Tanya     : Apakah hanya dengan mengamalkan ajaran Bhagavad-gita dalam kehidupan sehari-hari seseorang dijamin mencapai mukti, kelepasan dari kehidupan material dunia fana yang selalu menyengsarakan dan kembali ke dunia rohani nan kekal dan membahagiakan?

Jawab    : Pasti, asalkan anda mengamalkan ajaran Bhagavad-gita itu betul sesuai aturan/ petunjuk yang tercantum dalam Gita itu sendiri. Ini yang pertama. Yang kedua, dalam Bhagavad-gita Tuhan Krishna berkali-kali menyatakan bahwa siapapun yang ingat Beliau pribadi pada saat ajal, dia tidak akan lahiru lagi di alam fana, tetapi mencapai Beliau di dunia rohani. “Janma karma ca me divyam…mam eti sorjuna, siapapun mengerti (ingat) pada saat ajal bahwa kelahiran dan kegiatan-kegiatan Ku di dunia fana berhakekat spiritual, dia tidak akan lahir lagi di alam material tetapi mencapai Aku di dunia rohani (Bg. 4.9). Anta kale ca mam eva smaran muktva kalevaran…yati nasti atra samsayah, siapapun yang pada saat ajal meninggalkan badan jasmaninya dengan hanya ingat kepada-Ku saja, dia seketika mencapai alam rohani tempat tinggal Ku. Tidak ada keraguan tentang hal ini (Bg. 8.5). Prayana kale manasa calena bhaktya yukto yoga balena caiva…sa tam param purusam upaiti divyam, siapapun yang pada saat ajal memusatkan nafas hidupnya di antara kedua lais dan dalam kebhaktian penuh ingat kepada Tuhan, pasti mencapai Beliau (Bg. 8.10). Om iti ekaksaram brahma vyaharam mam anusmaram…sa yati paraman gatim, dengan mengucapkan suku kata om dalam ingatan kepadaku pada saat ajal, seseorang mencapai alam rohani (Bg. 8.13).” Dan yang ke-3, dalam Gita-Mahatmya (sloka 5) dikatakan, “Dengan minum air Gangga Bhagavad-gita ini, inti-sari Mahabharata yang keluar dari bibir padma Sri Visnu, orang tidak akan lahir lagi ke dunia fana.”

Tanya     : Bhagavad-gita adalah kesimpulan Veda. Point/ petunjuk/ perintah apakah yang ditekankan dalam kesimpulan Veda ini?

Jawab    : Penyerahan diri kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krishna. Beliau berkata, “Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamyama, kepada mereka semua, sesuai dengan tingkat penyerahan dirinya kepada-Ku, Aku berikan balasan sepadan (Bg. 4.11). Tam eva saranam gaccha sarva bhavena bharata, wahai keturunan Bharata, berserah dirilah kepada Beliau dalam keadaan apapun juga (Bg. 18.62). Sarva dharman parityajya mam ekam saranam vraja, tinggalkan segala tugas kewajiban dan berserah diri saja kepada-Ku (Bg. 18.66).” Dari sloka yang dikutip terakhir ini, kita dapat mengerti bahwa dharma tertinggi sejati yang sesungguhnya adalah penyerahan diri kepada Tuhan. Dan para vaisvnava-acarya menyatakan bahwa inilah kesimpulan Gita. Berserah diri kepada Tuhan hanya mungkin dilakukan oleh seseorang jikalau dia mencintai Beliau. Anda hanya mauu menyerahkan diri kepada Tuhan Krishna apabila anda mencintai-Nya. Begitu pula saya, dan cinta kepada Tuhan secara literal disebut bhakti.

Tanya     : Kalau begitu, tentu bhakti (cinta-kasih) ini yang menjadi pokok bahasan dalam Bhagavad-gita. Betulkah demikian?

Jawab    : Betul sekali. Dan pada dasarnya Bhagavad-gita adalah buku pedoman spiritual tentang bhakti, cinta kasih kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krishna. Fakta ini ditunjukkan oleh sloka-sloka berikut. Pertama, Gita hanya bisa dimengerti dengan semangat bhakti… Bg. 4.3, Bg. 13.19, Bg. 9.34, Bg. 18.65, Bg. 8.10, Bg.8.22, Bg. 11.54, Bg. 18.55, Bg. 18.67.

Tanya     : Saya telah sering mendengar bahwa di antara bermacam-macam bagian pustaka Veda, Bhagavad-gita lah yang paling sering dikutip oleh para penganut ajaran Veda, paling menarik hati para filosof, paling banyak dibaca dan paling luas dikenal di masyarakat manusia. Dapatkah anda menjelaskan kenapa begitu?

Jawab    : Pertama, sebagaimana saya telah jelaskan sebelumnya, Bhagavad-gita adalah Veda-siddhanta, kesimpulan pustaka suci Veda (lihat dialog no. 63), sehingga ia paling sering dikutip oleh para penganut ajarana Veda. Kedua, Bhagavad-gita adalah filsafat paling luhur dan paling mulia tentang Tuhan (Paramatma), makhluk hidup (jiva), alam (prakrti), perbuatan/ kegiatan (karma) dan waktu (kala), sehingga ia amat menarik hati para filosof. Ketiga, Bhagavad-gita adalah wejangan langsung dari Tuhan sendiri yang dimaksudkan agar manusia mengenal Beliau pribadi. Seperti halnya anda bisa melihat matahari melalui sinarnya. Begitu pula, anda bisa mengerti dan mengenal Tuhan dengan memahami secara benar kata-kata yang Beliau ucapkan dalam Bhagavad-gita. Dan oleh karena setiap orang ingin mengetahui/ mengenal Tuhan, maka otomatis Bhagavad-gita paling banyak dibaca di masyarakat manusia. Ke-4, Bhagavad-gita adalah mahkota indah (beautiful jewel crown) pustaka suci Veda. Maksudnya, pustaka Veda jadi indah, menarik, dan membahagiakan hati bila dibaca, karena di dalamnya ada Bhagavad-gita. Karena itu, Bhagavad-gita sangat terkenal di masyarakat manusia.

Tanya     : Bagaimana anda bisa menyatakan bahwa Bhagavad-gita ini sungguh indah, menarik, dan membahagiakan hati ketika dibaca ataupun didengar?

Jawab    : Itu dinyatakan demikian oleh Sanjaya yang atas karunia guru kerohaniannya (yaitu Rsi Dvaipayana Vyasa) dapat melihat langsung Tuhan Krishna mewejangkan Bhagavad-gita kepada Arjuna dan mendengar dialog mereka berdua tentang Bhagavad-gita di tengah medan perang Kuruksetra, meskipun Sanjaya sendiri duduk di dalam istana Kerajaan Hastinapura mendampingi Raja Dhrtarastra. Sanjaya berkata…Bg. 18.76-77

Tanya     : Saya masih ragu, apakah Bhagavad-gita memang hanya mengajarkan jalan kerohanian bhakti? Sebab kebanyakan penganut ajaran Veda berkata bahwa Gita juga mengajarkan jalan karma, jnana, dan dhyana. Dan mereka berpendapat bahwa jalan manapun yang ditempuh pasti menuntun seseorang kembali kepada Tuhan. Benarkah demikian?

Jawab    : Dengan tegas saya katakan pendapat mereka keliru. Mereka berpendapat begitu karena hanya mau mengutip sloka-sloka Gita yang dianggap membenarkan jalan kerohanian (yoga) yang ditekuninya dan tidak mau mengerti Gita secara menyeluruh. Saya telah katakan tentang hal ini pada dialog no.36. Sebelumnya, pada dialog no. 34 dan kemudian pada dialong no.70, saya telah jelaskan bahwa Tuhan Krishna hanya bisa dimengerti dan dicapai dengan bhakti, bukan dengan menekuni jalan kerohanian (yoga) lain. Dan pada dasarnya Bhagavad-gita hanya mengajarkan bhakti-yoga sebagaimana saya telah tunjukkan dengan mengutip sloka-sloka Gita secara menyeluruh mulai dari Bab IV sampai Bab akhir (XVIII). Sesungguhnya sudah mulai dari Bab II Tuhan Krishna meminta Arjuna agar tidak bekerja secara pamrih, tetapi bekerja dalam pengabdian kepada-Nya (perhatikan Bg. 2.49-50). Dalam dua sloka ini disebutkan buddhi-yoga. Arjuna diminta melaksanakan buddhi-yoga yakni memanfaatkan kecerdasan (intelek) nya untuk tidak berbuat atau bekerja pamrih, tetapi bekerja dalam pengabdian kepada Tuhan Krishna pribadi. Bekerja dalam pengabdian kepada Tuhan atau buddhi-yoga ini adalah istilah lain bhakti-yoga. Sebab dikatakan…Bg. 1.24.

Tanya     : Veda dengan jelas menyebutkan kitab-kitab suci yang menjadi bagian-bagiannya sebagaimana anda telah jelaskan (pada dialog no. 13-15). Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mayoritas penganut ajaran Veda di masyarakat kita memakai berbagai kitab penuntun yang tidak disebutkan sebagai bagian pustaka Veda dalam kehidupan beragama mereka sehari-hari. Mengapa hal ini bisa terjadi demikian?

Jawab    : Sebab Tuhan Krishna yang juga disebut Narayana (sebagaimana dijelaskan dalam Padma-Purana) menyuruh Dewa Siva (dan saktinya, Durgadevi) menyebarkan ajaran-ajaran rohani dalam sifat tamas (kegelapan) dengan tujuan untuk menipu orang-orang Asurik yaitu mereka yang berwatak materialistik dan atheistik. Ajaran-ajaran rohani tamasik (dark scriptures) ini yang bukana bagian dari Veda, pada umumnya adalah bagian-bagian dari kitab Saiva-agama (agama yang obyek pemujaannya adalah Siva sebagai Tuhan) dan kitab-kitab Sakta-agama (agama yang obyek pemujaannya adalah Durgadevi sebagai Tuhan). Itu yang pertama. Yang kedua, dikatakan, SB. 12.3.30. Begitulah, oleh karena kesadarannya didominasi oleh sifat alam tamas, orang-orang Kali-yuga yang disebut modern menjadi bertabiat Asurik. Sehingga mereka sulit sekali mengerti Veda, apalagi menuruti prinsip-prinsip spiritual hidup suci (lihat dialog no. 52-53). Karena itu, Tuhan Krishna memandang perlu membuatkan mereka kitab-kitab penuntun (guide-books) kehidupan di luar ajaran Veda agar mereka tidak terlalu merosot (jatuh) dalam kelahiran berikutnya. Dan kitab-kitab penuntun dimaksud adalah kedua macam kitab Agama tersebut di atas. Kitab Pasupata, Saiva, Maha-saiva, Kankala, Pasanda, dan juga kitab Vrhaspati-tattava, Bhuvana-kosa, Tattva-jnana, dsb. adalah kitab-kitab Saiva-agama. Sedangkan berbagai kitab Tantra yang obyek pemujaannya adalah Dewi Durga, tergolong kitab-kitab Sakta-agama. Ajaran-ajaran rohani Tamasik (dark-scriptures) ini telah menyebar di masyarakat kita sejak beberapa abad yang lalu dan dijadikan kitab penuntun oleh mayoritas penganut ajaran Veda dalam kehidupan beragama mereka sehari-hari. Hal ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam dialog tentang Tuhan (Bhagavan) dan filsafat Mayavada.

Tanya     : Saya pernah dengar bahwa filsafat Vedanta adalah salah satu dari 6 filsafat yang umum dikenal di antara para sarjana Veda. Apakah keenam macam filsafat ini adalah keenam filsafat yang telah kita bicarakan yaitu satu filsafat monistik Advaita-Vada?

Jawab    : Tidak. Enam filsafat yang umum dikenal di antara para sarjana Veda disebut Sad-Darsana. Sad = enam, dan Darsana = pandangan. Jadi Sad-Darsana berarti enam pandangan/ pendapat filosofis dalam menjawab pertanyaan, “Apakah yang menjadi asal-mula (sumber) segala sesuatu?” a. Nyaya, filsafat logika yang dikemukakan oleh Rsi Gautama menyatakan bahwa atom (paramanu) adalah sebab (sumber) terjadinya alam semesta material beserta segala sesuatu yang ada padanya. Kitabnya disebut Nyaya-sutra. b. Vaisesika, filsafat logika murni yang dikemukakan oleh rsi Kanada. Filsafat ini menyatakan bahwa kombinasi atom (paramanu) dalam beraneka ragam cara adalah sebab terjadinya alam semesta material (prakrti). Kitabnya disebut Vaisesika-Sutra. c. Sankhya, filsafat studi analisis, dikemukakan oleh Rsi Kapila (bukan Kapila putra Devahuti). Menurut filsafat ini, unsur-unsur materi adalah penyebab terwujudnya alam semesta material (prakrti) beserta segala isinya. d. Yoga, filsafat kesempurnaan mistik, dikemukakan oleh Rsi Patanjali dalam kitabnya Yoga-sutra. Dikatakan bahwa kesadaran alami adalah sumber (sebab) terjadinya alam semesta material beserta segala makhluk penghuninya. e. Karma-Mimamsa, filsafat sebab-akibat, dikemukakan oleh Rsi Jaimini. Menurut Jaimini, kegiatan pamrih lah yang menjadi sebab adanya segala sesuatu termasuk alam material (prakrti) beserta segala isinya. Kitabnya disebut Mimamsa-sutra. f. Vedanta, filsafat ini juga disebut Brahma-Mimamsa atau Uttara-Mimamsa, karya Rsi Dvaipayana Vyasa, inkarnasi Tuhan Sri Krishna di bidang sastra. Menurut filsafat Vedata, kebenaran Mutlak adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Bhagavan Krishna yang menjadi sebab dan asal-mula segala sesuatu termasuk alam material (prakrti) beserta segala makhluk penghuninya. Semua pembicaraan kita sebelumnya berkaitan dengan filsafat Vedanta ini.

Tanya     : Jika demikian halnya, menurut anda filsafat apakah dari keenam filsafat tersebut yang sungguh lengkap dan sempurna?

Jawab    : Filsafat Vedanta. Sebab pertama, menurut filsafat ini alam material (prakrti) terwujud dari tenaga material (maya) Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krishna (perhatikan Bg. 7.4-5). Atom (paramanu) dan berbagai unsur materi yang dikatakan sebagai sumber (penyebab) adanya alam material (prakrti) oleh filsafat Nyaya, Vaisesika, dan Sankhya, adalah tidak lain daripada unsur-unsur tenaga material (maya) Beliau. Sedangkan unsur kesadaran dan kegiatan (karma) yang dikatakan sebagai sumber (penyebab) adanya alam material oleh filsafat Yoga dan Karma-Mimamsa, adalah tidak lain daripada bagian dari keberadaan tenaga marginal (ksetrajna atau tatastha-sakti) Nya yaitu para makhluk hidup (jiwa) yang menghuni alam material. Kedua, kelima filsafat (Nyaya, Vaisesika, Sankhya, Yoga, dan Karma-Mimamsa) tersebut masing-masing berusaha menjelaskan tentang “sumber” yang menjadi asal-mula segala sesuatu (yaitu dunia fana beserta segala makhluk penghuninya) berdasarkan logika, analisis, dan rasionalitas sang penulis tanpa mempedulikan peranan Tuhan yang menurut Veda adalah sumber dan asal-mula segala sesuatu. Ketiga, dalam Bab II dan Bab III Vedanta-sutra secara panjang-lebar diungkapkan kekeliruan kelima filsafat tersebut.

Tanya     : Jadi filsafat yang sungguh lengkap dan sempurna adalah filsafat Vedanta, sebab ia adalah filsafat Veda itu sendiri. Dan anda telah menjelaskan (pada dialog no.83) bahwa bila seseorang sungguh ingin mengakhiri kehidupan materialnya yang menyengsarakan di dunia fana, dia hanya perlu membaca/ mempelajari filsafat ini sebagaimana tercantum dalam Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di bawah bimbingan guru kerohanian (Acarya). Dapatkah anda menjelaskan secara singkat bagaimana caranya mempraktekkan ajaran filosofis kedua kitab suci Veda yang utama ini?

Jawab    : Inti filsafat Vedanta yang tercantum dalam Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam adalah pelayanan cinta kasih (bhakti) kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krishna. Karena itu, masalahnya adalah bagaimanakah caranya mengembangkan cinta kasih (bhakti) kepada Tuhan Krishna? Pada zaman Kali yang disebut abad modern sekarang, Tuhan Krishna telah memberikan cara yang sungguh sederhana, mudah, meriah, dan menyenangkan yaitu memuja dan memuji Beliau dengan mengucapkan/ mengumandangkan/ mengidungkan/ menyanyikan nama-nama suciNya dengan tekun dan teratur secara berkelompok atau bersama-sama. Ini disebut proses kirtana yang merupakan salah satu dari 9 proses jalan kerohanian bhakti atau bhakti-yoga. Hal ini saya telah singgung sebelumnya (pada dialog no. 77). Oleh karena nama lain Tuhan Krishna adalah Sri Hari, maka kegiatan spiritual memuja dan memuji Beliau dengan mengumandangkan nama-nama sucinya disebut Hari-nama-sankirtana.

Tanya     : Tuhan Krishna memiliki amat banyak nama seperti Govinda, Kesava, Janardana, Vasudeva, Visnu, Murari, Madhusudana, dsb. Apakah saya boleh memilih dan mengucapkan salah satu atau beberapa nama tersebut untuk memuja dan memuji Beliau setiap hari?

Jawab    : Tidak. Veda (Kali-santarana-upanisad) menganjurkan agar setiap orang pada zaman Kali yang dikatakan abad modern sekarang, mengucapkan nama-nama suci Tuhan Krishna yang tersusun berupa maha-mantra berikut: Hare Krsna Hare Krsna Krsna Krsna Hare Hare. Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare. Anda hanya perlu mengucapkan/ mengumandangkan/ menyanyikan maha mantra ini secara tekun dan teratur setiap hari. Dengan menuruti proses/ praktik spiritual Hari-Nama-Sankirtana ini, pelan tetapi pasti, diri anda jadi tersucikan. Cinta-kasih (bhakti) kepada Tuhan Krishna bangkit di lubuk hati, dan anda tertuntun ke tingkat kehidupan spiritual yang sungguh membahagiakan. Sebab dikatakan, “Itisodasakam nam nam kali-kalmasa nasanam natah parataropayah sarva vedesu drsyate, (maha mantra yang tersusun dari) enam belas nama suci Tuhan atau tiga puluh dua suku kata ini yang membentuk nama-nama suci Tuhan, adalah satu-satunya cara untuk mengatasi segala pengaruh buruk zaman Kali. Dalam semua pustaka Veda disimpulkan bahwa untuk menyeberangi samudra kegelapan hidup material, tidak ada cara lain selain daripada mengumandangkan keenam belas nama suci Tuhan ini.” (Kali-santarana-upanisad)

Tanya     : Apakah ada lagi sloka-sloka Veda lain yang menyatakan bahwa kirtana atau sankirtana kepada Tuhan Krishna adalah praktek spiritual yang memang dianjurkan oleh Veda untuk dilaksanakan pada zaman Kali sekarang?

Jawab    : Ada. Pertama, dikatakan, “Harer nama harer nama harer namaiva kevalam kalau nasty eva nasty eva nasty eva gatir anyata, pada zaman Kali tidak ada cara lain, tidak ada cara lain, dan tidak ada cara lain untuk maju dalam jalan kehidupan spiritual selain dari pada mengumandangkan nama suci, nama suci, nama suci Tuhan Hari.” (Brhan-naradiya-purana 38.126). Kedua, dalam Srimad-Bhagavatam (12.3.51) dikatakan, “Kaler dosa nidhe rajan asti hy eko mahan gunah, wahai sang raja, meskipun zaman Kali-yuga penuh dengan kegiatan berdosa, tetapi zaman Kali ini membawa satu keberuntungan besar yakti kirtanad eva krsnasya muktah-sangah param vrajet, hanya dengan mengumandangkan nama-nama suci Tuhan Krishna, orang dapat bebas dari derita kehidupan material dunia fana dan kembali ke dunia rohani yang membahagiakan.” Ketiga, Visnu-purana (6.2.17), Padma-purana Uttara-kanda (72.25) dan Brhan-naradiya-purana (38.97) menyatakan, “Phala spiritual apapun yang dicapai melalui meditasi pada masa Satya-yuga, melalui pelaksanaan yajna (ritual) pada masa Treta-yuga, dan dengan memuja Arca-Vigraha Nya secara mewah pada masa Dvapara-yuga, phala serupa juga bisa dicapai pada masa Kali-yuga sekarang hanya dengan kalau-sankirtya kesavam, mengumandangkan nama-nama suci Sri Kesava (Krishna).” Ke-4, dalam Bhagavad-gita Tuhan Krishna berkata, “Satatam kirtayanto mam, senantiasalah mengumandangkan ke-agungan-Ku dengan mengidungkan nama-nama suci-Ku.” (Bg. 9.14). Masih banyak lagi sloka Veda lain yang bisa dikutip untuk menunjukkan bahwa sankirtana-yajna atau Hari-nama-sankirtana-yajna adalah praktek spiritual yang dianjurkan oleh Veda untuk dilaksanakn pada zaman Kali sekarang.

Tanya     : Jadi ajaran spiritual Veda yang amat banyak, luas, dan bervariasi itu dapat dipraktikkan secara mudah dan sederhana dalam masa Kali-yuga sekarang dengan melaksanakan Hari-nama-sankirtana. Bukankah demikian kesimpulannya?

Jawab    : Ya, memang demikian. Terutama sekali bagi kita yang hidup pada zaman Kali, sambil secara tekun dan teratur melaksanakan Hari-nama-sankirtana, kita hanya perlu membaca/ mempelajari/ mengerti kesimpulan pustaka suci Veda yaitu Bhagavad-gita. Jadi bagi kita, orang-orang Kali-yuga yang pendek usia dan harus bekerja keras setiap agar bisa makan dan bertahan hidup, sesungguhnya ajaran spiritual Veda yaitu Hari-nama-sankirtana yang harus kita tekuni hanya terdiri dari 4 unsur, yaitu: a. ekam sastram devaki-putra-gitam, satu kitab suci yaitu Bhagavad-gita yang diwejangkan oleh Sri Krishna, putra Ibu Devaki. b. eko devo devaki-putra eva, satu Tuhan yaitu Sri Krishna, putra Ibu Devaki. c. eko mantras tasya namani yani, satu mantra yaitu nama-nama suci Beliau. Dan d. karmapy ekam tasya devasya seva, satu kegiatan yaitu pelayanan cinta-kasih (bhakti) kepada Sri Krishna, Kepribadian Tuhan yang Maha Esa. Demikian dikatakan oleh Acarya Sankara dalam Gita-Mahatmya nya sloka 7.

Tanya     : Anda telah berbaik hati sekali menjelaskan secara panjang lebar kepada saya tentang pustaka suci Veda yang belum diketahui dan dimengerti oleh mayoritas penganut ajaran Veda itu sendiri. Saya hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati anda. Semoga Tuhan Krishna memberkati.

Jawab    : Dan semoga jawaban-jawaban yang saya telah berikan bermanfaat. Haribolo!

[anti-both]

Oleh Ngurah Heka Wikana (Dengan sedikit perubahan)

Translate »
%d bloggers like this: