[anti-both]

Kesalahan Para Ilmuwan

 

SRILA PRABHUPADA: Kesalahan para ilmuwan adalah bahwa mereka tidak tahu tentang kedua energi tersebut—energi material dan energi spiritual. Mereka mengatakan bahwa segalanya bersifat material dan bahwa apa pun berasal dari material. Kelemahan teori-teori mereka adalah bahwa mereka memulai dari materi (zat), bukan roh. Karena zat berasal dari roh, dalam satu pengertian segalanya bersifat spiritual. Energi spiritual adalah sumber dan dapat eksis tanpa energi material. Namun energi material tidak memiliki eksistensi tanpa energi spiritual. Adalah benar untuk mengatakan bahwa gelap itu ada mulai adanya cahaya, bukan cahaya mulai dari gelap. Ilmuwan beranggapan bahwa kesadaran berasal dari zat. Sebenarnya, kesadaran itu selalu ada, namun ketika ia tertutupi atau direndahkan oleh kebodohan, maka ia adalah sebuah bentuk keadaan tak berkesadaran.

Jadi “material” berarti kealpaan terhadap Krishna, dan “spiritual” berarti kesadaran penuh terhadap Krishna. Apakah ini jelas? Cobalah untuk mengerti: kegelapan berasal dari cahaya. Ketika cahaya tidak terlihat, maka kita berada dalam kegelapan. Awan tidak dapat ditemukan di matahari; hal itu berlawanan dengan sifat dasar matahari. Namun berkat energi dari matahari itulah benda-benda lainnya tercipta untuk sementara waktu seperti kabut, awan atau gelap. Ciptaan-ciptaan ini bersifat sementara, tetapi matahari tetap ada. Demikian pula, alam material yang nyata ini bersifat sementara, namun alam spiritual bersifat kekal. Kesadaran Krishna berarti keluar dari alam yang sementara ini dan mencapai alam spiritual yang kekal. Tidak seorang pun benar-benar menginginkan alam yang sementara ini; tidak seorang pun menyukai atmosfer yang berawan ini.

DR. SINGH: Apakah kesadaran yang berawan diciptakan dari energi spiritual?

SRILA PRABHUPADA: Ya.

DR. SINGH: Dan zat juga diciptakan dari energi superior?

SRILA PRABHUPADA: Aham sarvasya prabhavo mattah sarvam pravartate. Krishna bersabda, “Aku adalah sumber seluruh dunia spiritual dan dunia material. Segalanya berasal dariKu.” [Bg. 8.10]  Krishna adalah pencipta segalanya, yang baik dan yang buruk. Sesungguhnya, “baik dan buruk” adalah ciptaan material. Ciptaan Krishna itu baik; Tuhan itu baik. Apa yang Anda pikir buruk adalah baik bagi Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengerti Krishna. Krishna sedang menciptakan sesuatu yang dalam pemikiran kita mungkin buruk, namun bagi Krishna tidak ada hal semacam itu yang baik atau buruk. Sebagai contoh, Krishna menikahi enam belas ribu istri. Beberapa orang mungkin mencela, “Ah, Krishna sangat gila perempuan.” Akan tetapi, mereka tidak melihat gambaran secara keseluruhan. Energi Krishna sangat besar sehingga Krishna memperbanyak diriNya menjadi enam belas ribu suami yang berlainan.

 

“Segalanya Satu” Adalah Omong Kosong

 

DR. SINGH: Anda mengatakan bahwa kabut alam material ini bersifat sementara. Namun mengapa kita mesti repot-repot membebaskan diri kita dari sesuatu yang tidak kekal?

SRILA PRABHUPADA: Mengapa Anda menutupi badan Anda dengan pakaian? Anda bisa saja berjalan telanjang. Cuaca hari ini masih akan cerah dalam beberapa jam lagi. Mengapa Anda melindungi diri Anda?

DR. SINGH: Bahayanya bisa terjadi sekarang.

SRILA PRABHUPADA: Kapan pun bisa ada bahaya, mengapa Anda mengambil langkah ini dengan menutupi badan Anda?

DR. SINGH: Untuk menghindari ketidaknyamanan.

SRILA PRABHUPADA: Ya. Jika tidak melakukan demikian, maka Anda akan merasa tidak nyaman. Tidak bersusah-payah untuk berpakaian adalah teori Mayavada: “Segalanya akan datang dengan sendirinya, jadi mengapa bersusah-payah? Segalanya satu.” Itu teori yang tidak masuk akal. Filsafat Mayavada menyatakan bahwa Tuhan itu satu dan bahwa segala sesuatu dan setiap makhluk hidup sama dengan Tuhan.

Kita tidak berselisih pendapat dengan para ahli kimia tersebut jika mereka memulai dari kehidupan, tapi sayangnya, mereka mengatakan bahwa segalanya mulai dari kegelapan—zat mati. Itulah yang kita tolak. Kita mengatakan, “Mulai dari kehidupan,” dan mereka mengatakan, “Bukan, mulai dari zat—kegelapan.” Alasan mereka mengenai kegelapan tersebut begitu sederhana: Jika seseorang pergi dari kegelapan menuju tempat terang, maka dia berpikir bahwa kegelapan itu adalah permulaannya. Misalnya Anda berada dalam kegelapan sepanjang hidup Anda, dan sekarang tiba-tiba Anda masuk ke tempat yang terang. Anda akan berpikir, “Wah cahaya telah datang dari kegelapan.” Sesungguhnya, kegelapan terjadi ketika cahaya menjadi redup. Kegelapan tidak menghasilkan cahaya.

DR. SINGH: Maka kegelapan tergantung pada cahaya?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Atau dengan kata lain, dalam cahaya tidak ada kegelapan. Apabila cahaya menjadi buram, kita mengalami kegelapan. Sama halnya, ketika kesadaran spiritual kita, atau kesadaran Krishna kita memudar, maka kesadaran kita akan bersifat duniawi.

Di pagi hari kita bangun, dan di penghujung hari kita menjadi lelah lalu tidur. Ketika hidup mulai terganggu akibat sesuatu dan lain hal, kita tidur. Kita tidur di waktu malam, dan ketika kita bangun di pagi hari kita mengerti bahwa kesadaran kita, atau “kehidupan” kita, telah muncul kembali dari keadaan tertidur sebelumnya. Saya hidup bahkan saat saya tidur, dan saat terbangun saya masih hidup. Hal ini haruslah dimengerti dengan jelas. Seorang bayi lahir dari rahim ibunya. Dia berpikir bahwa hidupnya mulai dari hari sejak dia keluar dari rahim ibunya. Namun hal itu bukanlah kebenaran. Sebenarnya, dia kekal. Ia membangun badan lahiriahnya di dalam rahim ibunya sementara dia dalam keadaan tidak sadar, dan segera setelah bagian-bagian jasmaniahnya telah berkembang secukupnya, dia keluar dari rahim itu dan menjadi sadar.

DR. SINGH: Dan dia tertidur lagi saat kematian.

SRILA PRABHUPADA: Ya. Hal itu dijelaskan dalam Bhagavad Gita [8.19]:

bhuta-gramaù sa eväyaà

    bhütvä bhütvä praléyate

rätry-ägame ‘vaçaù pärtha

    prabhavaty ahar-ägame

“Berulangkali siang hari datang, dan entitas-entitas hidup ini menjadi aktif, dan saat malam datang lagi, Wahai Partha, mereka dilebur tanpa berdaya.”

 

Kita Bukanlah Badan-Badan Ini

 

SRILA PRABHUPADA: Apakah Anda melihat bunga ini? Ia telah kembali ke kesadarannya (mekar), dan akan segera layu, mengering, lalu mati. Inilah kehidupan material. Namun kehidupan spiritual berarti seterusnya hanya mekar—tak pernah layu. Itulah perbedaan antara zat dan roh. Saya telah mencapai badan ini sesuai dengan kesadaran saya dalam kehidupan terdahulu. Dan saya akan menerima badan selanjutnya sesuai dengan kesadaran saya dalam kehidupan saat ini. Ini juga ditegaskan di dalam Bhagavad Gita [8.6]:

yaà yaà väpi smaran bhävaà

    tyajaty ante kalevaram

taà tam evaiti kaunteya

    sadä tad-bhäva-bhävitaù

 

“Apa pun keadaan yang diingat seseorang ketika dia meninggalkan badannya, maka keadaan itulah yang pasti akan dicapainya.”

DR. SINGH: Srila Prabhupada, jika badan kita yang selanjutnya selalu dicapai dengan kesadaran kita dalam kehidupan sekarang ini, mengapa saya tidak dapat mengingat kehidupan saya sebelumnya?

SRILA PRABHUPADA: Apakah Anda ingat segala yang Anda lakukan tahun lalu, atau bahkan segala yang Anda lakukan kemarin?

DR. SINGH: Tidak, saya tidak ingat.

SRILA PRABHUPADA: Itulah sifat dasar Anda: Anda pelupa.

DR. SINGH: Beberapa hal.

SRILA PRABHUPADA: Dan seseorang lupa melebihi yang lainnya. Namun kita semua pelupa.

DR. SINGH: Apakah itu satu prinsip alam material?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Ini sesuatu seperti mencuri. Ada seorang pencopet dan ada seorang perampok bank, tapi keduanya sedang melakukan pencurian.

DR. SINGH: Ketika kita bermimpi, apakah kita sedang dipengaruhi oleh unsur-unsur halus?

SRILA PRABHUPADA: Anda sedang dipengaruhi oleh alam. Krishna bersabda dalam Bhagavad Gita [3.27]:

prakåteù kriyamäëäni

    guëaiù karmäëi sarvaçaù

ahaìkära-vimüòhätmä

    kartäham iti manyate

“Roh yang bingung, yang berada di bawah pengaruh tiga sifat alam material, menganggap dirinya pelaku perbuatan-perbuatan yang dalam kenyataannya dilakukan oleh alam.” Kita lupa identitas sejati kita sebab kita berada dalam cengkeraman alam material”.

Pelajaran pertama dalam kehidupan spiritual adalah bahwa kita bukanlah badan-badan ini, melainkan roh yang kekal. Suatu ketika Anda hanyalah seorang anak kecil. Sekarang Anda seorang pria dewasa. Dimanakah badan kanak-kanak Anda? Badan kanak-kanak tersebut tidak ada lagi, namun Anda tetap ada sebab Anda kekal. Badan yang tidak langgeng itu telah berubah, namun Anda tidak berubah. Ini bukti kekekalan. Anda ingat melakukan hal-hal tertentu kemarin dan hari ini, namun Anda lupa hal-hal yang lainnya. Badan Anda yang kemarin bukanlah badan Anda hari ini. Apakah Anda mengakui hal ini atau tidak? Anda tidak dapat mengatakan bahwa hari ini adalah tanggal tiga belas Mei, 1973. Anda tidak bisa mengatakan bahwa hari ini hari kemarin. Tanggal tiga belas adalah kemarin. Hari telah berubah. Namun Anda ingat hari kemarin; dan ingatan itu merupakan bukti dari kekekalan Anda. Badan telah berubah, namun Anda mengingatnya; oleh karena itu, Anda kekal, walaupun badan bersifat sementara. Bukti ini begitu sederhananya. Bahkan seorang anak kecil pun dapat mengerti hal itu. Apakah hal itu sulit dimengerti?

 

Mengganti Badan-Badan

 

DR. SINGH: Orang-orang menginginkan bukti lebih banyak.

SRILA PRABHUPADA: Bukti apa lagi yang diperlukan? Kekekalan sang roh adalah sebuah fakta sederhana. Saya adalah roh yang kekal. Badan saya sedang berubah, namun saya tidak sedang berubah. Sebagai contoh, sekarang saya ini seorang lelaki tua. Kadang-kadang saya berpikir, “Oh, saya dulu biasa berlompatan dan bermain, namun sekarang saya tidak dapat melompat karena badan saya telah berubah.” Saya ingin melompat, tapi saya tak dapat melakukannya. Kecenderungan melompat itu kekal, namun karena badan saya yang tua, saya tidak sanggup melakukannya.

DR. SINGH: Lawan-lawan kita akan mengatakan bahwa menurut pengamatan mereka, sifat dasar kesadaran itu bahwa kesadaran bertahan hanya untuk satu badan saja.

SRILA PRABHUPADA: Itu kebodohan. Di dalam Bhagavad Gita [2.13] Krishna menerangkan:

dehino ‘smin yathä dehe

    kaumäraà yauvanaà jarä

tathä dehäntara-präptir

    dhéras tatra na muhyati

 

“Seperti sang roh yang terkurung di dalam badan terus berpindah, di dalam badan ini, dari masa remaja ke masa muda hingga ke usia tua, demikian pula halnya sang roh masuk ke dalam badan yang lain pada saat kematian. Insan yang insaf akan jati dirinya tidak dibingungkan oleh perubahan seperti itu.” Seperti halnya badan ini selalu dalam keadaan sedang berubah (seperti yang bisa saya lihat dalam pengalaman sehari-hari), ada satu perubahan yang serupa pada saat kematian.

DR. SINGH: Tetapi, menurut para ilmuwan, kita sebenarnya tidak dapat mengamati perubahan yang terakhir ini.

SRILA PRABHUPADA: Mata mereka jauh dari sempurna sehingga mereka tidak dapat mengamati banyak hal. Kebodohan mereka tidak membuat Bhagavad Gita menjadi tidak ilmiah. Mengapa mereka tidak mengakui ketidaksempurnaan indera-indera mereka? Pertama-tama mereka harus mengakui ketidaksempurnaan indera-indera mereka. Daya penglihatan mereka tidaklah menentukan apa yang merupakan sains dan apa yang bukan. Anjing tidak dapat mengerti hukum-hukum alam. Apakah itu berarti hukum-hukum alam itu tidak ada?

DR. SINGH: Ya, para ilmuwan mengakui argumen tersebut, tetapi mereka mengatakan bahwa cara untuk menjadi sempurna adalah melalui informasi dan pengalaman yang objektif.

SRILA PRABHUPADA: Tidak. Itu bukan cara untuk menjadi sempurna. Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi sempurna melalui pemikiran yang tidak sempurna, dan pemikiran kita pasti tidak sempurna karena indera dan akal pikiran kita tidak sempurna.

DR. SINGH: Srila Prabhupada, ada satu pertanyaan lain yang bisa diangkat. Apakah tidak mungkin bahwa roh tersebut menerima tiga, empat atau lima badan dan kemudian mati?

SRILA PRABHUPADA: Anda sedang menerima berjuta-juta badan. Saya mengatakan bahwa badan Anda kemarin bukanlah badan Anda hari ini. Jadi, jika Anda hidup selama seratus tahun, berapa kali Anda telah berganti badan? Hitung saja.

DR. SINGH: Tiga belas kali.

SRILA PRABHUPADA: Mengapa tiga belas kali?

DR. SINGH: Ilmu kedokteran mengatakan bahwa seluruh sel yang ada di dalam badan diganti setiap tujuh tahun.

SRILA PRABHUPADA: Tidak, bukan setiap tujuh tahun—setiap detik. Setiap detik, sel-sel darah (yang hidup) mengalami pergantian. Bukankah demikian?

DR. SINGH: Ya.

SRILA PRABHUPADA: Dan segera setelah sel-sel darah itu berganti, maka Anda mengganti badan.

DR. SINGH: Dalam terminologi ilmiah, dapatkah kekekalan roh itu dibandingkan dengan kekekalan energi?

SRILA PRABHUPADA: Tidak ada soal kekekalan energi, karena energi senantiasa ada.

DR. SINGH: Namun menurut terminologi ilmiah, hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan tidak pula dapat dimusnahkan, yang menurut saya, itu berarti bahwa energi itu kekal.

SRILA PRABHUPADA: Oh, ya, yang itu kita terima. Krishna kekal; oleh karena itu, semua energiNya juga kekal.

DR. SINGH: Karena itukah mengapa entitas hidup juga kekal?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Jika matahari kekal, maka energi-energinya—panas dan cahaya—juga kekal.

DR. SINGH: Apakah menurut pemahaman ini kemudian kehidupan tersebut tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Kehidupan itu kekal. Ia tidak diciptakan tidak pula dimusnahkan. Ia hanya tertutupi untuk sementara waktu saja. Saya kekal, namun tadi malam saya ditutupi oleh keadaan tidur, sehingga saya berpikir dalam istilah-istilah kemarin dan hari ini. Inilah keadaan di dunia material.

 

Segalanya Spiritual

 

DR. SINGH: Apakah kesadaran material itu adalah ketiadaan kesadaran Krishna?

SRILA PRABHUPADA: Ya.

DR. SINGH: Dan ketika ada kesadaran Krishna, dimanakah alam material ini?

SRILA PRABHUPADA:  Jika Anda terus berada dalam kesadaran Krishna, maka Anda akan melihat bahwa tidak ada sesuatu yang bersifat material. Apabila Anda mempersembahkan sekuntum bunga kepada Krishna, maka hal itu bukanlah bersifat material. Krishna tidak akan menerima apa pun yang bersifat material. Dan ini bukan berarti bahwa bunga tersebut bersifat material saat berada di semak-semak, lantas menjadi spiritual ketika Anda mempersembahkannya kepada Krishna. Tidak. Bunga tersebut “material” hanya selama Anda berpikir bahwa bunga tersebut diciptakan semata-mata untuk kesenangan Anda saja. Tapi begitu Anda melihat bahwa bunga tersebut adalah untuk kesenangan Krishna, maka Anda melihatnya sebagai bunga yang sejati—spiritual.

DR. SINGH: Dengan demikian maka seluruh dunia ini sebenarnya adalah spiritual?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Oleh karena itu, kita ingin menyertakan segalanya dalam pelayanan kepada Krishna; itulah Dunia Spiritual.

DR. SINGH: Dapatkah kita juga menilai ciptaan Krishna dalam sudut pandang tersebut? Sebagai contoh, dapatkah kita berpikir, “Pohon ini sangat indah karena ia adalah milik Krishna”?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Itulah kesadaran Krishna.

DR. SINGH: Jika seseorang memandang Arca Krishna di kuil dan berpikir bahwa Krishna hanyalah batu atau kayu semata, apa artinya itu?

SRILA PRABHUPADA: Orang itu tidak tahu kebenaran. Bagaimana mungkin Arca itu bersifat material? Batu adalah energi Krishna juga. Seperti halnya energi listrik ada di mana-mana tetapi hanya ahli listriklah yang tahu bagaimana memanfaatkannya, jadi Krishna ada di mana-mana—bahkan di dalam batu sekalipun—namun hanya para penyembahNya saja yang tahu bagaimana memanfaatkan batu untuk menghargai Krishna. Para penyembah tahu bahwa batu tidak mungkin ada di luar Krishna. Oleh karena itu, apabila penyembah melihat Arca, mereka berkata, “Inilah Krishna.” Mereka melihat keEsaan atau kesatuan Krishna dan energiNya.

 

Sama dan Berbeda Pada Saat yang Bersamaan

 

DR. SINGH: Apakah benar bahwa orang-orang yang sadar akan Krishna merasakan keberadaan Krishna dalam sebuah batu polos seperti juga Krishna dalam Arca yang diukir dari batu?

SRILA PRABHUPADA: Ya.

DR. SINGH: Sama bagusnya?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Mengapa tidak? Di dalam Bhagavad Gita [9.4] Krishna bersabda:

mayä tatam idaà sarvaà

    jagad avyakta-mürtinä

mat-sthäni sarva-bhütäni

    na cähaà teñv avasthitaù

Ini berarti bahwa energi Krishna—yaitu Krishna dalam wujud yang termanifestasi sebagian—menyebar pada setiap atom di alam semesta ini. Namun wujud pribadi yang termanifestasi secara penuh ada dalam Arca yang dibentuk sesuai dengan petunjuk-petunjukNya. Inilah filsafat acintya-bhedabheda-tattva, Tuhan berbeda dan sama dengan energi-energiNya secara bersamaan. Sebagai contoh, ketika ada sinar matahari di ruangan Anda, tidak berarti bahwa matahari itu sendiri ada di dalam ruangan Anda. Matahari dan energi-energinya yang terpisah, seperti panas dan cahaya, adalah satu dalam sifat atau satu kualitas, namun berbeda dalam kuantitas.

DR. SINGH: Namun tetap, Anda masih mengatakan bahwa seseorang dapat melihat Krishna dalam batu biasa?

SRILA PRABHUPADA: Ya, mengapa tidak? Kita melihat batu sebagai energi Krishna.

DR. SINGH: Namun dapatkah kita memuja Krishna di dalam batu tersebut?

SRILA PRABHUPADA: Kita dapat memuja Krishna melalui energiNya dalam batu tersebut. Namun kita tidak dapat memuja batu sebagai Krishna. Kita tidak dapat memuja bangku ini sebagai Krishna. Namun kita dapat memuja segalanya karena kita melihat segalanya sebagai energi Krishna. Pohon ini bisa dipuja karena baik Krishna dan energiNya keduanya patut dipuja, tapi ini bukan berarti bahwa kita memuja pohon itu dalam cara yang sama kita memuja Arca Krishna di kuil.

Pada masa kanak-kanak, orang tua saya menasihati saya agar jangan pernah menyia-nyiakan energi Krishna. Mereka mengajari saya jikalaupun ada sebutir kecil beras terselip di sela-sela papan lantai, maka hendaknya saya memungut beras tersebut, menyentuhkannya ke dahi lalu memakannya agar ia tidak terbuang sia-sia. Saya dididik bagaimana melihat segalanya memiliki hubungan dengan Krishna. Itu adalah kesadaran Krishna. Oleh karena itu, kami tidak suka melihat apa pun terbuang percuma atau disalahgunakan. Kami mendidik murid-murid bagaimana menggunakan segalanya untuk Krishna dan bagaimana caranya mengerti bahwa segalanya adalah Krishna. Seperti yang disabdakan oleh Krishna dalam Bhagavad Gita [6.30]:

yo mäà paçyati sarvatra

    sarvaà ca mayi paçyati

tasyähaà na praëaçyämi

    sa ca me na praëaçyati

“Bagi orang yang melihat Aku di mana-mana dan melihat segalanya dalam diriKu, maka Aku tidak pernah hilang, atau pun dia tidak pernah hilang bagiKu.”

Dikutip dari: Life come from life

%d bloggers like this: