Jika membaca dari judulnya saja, mungkin akan ada banyak kesan yang ditimbulkannya, sebab jika ini adalah sebuah ajakan, maka sebagai orang hindu anda tentu akan marah, tetapi jika kalimat itu adalah sebuah pertanyaan, anda pasti akan diliputi rasa ingin tahu ‘kenapa’ atau jika ini adalah sebuah pernyataan, anda juga mesti menelusuri sebab musababnya guna mencari benar tidaknya ‘Pernyataan ini’

Berawal dari keinginan teman saya yang ingin membuktikan dan merasakan sendiri suasana Nyepi atau The day of silence sebagaimana yang sering dibacanya dalam buku-buku wisata tentang Bali dan juga cerita sahabatnya yang pernah melewati hari Nyepi dimaksud, saya menawarkan pondok saya di desa untuk hal ini, kebetulan juga sudah beberapa tahun terakhir saya lebih sering merayakan Nyepi di perantauan. Jadi hal ini saya rangkaikan dengan temu kangen kawan-kawan di desa sekaligus sebagai media untuk menjamu teman saya yang nota bene berasal dari budaya yang sangat berbeda yakni negeri Belanda. Pulau Bali yang sering diperkenalkan sebagai Pura Seribu Pura, Pulau Surga, Pulau Dewata, Last paradise in the world, dan lain lain, memang telah menjadi buaian indah yang selalu memabukkan masyarakat Bali akan segudang pujian manis ini. Dan inilah gambaran Pulau Bali yang dijadikan umpan paling yahud guna menarik kunjungan wisata ke daerah ini. Memang jika dilihat dari budaya,keramah tamahan, kepolosan, dan pemandangan alamnya dalam era tahun 80-an ke bawah, Bali memang pantas mendapatkan berbagai predikat dimaksud apalagi saat saya berkesempatan mencari bandingan ke Negara lain, semakin saya menyadari bahwa terlahir di Bali, dan diperkenalkan dengan ajaran Veda yang universal adalah benar-benar merupakan keberuntungan besar. Walaupun bagi beberapa orang mungkin akan menganggapnya biasa bahkan tidak sama sekali. Maka demikianlah, dengan berbekal sedikit bahasa saya berusaha menjelaskan rangkaian hari raya Nyepi ini yang dimulai dari prosesi Melis atau Melasti. Pada hari itu saya memakaikan pakaian adat untuk teman saya itu agar diijinkan masuk ke dalam areal Pura. Awalnya semua berjalan baik saja sampai saat teman saya bertanya “Kenapa ia harus dipakaikan sarung yang terlalu melilit dan panjang sedangkan pemedek yang lain (terutama kaum muda-mudinya) dilihat ada yang memakai sarung bahkan di atas lutut, mirip orang memakai rok. Wah untuk pertanyaan pertama ini saja saya harus sudah memeras otak mencarikan jawaban sebab waktu saya ada dalam usia mereka, hal itu tidak ada sama sekali, budaya demikian sama sekali tidak pernah diperkenalkan dalam hindu. Sebab kalaupun ada pemakaian kamben yang agak pendek model jaman kerajaan terdahulu, itu disertai dengan lancingan yang agak panjang, batas kambennyapun rata-rata di bawah lutut bukan seperti sekarang. Model berpakaian seperti itu lebih diarahkan bagi prajurit kerajaan sehingga bisa tampak lebih elegant sebagai kstariya, lantas bagaimana jika model berpakaian seperti ini juga ditampilkan saat ke pura untuk menghadap ida Bethara? Pantaskah..? belum lagi busana putrinya yang banyak transparan serta memberikan ruang terbuka di bagian depannya sehingga menimbulkan pemandangan yang “kurang pas” juga cara memakai kamben yang hampir memperlihatkan bagian betis sampai ke lutut, sungguh suatu pemandangan yang membuat mata lelaki normal sulit untuk melewatinya. Inilah salah satu dampak akulturasi budaya tanpa filterisasi. Biasanya kalau para lelaki protes mengenai hal ini, kaum wanita dan remaja putri akan dengan lantang menjawab “makanya jangan Dongeng – tidong-tidong bakat dengeng (melihat sesuatu yang tak semestinya dilihat, apalagi ke tempat suci, pikiran mesti bersih dong)” sepintas jawaban ini memang masuk di akal juga, tetapi jika kita balikkan pernyataan tadi dengan mengacu kepada kalimat ‘tempat suci’, maka pantaskah pergi ke tempat suci memakai busana dan cara berpakaian seperti itu ? sementara di agama lain hal tersebut justru menjadi sebuah larangan untuk memperlihatkan aurat apalagi dalam hubungannya dengan tempat suci. Kisah Isaf dan Naila yang dikutuk menjadi batu oleh Allah karena tidak senonoh dalam areal mesjid mungkin telah dijadikan pelajaran berharga bagi kaum muslimin sehingga aturan berpakaian bagi umatnya diberlakukan sedemikian rupa. Lalu bagaimana dengan umat hindu etnis bali? apakah cerita kejatuhan seorang bidadari beserta Bhisma dan 6 orang lainnya ke bhumi hanya karena tanpa sengaja melihat kain bidadari tersebut yang tersingkap saat di Surga hanya dianggap sebagai mitologi semata sehingga tidak perlu dikhawatirkan?

Jika kita mengerti bahwa fungsi pakaian disamping untuk menutupi badan adalah juga sebagai perhiasan belaka, maka seyogyanya kita menyadari kapan, dimana, dan bagaimana menggunakannya. Misalkan saja jika kita memakai peci, kemeja, dan sepatu hanya untuk pergi ke kamar mandi, ini tentu namanya tidak waras atau sebaliknya memakai pakaian tidur untuk untuk menghadap bupati, pastilah kita akan dianggap sudah hilang ingatan. Oleh karena itu penggunaan pakaian atau perhiasan badan ini harusnya disesuaikan dengan tempat, waktu, dan keadaan yang menyertainya. Misalkan saja saat kita akan bepergian dengan kekasih, maka kita akan menggunakan busana yang sangat harum, bersih, dan membanggakan begitupun jika kita akan menghadap bapak Gubernur, maka kita akan menggunakan pakaian yang sangat rapi, dan disetrika agar lebih berwibawa. Bayangkan jika untuk menghadap penguasa daerah kecil saja kita sudah begitu teliti dalam penyiapannya, maka tidakkah untuk menemui Tuhan sang penguasa semesta raya, manusia hendaknya bisa bersikap dan berpakaian jauh lebih sopan dan bermartabat dari apa yang ditunjukkannya kepada penguasa sementara di bumi.dan bukannya fashion show  ke tempat suci untuk menghindari anggapan “ketinggalan jaman”.

Menanggapi pertanyaan pertama dari teman saya itu, agar ia bisa menerima kebenarannya maka saya tunjukkan beberapa tetua dan juga saya yang masih mempergunakan cara berpakaian model yang lama, sehingga apa yang dilihatnya pada kaum muda-mudi sekarang bukanlah budaya hindu sesungguhnya. Selanjutnya dalam prosesi melasti pada hari itu, ketika saya berusaha menjelaskan makna dari ritual melasti ini yang pada intinya adalah symbolis untuk menghilangkan atau menjauhkan kekotoran dari bhuana agung dan bhuana alit dengan menggunakan air laut (tirta pengeleburan), teman saya menyela dengan pertanyaannya sambil menujuk seorang remaja putri yang terkesan tidak mau diperciki tirta. Dengan raut muka keheranan ia bertanya “Why..? if you say this water can used for….., why she doesn’t want ?”. saya tidak bisa memberikan jawaban untuk hal ini, sebab untuk mendapatkan kepastian, tentunya saya harus menanyakan langsung kepada yang bersangkutan alasan di balik sikapnya itu. Namun sekedar memberikan gambaran sebuah kemungkinan dengan melihat gejala yang nampak, saya mengatakan bahwa air sifatnya memang membersihkan, jadi jika itu dipercikkan ke wajah apalagi di pakai meraup, bisa dibayangkan bahwa segala kosmetik yang telah dipakainya akan luntur dan hilang. Pernyataan itu walaupun belum merupakan jawaban pasti tetapi cukup bisa diterima oleh teman saya. Akhirnya setelah persembahyangan selesai saya beranikan mendekati remaja putri itu, lantas dengan gaya bercanda mengatakan “Takut kosmetiknya hilang ya, makanya tadi saya liat tidak mau meraup tirta ke wajah” yang dikomentari hanya tersenyum saja sambil mengatakan “Ah…Bli ternyata sangat memperhatikan saya ya?” ujarnya berlalu meninggalkan kerumunan orang lainnya.

Sehari setelah ritual melasti tersebut, saya mengajak teman tadi menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang diadakan oleh hampir seluruh desa di Bali. pawai yang cukup mengundang tawa geli karena bentuknya memang aneh-aneh, lucu, dan kadang tidak masuk diakal. Setelah beberapa ogoh-ogoh lewat, tibalah akhirnya kelompok yang mengusung sebuah boneka raksasa yang sama sekali jauh dari kesan menyeramkan model ogoh-ogoh yang lain sebab ogoh-ogoh yang ditampilkan adalah gambaran seorang wanita yang sedang membawa minuman dengan pakaian serba mini. “What’s this” Tanya teman saya dengan tersenyum geli. Sayapun berusaha memberikan penjelasan yang se akurat mungkin. Jika melihat dari music pengiringnya yang tidak memakai gambelan,tapi music discotik, maka saya yakinkan bahwa ogoh-ogoh ini adalah symbol Cewek Café yang lagi menjamur di daerah ini. Walaupun tidak berperawakan seram dan menakutkan tetapi ternyata kehadiran dari para Waitress Ples-ples ini telah membuat para remaja putri dan juga ibu-ibu di pulau dewata  merasa ketakutan akan terampasnya pasangan hidup mereka. Satu hal lagi yang membuktikan bahwa pertahanan masyarakat hindu etnis bali sedang mengalami gempuran serius dari berbagai sisi. Sebutan Pulau Dewata yang nota bene berarti Pulau yang dihuni oleh masyarakat berwatak Dewa semakin hari semakin perlu dipertanyakan karena terus berkembangnya pusat hiburan remang-remang di daerah ini dan juga cara berpakaian masyarakat lokalnya (khususnya remaja putri dan ibu-ibu) yang semakin berani dan sama sekali tidak mencerminkan budaya hindu.

Pukulan telak terakhir yang sangat menyudutkan saya sekaligus sangat memalukan nama Hindu adalah saat dilangsungkannya perayaan Nyepi dimaksud. Bahkan pagi itu, ketika hari belum begitu siang, saya mendengar anak-anak bermain, sementara beberapa orang dewasa mencari tempat aman dari pantauan pecalang untuk bermain kartu. Akhirnya dengan nada yang sangat kecewa saya berusaha menjelaskan tentang bagaimana masyarakat Hindu (dalam hal ini beberapa orang) memang menjalani rutinitas agamanya sambil lalu saja tanpa mau tahu, pura-pura tidak tahu, dan bahkan ada yang tidak mau tahu dalam hal menggali makna setiap hari raya agama yang dilaksanakannya dan saya kira hal yang sama juga banyak terjadi di beberapa agama lain sehingga banyak bermunculan spekulasi dan tafsir keagamaan menurut cara dan pemahamannya sendiri-sendiri. Sehingga bermuncullah istilah agama KTP, yakni agama yang hanya dipakai identitas kependudukan saya tetapi tidak dimengerti ajarannya secara sungguh-sungguh. Saya berusaha meyakinkan bahwa segala sesuatunya akan berpulang pada diri masing-masing (See Always Inside). Jika ritual ini kita gali maknanya dan praktekkan dari diri sendiri, niscaya itu juga akan memberikan keberuntungan yang baik kepada kita dan juga lingkungan. Ibaratnya jika di sebuah kapal ada orang yang tidak mengerti akan fungsi kapal, lalu ia melakukan hal yang menyebabkan kapal itu rusak, maka kita yang tahu hendaknya memberitahukan kebenaran, tetapi jika tidak bisa setidaknya kita tidak ikut melakukan perbuatan yang semakin membuat kapal yang kita tumpangi lebih rusak. Biarlah mereka yang kurang mengerti pentingnya hari raya Nyepi melakukan tindakan yang bertentangan dengan catur brata penyepian itu, tetapi kita yang sudah memiliki pengertian, akan menjadi sangat salah jika mengikuti kegiatan mereka.bukankah jika kita tidak bisa menolong, maka hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan diam atau setidaknya jangan melakukan sesuatu yang bisa mengakibatkan kesusahan orang bertambah ? maka demikianlah saya memberikan uraian untuk menutupi rasa malu saya menjadi bagian dari komunitas hindu yang hanya bersuka ria dalam kemegahan ritual tanpa mau mengambil spiritnya. Ritual yang seharusnya menjadi Spiritual. Mari belajar mengerti pesan luhur para pendahulu kita yang mereka selipkan dalam berbagai rangkaian upacara keagamaan di bali, sebab jika kita tidak menghormati agama kita sendiri, bagaimana mungkin kita meminta orang lain untuk menaruh hormat pada agama kita?

%d bloggers like this: