[anti-both]

Mendapatkan Mata untuk Melihat Tuhan

 

MAHASISWA: Selama seratus lima puluh tahun terakhir, salah satu persoalan-persoalan para teolog Barat adalah hubungan antara pertimbangan pikiran sehat dan keyakinan. Mereka telah berusaha untuk memahami keyakinan melalui pertimbangan pikiran sehat, namun mereka tidak mampu menemukan hubungan antara kemampuan-kemampuan pemikiran dan keyakinan. Beberapa di antara mereka memiliki keyakinan (keimanan) kepada Tuhan, tetapi pertimbangan pikiran memberitahu mereka bahwa Tuhan tidak ada. Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa ketika mempersembahkan prasada kepada Tuhan, maka hanyalah keyakinan menganggap bahwa Tuhan menerimanya, karena kita tidak dapat melihat Tuhan.

SRILA PRABHUPADA: Mereka tidak dapat melihat Tuhan, tapi saya dapat melihat. Saya melihat Tuhan, dan oleh karena itu saya mempersembahkan prasada kepada-Nya. Karena mereka tidak dapat melihat Tuhan, maka mereka harus datang kepada saya agar saya dapat membukakan mata mereka. Mereka itu buta—sedang menderita katarak—jadi saya akan mengoperasinya, dan mereka akan melihat. Itulah program kita.

MAHASISWA: Para ilmuwan mengatakan bahwa dasar keobyektifan mereka adalah apa yang dapat mereka rasakan dengan indera-indera mereka.

SRILA PRABHUPADA: Ya, mereka dapat merasakan hal-hal dengan indera-indera mereka, tetapi sangat jauh dari sempurna. Mereka dapat merasakan pasir dengan indera-indera mereka, namun dapatkah mereka mengetahui siapakah yang telah membuat pasir itu? Ini pasir, ini laut; semua dapat dilihat dengan penglihatan langsung. Namun bagaimana orang dapat merasakan asal-usul pasir dan laut tersebut?

MAHASISWA: Para ilmuwan mengatakan bahwa jika pasir dan laut dibuat oleh Tuhan, kami akan bisa melihat Dia, seperti halnya kami dapat melihat pasir dan lautan.

SRILA PRABHUPADA: Ya, mereka dapat melihat Tuhan, tetapi mereka harus mendapatkan mata untuk melihat Dia. Mereka buta. Karena itu pertama-tama mereka harus datang kepada saya untuk mendapatkan perawatan. Sastramengatakan orang harus datang kepada seorang guru agar diberi perawatan sehingga dia dapat mengerti Tuhan. Bagaimana mungkin mereka dapat melihat Tuhan dengan mata yang buta?

MAHASISWA: Akan tetapi, melihat Tuhan adalah suatu hal yang melampaui batas keduniaan. Para ilmuwan hanya mempertimbangkan pandangan material saja.

SRILA PRABHUPADA: Segalanya melampaui keduniaan. Sebagai contoh, Anda mungkin berpikir bahwa di langit yang cerah tidak ada apa-apa—bahwa langit itu kosong—tetapi mata Anda tidaklah sempurna. Di langit ada planet-planet yang tak terhingga jumlahnya yang tidak dapat Anda lihat karena mata Anda memiliki keterbatasan. Oleh sebab itu, karena Anda tidak memiliki daya untuk melihat, maka Anda menerima ucapan-ucapan saya: “Ya, ada berjuta-juta bintang di atas sana.” Apakah langit itu kosong karena Anda tidak dapat melihat bintang-bintang? Tidak. Hanya ketidaksempurnaan indera-indera Anda sajalah yang menuntun Anda berpikir demikian.

MAHASISWA: Para ilmuwan itu akan mengakui ketidaktahuan mereka tentang beberapa hal, namun mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat menerima apa yang tidak dapat mereka lihat.

SRILA PRABHUPADA: Jika mereka tidak tahu, maka mereka harus menerima pengetahuan dari seseorang yang mengetahui kebenaran tersebut.

MAHASISWA: Akan tetapi mereka berkata, “Bagaimana jika apa yang diberitahukan kepada kami salah?”

SRILA PRABHUPADA: Maka itu adalah kemalangan mereka. Karena indera-indera mereka yang tidak sempurna tidak dapat melihat Tuhan, mereka harus mendengarkannya dari seorang sumber yang absah. Itulah caranya. Jika mereka tidak mendekati seorang sumber absah—jika mereka mendekati seorang penipu—maka itu adalah kemalangan mereka. Namun caranya adalah manakala indera-indera Anda tidak dapat berbuat, maka Anda harus mendekati seorang sumber otoritatif agar dapat mempelajari kebenaran-kebenaran tersebut.

 

Kefrustrasian Para Ateis

 

DR. SINGH: Kesulitannya adalah di dalam sekelompok ateis, Anda tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan.

SRILA PRABHUPADA: Orang-orang ateis itu kurang ajar. Mari kita ajari orang lain saja—yaitu orang-orang yang layak kita ajari. Segalanya telah dibuat oleh seseorang: pasir dibuat oleh seseorang, air dibuat oleh seseorang, dan langit dibuat oleh seseorang. Kesadaran Krishna berarti mempelajari siapakah seseorang itu.

DR. SINGH: Para ilmuwan akan berkata, “Hadirkanlah seseorang itu kepada saya, sehingga saya dapat melihat Dia.”

SRILA PRABHUPADA: Dan saya menjawab kepada mereka, “Saya sedang menghadirkan seseorang itu kepada Anda, tetapi Anda juga harus menjalani latihan.” Anda harus membuat mata Anda memenuhi syarat untuk melihat seseorang itu. Jika Anda buta, tetapi Anda tidak mau pergi ke dokter, bagaimana Anda akan sembuh dari kebutaan dan bisa melihat? Anda harus diobati; demikianlah ketentuannya.

MAHASISWA: Langkah tersebut memerlukan keyakinan.

SRILA PRABHUPADA: Ya, tapi bukan keyakinan buta—keyakinan praktikal. Jika Anda ingin mempelajari sesuatu, maka Anda harus pergi kepada seorang ahli. Itu bukanlah keyakinan buta; itu adalah keyakinan yang praktikal. Anda tidak dapat mempelajari apa pun sendirian.

MAHASISWA: Jika seseorang benar-benar tulus, pastikah dia bertemu dengan seorang guru yang bonafide?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Guru-Krishna-prasade paya bhakti-latab…ja. Krishna ada di dalam diri Anda, dan begitu Krishna melihat Anda benar-benar tulus, maka Krishna akan mengantarkan Anda kepada orang yang benar.

MAHASISWA: Dan jika Anda tidak benar-benar tulus, maka Anda akan mendapatkan seorang penipu sebagai guru?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Jika Anda ingin ditipu, maka Krishna akan mengirimkan seorang penipu kepada Anda. Krishna maha-cerdas. Jika Anda seorang penipu, maka Krishna akan menipu Anda dengan sempurna. Namun jika Anda sungguh-sungguh tulus, maka Krishna akan memberikan bimbingan yang benar kepada Anda. Di dalam Bhagavad gita  [15.15] Krishna bersabda, sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭomattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca: “Aku bersemayam di hati semua orang, dan  dari Aku-lah ingatan, pengetahuan, dan kealpaan berasal.” Jika Anda seorang penipu, Krishna akan memberi Anda kecerdasan untuk melupakan Dia selamanya.

MAHASISWA: Namun para ateis berkuasa. Mereka memiliki kekuasaan.

SRILA PRABHUPADA: Satu tendangan maya saja dan semua kekuasaan mereka akan berakhir dalam satu detik. Seperti itulah sifat dasar maya. Para ateis itu sedang berada dalam kendali, tetapi akibat maya, atau ilusi, mereka berpikir bahwa mereka bebas.

moghäçä mogha-karmäëo

mogha jïänä vicetasaù

räkñasém äsuréà caiva

prakåtià mohinéà çritäù

“Orang-orang yang bingung dipengaruhi oleh pandangan-pandangan jahat dan ateistik. Dalam keadaan terperdaya itu, harapan-harapan mereka untuk pembebasan, perbuatan-perbuatan mereka demi memperoleh pahala, dan pengembangan pengetahuan mereka semuanya dikalahkan.” [Bg. 9.12] Karena bingung, semua harapan mereka tidak menjadi kenyataan. Hal itu dinyatakan di dalam Bhagavad gita, dan hal itu benar-benar sedang terjadi. Begitu banyak rencana besar mereka, seperti proyek bulan ini, menjadi mengecewakan, tetapi mereka masih menyatakan bahwa mereka mampu menguasai alam.

DR. SINGH: Mereka tidak ingin menjadi sadar.

SRILA PRABHUPADA: Oleh karena itu mereka semua adalah orang-orang kurang ajar.

Ilmuwan Nekat Pergi Ke Neraka

 

SRILA PRABHUPADA: Seorang manusia yang berakal sehat akan menerima petuah yang baik, tapi orang kurang ajar tidak akan pernah menerima petuah yang baik. Ada sebuah kisah tentang seorang penyair besar bernama Kalidasa, yang juga merupakan orang kurang ajar yang besar juga. Pada suatu ketika, Kalidasa sedang duduk di atas dahan sebatang pohon dan dalam waktu bersamaan dia memotong dahan tersebut. Seorang yang baik budi bertanya kepada dia, “Mengapa Anda memotong dahan pohon itu? Anda akan jatuh.”

Kalidasa menjawab, “Tidak, tidak, aku tidak akan jatuh.” Jadi dia terus saja memotong dahan tersebut, lalu terjatuh. Kesimpulannya adalah bahwasannya ia adalah orang kurang ajar karena tidak mau menerima saran yang baik. Para ilmuwan sedang menuju neraka bersama kemajuan ilmiah mereka. Akan tetapi, mereka tidak mendengarkan ketika diberitahu; oleh karenanya mereka kurang ajar. Orang-orang kurang ajar itu berulangkali membuat rencana, dan setelah mengetahui rencananya mengalami kegagalan, kemudian mereka membuat rencana yang lain lagi. Rencana yang ini juga gagal, jadi mereka membuat satu rencana yang lain. Namun ketika kita berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa semua rencana materialistik mereka akan tidak berhasil dan tidak akan berguna, mereka tidak bersedia mendengarkan. Itulah kekurangajaran mereka. Orang-orang kurang ajar tersebut berulangkali mengunyah yang telah dikunyah. Di rumah, di jalan, di klab malam, di gedung bioskop—di mana pun dia berada, seks dalam berbagai keanekaragamannya merupakan kesenangan mereka satu-satunya.

MAHASISWA: Srila Prabhupada, orang mungkin mengatakan bahwa itu adalah suatu bentuk keberanian.

SRILA PRABHUPADA: Ya, Anda dapat mengatakan demikian, tetapi keberanian itulah kekurangajaran mereka. Mereka pergi ke neraka dengan berani, itu saja. Suatu ketika, seorang pria mengejar seorang pria yang satunya, dan orang yang mengejar bertanya, “Mengapa kamu melarikan diri? Apakah kamu takut kepadaku?” Orang yang satunya menjawab, “Aku tidak takut kepadamu. Mengapa aku tidak boleh lari? Mengapa aku harus berhenti?

Demikian halnya dengan orang materialistik, pergi ke neraka dengan gagahnya. “Mengapa aku harus menghentikan perbuatan-perbuatan berdosaku?” katanya. “Aku tak gentar menghadapi reaksi apa pun.”

DR. SINGH: Mereka gila.

SRILA PRABHUPADA: Ya, gila. Kitab-kitab Veda mengatakan bahwa sekali seorang manusia menjadi gila, karena kebodohannya, maka segala bicaranya ngawur. Sama halnya, siapa pun yang berada dalam pengaruh energi material adalah dalam keadaan gila. Oleh karena itu dia hanya membicarakan sesuatu yang tidak masuk akal saja, hanya itu. Walaupun para ilmuwan tidak ahli di bidang sains, mereka adalah ahli dalam menggertak orang lain dan bermain kata-kata.

 

Televisi Mistik

 

DR. SINGH: Dewasa ini mereka memiliki peralatan-peralatan canggih yang tidak mereka miliki sebelumnya, seperti telepon, televisi, pesawat udara, peluru kendali dan banyak penemuan baru lainnya.

SRILA PRABHUPADA: Namun ada telepon-telepon yang lebih baik yang tidak mereka ketahui. Di dalam Bhagavad gita, Sanjaya memperlihatkannya ketika dia sedang duduk bersama sang atasan, Dhrastarata, dan menceritakan semua hal yang sedang terjadi di Perang Kuruksetra yang sangat jauh jaraknya. Pengelihatan Sanjaya sungguh lebih hebat daripada telepon. Itu adalah televisi mistik. Itu adalah televisi yang ada di hati, karena dia sedang duduk di dalam sebuah ruangan yang terletak jauh dari medan perang namun bisa melihat segala yang sedang terjadi di sana. Di dalam Bhagavad gita, Dhrstarata bertanya kepada Sañjaya, “Bagaimana dengan putra-putraku dan keponakan-keponakanku? Apa yang sedang mereka lakukan?” Lalu Sañjaya menggambarkan bagaimana Duryodhana mendatangi Dronacharya, apa yang sedang diperbincangkan Dronacharya, bagaimana Duryodhana menimpalinya dan lain sebagainya. Walaupun kegiatan-kegiatan ini terlalu jauh untuk dilihat menggunakan mata biasa, Sañjaya dapat melihat dan menggambarkan kegiatan-kegiatan tersebut melalui kekuatan gaibnya. Itulah sains yang sejati.

DR. SINGH: Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa kita telah memperbaiki alam dengan membuat barang-barang seperti plastik dan obat-obatan.

SRILA PRABHUPADA: Pada zaman-zaman Veda orang makan dengan piring-piring perak dan emas, tetapi sekarang para ilmuwan telah memperbaiki segala hal dengan menggunakan piring-piring plastik. [Tertawa.]

DR. SINGH: Plastik telah menjadi satu persoalan besar karena mereka tidak dapat menghindar darinya. Tidak ada cara untuk membuangnya. Plastik itu terus saja menumpuk.

 

Inilah Buktinya

 

DR. WOLF-ROTTKAY: Orang-orang materialistik akan lebih tulus jika mereka berkata, “Kami tidak ingin dikeluarkan dari impian ini. Kami ingin terus berusaha menikmati indera-indera dengan semua mesin-mesin kami.” Namun mereka tidak akan mengakui bahwa upaya-upaya mereka untuk menikmati selalu mengalami kegagalan.

SRILA PRABHUPADA: Itulah kedunguan mereka. Pada akhirnya mereka harus mengakuinya.

DR. WOLF-ROTTKAY: Namun mereka berkata, “Berusaha, berusaha lagi.”

SRILA PRABHUPADA: Bagaimana mungkin mereka bisa berusaha? Andaikan Anda tidak bisa melihat karena menderita katarak. Jika Anda berusaha untuk melihat—Anda berusaha, berusaha, berusaha, berusaha, berusaha. Apakah itu obat untuk katarak? Bukan. Anda tidak akan pernah disembuhkan dengan cara seperti itu. Anda harus pergi kepada seorang dokter, yang akan melakukan operasi pembedahan untuk memperbaiki pengelihtan mata Anda. Anda tidak bisa melihat dengan berusaha dan berusaha.

DR. WOLF-ROTTKAY: Itulah apa yang tidak ingin mereka terima—bahwa semua upaya mereka untuk mengetahui kebenaran dengan sains materialistik telah gagal.

SRILA PRABHUPADA: Mereka itu bodoh. Mereka tidak akan menerima nasihat yang baik. Jika Anda memberi suatu nasihat yang bagus kepada orang kurang ajar, dia akan menjadi marah, persis seperti seekor ular. Andaikan Anda membawa seekor ular masuk ke dalam rumah dan berkata, “Ularku sayang, tinggalah denganku. Setiap hari aku akan memberi makanan yang enak—susu dan pisang.” Ular itu akan sangat senang, tetapi akibatnya adalah racunnya akan bertambah dan pada suatu hari Anda akan berteriak, “Ah!” [Menirukan seorang yang digigit ular.]

DR. WOLF-ROTTKAY: Akan tetapi para ilmuwan itu tidak akan pernah berhenti berharap.

SRILA PRABHUPADA: Rencana-rencana mereka selalu mengalami kegagalan, tetapi mereka masih tetap berharap.

MAHASISWA: Srila Prabhupada, seorang pustakawan ingin agar saya membuktikan bahwa Bhagavad gita  berusia lima ribu tahun. Dia ingin melihat sebuah salinan yang ditulis lima ribu tahun yang lalu.

SRILA PRABHUPADA: Andaikan saya masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap lalu berkata kepada seorang yang ada di sana, “Matahari telah terbit. Keluarlah!” Orang yang berada dalam kegelapan itu mungkin berkata, “Mana buktinya bahwa cahaya itu ada? Pertama-tama buktikanlah hal itu pada saya; lalu saya akan keluar.” Saya mungkin meminta dengan sangat kepada dia, “Tolong, tolong keluarlah dulu dan lihat.” Namun jika dia tidak keluar untuk melihat, dia tetap tidak akan tahu, sambil menunggu bukti. Jadi jika Anda sungguh-sungguh membaca Bhagavad gita, maka Anda akan melihat segalanya. Datang dan lihatlah. Inilah buktinya.

Dikutip dari: Life come from life

Translate »
%d bloggers like this: