[anti-both]

Asal-Usul Gas-Gas Antar Planet

 

DR. SINGH: Para ilmuwan mengatakan bahwa pada suatu titik waktu, bumi ini terdiri atas partikel-partikel debu yang melayang dalam suatu materi seperti gas. Lalu, seiring berjalannya waktu, suspensi koloid ini berkondensasi dan membentuk bumi.

SRILA PRABHUPADA: Itu mungkin, tapi dari manakah gas itu berasal?

DR. SINGH: Mereka mengatakan gas itu telah ada!

SRILA PRABHUPADA: Krishna bersabda di dalam Bhagavad-gita[7.4]:

bhümir äpo ‘nalo väyuù

khaà mano buddhir eva ca

ahaìkära itéyaà me

bhinnä prakåtir añöadhä

 

“Tanah, air, api, udara, eter, akal pikiran, kecerdasan dan ego palsu—kedelapan unsur ini semua merupakan energi-energi material-Ku yang terpisah.” Di sini Krishna menerangkan bahwa vāyu (gas) berasal dari-Nya. Dan yang lebih halus daripada vāyu adalah kham (eter), yang lebih halus daripada eter adalah akal pikiran, yang lebih halus daripada akal pikiran adalah kecerdasan, yang lebih halus daripada kecerdasan adalah ego palsu, dan yang lebih halus daripada ego palsu adalah sang roh. Namun para ilmuwan tidak menge-tahui hal ini. Mereka hanya mengetahui unsur-unsur kasar saja. Mereka menyebut-nyebut gas, namun darimana gas itu berasal?

DR. SINGH: Soal yang itu tidak dapat mereka jawab.

SRILA PRABHUPADA: Namun kita dapat menjawabnya. Dari Bhagavata Purana kita mengetahui bahwa gas berasal dari kham, atau eter, eter berasal dari akal pikiran, akal pikiran berasal dari kecerdasan, kecerdasan berasal dari ego palsu, dan ego palsu berasal dari sang roh.

DR. SINGH:Para ilmuwan berargumentasi bahwa sebelum evolusi biofisika Darwin dapat terjadi, harus ada apa yang mereka sebut sebagai ilmu kimia prebiotik, atau evolusi kimiawi.

SRILA PRABHUPADA: Ya. Dan istilah “evolusi kimiawi” berarti bahwa zat-zat kimia mempunyai satu asal, dan asal itu adalah roh, atau kehidupan. Jeruk lemon menghasilkan asam sitrat, dan tubuh kita menghasilkan banyak zat kimia dalam air kencing, darah, dan sekresi-sekresi tubuh. Inilah bukti bahwa kehidupan menghasilkan zat-zat kimia, bukanlah zat-zat kimia menghasilkan kehidupan.

DR. SINGH: Para ilmuwan mengatakan bahwa sekali benih kehidupan ada di dalam sel-sel, sang entitas hidup berkembang dan berfungsi dengan sendirinya.

SRILA PRABHUPADA: Ya, namun siapakah yang memberi benih tersebut? Di dalam Bhagavad-gita[7.10] Krishna memberi jawaban untuk pertanyaan ini. Bījah mām sarva-bhūtānah viddhi pārtha sanātanam: “Wahai putra Prthā, ketahuilah bahwa Aku adalah benih awal dari semua kehidupan.” Dan kemudian pada bab empat belas [14.4]:

 

sarva-yoniñu kaunteya

mürtayaù sambhavanti yäù

täsäà brahma mahad yonir

ahaà béja-pradaù pitä

“Hendaklah dimengerti bahwa semua jenis kehidupan, wahai putra Kuntī, dimungkinkan oleh kelahiran di alam material ini, dan Aku-lah ayah yang memberi benih.”

 

Memberikan Penghargaan Kepada Sang Pencipta Yang Utama

DR. WOLF-ROTTKAY: Namun dengan segala kerendahan hati, Srila Prabhupada, andaikata para ilmuwan itu benar-benar berhasil menciptakan sebuah sel hidup tiruan, apa yang akan Anda katakan?

SRILA PRABHUPADA: Apa nilai lebih yang ada pada mereka? Mereka hanya meniru apa yang sudah ada di alam. Orang sangat menyukai peniruan-peniruan. Jika seorang pria di klab malam meniru seekor anjing, orang-orang pergi ke sana dan membayar untuk melihatnya. Namun ketika mereka melihat anjing yang sebenarnya menggonggong, mereka tidak akan menaruh perhatian sedikit pun.

DR. SINGH: Srila Prabhupada, pendapat tentang evolusi kimiawi berasal dari seorang ahli biologi Rusia pada tahun 1920. Dia mengemukakan bahwa sebelum evolusi kimiawi, atmosfer bumi dalam keadaan reduksi. Dengan kata lain, atmosfer bumi saat itu sebagian besar dipenuhi hidrogen, dengan sangat sedikit oksigen. Lalu pada waktunya, radiasi matahari menyebabkan molekul-molekul hidrogen ini membentuk berbagai zat kimia.

SRILA PRABHUPADA: Ini satu studi sepihak. Pertama-tama, dari manakah hidrogen itu berasal? Para ilmuwan hanya menyelidiki bagian pertengahan dari proses tersebut; mereka ti-dak menyelidiki asal-usulnya. Kita harus tahu permulaannya. Ada sebuah pesawat terbang. [Menunjuk pada sebuah pesawat terbang yang sedang muncul di kaki langit.] Akankah Anda mengatakan bahwa asal-usul pesawat terbang itu adalah dari laut? Orang dungu mungkin mengatakan bahwa tiba-tiba ada sebuah cahaya muncul di laut, dan demikianlah bagaimana pesawat terbang tercipta. Namun apakah itu sebuah penjelasan yang ilmiah? Penjelasan-penjelasan para ilmuwan  serupa dengan ucapan orang dungu itu. Mereka berkata, “Ini telah ada, dan kemudian tiba-tiba, secara kebetulan, hal itu terjadi.” Ini bukanlah sains. Sains berarti menjelaskan penyebab awal.

Mungkin para ilmuwan dapat menciptakan tiruan-tiruan alam, tetapi mengapa kita mesti memberi penghargaan kepada mereka? Kita harus memberikan penghargaan kepada sang pencipta yang asli, yaitu Tuhan; itulah filosofi kita.

DR. SINGH: Ketika seorang ilmuwan menemukan suatu hukum alam, biasanya dia akan menamai dengan namanya sendiri.

SRILA PRABHUPADA: Ya, tepat sekali. Hukum itu telah ada di alam, tetapi orang-orang yang kurang ajar itu ingin mend-patkan penghargaan untuk itu.

Gerontologia: Memperpanjang Penderitaan

 

DR. SINGH: Mereka sebenarnya sedang berjuang melawan hukum-hukum alam, namun kerap kali mereka merasakan kesenangan dari perjuangan tersebut.

SRILA PRABHUPADA: Kesenangan yang kekanak-kanakan. Andaikan seorang anak membangun sebuah kastil pasir di pantai dengan susah payah. Ia mungkin menikmati kesenangan dalam hal itu, namun itu hanyalah kesenangan yang kekanak-kanakan. Itu bukan kenikmatan orang dewasa. Orang-orang materialistik telah menciptakan satu standar kebahagiaan semu. Mereka telah membuat sebuah rancangan yang sangat bagus bagi sebuah peradaban yang menyenangkan, tapi itu semua palsu karena mereka tidak dapat menciptakan suatu kondisi dimana mereka akan dapat menikmatinya. Kapan pun, siapa pun dapat didepak keluar oleh kematian, dan semua kesenangannya akan berakhir.

DR. SINGH: Itulah mengapa mereka mengatakan bahwa Tuhan belum memberikan segalanya kepada kita—karena kita tidak bisa hidup selamanya di sini.

SRILA PRABHUPADA: Namun Tuhan telah memberi mereka segala yang diperlukan untuk hidup secara damai, dan segala yang diperlukan untuk mengerti Dia. Jadi mengapa mereka tidak bertanya tentang Tuhan? Sebaliknya, mereka melakukan hal-hal yang mendorong mereka untuk melupakan Tuhan.

DR. SINGH: Sekarang ini para ilmuwan telah membangun satu departemen yang utuh dalam sains yang disebut gerontologia, yang di dalamnya mereka mempelajari bagaimana cara memperpanjang usia hidup.

SRILA PRABHUPADA: Tujuan mereka yang sebenarnya mestinya menghentikan penderitaan. Jika seorang pria lanjut usia yang sedang sakit parah, menderita berbagai penyakit, lalu tiba-tiba para dokter menambah masa hidupnya. Apa man-faatnya?

DR. SINGH: Itulah apa yang mereka lakukan dengan transplantasi jantung.

SRILA PRABHUPADA: Itu omong kosong! Ajak mereka untuk menghentikan kematian; itu baru akan menjadi sebuah keberhasilan. Ajak mereka menyembuhkan segala penyakit; wah itu baru akan menjadi sebuah prestasi. Mereka tidak sanggup melakukan kedua hal itu! Karena itu, saya katakan bahwa semua riset mereka hanyalah sebuah perjuangan untuk ber-tahan hidup. Krishna bersabda dalam Bhagavad-gita [15.7]:

mamaiväàço jéva-loke

jéva-bhütaù sanätanaù

manaù-ñañöhänéndriyäëi

prakåti-sthäni karñati

“Entitas-entitas hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian kecil yang kekal milik-Ku. Disebabkan oleh kehidupan yang terikat, mereka sedang berjuang keras dengan enam indera, termasuk akal pikiran.”

MAHASISWA: Sekarang terjadi kekurangan minyak.

SRILA PRABHUPADA: Ya, kita telah membangun sebuah peradaban yang bergantung pada minyak. Ini melanggar hukum alam, dan karena itu sekarang terjadi kelangkaan minyak. Atas pengaturan hukum alam, musim dingin datang. Para il-muwan tidak dapat menghentikan musim dingin ini dan mengubahnya menjadi musim panas. Mereka keliru berpikir bahwa mereka mengendalikan alam. Di dalam Bhagavad-gita Krishna memberitahukan kepada kita bahwa manusia meng-anggap dirinya pelaku kegiatan-kegiatan yang pada kenya-taannya dilaksanakan oleh alam. Matahari sekarang ini sedang terbit. Dapatkah mereka membuat hari menjadi gelap? Dan ketika hari gelap dapatkah mereka memerintahkan matahari, “Bangunlah!” Mereka tidak menyadari bahwa jika mereka sungguh-sungguh ingin menaklukkan alam, mereka harus ber-usaha menaklukkan kelahiran, kematian, usia tua dan penya-kit. Di dalam Bhagavad-gita [7.14] Krishna bersabda:

daivé hy eñä guëa-mayé

mama mäyä duratyayä

mäm eva ye prapadyante

mäyäm etäà taranti te

 

“Energi rohani-Ku ini, yang terdiri dari tiga sifat alam material, sulit untuk diatasi. Namun orang-orang yang telah berserah diri kepada-Ku dapat menyeberanginya.”

DR. SINGH: Jadi, apakah sangat sulit untuk mengatasi hukum-hukum alam?

SRILA PRABHUPADA: Bagi orang-orang materialistik, hal itu tidaklah mungkin. Namun jika seseorang berserah diri kepada Krishna, maka hal itu akan menjadi mudah.

 

Asal-mula yang Sebenarnya dari Spesies

 

DR. SINGH: Untuk menerangkan mengapa ada begitu banyak keanekaragaman hayati, para ilmuwan mengatakan bahwa pada saat tertentu selama evolusi, gen-gen sel, yang biasanya bereproduksi sendiri secara sempurna untuk menghasilkan generasi berikutnya, kadang-kadang membuat satu kesalahan dalam memperbanyak diri—seperti halnya mesin cetak juga kadang-kadang membuat kesalahan. Dalam beberapa kondisi, kesalahan-kesalahan ini, atau mutasi-mutasi ini terjadi dan jenis-jenis makhluk hidup yang berbeda telah terbentuk yang dilatari oleh adanya perbedaan dalam gen-gen tersebut.

SRILA PRABHUPADA: Namun “kesalahan” tersebut terus saja berlanjut sejak dahulu kala, karena Anda akan menemukan bahwa semua keanekaragaman hayati selalu ada. Oleh karena itu, “kesalahan” tersebut menjadi kekal. Namun apabila satu “kesalahan” bersifat permanen, maka itu bukanlah sebuah kesalahan; hal itu adalah kecerdasan!

DR. SINGH: Namun para ilmuwan mengatakan bahwa jika mu-tasi-mutasi itu tidak terjadi, maka yang ada hanyalah satu macam makhluk hidup di seluruh alam semesta ini.

SRILA PRABHUPADA: Tidak. Setiap entitas hidup memiliki pikiran yang berbeda, dan oleh karena itu ada banyak jenis kehidupan untuk menampung mentalitas-mentalitas yang berlainan itu. Sebagai contoh, kita sedang berjalan di sini, te-tapi orang-orang tidak datang bergabung dengan kita, karena mereka memiliki mentalitas yang berbeda dengan yang kita miliki. Mengapa terjadi perbedaan seperti ini?

DR. SINGH: Mungkin itu sebuah kesalahan.

SRILA PRABHUPADA: Itu bukanlah sebuah kesalahan. Itu ada-lah keinginan mereka, dan pada saat kematian setiap orang akan mendapatkan badan yang sama persis dengan kei-nginannya. Krishna bersabda di dalam Bhagavad-gītā [8.6]:

yaà yaà väpi smaran bhävaà

tyajaty ante kalevaram

taà tam evaiti kaunteya

sadä tad-bhäva-bhävitaù

 

“Keadaan apa pun yang diingat seseorang ketika dia mening-galkan badannya, maka keadaan itulah yang pasti akan dica-painya.” Apa yang sedang Anda pikirkan pada saat kematian benar-benar menentukan badan Anda selanjutnya. Alam akan memberi Anda  badan tersebut; keputusan itu bukan di tangan Anda, melainkan ada pada alam, dan alam bekerja di bawah arahan Tuhan.

DR. SINGH: Namun nampaknya para ilmuwan memiliki bukti bahwa jenis-jenis kehidupan itu benar-benar muncul karena kesalahan-kesalahan.

SRILA PRABHUPADA: Itulah kesalahan mereka! Dalam hukum-hukum alam tidak ada kesalahan. Dalam kereta api ada ba-gian-bagian kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Jika Anda membeli tiket kelas tiga tetapi karena salah Anda masuk ke bagian kelas satu, maka Anda tidak akan diperkenankan untuk berada di sana. Adanya bagian-bagian itu bukanlah sebuah kesalahan; itu adalah penataan. Tapi kalau Anda masuk ke bagian yang salah, maka itu adalah kesalahan Anda. Jadi, Tuhan begitu teliti sehingga Tuhan mengetahui semua kesa-lahan yang akan dibuat. Oleh karena itu, Anda akan masuk badan tertentu sesuai dengan kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan: “Kemarilah. Badan telah siap.” Ada 8.400.000 jenis kehidupan, dan alam bekerja memberikan badan-badan yang berlainan, dengan ketepatan yang persis sekali. Ketika peme-rintah membangun sebuah kota, pemerintah membangun sebuah penjara bahkan sebelum kota tersebut selesai, karena mengetahui bahwa akan ada banyak penjahat yang akan ma-suk penjara. Ini bukanlah kesalahan pemerintah; ini kesa-lahan para penjahat itu. Karena mereka menjadi penjahat, maka mereka  harus masuk ke sana. Hal ini adalah kesalahan mereka.

Di alam tidak ada kesalahan-kesalahan. Krishna bersabda:

mayädhyakñeëa prakåtiù

süyate sacaräcaram

hetunänena kaunteya

jagad viparivartate

“Alam material ini sedang bekerja di bawah arahan-Ku, Wahai putra Kunti, dan sedang menghasilkan semua makhluk yang bergerak dan tidak bergerak.” [Bg. 9.10] Alam bekerja di bawah pengawasan Tuhan, Krishna, sehingga bagaimana mungkin alam bisa melakukan kesalahan-kesalahan? Namun kita mela-kukan kesalahan-kesalahan, kita disesatkan, indera-indera kita tidak sempurna, dan kita curang. Itulah perbedaan antara Tuhan dan manusia. Indera-indera yang tidak sempurna tidak ada pada Tuhan; indera-indera Tuhan sempurna.

Binatang-Binatang yang Puas

 

DR. WOLF-ROTTKAY: Karena indera-indera kita tidak sem-purna, maka perluasan teknologi indera-indera kita pastilah tidak sempurna juga.

DR. SINGH: Mikroskop-mikroskop yang kita gunakan untuk menemukan sesuatu pasti juga tidak sempurna.

SRILA PRABHUPADA: Kehidupan materialistik berarti kehi-dupan yang tidak sempurna. Jika Anda membangun sesuatu dengan pengetahuan yang kurang baik dan indera-indera yang tidak sempurna, maka apa pun yang Anda bangun pasti tidak sempurna.

DR. SINGH: Bahkan jikalaupun para ilmuwan menemukan se-buah mokroskop yang sempurna, mereka haruslah melihat melalui mikroskop itu dengan mata yang tidak sempurna.

SRILA PRABHUPADA: Ya. Itu benar. Oleh karena itu kita me-nyimpulkan bahwa apa pun yang barangkali dikatakan oleh para ilmuwan itu tidak sempurna.

DR. SINGH: Namun kelihatannya mereka sangat puas.

SRILA PRABHUPADA: Keledai juga merasa puas. Keledai puas membawa muatan milik tukang binatu. Semua merasa puas, bahkan cacing yang ada di dalam kotoran. Demikianlah hu-kum alam.

DR. WOLF-ROTTKAY: Dikatakan bahwa pengemis pun bangga dengan uang receh penny-nya. (100 penny =  US $ 1,00.)

SRILA PRABHUPADA: Ya. Di beberapa wilayah di India orang kadang-kadang melihat seekor anjing yang sangat kelaparan. Namun begitu anjing itu bertemu anjing betina, ia merasa puas dengan berhubungan kelamin. Apakah itu kepuasan? Anjing itu sedang kelaparan, namun ia masih merasa puas dengan hubungan kelamin.

 

 Sumber: Life come from life

%d bloggers like this: