[anti-both]

Kemajuan Para Keledai

 

SRILA PRABHUPADA: Semua orang sedang menderita di dunia material ini, dan kemajuan ilmiah berarti bahwa para ilmuwan sedang menciptakan satu keadaan yang jauh lebih menyakitkan. Hanya itu. Mereka tidak sedang membuat perbaikan-perbaikan apa pun. Bhaktivinoda µh€kuramenegaskan hal ini dengan mengatakan, moha janamiya, anitiya samsare, jivake karaye gadha: “Disebabkan oleh yang namanya saja kemajuan-kemajuan ilmiah, sang ilmuwan telah menjadi keledai.” Selain itu, dia menjadi keledai yang semakin baik, dan bukan yang lain. Tentu, diperlukan kerja keras seperti seekor keledai, untuk membangun sebuah gedung pencakar langit. Dia mungkin menjadi buruh sepanjang hidupnya demi gedung pencakar langit tersebut, tapi pada akhirnya dia pasti mati. Dia tidak bisa terus tinggal di gedungnya; dia akan didepak keluar dari gedung pencakar langit itu, sebab kehidupan material ini tidaklah abadi. Para ilmuwan terusmenerus melakukan riset, dan jika Anda bertanya kepada mereka apa yang sedang mereka kerjakan, mereka berkata, “Oh, itu untuk generasi selanjutnya, untuk masa depan.” Akan tetapi saya berkata, “Bagaimana dengan Anda? Bagaimana dengan gedung pencakar langit Anda? Jika dalam kehidupan berikutnya Anda akan menjadi sebatang pohon, lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap generasi penerus Anda?” Dia tidak lain daripada seekor keledai. Dia tidak tahu bahwa dia akan berdiri di depan gedung pencakar langit miliknya selama sepuluh ribu tahun. Dan bagaimana dengan generasi penerus? Jika tidak ada bensin, apa yang akan dilakukan oleh generasi selanjutnya? Dan bagaimana generasi berikutnya akan membantu dia jika dia akan menjadi kucing, anjing atau sebatang pohon? Para ilmuwan itu—dan semua yang lain—mestinya berusaha keras untuk mencapai keterbebasan dari berulangnya kelahiran dan kematian. Namun sebaliknya, semua orang menjadi semakin terjerat dalam siklus kelahiran dan kematian. Bhave ‘smin kliyamananam avidya-kama-karmabhiƒ. Ini satu kutipan dari Srimad-Bhagavatam [1.8.35]. Keseluruhan kehidupan material dijelaskan dalam satu baris kutipan ini. Ini adalah astra. Satu baris ini senilai ribuan tahun karya penelitian. Kutipan ini menerangkan bagaimana entitas hidup menerima kelahiran di dunia material ini, dari mana ia berasal, ke mana ia akan menuju, perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan, dan banyak hal penting lainnya. Kata-kata bhave ‘smin klisyamananam berarti perjuangan untuk hidup. Mengapa terjadi perjuangan seperti ini? Karena avidya, kebodohan. Dan apakah sifat dasar kebodohan itu? Kama-karmabhiƒ, dipaksa bekerja hanya demi indera-indera, atau dengan kata lain, terjerat dalam kepuasan inderawi.

MAHASISWA: Jadi, apakah benar bahwa riset ilmiah modern menambah permintaan-permintaan badan karena pada akhir-nya ilmuwan bekerja untuk memuaskan indera-indera materialnya?

SRILA PRABHUPADA: Ya.

Sulap Kata-Kata dan Krisis Dunia

 

SRILA PRABHUPADA: Dikatakan di dalam kitab-kitab Veda, yasmin vijnate sarvam evam vijnatam bhavati: “Jika seseorang mengetahui Kebenaran Yang Sempurna, maka segala hal yang lain menjadi diketahui.” Saya bukanlah orang yang bergelar Ph.D., tapi saya sanggup menantang para ilmuwan itu. Mengapa? Karena saya mengenal Krishna, Kebenaran Yang Sempurna. Yasmin sthito na duƒkhena guruŠapi vicalyate: “Jika seseorang berada dalam kesadaran Krishna, sekalipun ia berada dalam malapetaka yang paling dahsyat, ia tidak akan terganggu sedikit pun.” [Bg. 6.22] Srimad-Bhagavatam [1.5.22] menyatakan, avicyuto ‘rthaƒ kavibhir nirupito yad uttama-loka-guŠanuvarŠanam: “Insan-insan mulia menetapkan bahwa kesadaran Krishna adalah kesempurnaan hidup.” Jenis pengetahuan ini perlu dimiliki. Bukan lantas kita melakukan suatu penelitian, mengemukakan sebuah teori, dan setelah lima belas tahun berlalu, kemudian berkata, “Tidak, tidak, teori itu tidak benar—hal itu, hal lain.” Itu bukanlah sains; itu permainan anak kecil.

DR. SINGH: Itulah cara untuk menemukan sesuatu melalui penelitian.

SRILA PRABHUPADA: Dan apa ongkos dari penelitian tersebut? Penelitian atau riset itu adalah metode ilmiah untuk mengeruk uang dari orang lain, hanya itu. Dengan kata lain, itu adalah penipuan. Para ilmuwan mengemukakan sulap kata-kata seperti plutonium, photons, hidrogen dan oksigen, tapi ke-baikan apakah yang bisa didapat dari hal ini? Ketika orang-orang mendengar kata-kata yang dipoles seperti ini, apa yang bisa mereka katakan? Seorang ilmuwan menerangkan sesuatu dengan panjang lebar, dan kemudian orang kurang ajar lainnya mendukung hal itu dan menerangkannya kembali, tapi dengan cara yang berbeda, dengan kata-kata yang berbeda pula. Dan pada saat yang sama fenomena tersebut adalah yang sama saja. Kemajuan apakah yang telah diraih? Mereka hanya menghasilkan berjilid-jilid buku. Sekarang ini ada persoalan bahan bakar minyak. Para ilmuwan telah menciptakan persoalan itu. Jika pasokan bensin berkurang, lalu apa yang akan dilakukan oleh orang-orang kurang ajar ini? Mereka tidak berdaya untuk berbuat sesuatu terrkait hal itu.

 

Timbunan Debu Miliaran Dolar

 

SRILA PRABHUPADA: Sekarang ini terjadi kelangkaan air di India, tapi apa upaya para ilmuwan berkenaan dengan hal tersebut? Ada air yang jauh lebih dari cukup di dunia ini, jadi mengapa para ilmuwan tidak membawa air ke tempat di mana air sangat diperlukan? Mereka semestinya segera menangani irigasi. Sebaliknya, mereka pergi ke bulan, planet berdebu, untuk membuatnya menjadi subur. Mengapa mereka tidak mengairi planet ini? Air laut melimpah, jadi mengapa mereka tidak mengairi Gurun Sahara atau Gurun Arabia atau Gurun Rajasthan? “Ya, di masa depan,” kata mereka. “Kami sedang berusaha.” Dengan bangga mereka segera berkata, “Ya, ya. Kami sedang berusaha.” Di dalam Bhagavad-gita dikatakan bahwa apabila seseorang sibuk dalam urusan memuaskan keinginan-keinginan yang tidak semestinya, kecerdasannya hilang (kamais tais tair hta-jnanaƒ). Proyek ke bulan ini bersifat kekanak-kanakan. Orang-orang yang ingin pergi ke bulan itu bagaikan anak-anak yang sedang merengek. Seorang anak merengek, “Ibu, ambilkan aku bulan,” jadi sang ibu memberi anak tersebut sebuah cermin dan berkata, “Ini bulan, anakku sayang.” Dan si anak mengambil cermin itu, melihat bulan dalam cermin tersebut dan berkata, “Wah, aku punya bulan.” Celakanya, ini bukan hanya sebuah kisah.

KARANDHARA: Setelah menghabiskan semua dana untuk pergi ke bulan dan hanya membawa pulang beberapa bebatuan, orang-orang yang ada di proyek luar angkasa memutuskan bahwa tidak ada lagi yang perlu dilakukan di sana.

BRAHMšNANDA SWAMI: Sekarang mereka ingin pergi ke planet yang lain, tapi mereka kekurangan dana. Pergi ke planet-planet lain menelan biaya jutaan dan milyaran dolar.

SRILA PRABHUPADA: Rakyat bekerja banting tulang sementara pemerintahan yang bejat menarik pajak dan membelanjakan uang pajak tersebut bukan pada tempatnya. Sungguh sangat tidak simpatik apabila uang yang sulit diperoleh, yang berasal dari masyarakat luas itu, dihamburkan dengan amat tololnya. Sekarang ini para pemimpin sedang mengemukakan omong kosong lainnya: “Jangan khawatir, kita akan pergi ke planet lain. Sekarang kita akan membawa lebih banyak debu sebagai oleh-oleh. Kita akan membawa berton-ton debu. Oh, ya, kini kita akan mempunyai berton-ton debu.”

DR. SINGH: Mereka percaya mungkin ada kehidupan di Mars.

SRILA PRABHUPADA: Mereka mungkin percaya atau mungkin tidak. Apa bedanya? Kehidupan itu ada di sini, namun orang-orang sedang berselisih. Anggap saja ada kehidupan di Mars. Tak diragukan lagi, di Mars ada kehidupan. Namun apa yang akan kita dapatkan dari hal ini?

DR. SINGH: Orang-orang sangat ingin tahu apa yang terjadi di sana.

SRILA PRABHUPADA: Itu berarti bahwa demi keingintahuan yang kekanak-kanakan, mereka harus menghabiskan uang yang luar biasa banyaknya. Hanya demi kesenangan. Dan apabila mereka diminta untuk membantu salah satu dari sekian banyak negara yang tertimpa kemiskinan, mereka berkata, “Tidak. Tidak ada uang.” Anda lihat itu?

Filsafat Sankhya dan Sains Modern

 

DR. SINGH: Srila Prabhupada, dapatkah kami mendengarkan sedikit tentang filsafat Sankhya?

SRILA PRABHUPADA: Sebenarnya ada dua macam filsafat Sankhya: filsafat Sankhya kuno yang pada mulanya diajarkan oleh Sri Kapiladeva, dan filsafat Sankhya modern yang baru-baru ini diajarkan oleh seorang ateis Kapila. Sankhya dari Sri Kapila menerangkan cara untuk terlepas dari zat dan mencari Sri VisŠu di hati. Sankhya ini sebenarnya adalah sebuah proses pelayanan suci. Namun filsafat Sankhya modern hanya menganalisis dunia material ini ke dalam berbagai elemennya. Dalam hal tersebut, filsafat Sankhya modern hanyalah seperti riset ilmiah modern. Sankhya berarti “menghitung.” Sampai taraf tertentu kita adalah filsuf Sankhya sebab kita menghitung unsur-unsur material: ini tanah, ini api, ini udara, ini eter. Selanjutnya, saya dapat menghitung pikiran saya, kecerdasan saya, dan ego saya. Namun demikian, melampaui ego, saya tidak dapat menghitungnya. Tapi Krishna bersabda bahwa ada sesuatu yang melampaui ego tersebut, dan itu adalah sang entitas hidup. Inilah apa yang tidak diketahui oleh para ilmuwan. Mereka berpikir bahwa kehidupan hanyalah sebuah gabungan unsur-unsur material, tapi Krishna menolak hal ini di dalam Bhagavad-gita [7.5]: apareyam itas tv anyam  prakåtim viddhi me param jiva-bhutam maha-baho yayedam dharyate jagat “Selain alam rendah ini [tanah, air, api, eter, akal pikiran, kecerdasan dan ego palsu] ada energi yang lebih tinggi milik-Ku, yang terdiri dari semua entitas hidup yang sedang berjuang menghadapi alam material ini dan sedang memelihara alam semesta.”

DR. SINGH: Apakah energi inferior (lebih rendah) dan superior (lebih tinggi) itu dipelajari dalam filsafat Sankhya modern?

SRILA PRABHUPADA: Tidak. Para filsuf Sankhya modern tidak mempelajari energi superior tersebut. Mereka hanya menganalisis unsur-unsur material, persis seperti yang sedang dilakukan para ilmuwan. Para ilmuwan itu tidak mengetahui bahwa roh itu ada, begitu pula dengan para filsuf Sankhya juga tidak mengetahuinya.

DR. SINGH: Mereka menganalisis unsur-unsur material yang berdaya cipta?

SRILA PRABHUPADA: Unsur-unsur material tidak berdaya cipta! Hanya sang roh-lah yang berdaya cipta. Kehidupan tidak dapat diciptakan dari zat, dan zat tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Anda adalah entitas hidup, dapat mencampur hidrogen dan oksigen untuk menciptakan air. Namun zat itu sendiri tidak memiliki potensi yang berdaya cipta. Jika Anda meletakkan satu botol hidrogen di dekat-dekat satu botol oksigen, tanpa bantuan Anda, akankah kedua zat itu bergabung dengan sendirinya?

DR. SINGH: Tidak. Hidrogen dan oksigen itu harus dicampur.

SRILA PRABHUPADA: Tentu saja. Oksigen dan hidrogen adalah energi inferior Krishna, tapi ketika Anda, sang energi superior, mencampur kedua zat tersebut, maka berubahlah menjadi air.

Sebab Jauh dan Sebab Dekat

 

SRILA PRABHUPADA: Energi inferior tidak memiliki kekuatan kecuali energi superior dilibatkan. Laut ini [dengan menunjuk pada Lautan Pasifik] tenang dan diam. Tapi ketika kekuatan superior, udara, mendorongnya, terwujudlah ombak-ombak yang tinggi. Lautan ini tidak memiliki kekuatan untuk bergerak tanpa kekuatan superior udara. Sama halnya, ada kekuatan superior lain terhadap udara tersebut, dan ada kekuatan superior terhadap kekuatan superior lainnya, hingga akhirnya kita sampai kepada Krishna. Inilah penelitian yang sejati. Krishna mengendalikan alam seperti halnya seorang masinis mengendalikan kereta api. Masinis mengendalikan lokomotif, yang menarik satu gerbong, dan gerbong tersebut pada gilirannya menarik gerbong yang lainnya, dan dengan demikian seluruh rangkaian kereta api bergerak. Demikian halnya dengan ciptaan, Krishna memberikan dorongan pertama, dan kemudian, dengan memakai dorongan yang berturut-turut, seluruh manifestasi kosmik menjadi terwujud dan terpelihara. Hal ini diuraikan dalam Bhagavad-gita [9.10]. MayadhyakeŠa praktiƒ suyate sacaracaram: “Alam material ini bekerja di bawah arahan-Ku dan menghasilkan semua makhluk yang bergerak dan tidak bergerak.” Dan di dalam Bab Empat Belas [14.4] Krishna bersabda: sarva-yoniñu kaunteyamurtayaù sambhavanti yaùtasaà brahma mahad yonir aham bija-pradaù pita  “Semua jenis kehidupan dimungkinkan dengan kelahiran di alam material ini, Wahai putra Kunti, dan Aku adalah ayah yang memberi benih.” Sebagai contoh, jika kita menyemai sebutir biji beringin, maka sebatang pohon besar nantinya akan muncul, dan bersamanya ada berjuta-juta biji baru. Masing-masing biji itu pada gilirannya menghasilkan pohon lain dengan berjuta-juta biji baru, dan seterusnya. Inilah bagaimana Krishna, sang ayah sejati pemberi benih, adalah penyebab utama dari segala yang kita lihat. Malangnya, para ilmuwan hanya mengamati sebab dekat; mereka tidak mampu memahami sebab jauh. Krishna dijelaskan di dalam kitab-kitab Veda sebagai sarva-karaŠa-karaŠam, sebab dari segala sebab. Jika seseorang mengerti sang penyebab dari segala sebab, maka dia mengerti segalanya. Yasmin vijnate sarvam evam vijnatam bhavati: “Jika seseorang mengetahui sang penyebab sejati, maka penyebab-penyebab yang lebih rendah langsung dapat diketahui.” Walaupun para ilmuwan sedang mencari sang penyebab sejati, ketika kitab-kitab Veda, pengetahuan yang sempurna, menyatakan penyebab sejati adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, para ilmuwan tidak akan menerimanya. Mereka tetap berpegang teguh pada pengetahuan mereka yang berat sebelah dan tidak sempurna. Inilah penyakit mereka.

Mesin Kosmik

 

SRILA PRABHUPADA: Ilmuwan tidak mengetahui bahwa ada dua macam energi—inferior dan superior—walau mereka sebenarnya sedang bekerja dengan kedua energi ini setiap saat. Energi material tidak pernah bisa bekerja secara mandiri; energi material pertama-tama harus berhubungan dengan energi spiritual. Jadi bagaimana orang-orang dapat menerima bahwa seluruh manifestasi kosmik ini, yang tidak lain adalah zat atau materi, terjadi secara otomatis? Sebuah mesin canggih belum beroperasi kecuali seorang manusia yang mengetahui bagaimana mengoperasikannya menekan suatu tombol.  Cadilac adalah mobil bagus, tapi jika mobil itu tidak ada sopirnya, maka apalah gunanya mobil tersebut? Demikian pula, alam semesta material ini juga merupakan sebuah mesin. Orang terkagum-kagum melihat sebuah mesin besar dengan begitu banyak bagian di dalam mesin itu, tapi orang cerdas tahu bahwa bagaimanapun canggihnya sebuah mesin, mesin itu tidak akan bekerja kecuali ada seorang operator yang menekan tombol yang benar. Oleh karena itu, mana yang lebih penting—sang operator atau mesin itu? Jadi kita berurusan bukan dengan mesin material—manifestasi kosmik ini—melainkan dengan sang operator, yakni Krishna. Berikutnya Anda mungkin berkata, “Baiklah, bagaimana saya tahu bahwa Dia adalah sang operator?” Krishna bersabda, mayadhyakeŠa prakrtiƒ suyate sacaracaram: “Seluruh manifestasi kosmik ini bekerja di bawah arahan-Ku.” Jika Anda berkata, “Bukan, Krishna bukanlah sang operator di balik kosmos (alam semesta) ini,” maka Anda harus menerima operator yang lain, dan Anda harus menghadirkan dia. Namun ini tidak mampu Anda lakukan. Oleh karena itu, dengan ketiadaan bukti dari Anda, maka semestinya terimalah bukti dari saya.

Bersambung…………..

Dikutip dari buku “Life Come From Life”

Translate »
%d bloggers like this: