat sana. Setiap bapak kerja, saya selalu dikunci dikamar kost karena mungkin karena malu merepotkan dirumah ibu. Setelah pulang kerja baru pintu dibuka kembali. Pada saat saya mulai masuk TK, akhirnya bapak mau tinggal lagi dirumah ibu. Syukurlah, akhirnya bapak luluh juga. Namun kebahagian itu tak bertahan lama. Dengan adanya orang ketiga, dipercaya bapak saya diguna-guna oleh seorang wanita dengan ‘perkakas jawa’. Efek yang ditimbulkan adalah pertengkaran tingkat tinggi. Selalu saja bapak minta bercerai. Akhirnya perhatian mereka kurang ke saya karena teralihkan oleh pertengkaran itu.

Umur saya terlalu dini saat itu untuk mengenal yang namanya pertengkaran. Sampai saya kelas 2 SD akhirnya dicarikan penangkal untuk menyadarkan bapak dari jerat guna dan sepertinya berhasil. Percaya gak percaya istilahnya.

Pada saat saya kelas 5, ibu saya hamil untuk yang kedua kalinya. Delapan bulan setelah itu akhirnya saya punya adik laki-laki. Saat itu keluarga saya masih harmonis. Namun sayangnya tak berlangsung lama, 2 tahun setelah kelahiran adik saya, bapak sakit dan akhirnya selang berapa lama beliau meninggal. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi kami karena sepeninggal beliau kami harus bertahan hidup tanpa seorang bapak bagi saya dan adik, dan suami bagi ibu saya.

Sekarang ibu lah yang menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi kami berdua. Setahun setelah kepergian bapak, karena tidak kuat menahan masalah sekunder dari keluarga bapak, ibu memutuskan untuk “mulih bajang” ke tempat asal di banjar A. Ibu juga ingin mengajak kami berdua, tapi sayang tidak mendapatkan ijin dari keluarga bapak, alasannya karena takut kepada beliau yang telah meninggal. Namun apa daya, keputusan ibu sudah bulat. Karena alasan ekonomi dari pihak keluarga bapak yang kurang mampu untuk membesarkan serta menyekolahkan kami, akhirnya keputusan yang diperoleh adalah kami dititipkan di keluarga ibu, tapi dengan status masih tetap dikeluarga bapak. Saya kira kehidupan saya berubah indah ketika saya membuka lembaran baru di rumah ibu. Saya juga pernah kecelakaan dijalan dan langsung histeris seperti kesurupan. Setelah diupayakan bertanya ke orang pintar, katanya arwah bapak yang “ngugul”. Setelah kejadian itu berulang kali kejadian serupa menimpa saya, padahal sebelumnya saya tidak pernah sama sekali seperti itu. Sampai saya lulus SMA, saya masih mengalami kasus seperti itu, namun frekuensinya mulai berkurang. Karena kurang puas dengan perkataan orang pintar itu yang membuat ada hal mengganjal dihati, saya bertanya lagi tentang apa yang saya alami kepada orang yang berbeda. Ternyata disana ada informasi yang berbeda sekaligus mengejutkan, dikatakan setelah itu bahwa saya terkena alat lombok, diobati lewat media telur dan setelah selesai pengobatan didalam telur ditemukan duri. Betapa terkejutnya saya. Antara percaya dan tak percaya.  Saya kira setelah upaya tersebut keadaan saya sudah bisa dicap sehat dan tak akan lagi mengalami pingsan kesurupan. Namun apa kenyataannya, ternyata masih saja saya begitu. Saya mengalami pingsan kesurupan biasanya jika pikiran saya sedang kosong dan stress.

Jadi seperti apa kebenaran yang harus saya akui? Apakah saya harus absolut percaya terhadap kata Balian yang notabene hasil yang diberikan kepada saya berbeda satu sama lain. Apakah mereka tidak bisa memberikan kejelasan kepada saya selain kebingungan seperti ini? Dan juga disebutkan pula bahwa saya diganggu (“digugul”) oleh arwah bapak. Mengapa arwah bapak begitu jahat mengganggu anaknya? Apakah bukan seharusnya sebaliknya, dimana arwah bapak tenang karena sudah di upacarai?

Sebelum upacara pengabenan dilaksanakan, pada saat mapinunas arwah bapak padahal tidak meminta apa-apa. Tapi mengapa ada informasi bahwa penyebab saya begini dikarenakan oleh bapak? Apa bukan suatu yang provokatif yang berefek pada timbulnya kebencian saya kepada bapak saya sendiri? Saya tidak ingin menjadi seorang yang durhaka. Bahkan dengan tegas saya katakan saya tidak percaya bahwa bapak saya begitu jahat. Dan variasi pengakuan sang Balian membuat bathin saya sampai sekarang tertekan. Disamping itu juga ada yang mengatakan saya peka terhadap hal-hal gaib. Tentu saja hal ini sangat mengganggu saya karena hanya penderitaan yang saya rasakan sampai saat ini. Sayapun menjadi paranoid dengan kehidupan saya sendiri.

Narasumber berpesan kepada saya bahwa beliau ingin mendapat saran atau opini dari rekan-rekan di Narayanasmrti.com, siapa tahu setelah share kisah hidupnya disini, beliau mendapatkan pencerahan.

Nb : tulisan ini sudah melalui persetujuan langsung dari Narasumber. Pilihan kata-kata di artikel ini adalah bersumber dari penulis artikel sendiri dan tentunya tanpa merubah maksud dan tujuan narasumber. Dibaca dan sekaligus sudah disetujui oleh narasumber agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru. Mengenai nama dan tempat, narasumber telah meminta saya untuk merahasiakannya.

 

%d bloggers like this: