Kabut tipis menyelimuti Kintamani ketika saya menuju pura terbesar kedua di Bali, yaitu Pura Batur. Saat itu saya menemani dua orang turis yang juga teman saya yang kebetulan juga ada di Bali untuk berlibur.  Di parkiran pura, kami disambut oleh beberapa gadis kecil penjaja cendramata yang dengan kepiawaiannya melakukan bujuk rayu demi terjualnya barang dagangannya. Namun ketidak mereka tahu saya orang Bali dan juga Hindu, mereka akhirnya menyingkir. Bahkan untuk masuk dan meminjem kain sembahyang pun gratis. Namun tentu saja hal ini tidak berlaku bagi kedua teman saya yang non-Hindu. Mereka harus bersedia merogoh kantong untuk membayar tiket masuk, meminjam kain, selendang dan udeng.

Pura Batur memang sebuah pura yang istimewa. Aura mistisnya begitu kental, udara sejuknya pun menambah kesan spiritual yang sakral. Memasuki area Utama Mandala, kita juga disuguhkan dengan keberadaan sebuah klenteng umat Tionghoa yang memperlihatkan toleransi yang begitu apik antara kedua penganut keyakinan yang berbeda ini. Ditambah lagi dengan suguhan pemandangan indah danau dan gunung Batur yang begitu mempesona serasa semakin mendekatkan kita kepada Sang pencipta. Suasana vibrasi spiritual dan ketenangan yang sangat mengagungkan ini pun diakui oleh kedua teman saya yang non-Hindu.

Namun ada yang menarik dan menurut saya sangat menggelitik untuk disimak dalam cerita perjalanan kami ini. Saat memasuki Madya Mandala, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri kami dan memperkenalkan diri. Dia mengakatan bahwa dirinya baru kelas 4 SD dan ditugaskan sebagai Guide atau pemandu wisata di Pura Batur. Saya pun memperkenalkan diri saya sebagai orang Bali dan juga Hindu ke pada dia yang membuatnya mempersilahkan saya menjadi Guide untuk kedua teman saya. Namun teman-teman saya tertarik dengan keluguan anak tersebut sehingga mereka meminta anak ini juga ikut menemani kami. Kesan pertama yang saya tangkap dari anak ini disamping keluguannya adalah cerdas. Diusianya yang belia dan tanpa pendidikan formal dia ternyata jauh lebih fasih berbahasa inggris dari saya. Namun sepertinya anak ini terlalu polos dan jujur dalam menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan wisatawan. Pertanyaan tentang asal mula sejarah Batur dia jawab dengan mengatakan bahwa dia mengetahuinya dari serial kolosan TV di Indosiar. Pertanyaan mengenai kenapa ada banyak bangunan pelinggih dalam satu komplek pura dia jawab bahwa masing-masing pelinggih punya betara yang berbeda-beda sehingga mengesankan ada sangat banyak Tuhan yang disembah. Ketika ditanya kenapa ada pelinggih dengan tumpang 11, 9, 8 dan bahkan ada yang sederhana dia jawab bahwa tumpang itu mengindikasikan drajat Ida Betara yang berstana di pelinggih tersebut sehingga mengesankan “Tuhan” yang satu lebih rendah dari “Tuhan” yang lain. Ketika ditanya, dari mana sumber pengetahuan yang dia peroleh dalam menjelaskan semua itu, dia menjawab polos bahwa itu cerita dari orang tuanya dan dari belajar di sekolahnya. Namun saya pikir semua itu tidaklah masalah karena wisatawan dewasa pasti menyadari bahwa pengetahuan anak itu memang masih sebatas itu. Bahkan wisatawan seperti halnya teman-teman saya pasti terpesona dengan keberaniannya tampil sebagai Guide dan tidak begitu mempermasalahkan informasi yang dia sampaikan. Sebuah talent yang tidak mudah dikuasai oleh semua anak seusianya.

Namun satu hal yang membuat kening saya mengkerut adalah pada saat dia menghantarkan kami ke satu sudut pura di sebelah selatan pura utama. Disana terdapat sebuah lapangan seluas lapangan voly dan dilengkapi dengan tempat duduk berundak dari bambu. Namun di lapangan tersebut tidak ada net, tidak juga ada garis batas seperti halnya garis batas lapangan voly. Yang ada hanyalah garis batas yang saya sendiri tidak mengenalnya. Tentu saja pemandangan ini mengundang tanda tanya besar. Lalu apa jawaban anak pemandu kami tersebut? Dia menjelaskan secara panjang lebar bahwa itu adalah arena Tajen, atau sambung ayam yang selalu digunakan setiap ada upacara di pura Batur, pura terbesar kedua di Bali. Bahkan dengan bangganya dia menjelaskan bahwa omset perjudian sambung ayam di sana sangat besar. 1 orang bahkan biasanya sampai kalah tidak kurang dari 50 juta rupiah. Bayangkan saja jika dalam satu musim tajen dihadiri oleh 100 babotoh (penjudi sambung ayam), berapa perputaran uang perjudian tersebut? Padahal faktanya, acara tajen pasti dihadiri oleh ratusan orang setiap harinya dan dalam satu musim mungkin tidak kurang dari 1000 orang yang terlibat di dalamnya. Lalu pertanyaannya, kenapa arena judi tajen ini ada di sebuah pura besar seperti pura Batur? Lalu bagaimana dengan pura-pura kecil yang lain? Jika dalam sebuah pura besar saja tajen dilindungi, bukankah itu artinya tajen juga dilegalkan di pura-pura kecil yang lain? Apakah Hindu membenarkan perjudian?

Sepanjang perjalanan setelah meninggalkan pura Batur, teman saya tidak henti-hentinya bertanya-tanya dan bergurau tentang masalah judi tajen ini kepada saya. Tidak banyak yang bisa saya katakana karena faktanya tajen memang ada dan dilegalkan di pura Batur. Saya hanya bisa menjawab bahwa sastra Veda tidak pernah membenarkan perjudian, kejadian seperti di Batur dan beberapa tempat di Bali hanyalah anomali belaka. Tapi sayangnya mungkin anomali yang keliru menurut sastra ini mungkin sudah terlalu besar dan bahkan telah menjadi mayoritas dan pada akhirnya dianggap “benar”. Posisi saya menjadi sulit karena saya seorang Hindu yang menentang tajen, tetapi saya juga orang Bali dimana Bali sendiri memang lebih mementingkan sastra lontar peninggalan leluhur sebagai pegangan dibandingkan dengan sastra Veda sebagai kitab suci Hindu.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum resmi dikenal sebagai Hindu Dharma sebagai salah satu dari lima agama yang diakui di Indonesia saat itu, Hindu di Bali lebih dikenal dengan sebutan agama Tirtha. Berikutnya atas prakarsa beberapa orang yang memiliki pandangan lebih luas akhirnya memperkenalkannya sebagai Hindu Bali. Baru setelah wacana mengakomodir keberadaan umat yang lain di luar suku Bali-lah akhirnya Hindu Bali dirubah menjadi Hindu Dharma. Keberadaan Hindu di Bali yang seolah-olah berbeda dan memisahkan diri dengan yang lainnya memang bukan tanpa alasan. Pondasi Hindu Bali tidak kalah kuat dibandingkan Hindu secara umum. Hindu di Bali memiliki hari rayanya sendiri yang sepintas tanpak berbeda. Hindu di Bali juga memiliki kitab suci tersendiri yang tertuang dalam berbagai macam lontar dan lontar Catur Veda Sirah sebagai landasan utamanya. Penyebutan Tuhan, tempat sembahyangnya dan tata caranya pun terkesan berbeda. Meskipun secara filosofi sebenarnya sangat berkaitan erat. Mungkin hal ini lah yang menimbulkan “ego” beberapa umat Hindu berdarah Bali untuk tampil beda. Berkenaan dengan kasus tajen di sini, masalah akhirnya timbul ketika terdapat sastra-sastra lontar yang nyleneh dan membenarkan tajen.

Sebut saja sebuah lontar yang ternyata banyak tersebar di Bali seperti yang ditemukan di Kubutambahan di Buleleng dan juga di Tabanan. Lontar yang menulis seluk beluk tajen atau yang dikenal sebagai Lontar Pengayam-ayam ini bahkan sebelumnya ditempatkan dalam posisi yang sangat terhormat di salah satu tempat suci pewarisnya. Lontar ini begitu disakralkan dan selalu diberi sesaji. Namun apa yang terjadi saat salah seorang pewarisnya akhirnya ingin tahu dan berusaha membaca isinya? Betapa terkejutnya dia saat tahu lontar sakral yang selama ini disembah keluarganya berisi tentang judi? Apa yang sebaiknya harus dilakukan pewaris lontar ini? Apakah dia harus tetap memuja, mensakralkan dan ikut mengaplikasikan isi lontar itu? Ataukah boleh hanya menaruhnya sebagai penambah khasanah budaya yang tidak patut dilakoni? Jika anda menjadi salah satu pewaris lontar tersebut, mungkin anda juga akan mengalami gejolak psikologi yang cukup berat.

Sekarang permasalahan yang harus dipecahkan adalah, bagaimana cara kita membangun image Hindu di depan masyarakat dunia terutama tentang tajen ini? Apakah kita ingin mempertahankannya dan mengukuhkan keberadaan lontar pengayam-ayam sebagai sebuah budaya judi yang harus dilestarikan? Memberikan ruang gerak terbatas tajen sebagai tabuh rah dengan dalih upacara? Atau dengan lapang dada kita harus mengakui bahwa keberadaan tajen dan lontar pengayam-ayam memang merupakan warisan budaya kelam dalam sejarah Bali yang harus ditinggalkan dan cukup dikenang sebagai cagar budaya? Pilihan ada di kita sebagai generasi muda Hindu Bali. Saya pribadi memilih pilihan terakhir karena saya lebih yakin bahwa tajen adalah judi dan bertentangan dengan ajaran Hindu yang berlandaskan Veda.

Om Tat Sat

%d bloggers like this: