Oleh: H.H. Bhakti Raghava Swami Maharaj

Disampaikan dalam sebuah pelajaran pagi hari di SSKBK – Hebri – India

Pelajaran pada pagi ini ditujukan khusus untuk mengenang Prabhu Bhagiratha Dasa. Dan merupakan kesempatan yang sangat bagus karena teman dekat Prabhu Bhagiratha Dasa sejak kecil, yaitu Sriman Kishora Krishna Dasa juga kebetulan sampai di sini di Sahyadri Sri Krishna Balarama Ksetra (SSKBK) 2 hari yang lalu. Waktu begitu singkat untuk mengingat kembali seorang Vaisnava agung yang telah meninggalkan kita secara tiba-tiba dan tanpa terduga.

Saya pertama kali mengenal Prabhu Bhagiratha sekitar tahun 1999 di Temple Sri Sri Krishna Balaram di Denpasar, Bali – Indonesia. Waktu itu dia adalah seorang murid SD yang masih sangat muda yang bergaul dengan para penyembah dan menginap di temple. Saat itu dia dikenal sebagai Bhakta Nyoman Bagia. Dia baru berumur kurang dari 10 tahun ketika dia untuk pertama kalinya mengucapkan nama suci menggunakan japa mala. Seorang penyembah Bali yang membawanya dan juga membawa begitu banyak siswa-siswa muda ke Kesadaran Krishna adalah Sriman Dhiratma Prabhu, seorang yang berprofesi sebagai pengajar dan sangat aktif mengajarkan Kesadaran Krishna. Ketika Bhakta Nyoman Bagia berumur 16 tahun, dia menjadi begitu serius dalam pelayanan bhaktinya. Kishora Krishna Prabhu mengingat bagaimana dia telah berjanji pada tulasi mala hasil karya tangannya sendiri, yang karena ukurannya yang besar, baru bisa dia selesaikan hanya beberapa saat sebelum diksa Hari-Namanya di Bali pada bulan Juli 2002. Waktu itu dia sudah memasuki umur 18 tahun dan mendapatkan nama diksa Bhagiratha Dasa Brahmacari.

Sebgai bagian dari rencana mengirimkan beberapa penyembah asal Indonesia ke India untuk belajar dan training, Saya telah memilik Kishora Krishna Prabhu dan Bhagiratha Prabhu yang beruntung memperoleh visa pelajar selama 3 tahun untuk mempelajari Yoga dan Sansekerta dibawah Bharatiya Vidya Bhavan cabang Mangalore. Dan akhirnya pada akhir 2003 mereka berdua pergi ke India bersama-sama. Ini adalah kali pertama Bhagiratha Prabhu mengunjungi tanah suci di India. Pada saat itulah untuk pertama kalinya dia juga mengunjungi Sahyadri Sri Krishna Balarama Ksetra dimana dia dan Kishora Prabhu membantu mengembangkan proyek ini pada awal-awal pembangunan.

Setelah 6 bulan dia di India, saya mendapatkan kabar bahwa terdapat pengajuan fasilitas belajar di Srimad-Bhagavatam Vidyaoitham di Govardhan, yang diketuai oleh Sriman Gopiparanadhana Prabhu. Segera setelah menerima informasi ini, saya menghubungi Gopiparanadhana Prabhu yang telah setuju dan siap menerima Bhagiratha Prabhu mulai awal semester pada bulan Oktober 2004.

Bhagiratha Prabhu pergi ke Govardhan seperti halnya ikan yang masuk ke dalam air. Kadang kala dia diberikan kesempatan melakukan pelayanan terhadap arca Gaura Nitai meskipun saat itu dia belum didiksa Brahmana. Pada tahun berikutnya, pada bulan oktober 2005, Gopiparanadhana Prabhu meminta kepada saya jika saya dapat memberikan diksa kedua kepada Bhagiratha Prabhu sehingga dia bisa melayani arca secara full time. Karena saat itu saya tidak bisa mengunjungi India, saya ingat bagaimana saya memberikan diksa brahmana jarak jauh melalui telpon. Gopiparanadhana Prabhu secara pribadi telah melakukan upacara diksa tersebut. Bhagiratha Prabhu adalah seorang murid yang baik. Dia mampu menyelesaikan pelajarannya bersama dengan sekitar 20 penyembah dari berbagai negara di belahan dunia. Dia dapat menguasai bahasa Sansekerta dengan sangat baik. Secara cepat, dia telah mengembangkan ikatan yang mendalam dan kuat pada Vrindavan, terutama pada Sri Sri Krishna dan Balaram dengan Girigovardhanji. Pernah suatu ketika dia menuliskan kepada saya jika dia berniat memuja arca Sri Sri Krishna Balaram secara personal dalam wujudNya sebagai Govardhan sila sebagaimana Salagram sila, yang telah saya restui.

Segera setelah meninggalkan India pada tahun 2007, dia memohon kepada saya untuk menyusun bari kedua Pranam Mantra untuk saya dalam bahasa Sansekerta, yang juga saya setujui. Keterikatannya yang kuat pada Govardhan dibuktikan dengan kemampuannya menyelesaikan penulisan bukunya yang mendeskripsikan kisah masa lalu Tuhan Sri Krishna di Govardhan dan berbagai tempat suci di Vrindavan dengan ilustrasi yang begitu indah. Saya memintanya untuk memulai Varnasrama Collage kecil di Gaura Hari dimana dia merekrut beberapa pelajar lokal.

Ketika saya mengunjungi Indonesia, yang biasanya satu atau dua kali dalam satu tahun, dia biasanya memandu saya dalam berbagai hal. Dia adalah penyokong bhakti dalam misi varnasrama dan membantu mengorganisir tiga kali seminar varnasrama di Bali. Yang pertama di temple Gaura Hari di Gianyar pada tahun 2009 yang berlangsung sangat baik. Pada kunjungan saya yang terakhir ke Indonesia pada tahun 2011 dia menemani saya ke beberapa lokasi yang jauh dari Bali seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Dia selalu sangat antusias dalam pelayanan bhakti. Dialah orang yang melakukan pelayanan personal termasuk menginterview beberapa penyembah senior dalam hal Varnasrama. Dia melakukan itu dengan tidak sabar dan menyelesaikan 5 interview dalam rentang kurang lebih 1 tahun. Penyembah yang dia interview adalah His Holiness Bhakti Vidya Purna Maharaja, His Holiness Bhakti Vikasa Maharaj, His Grace Gopiparanandhana Prabhu, His Grace Atma Tattva Prabhu dan saya sendiri. Hasil dari interview ini menghasilkan buku berjudul “Traditional Education”, Interview terpilih dimana foto Bhagiratha Prabhu dan kisah singkatnya juga ada di dalamnya.

Bhagiratha Prabhu senang berpergian. Dia telah melakukan pengajaran di Kamboja dan juga di Thailand. Dia berpergian dengan pengajarnya di Govardhan, His Grace Gopiparanadhana Prabhu ketika dia mengunjungi Bangkok, untuk melakukan Harinama dan mendistribusikan buku-buku Srila Prabhupada. Saya masih ingat pada saat mengunjungi temple Buddha di Bangkok ketika mereka melihat pajangan mayat yang diletakkan di suatu cairan. Bhagiratha Prabhu terlihat begitu tergoncang melihat mayat tersebut dan hal ini membantunya menjadi lebih serius dalam Kesadaran Krishna. Tempat ziarah yang paling dia sukai tentu saja adalah Vrindavan. Para penyembah dari Indonesia memintanya untuk memandu mereka berziarah ke India dan dia telah beberapa kali melayani para penyembah sebagai pemandu untuk mengunjungi Mayapura dan Vrindavan.

Sekitar 2 tahun yang lalu ketika saya mengunjungi temple Gaura Hari, mengetahui bahwa saya memuja arca kecil Gopalji dan sapi, dia membawakan saya Salagram Sila Sudarshan Chakra miliknya sendiri dan mempersembahkannya kepada saya untuk dipuja. Saya sangat-sangat puas dan sampai saat ini saya masih tetap memuja Salagram Sila pemberiannya.

Bhagiratha Prabhu sangat mencintai kirtan. Dia adalah penyanyi kirtan yang berbakat dan telah sangat baik dalam memainkan harmonium dan juga mrdanga. Dia membawa harmonium portable kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia bepergian. Dia biasanya mengalungkan tali harmonium tersebut sambil bergerak mengelilingi ruang temple bersama para penyembah dengan kirtannya.  Dia juga merupakan seorang penari yang baik dan memiliki pembawaan yang ceria. Dia belajar bagaimana melakukan yajna dan pada waktu yang berbeda para penyembah memintanya melakukan beberapa samskara di rumah mereka atau di temple.

Ketika Gopiparanadhana Prabhu berpulang (meninggal) tahun lalu, Bhagiratha Prabhu menulis dua surat apresiasinya di dandavats.com yang memperlihatkan cintanya yang mendalam dan kasihnya kepada gurunya di Govardhan. Dia mengekspresikan perpisahan yang mendalam dan mengharukan dari guru dan pembimbingnya. Dia menamakan tulisannya “Dauji” untuk membantunya selalu ingat Balaramji. Dia sangat menyayangi sapi.

Bhagiratha Prabhu berhubungan dengan banyak penyembah. Dia juga banyak membantu orang terbimbing kepada Kesadaran Krishna. Dia adalah pengajar yang sangat baik dan antusiasnya sangat mudah menular.

Saya yakin seluruh orang yang beruntung telah bergaul dan mengenalnya akan sangat merindukannya. Dia meninggalkan seorang istri, Bhaktin Mila dan seorang putri angkat bernama Gita Nagari. Dia juga meninggalkan banyak arca seperti Sri Sri Gaura Nitai, Sri Sri Krishna Balaram, Govardhanji, Sri Narasinghadeva dan Salagram Sila yang kesemuanya telah dia puja secara teratur dan dengan semangat bhakti yang tinggi. Saya masih ingat ketika dia menghabiskan sekitar 3 jam melakukan puja paginya dengan menggembirakan sambil membacakan sloka-sloka Sansekerta sebagai persembahan kepada arcanya. Penyembah yang sangat dekat dengannya berencana melanjutkan pemujaan terhadap arca-arcanya ini.

Bhagiratha Prabhu yang saya sayangi, apa yang bisa saya katakan? Saya harus berterimakasih telah menjadi murid dan juga pengajar yang ideal. Kamu telah melakukan pelayanan dengan cinta kasih. Saya akan sangat merindukan pergaulanmu. Semoga Krishna, Balaramji dan Govardhanji selalu bersama-sama menemanimu dengan sapi-sapiNya yang menawan. Sebagaimana saya darsan pada Govardhan Sila dan Sri Sri Krishna Balaram pemberianmu, Saya menangis dengan kesedihan yang mendalam karena perpisahan oleh kepergianmu yang tiba-tiba.  Meskipun ini begitu menyedihkan, saya yakin bahwa kamu akan selalu berada dalam perlindungan Tuhan pujaanmu Sri Krishna — Dauji.

Segala pujian kepadamu dan pelayanan bhaktimu yang luar biasa. Saya menantikan saat dimana kita dapat melanjutkan misi suci Srila Prabhupada. Saya akan selalu menjadi orang yang selalu mengharapkan kebaikanmu. Seluruh keberuntungan dan berkat untukmu.

Jaya Radhe…!

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari bahasa Inggris. Untuk mendownlod artikel aslinya click di sini. Untuk mendownload kisah singkat hidup Bhagiratha Prabhu yang ditulis H.H. Bhakti Raghava Swami, click di sini.

%d bloggers like this: