Tiba-tiba saja, dalam sebuah percakapan lewat Yahoo! Messenger, Prabhu Darmayasa, orang yang pertama kali datang ke Palangka Raya dan mengajarkan Hare Krishna (Bhakti Yoga) di Palangka Raya sekitar tahun 1995 itu, mengajakku mengikuti Festival Maha Kumbha Mela di kota Allahabad. Beliau bilang, Maha Kumbha Mela seperti tahun 2013 sekarang ini hanya terjadi setiap 12 tahun sekali. Belum tentu di tahun 2025 nanti, di penyelenggaraan acara Maha Kumbha Mela berikutnya, Tuhan masih memberikan anugerah pada kita untuk menghadirinya. Makanya, beliau memintaku agar bisa ikut, berangkat bersama rombongan hampir 60-an peseta lain dari seluruh Indonesia.

Jujur kukatakan bahwa aku tidak punya uang untuk berangkat ke India saat ini. Jangankan untuk ke India, untuk tirtha yatra ke tempat-tempat suci di Jawa dan Bali saja aku tidak punya biaya. Tapi beliau menjawab dengan santai, “Santih, damai Mas. Ayolah berangkat sama saya.”

“Tapi saya benar-benar tidak punya dana, Prabhu” aku menegaskan.

“Damailah, soal itu jangan dipikirkan. Segeralah perpanjang paspor…Paspor yang dulu masih ada khan?” kata beliau serius.

Berkali-kali aku menolak (berpura-pura, sih) ajakan Prabhu Darmayasa itu dalam percakapan lewat YM di hari-hari selanjutnya, karena aku tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi berkali-kali itu pula beliau ‘memaksa’ aku untuk berangkat. Jujur kuakui, ego dan rasa congkak diam-diam menyelinap dalam hati saat itu. “Wah, kok aku yang diajak berangkat gratis? Ada apa ini?”

Rasa seperti itu muncul, karena yang mengajakku, menurutku bukanlah ‘orang sembarangan’.  Prabhu Darmayasa pernah bekerja di Kedutaan Indonesia di New Delhi selama 23 tahun sambil mendalami belajar mengajar Weda dan menguasai Yoga Kundalini. Ia telah berguru pada puluhan yogi di India, dan saat ini diakui sebagai seorang yogi yang mumpuni oleh banyak kalangan, oleh umat Hindu di Indonesia, dan terutama di India. Tapi sejak tahun 2000, beliau memilih meninggalkan pekerjaan dengan gaji dollar di Kedubes Indonesia di India itu, dan memilih berkeliling Indonesia, India, dan Eropa untuk memperkenalkan Teknik Meditasi Angka, dan juga Bhakti Yoga.

Sejak awal, aku menganggap Prabhu Darmayasa sebagai orang yang jasanya tidak mungkin kulupakan sepanjang hidupku. Bagiku, beliau adalah guru spiritual yang pertama. Karena kedatangan beliau ke Palangka Raya dan memperkenalkan ajaran Bhakti Yoga, aku dan teman-teman kini dapat mengenal Sri Krishna dalam artian yang sesungguhnya.

Perubahan ‘rute perjalanan’ hidupku dari seorang pemuda Hindu Jawa yang minder dan tidak mengenal ajaran Veda, menjadi seorang penulis yang kini selalu siap sharing dan berdiskusi dengan para kiai, ustad,  frater, suster dan pendeta yang ingin lebih mengenal ajaran Hindu, bermula dari pertemuanku dengan Prabhu Darmayasa. Selain berhasil menulis buku Hindu yang digemari umat Hindu, terbukti dengan undangan bedah buku lebih di dari 15 tempat  – ada hal lain yang kudapatkan. Aku pernah menjadi pembicara dalam seminar internasional di Kedutaan India di Jakarta tahun 2005, untuk memaparkan hasil penelitian tentang persamaan dan perbedaan antara gurukula Hindu di India dan pondok pesantren Islam di Indonesia, hasil penelitianku tahun 2002 di India. Seminar itu diadakan dalam rangka peringatan kerjasama India dan Indonesia yang telah terjalin lebih dari 50 tahun.  Saat itu Gus Dur ( panggilan mantan Presiden Abdurrachman Wachid)  juga menjadi salah seorang pembicaranya. Aku senang bukan main, karena Gus Dur adalah salah seorang  lulusan pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, salah satu pesantren tradisional yang sempat kuteliti bersama Bhakti Raghava Swami untuk tesis kami.  Betapa terharunya aku saat itu, bisa bersalaman dengan seorang tokoh sekaliber Gus Dur. Dan tanpa di duga, aku juga bersama Gus Dur lagi saat diminta sebagai pembicara mewakili Hindu dalam seminar Nasional “Pantheisme – Manunggaling Kawulo lan Gusti dalam Naskah Nusantara” di Perpustakaan Nasional RI di Salemba tahun 2007. Dalam kedua seminar itu, aku menjadi pembicara yang paling yunior, ditengah para profesor dari berbagai perguruan tinggi terkemuka dan ahli-ahli dalam bidangnya. Untungnya saat seminar seperti itu, tidak ada orang yang mengetahui latar belakangku sebagai anak transmigran miskin, yang kuliah harus sambil jualan bakso….hehehhe…

Saat itu, dan hingga kinipun, aku tetap merasa bahwa semua prestasi yang kuraih itu terjadi, berkat ajaran yang dirintis penyebarannya di Palangka Raya oleh Prabhu Darmayasa. Tentu saja, aku juga tidak akan pernah bisa melupakan jasa para bhakta di Palangka Raya, para seniorku yang dulu selalu membantuku – mulai dari mengantarkan beras DOLOG jatah bulanan mereka ke barakku saat aku kuliah S1 dulu, hingga membantu mempermudah proses pernikahanku di Palangka Raya di tahun 2003  – yang semuanya juga berawal dari perjumpaan mereka dengan Prabhu Darmayasa.

Aku juga berhutang budi kepada Mr. Greg John Davidson, yang dikalangan para staff di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta  lebih dikenal sebagai dalang wayang kulit Jawa bernama Ki Gaura Mancacaritadipura. Tidak banyak yang tahu, Ki Gaura adalah seorang Hindu asal Australia, dia sebenarnya adalah murid Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang diberi tugas untuk mengajarkan Hare Krishna di Indonesia sejak akhir tahun 1970-an. Beliau sudah tinggal di Indonesia selama lebih dari 30 tahun, telah menjadi warga negara Indonesia. Pak Gaura adalah orang yang menggarap proposal pengajuan wayang, keris, batik, angklung, dan tari saman sampai berhasil diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia. Tapi beliau orang yang sangat rendah hati, yang tidak mau namanya dipublikasikan. Beliaulah yang menikahkan aku dengan Wayan Kurmiati (Kunti), istri tercintaku, dalam sebuah upacara agnihotra di ashram Yogyakarta. Dialah yang memberi nama pada anak laki-laki kami, KAUNTEYA SURYA ATMAJA. Beliaulah yang awal mulanya memperkenalkan Hare Krishna kepada Prabhu Darmayasa.

Bagiku, apapun akan kulakukan untuk membalas hutang budi yang sesungguhnya tak terbayar itu. Ajakan Prabhu Darmayasa agar aku ikut perayaan Maha Kumbha Mela bulan Februari tahun ini kuanggap sebagai perintah yang harus kulaksanakan. Ajakan berangkat dengan semua biaya ditanggung itu sontak menelorkan rasa haru, rasa syukur dan rasa tak percaya bercampur aduk di benakku.

Rupanya, Tuhan mendengar doa dan keinginanku selama ini. Dulu sepulang dari India tahun 2002, banyak teman yang bertanya, apakah aku sempat nyemplung di Sungai Gangga? Apakah aku sempat mengunjungi Kuil Krishna yang seluruhnya terbuat dari emas di India Selatan? Apakah aku sempat ke tempat suci ini, tempat suci itu? Sayangnya jawabanku saat itu hanya “nehi..nehi…”. Tidak sempat, jawabku.

Dalam kunjungan dua bulan di India tahun 2002 itu, waktu dan tenagaku memang tercurah sepenuhnya untuk penelitian di tiga gurukula yang letaknya sangat berjauhan. Akibatnya, aku sama sekali tidak sempat mengunjungi tempat-tempat suci di India, yang biasa dikunjungi para peziarah Hindu. Saat itu, yang paling menyita waktu adalah menterjemahkan angket atau kuisioner untuk guru dan siswa gurukula. Dari Indonesia, kami persiapkan angket atau kuisioner berbahasa Inggris dengan huruf Latin. Untuk di gurukula Bhaktivedanta Gurukula and International School, India Utara, angketku tidak menjadi masalah, bisa segera kusebarkan dan segera dijawab oleh guru dan siswa yang kebanyakan adalah anak-anak orang Hare Krishna yang berasal dari berbagai negara. Mereka memang menulis dengan aksara latin, dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Karenanya, mereka tidak mengalami kesulitan utk menjawab kuisionerku.

Tapi di Swami Narayana Gurukula, Hyderabad, India Tengah, kuisionerku harus kuterjemah ke dalam bahasa Hindi, dan ditulis dalam huruf Devanagari. Meski merupakan gurukula modern dengan fasilitas pendidikan yang sangat mewah dan lengkap, gurukula ini tetap mewajibkan seluruh guru dan siswanya untuk menulis dalam huruf Devanagari dan berbahasa Hindi sebagai bahasa pengantar wajib dalam pembelajaran mereka. Ini hal yang sangat mengagumkan bagiku, sebab dengan begitu bahasa dan akasara lokal masing-masing daerah di India masih dipertahankan dan tidak musnah. Berbeda misalnya dengan aksara Jawa dan aksara Bali yang kini hanya menjadi pengetahuan sampingan, materi muatan lokal bagi siswa di Bali dan di Jawa. Mereka tidak menggunakan aksara-aksara itu sebagai media menulis sehari-hari. Suatu saat, bisa jadi orang Jawa dan orang Bali harus pergi ke museum sekedar untuk melihat aksara-aksara yang dulu digunakan oleh nenek moyangnya, karena sudah punah.

Begitupun saat di gurukula tradisional Sringeri, India Selatan. Lagi-lagi, kuisionerku harus kuubah dalam bahasa Kannada dan juga aksara (font) Kannada, bahasa dan aksara yang dominan di pakai di provinsi Karnataka. Jadilah, bersama asisten penelitianku yang memang asli orang India, kami menghabiskan banyak waktu untuk merubah kuisioner ke dalam berbagai bahasa dan aksara-aksara lokal, sesuai dengan lokasi di mana gurukula tersebut berada. Setelah kuisioner itu dijawab dengan bahasa Hindi dalam tulisan Devanagari dan juga dalam bahasa Kannada berhuruf Kannada, kami harus menterjemahkan kembali jawaban kuisioner itu ke dalam bahasa Inggris, agar dapat dianalisa dan diinterpretasikan oleh Bhakti Raghava Swami. Benar-benar pekerjaan yang menguras tenaga dan waktu.

Belum lagi waktuku habis di perjalanan naik kereta api dari Mathura, India Utara menuju Hyderabad, India Tengah, dan lanjut lagi ke Sringeri di India Selatan, lalu balik lagi ke New Delhi (India Utara) tempat penerbanganku kembali ke Indonesia. Kalau di hitung, mungkin lebih dari 20 hari penuh waktuku habis di atas kereta India.

Sepulang dari India untuk penelitian itu, diam-diam aku berdoa kepada Sri Krishna agar suatu saat dalam hidupku nanti bisa membiayai diri sendiri pergi ke India sekali lagi. Aku berdoa, semoga aku bisa ke India tidak untuk penelitian lagi, tapi khusus untuk tirtha yatra,  mandi di sungai Gangga, dan mengunjungi tempat-tempat suci lainnya. Dan, rupanya doaku dikabulkan tahun 2013 ini. Hanya sayangnya, untuk kedua kalinya, aku ke India atas pembiayaan dari guru spiritualku, sesuatu yang menurut aturan dan norma semestinya tidak boleh dilakukan. Mestinya, murid lah yang menyumbangkan uangnya kepada seorang guru kerohanian, agar sang guru bisa berkeliling mengajarkan ajaran dharma, bukan? Tapi apa boleh buat, kali ini rupanya sebuah pengecualian. Maklumlah, kali ini sang murid adalah seorang yang miskin, mantan penjual bakso, yang hidupnya masih belum mapan sampai sekarang…

Meski begitu, aku tetap mensyukuri keunikan rute perjalanan hidupku. Satu hal yang membuatku selalu tersenyum geli, adalah saat pertama  kali aku memenuhi panggilan bekerja  sebagai dosen CPNS di kampus STAH Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, pertengahan Mei tahun 2010 yang lalu.  Dulu, saat masih jualan bakso tahun 1996, rute jualanku adalah keluar jalan Sisingamangaraja, menelusuri sepanjang Jalan G Obos Induk, lalu belok kanan di Jalan G Obos IX, melewati masjid raya dan  kampus islam STAIN Palangka Raya,  lalu masuk ke komplek Perumahan Palangka Permai, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Perumahan G Obos XII. Dulu, langganan baksoku kebanyakan adalah mahasiswi STAIN Palangka Raya, yang menyewa di perumahan tersebut. Tahun 1990-an saat itu, jalan G Obos X belum ada, kampus STAH swasta juga masih berlokasi di tengahkota Palangka Raya, di Jalan Tambun Bungai.

Aku tersenyum geli, saat hari pertama berangkat kerja pada tahun 2010 itu aku baru sadar, rute tempatku bekerja ternyata adalah rute yang sama dengan rute saat setiap hari aku mendorong gerobak baksoku tahun 1996 dulu. Hanya bedanya, kalau tahun 1996 itu hampir setahun penuh kudorong gerobak baksoku menelusuri Jalan G Obos Induk, lalu BELOK KANAN masuk ke Jalan G Obos IX, kini untuk berangkat kerja, aku harus menelusuri Jalan G Obos Induk,  lalu BELOK KIRI di untuk masuk Jalan G Obos X, menuju kampus STAH. Jadi, rutenya sama, hanya dulu di perempatan belok kanan, sekarang belok kiri. Weleh…sepertinya memang sudah nasibku harus menelusuri rute yang itu itu saja…sejak jadi mahasiswa sampe jadi dosen…rute nasibnya ngga ada bedanya…

Di sebuah stasiun televisi swasta, pernah ada sinetron berjudul “TUKANG BUBUR NAIK HAJI…”. Melihat itu, ada teman yang usul, gimana  kalau kita buat sinetron tandingan dengan judul “TUKANG BAKSO TIRTHA YATRA KE INDIA?”  Saya cuman tersenyum, sambil bingung, jangan-jangan nanti selesai tayang sinetronnya ada yang nyeletuk tanya sama tukang baksonya…”Apa sih yang kamu dapat sepulang dari tirtha yatra ke India? Apa efeknya setelah mandi di sungai Gangga saat perayaan Maha Kumbha Mela begitu? Trus, aku harus manggil kamu dengan gelar apa nih?”

 Bersambung…

Dikutip dari Tulisan Suryanto, M.Pd

Translate »
%d bloggers like this: