[anti-both]

Evolusi Dari Manusia ke Anjing

 

SRILA PRABHUPADA: Para ilmuwan sedang menaruh kepercayaan pada sebuah teori yang menyesatkan. Krishna bersabda, aham sarvasya prabhavaƒ: “Aku adalah asal-usul dari segalanya.” [Bg. 10.8] Krishna adalah kehidupan; Krishna bukanlah sebongkah batu.

DR. SINGH: Jadi zat itu disebabkan oleh kehidupan?

SRILA PRABHUPADA: Ya, dan zat berpengaruh pada kehidupan, badan saya berpengaruh kepada saya, sang roh. Sebagai contoh, saya mengenakan mantel ini, yang dibuat sesuai ukuran badan saya. Namun betapa akan bodohnya jika saya berpikir, “Saya adalah mantel ini.”

MAHASISWA: Para ahli mineralogi telah membuktikan bahwa gunung-gunung tumbuh karena adanya aktivitas sedimentasi. Apakah pertumbuhan ini disebabkan oleh kehadiran sang roh?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Bhagavata Purana menggambarkan gunung-gunung sebagai tulang Tuhan, dan rerumputan sebagai bulu-bulu badan-Nya. Jadi dalam pengertian ini, Tuhan memiliki badan, badan terbesar.

DR. SINGH: Srila Prabhupada, apa perbedaan antara perpindahan roh-roh yang ada di dalam badan-badan binatang dan perpindahan roh-roh manusia?

SRILA PRABHUPADA: Binatang-binatang berpindah hanya dalam satu arah—naik—namun manusia dapat berpindah ke bentuk kehidupan yang lebih tinggi ataupun ke bentuk ke-hidupan lebih rendah. Badan diberikan menurut keinginan entitas hidup. Binatang-binatang, yang lebih rendah, memiliki satu macam keinginan, tapi manusia memiliki ribuan bahkan jutaan keinginan—jenis keinginan binatang dan jenis kei-nginan manusia. Menurut hukum alam, jenis kehidupan yang lebih rendah naik ke atas, dari bentuk kehidupan binatang ke bentuk kehidupan yang lebih tinggi, yaitu bentuk kehi-dupan manusia. Namun setelah Anda sampai pada bentuk manusia, jika Anda tidak memantapkan kesadaran Krishna, maka Anda mungkin kembali pada badan seekor kucing atau anjing.

 

Nirvana

 

DR. SINGH: Para ilmuwan tidak memiliki keterangan bahwasanya ada evolusi ke atas dan ke bawah dari tingkat manusia.

SRILA PRABHUPADA: Oleh karena itu saya katakan bahwa mereka kurang ajar. Mereka tidak berpengetahuan, namun masih menyatakan diri sebagai ilmuwan. Sains sejati ada di dalam Bhagavad Gita, dimana Krishna bersabda, yanti deva-vrata devan pitan  yanti pita-vrataƒ [Bg. 9.25]. Ini berarti bahwa apa pun yang disembah seseorang dalam hidup ini itulah yang menentukan jenis badan yang akan dia dapatkan dalam kehidupan  selanjutnya. Namun jika seseorang memuja Krishna, maka dia mengakhiri proses perpindahan secara keseluruhan. Yam prapya na nivartante tad dhama: “Apabila seseorang datang ke tempat-Ku yang tertinggi, maka dia tidak akan pernah kembali [ke dunia material tempat kelahiran dan kematian ini].” [Bg. 8.21] Diangkat sampai Dunia Spiritual (samsiddhim paramam) adalah kesempurnaan utama kehidupan manusia. Bacalah Bhagavad Gita; segalanya ada di sana. Namun para ilmuwan tidak memiliki gambaran sedikit pun tentang kesempurnaan; mereka bahkan tidak percaya pada eksistensi mengenai sang entitas hidup terpisah dari badan kasar yang nyata ini.

DR. SINGH: Mereka tidak berbicara tentang entitas hidup; mereka hanya berbicara mengenai badan-badan saja.

MAHASISWA: Konsep mereka adalah sesuatu yang mirip dengan Buddhisme. Pengikut Buddha mengatakan bahwa badan seperti sebuah rumah. Seperti halnya sebuah rumah dibangun dengan menggunakan kayu, begitu pula badan dibangun dengan zat-zat kimia. Dan apabila badan mati, maka badan tersebut persis seperti sebuah rumah yang ambruk berserakan. Seperti halnya rumah tersebut kemudian menjadi potongan-potongan kayu belaka lalu tidak ada rumah lagi, demikian pula badan hanya menjadi zat-zat kimia saja, dan tidak ada lagi badan, tidak ada lagi kehidupan.

SRILA PRABHUPADA: Keadaan itu disebut nirvaŠa. Dan kemudian, dengan unsur-unsur tersebut, Anda dapat membangun sebuah rumah lain atau badan lain lagi. Itu Buddhisme. Mereka tidak memiliki informasi sedikit pun berkenaan dengan sang roh.

 

Takdir dan Karma

 

MAHASISWA: Beberapa ilmuwan memperdebatkan bahwa ada beberapa roh di dalam masing-masing badan. Mereka menggunakan cacing tanah sebagai satu contoh. Jika Anda memotong cacing tersebut di tengah-tengah, maka kedua bagian potongan itu akan hidup. Mereka mengatakan ini membuktikan bahwa dua roh menempati badan cacing tersebut.

SRILA PRABHUPADA: Tidak. Hal itu hanyalah satu roh baru telah datang untuk menempati setengah dari badan cacing tersebut.

DR. SINGH: Haruskah sang jiwa itu memiliki  badan—badan spiritual atau badan material?

SRILA PRABHUPADA:  Roh telah memiliki badan spiritual, yang ditutupi oleh badan material. Badan material berpengaruh pada saya—badan spiritual saya—namun badan material saya bukanlah yang asli. Badan sejati bersifat spiritual. Saya mene-rima bermacam badan yang tidak biasa bagi keadaan saya. Kedudukan asasi saya yang sebenarnya adalah menjadi pelayan Krishna. Selama saya belum sampai pada kedudukan itu, maka saya tetap sebagai pelayan materi dan mendapatkan banyak badan material menurut hukum-hukum energi material. Saya mendapatkan satu badan lalu melepaskannya. Saya menginginkan sesuatu yang lain dan mendapatkan badan yang lain lagi. Proses ini terus berlanjut di bawah hukum-hukum alam material yang tegas. Orang-orang berpikir bahwa mereka mengendalikan sepenuhnya takdir dirinya, namun mereka senantiasa berada di bawah hukum karma alam.

 

prakåteù kriyamaëani

guëaiù karmaëi sarvasaù

ahankara-vimuòhatma

kartaham iti manyate

 

“Roh yang bingung, yang berada di bawah pengaruh tiga sifat alam material, berpikir bahwa dirinya menjadi pelaku dari kegiatan-kegiatan yang sebenarnya dilakukan oleh alam.” [Bg. 3.27] Sumber kebingungan ini adalah karena sang entitas hidup beranggapan, “Aku adalah badan ini.”

 

isvaraù sarva-bhutanam

håd-dese ‘rjuna tiñöhati

bhramayan sarva-bhatani

yantraruòhani mayaya

 

Pada ayat ini kata yantra, atau “mesin,” berarti bahwa dalam jenis kehidupan apa pun, kita sedang berkelana di dalam badan-badan yang seperti mesin-mesin yang disediakan oleh alam material. Kadang-kadang kita bergerak menuju ke jenis kehidupan yang lebih tinggi, kadang ke jenis kehidupan yang lebih rendah. Namun jika, berkat belas kasih guru spiritual dan Krishna, seseorang mendapatkan benih bhakti lalu mengembangkannya, maka dia bisa bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Dengan demikian hidupnya akan sukses. Jika tidak demikian, dia harus naik-turun menjalani berbagai jenis kehidupan, kadang-kadang menjadi rumput, kadang seekor singa, dan seterusnya.

 

Mempromosikan Kebodohan Sebagai Pengetahuan

 

MAHASISWA: Jadi keinginan kita untuk menikmatilah yang menyebabkan kita menerima badan-badan material ini, dan keinginan kita pula untuk bisa sampai kepada Krishnalah yang membawa kita pada kedudukan kita yang asli?

SRILA PRABHUPADA: Ya.

DR. SINGH: Namun sepertinya ada sebuah perjuangan terus-menerus menghadapi sifat-sifat rendahan kita. Kita terus berjuang menghadapi keinginan-keinginan kita untuk kepuasan indera, sekalipun kita ingin melayani Krishna. Apakah ini terus berlanjut?

MAHASISWA: Badan itu hampir seperti seorang diktator dari dalam.

SRILA PRABHUPADA: Ya. Itu berarti bahwa Anda benar-benar berada di bawah pengaruh energi material, atau maya.

DR. SINGH: Bahkan walaupun kita berkeinginan untuk melayani Krishna?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Seorang pencuri mungkin tahu bahwa jika dia mencuri maka dirinya akan ditangkap dan dipenjarakan—mungkin dia telah melihat pencuri-pencuri lain tertangkap—tapi dia masih saja mencuri. Sekalipun menyadari bahwa dirinya berada dalam kekuasaan negara, masih saja ia bertindak menuruti kemauannya sendiri. Ini yang disebut tamas, atau kebodohan. Karena itu, pengetahuan adalah awal dari kehidupan spiritual. Di dalam Bhagavad Gita, Krishna memberikan pengetahuan kepada Arjuna. Krishna mengajarkan, “Engkau bukanlah badan ini.” Ini permulaan pengetahuan. Tetapi, di mana ada universitas yang mengajarkan penge-tahuan seperti ini? Dr. Singh, apakah Anda bisa memberi-tahukan kepada saya di mana universitas yang mengajarkan pengetahuan seperti ini?

DR. SINGH: Tidak ada satu pun.

SRILA PRABHUPADA: Demikianlah kedudukan pendidikan: nihil pengetahuan. Mereka hanya mempromosikan kebodohan sebagai pengetahuan.

DR. SINGH: Namun jika para ilmuwan tahu bahwa mereka bu-kanlah badan-badan mereka, maka seluruh pandangan mereka akan berubah.

SRILA PRABHUPADA: Ya, kita menginginkan itu.

MAHASISWA: Tapi mereka tak bersedia mengakui kegagalannya.

SRILA PRABHUPADA: Maka itulah kebodohan berikutnya. Jika Anda orang bodoh dan berlagak seolah orang cerdas, maka sikap sok tahu itu merupakan kebodohan baru lagi. Dengan demikian Anda tidak dapat membuat kemajuan. Dan jika Anda tetap dalam kebodohan dan memamerkan diri seolah orang berpengetahuan, maka Anda seorang penipu besar. Anda sedang menipu diri sendiri dan sedang menipu orang lain. Orang begitu tergila-gila mengejar kemajuan peradaban material sehingga mereka telah menjadi persis seperti kucing dan anjing. Sebagai contoh, mereka telah membentuk sebuah departemen imigrasi, dan begitu Anda memasuki sebuah negeri, anjing-anjing ini pun mulai menggonggong, “Guk, guk, guk! Mengapa engkau datang kemari? Apa urusanmu?” Ini merupakan perbuatan seekor anjing penjaga. Seorang pria terhormat sedang diperiksa atas sebuah senjata api. Orang-orang tidak dapat dipercaya, dan sekarang ada begitu banyak bajingan dan pencuri terdidik. Jadi, apa makna kemajuan tersebut? Dapatkah kita mengatakan bahwa pendidikan berarti kemajuan? Apakah ini sebuah peradaban?

 

Memerangi Kebodohan Dengan Argumen dan Pengetahuan

 

MAHASISWA: Beberapa orang mengatakan bahwa satu alasan bagi perang Vietnam adalah bahwa orang-orang komunis itu ateis. Perang tersebut adalah pertarungan antara orang yang mengakui Tuhan (teis) dan yang tidak mengakui Tuhan (ateis). Paling tidak itu satu alasan yang diberikan untuk perang tersebut.

SRILA PRABHUPADA: Kita pun siap membasmi ateis-ateis tersebut. Namun pembunuhan itu dalam bentuk pencerahan spiritual. Jika saya membasmi kebodohan Anda, dapat juga dikatakan pembunuhan (jihad-ed). Pembunuhan tak mesti berarti bahwa setiap orang harus menghunus pedang/angkat senjata.

DR. SINGH: Sebuah metode perang baru?

SRILA PRABHUPADA: Bukan, memerangi kebodohan dengan argumen-argumen dan pengetahuan selalu ada. Konsep ke-hidupan badani adalah konsep kehidupan binatang. Binatang tidak tahu tentang zat dan roh. Dan orang yang berada di bawah konsep kehidupan badani tidaklah lebih baik ketim-bang seekor binatang. Ketika seekor binatang “angkat bicara,” maka hal itu membuat manusia cerdas merasa geli. “Bicara binatang” semacam itu tidaklah masuk akal. Binatang tidak sedang membicarakan pengetahuan.

MAHASISWA: Paling tidak binatang-binatang itu hidup dengan aturan-aturan tertentu. Mereka tidak membunuh jika tidak perlu, dan mereka hanya makan bila perlu, sedangkan manusia melakukan pembunuhan yang tidak diperlukan dan makan pun tidak semestinya. Jadi dalam satu pengertian, manusia lebih rendah dibandingkan binatang.

SRILA PRABHUPADA: Itu pasalnya mengapa kita mesti menderita melebihi binatang. Kesadaran Krishna bukanlah sebuah gerakan religius yang sentimentil. Kegiatan kesadaran Krishna adalah sebuah kegiatan ilmiah yang terencana untuk meringankan penderitaan manusia.

DR. SINGH: Para ilmuwan dan orang-orang lainnya mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini terjadi secara kebetulan.

SRILA PRABHUPADA: Jadi, apakah mereka juga menulis buku-buku mengenai pokok persoalan itu secara kebetulan?

KARANDHARA: Buku-buku itu juga ditulis secara kebetulan, kata mereka.

SRILA PRABHUPADA: Jadi, apa kelebihan mereka? Secara kebetulan, apa pun dapat dituliskan.

DR. SINGH: Ilmuwan Prancis, Dr. J. Monod mendapatkan Ha-diah Nobel pada tahun 1965. Dia mengatakan bahwa sega-lanya  bermula  secara  kebetulan—bahwa secara kebetulan zat-zat kimia tertentu bergabung dan membentuk molekul-molekul dasar.

SRILA PRABHUPADA: Tapi dari manakah zat-zat kimia tersebut berasal?

DR. SINGH: Menurut pendapat dia, zat-zat kimia itu tercipta hanya secara kebetulan saja, dan ketika ada keperluan, maka molekul-molekul dari zat-zat kimia tersebut mereorientasi diri mereka sendiri.

SRILA PRABHUPADA:  Jika segalanya terjadi secara kebetulan, bagaimana bisa ada keperluan? Bagaimana dia bisa membi-carakan tentang kebetulan dan keperluan dalam satu napas? Itu omong kosong. Jika segalanya diarahkan secara kebe-tulan, mengapa orang menyekolahkan anak-anak mereka? Mengapa tidak biarkan mereka tumbuh secara kebetulan? Andaikata saya melanggar hukum. Jika saya berkata, “Baiklah, itu hanya terjadi secara kebetulan,” akankah saya dimaafkan?

DR. SINGH: Jadi, apakah kejahatan disebabkan oleh ke-bodohan?

SRILA PRABHUPADA: : Ya. Itulah sebabnya: kebodohan saya.

MAHASISWA: Tentu satu kebodohan jika mengatakan bahwa sebuah instrumen indah seperti biola ini dibuat secara ke-betulan.

SRILA PRABHUPADA:  Ya. Itulah yang paling disesalkan bahwa orang kurang ajar semacam itu bisa mendapatkan penghar-gaan. Dia itu sedang membicarakan kebodohan dan menda-patkan penghargaan.

 

Dikutip dari “Life come from life”

Translate »
%d bloggers like this: