[anti-both]

Sisya: Apa benar alam material ini adalah tempat menyengsarakan Guru?

Guru: Ya, Veda menyatakan; “Dhukhalayam asasvatam, dunia material ini adalah tempat sementara penuh duka (Bg. 8.15). Anityam asukham lokan, alam fana ini adalah dunia tidak kekal dan menyengsarakan (Bg. 9.33)”.

Sisya: Mengapa maya dikatakan berhakekat mengkhayalkan, membingungkan, dan menyesatkan mahluk hidup di dunia?

Guru: Karena maya senantiasa membuai para mahluk hidup dengan keakuan palsu (ahanta). Maya senantiasa membuai para mahluk hidup dengan rasa kepemilikan palsu (mamanta), “segala hal yang terkait dengan diriku adalah milikku, dan segala yang lain bisa segera menjadi milikku”. Maya senantiasa membuai mahluk hidup dengan perasaan palsu bahwa kebahagiaan material semu dan sementara (maya sukha) adalah kebahagiaan sejati (brahma sukha). Demikianlah dengan selalu dibuai oleh paham-paham kehidupan keliru ini, sang jiva dikatakan mengkhayal dan hidup tersesat.

Sisya: Kembali ke masalah tri guna, mengapa sering dikatakan bahwa tri guna adalah tali-temali halus maya?

Guru:  Tri guna secara literal berarti tiga tali yang mengikat para mahluk hidup di dunia fana sehingga ia sering disebut tali-temali atau jerat maya. Secara kiasan disebut tiga tangan halus maya karena tri guna secara halus mencengkram para jiva hingga mereka tidak bisa lepas keluar dari dunia fana. Dan secara kiasan pula disebut tiga tirai halus maya, karena tri guna berhakekat menutupi, mengkhayalkan, membingungkan dan menyesatkan para jiva di dunia material.

Sisya: Anda mengatakan bahwa alam material adalah tempat menyengsarakan, penuh duka dan derita. Di dunia ini, penjara adalah tempat menyengsarakan. Dapatkah saya katakan bahwa alam material ini pada hakekatnya adalah penjara?

Guru: Ya, sebab personifikasi maya yang mewujudkan alam material adalah dewi Durga. Dan Durga berarti penjara. Alam material ini adalah penjara bagi para mahluk hidup yang melanggar aturan kehidupan di dunia rohani, yaitu tidak mau melayani Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna. Mereka ingin menikmati secara terpisah tanpa tergantung kepadaNya. Maka Tuhan menempatkan mereka di alam material ini. Seperti halnya para penghuni penjara diberi pakaian dan atribut khusus, begitu pula di dunia fana para jiva yang tergolong “kriminal” diberikan badan material dan diikat dengan atribut tali-temali maya dari tri guna.

Sisya: Tetapi mengapa hampir semua orang tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya adalah para kriminal yang menghuni penjara dunia fana Guru?

Guru: Karena mereka dikhayalkan dan dibingungkan oleh maya dengan paham keakuan palsu, paham kepemilikan palsu dan kebahagiaan material semu.

Sisya: Mengapa Sri Krishna sengaja membuat alam material yang terwujud dari tenaga materialNya sebagai tempat menyengsarakan bagi para mahluk hidup?

Guru: Sesungguhnya para mahluk hidup yang tinggal di alam material ini ada dalam keadaan kotor. Kotor oleh kegiatan memuaskan indriya badan jasmani dalam usahanya hidup bahagia tanpa harus melayani dan bergantung kepada Tuhan. Dengan maksud agar kembali insaf pada kedudukan dasarnya sebagai pelayan kekal Tuhan, maka kesadaran mereka perlu dibersihkan melalui berbagai macam kesengsaraan, duka dan derita seperti halnya emas dimurnikan dengan cara dipanaskan dan dipukul berkali-kali. Itulah sebabnya Sri Krishna sengaja membuat alam material ini tempat menyengsarakan.

Sisya: Mengapa kebanyakan orang berpendapat bahwa alam material ini bukan tempat menyengsarakan?

Guru: Karena mereka hampa pengetahuan spiritual Veda, tidak insaf diri dan diikat amat kuat oleh maya dengan prinsip-prinsip kehidupan materialistik, yaitu keakuan palsu, kepemilikan palsu, dan kebahagiaan material semu.

Sisya: Di awal, anda mengatakan bahwa alam material ini terwujud dari maya, tenaga material Sri Krishna yang mengkhayalkan. Oleh karena berasal dari maya, tidakkah itu berarti bahwa alam material ini pada hakekatnya khayal juga?

Guru: Tidak. Alam material ini adalah nyata, bukan khayal, tetapi keberadaannya sementara. Sebab ia diciptakan dan dilebur berulang-ulang. Jika dikatakan khayal, itu berarti hukum karma phala tidak ada, tidak ada gunanya melakukan tapa dan vrata penyucian diri, dan surga ataupun neraka tidak ada di alam material ini. Hanya orang-orang mayavadi yang mengatakan jagat mithya, alam material ini palsu alias tidak nyata. Yang khayal adalah prinsip-prinsip kehidupan materialistik produk maya, yaitu keakuan palsu, kepemilikan palsu dan kebahagiaan material semu.

Sisya: Apakah fungsi maya selamanya mengkhayalkan dan menyesatkan para mahluk hidup?

Guru: Tidak. Dikatakan, “Mayam tu prakrtim vidhi mayinam tu mahesvaram, meskipun maya tampak hebat dalam wujud alam material ini, namun ia berada di bawah kendali Tuhan Yang Maha Esa” (Svetasvatara Upanisad 4.10). Dikatakan lebih lanjut bahwa personifikasi maya adalah Durga Dewi yang diibaratkan seperti bayangan Sri Govinda dan bertindak sesuai dengan keinginanNya (Brahma Samhita 5.44). Tugas Durga Dewi adalah mensucikan para mahluk hidup melalui hukuman dengan melempar mereka ke dalam beraneka macam duka dan derita kehidupan material supaya pada akhirnya mereka menjadi insyaf pada diri dalam kedudukan dasarnya sebagai pelayan kekal Sri Krishna. Kepada para jiva yang sudah jera pada kesengsaraan dunia fana dan kembali ingin mengabdikan diri kepada Sri Krishna, Durga Dewi memberikan berkah pengetahuan spiritual bhakti untuk kembali pulang ke dunia rohani.

Sisya: Yang saya ketahui adalah kebanyakan orang memuja Durga Dewi untuk mendapatkan berkah material seperti kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Apa pendapat anda terhadap hal ini Guru?

Guru: Berkah material seperti itu disebut sakapata yang pada hakekatnya adalah; avaranatmika, bersifat menutupi atau menggelapkan kesadaran, dan praksepatmika, memerosotkan kehidupan. Dengan kata lain, berkah material seperti itu hanya membuat sang mahluk hidup menjadi semakin lupa kepada Sri Krishna dan berada semakin jauh dariNya.

Sisya: Tadi anda mengatakan bahwa Durga Dewi bisa memberikan berkah spiritual bhakti. Apakah ini berarti bahwa maya dalam wujudnya sebagai Durga Dewi bisa membantu setiap orang dalam menempuh jalan kerohanian bhakti?

Guru: Ya, sebab Durga Devi adalah bhakta Sri Visnu, sehingga nama lain beliau adalah Vaisnavi. Berkah pengetahuan spiritual bhakti yang diberikan olehnya disebut niskapata yang membuat seseorang tercerahkan, insyaf pada kedudukan dasarnya sebagai pelayan kekal Sri Krishna. Dikatakan bahwa para gopi memuja Dewi Durga yang juga disebut Dewi Katyayani untuk mendapatkan cinta bhakti Sri Gopala (Krishna).

Sisya: Jikalau seseorang berhasil maju dan tekun dalam pelayanan bhakti murni kepada Sri Krishna, bagaimana maya bertindak atas dirinya dan bagaimana kedudukannya di alam material ini?

Guru: Maya tidak lagi mengikat dirinya dengan tali-temali halus tri guna yang mengkhayalkan dan menyesatkan. Dia telah mengatasi belenggu maya yaitu tri guna dan mencapai tingkat spiritual brahma-bhuta. Sri Krishna berkata: “mam ca yo’ vyabhicarena bhakti-yogena sevate sa gunan samatityaitan brahma-bhuyaya kalpate, orang yang tekun dalam pelayanan bhakti kepadaKu dan tidak pernah gagal dalam keadaan apapun, seketika mengatasi (belenggu maya yang disebut) tri guna, dan dengan demikian mencapai tingkat kehidupan spiritual brahma-bhuta” (Bg. 14.29). Dengan kata lain, dia telah mencapai mukti, lepas dari kehidupan material yang menyengsarakan meskipun masih tinggal di alam fana dan dia disebut jivan-mukta (perhatikan Bhakti Rasamrta Sindhu 1.2.187).

Sisya: Apakah maya hanya bisa diatasi dengan proses bhakti yoga? Bagaimana dengan karma yoga, jnana yoga dan juga dhyana yoga?

Guru: Sepanjang yang menyangkut kesimpulan Veda (Veda siddhanta), yaitu Bhagavad Gita, dikatakan bahwa maya hanya bisa diatasi dengan melakukan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna. Bhakti yang murni ditunjukkan dengan penyerahan diri total sang bhakta kepada Beliau. Karena itu Sri Krishna berkata: “Daivi hy esa guna mayi mama maya duratyaya mam eva ye prapadyante mayam etam ta ranti te, tenaga materialKu nan halus, maya yang terdiri dari tri guna sungguh sulit diatasi. Tetapi siapapun yang telah berserah diri penuh kepadaKu, dengan mudah mengatasinya” (Bg. 7.14). Bahkan Patanjali Yoga Sutra yang oleh sebagian orang awam dianggap sebagai jalan kerohanian paling tinggi disebutkan; “îåvara-prañidhânâd va, Penyerahan diri (disebut juga bhakti) adalah jalan menuju kesadaran transendental” (Patanjali Yoga Sutra I.23). Hal yang serupa juga ditegaskan dalam Patanjali Yoga Sutra II.1, II.32 dan juga II.45. Jadi puncak dari semua jalan kerohanian hanyalah penyerahan diri murni kepada Tuhan, atau bhakti yoga.

Sisya: Maya menyebabkan orang-orang berpikir salah dan sesat. Dapatkah anda menunjukkan contoh-contoh praktis dalam kehidupan yang timbul dari berpikir salah dan sesat ini?

Guru: Badan jasmani dianggap diri sendiri. Alam material dianggap tempat tinggal sejati. Kenikmatan duniawi semu dan sementara dianggap kebahagiaan sejati. Memuaskan indriya jasmani dianggap pengetahuan. Pencapaian pangkat dan jabatan duniawi dianggap membuat diri terhormat. Pemilikan gelar-gelar akademik dianggap membuat hidup lebih maju. Kepemilikan kekayaan material yang berlimpah dianggap meniadakan derita. Kelahiran dianggap kesempatan menikmati. Kematian dianggap akhir kehidupan. Persenyawaan kimiawi secara materi dianggap asal muasal kehidupan. Alam material dianggap terwujud secara mekanis. Kemajuan teknologi diangap kehidupan yang lebih beradab. Cerita-cerita Veda dianggap dongeng. Binatang dan mahluk hidup yang lain dianggap tidak memiliki jiva. Kehidupan beradab dianggap hanya ada di Bumi yang telah terjangkau teknologi modern. Ekonomi dianggap masalah kehidupan paling utama. Perbuatan dianggap bermoral jika secara material menyenangkan dan menguntungkan. Kebebasan individu dianggap nilai kemanusiaan tertinggi. Kehidupan kumpul kebo dianggap pola hidup wajar. Pendidikan akademis dianggap pendidikan yang sesungguhnya. Hindup sederhana dan bersahaja dianggap kehinaan dan kesesatan.

Sisya: Apa akibat dari berpikir salah dan sesat ini bagi kehidupan manusia?

Guru: Manusia akan hidup menderita. Sebab jika sudah salah dan sesat, seseorang pasti menemui kesulitan dan akibatnya adalah penderitaan. Maya memang dirancang menyengsarakan agar setiap manusia menjadi sadar pada hakekat dirinya sebagai jiva rohani abadi dan mau kembali membina hubungan cinta kasih bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selama inu terputus.

Bersambung…..

Oleh: Ngurah Heka Wikana

Artikel terkait:

%d bloggers like this: