Di India diceritakan ada keluarga miskin di mana sang ayah sangat ulet bekerja, hidup hemat dan kelakuannya susila. Semakin lama keluarga itu semakin kaya dan akhirnya menjadi kaya raya. Sang ayah setiap selesai makan maka dia naik ke atas loteng untuk membersihkan giginya dengan tusuk gigi. Setelah selesai membersihkan gigi lalu tusuk gigi itu disimpan lagi dengan baik di dalam kotak kecil sebelum akhirnya turun dari loteng. Begitulah perilaku ayah itu setiap hari setiap selesai makan. Setelah sang ayah meninggal dunia maka anak-anaknya pengen tahu bahwa apa sebenarnya yang dikerjakan oleh ayahnya di loteng sendirian yang menyebabkan mereka menjadi kaya. Semua anak-anaknya menyelidiki situasi kamar di loteng dan akhirnya ditemukan sebuah kotak kecil. Kotak itu dibuka dan terlihatlah sebatang tusuk gigi. Semua anak-anaknya mengira bahwa tusuk gigi itu adalah benda keramat yang menyebabkan mereka kaya raya. Oleh karenanya tusuk gigi itu dikeramatkan dan dibungkus dengan lapisan emas lalu dibuatkan tempat pemujaan yang indah. Sejak hari itulah semua keluarga tersebut memuja tusuk gigi. Padahal yang sebenarnya menyebabkan mereka kaya adalah karena ayahnya rajin sembahyang, ulet bekerja, berpegang teguh pada dharma, hemat dan rajin belajar. Tetapi anak-anaknya bukan meniru perilaku ayahnya melainkan sibuk memuja tusuk gigi sehingga kekayaannya semakin lama semakin surut dan akhirnya menjadi miskin. Umat Hindu yang memuja gambar burung Kokokan, memuja Kulkul, nyungsung Sanghyang Temedi, Barong Bangkal, Barong Macan, Keris, Permata batu bulitan dan lain-lain adalah karena ketidaktahuannya sehingga mirip dengan orang yang memuja tusuk gigi di atas. Sang Hyang Widhi sudah dengan jelas bersabda bahwa orang yang memuja AKU (Hyang Widhi/Krishna) akan sampai kepada AKU, yang memuja Dewata akan sampai di alam Dewata, yang memuja Pitara akan sampai di alam Pitara dan yang memuja setan akan jatuh ke alam setan. Jadi dalam hal ini bila kita sibuk mempersembahkan banten kepada tusuk gigi maka lda Sang hyang Widhi Wasa diam saja sehingga tidak ada berkah apa-apa dari Beliau. Karena tidak ada berkah dari Beliau menyebabkan pembukuan kita menjadi pengeluaran melulu tanpa ada pemasukannya dan hanya menunggu waktu saja untuk menjadi nol (miskin).

Guru Agama sudah sering menjelaskan bahwa upacara, susila dan filsafat adalah merupakan satu paket yang harus dilaksanakan ketiganya secara berkeseimbangan (proporsional). Tetapi nyatanya kebanyakan umat Hindu terlalu membesar-besarkan upacara dan mengabaikan filsafat maupun susilanya sehingga demikianlah jadinya. Judi togel dan kafe remang-remang yang menjamur di berbagai pelosok desa adalah merupakan bukti nyata bahwa kita mengabaikan susila dan filsafat. Cewek kafe yang hampir semuanya mengidap penyakit kelamin sudah dengan jelas akan membahayakan generasi muda dan mencemari kesakralan Desa Pekraman ternyata dibiarkan leluasa beroperasi. Menurut Yama Purwana Tattwa bahwa kedudukan Desa Pekraman adalah identik dengan Pura yang harus dijaga kesakralannya. Sedangkan kedudukan “Setra” adalah cemer. Kalaupun kita mau toleransi dengan kafe semestinya boleh didirikan hanya di area  “Setra” dan dilarang keras di dalam lingkungan pemukiman Desa Pakraman. Di satu pihak kita fanatik dengan hal-hal yang berbau cemer seperti melarang orang membakar mayat jika di Pura sedang ada upacara, tetapi pada kejadian yang lainnya kita menyerah diserbu oleh orang-orang yang cemer (cewek PSK mengidap penyakit kelamin). Mengapa demikian? Karena kita buta terhadap filsafat tentang kecemeran. Kepada warga sendiri terlalu ketat, tetapi kepada orang luar yang sudah nyata-nyata membawa penyakit kotor yang berbahaya ke dalam Desa Pakraman Gondorho, Spilis, HIV AIDS dan sejenisnya malah dibiarkan saja. Apa karena alasan setoran mereka cukup besar masuk ke kas Desa? Apa anda pikir uang hasil setoran cewek kafe, hasil judi togel dan kegiatan sambung ayam alias tajen baik untuk modal melakukan upacara? Kalau dari awal sumber uang itu sudah cemer, maka upacaranya pun tidak dapat dikatakan suci. Jadi percuma melakukan upacara dengan uang haram.

Sekarang marilah kita bicarakan contoh kejadian pada orang-orang yang mau melaksanakan paket tattvasusila dan upacara dengan baik. Ada seorang teman bernama Pak Ketut Swandi yang pola hidupnya sederhana. Setiap Pak Swandi melaksanakan upacara apapun selalu disesuaikan dengan kemampuan dana yang dimilikinya sehingga banten yang beliau persembahkan adalah sewajarnya (kanista). Dengan demikian beliau sekeluarga bisa mengikuti upacara dengan pikiran plong tanpa dibayang-bayangi oleh hutang. Kebaktiannya seperti itu ditindaklanjuti dengan kelakuan yang susila di masyarakat dan rajin mendengarkan ceramah Agama untuk dipraktekkan di dalam bermeditasi setiap hari. Pada suatu saat keluarga ini mengalami guncangan, yaitu anaknya yang nomor dua stres berat dan ngamuk-ngamuk yang menyebabkan Pak Swandi panik. Beliau berusaha mengobatinya ke dokter dan juga ke dukun tetapi belum juga berhasil. Dengan demikian berbagai pendapat dari masyarakat bermunculan, ada yang mengatakan pekarangannya dihuni oleh celuluk, ada yang mengatakan kena sihir, ada yang mengatakan “kepongor” dan sebagainya. Tetapi orang yang tahu tattva Veda berpendapat bahwa kejadian itu adalah merupakan buah karma mereka yang dulu kala baru muncul sekarang dalam bentuk seperti itu. Di samping itu ada beberapa posisi bangunan, posisi pintu rumah, situasi kamar tidur dan lain-lain yang tidak sesuai dengan ketentuan Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi yang tidak selaras dengan hukum alam. Ingat, jangan pernah menentang hukum alam, tetapi manipulasilah hukum alam dengan kecerdasan sehingga bisa dimanfaatkan untuk keuntungan kita. Karena itu, orang yang pahak tattva ini menganjurkan kepada mereka agar tenang menghadapi kejadian itu dan berusaha mengatasinya satu persatu yaitu berobat ke dokter jiwa, kepada balian tertentu, menyesuaikan tata letak bangunan, posisi pintu dan situasi kamar tidur agar sesuai dengan Asta Kosala Kosali maupun Asta Bumi serta melaksanakan upacara Agni Hotra sederhana. Setelah semua itu dilakukan, ternyata mampu membuat anak keduanya itu sehat kembali dan bisa kuliah seperti biasa. Kesembuhan anak tersebut tentu bukan hanya karena Agni Horta, unsur perubahan tata letak bangunan dan doa semata, tetapi juga karena bantuan medis dan para medis. Yang perlu digaris bawahi dari kejadian ini adalah bahwasanya jangan pernah meremehkan upacara kecil dan usaha kecil dan menggantikannya dengan upacara pecaruan super besar dalam penyelesaian masalah niskala dan sekala. Cukup hanya dengan upacara sederhana, dengan diikuti susila yang benar dan berlandaskan pada tattva yang cukup lah yang akan menyelesaikan masalah. Bukan upacara besar tanpa landasan tattva. Upacara besar yang menelan biaya jutaan rupiah tanpa sikap yang baik dan pengetahuan yang benar hanya akan menambah stres.

Ada lagi contoh lain tentang sepasang suami istri yang sering cekcok dan ekonominya terpuruk. Ternyata usut kali usut selama ini mereka hanya melaksanakan ajaran agama milu-milu tuwung (ikut-ikutan). Melaksanakan upacara bermewah-mewah tanpa perhitungan keuangan keluarga dan tingkah lakunyapun kurang terjaga. Tidak ada pengendalian diri sehingga cenderung menyalahkan antara suami istri. Akhirnya keluarga kecil ini baru bisa keluar dari percekcokan dan menjadi harmonis setelah mereka belajar filsafat agama, menerapkan susila dalam jalan dharma dan menyadari segala suat musibah yang terjadi hanya karena karmanya sendiri sehingga tidak mudah menyalahkan pasangan dan juga orang lain.

Jika diamati, ternyata relatif banyak di antara kita memang masih “milu-milu tuwung” dalam melaksanakan ajaran agama. Kebanyakan dari kita cenderung mempersembahkan banten yang banyak (volumenius) seakan akan Sang Hyang Widhi lebih senang jika dihaturi banten yang banyak dan tidak senang jika dihaturi hanya canang sari saja. Umat yang berpikir seperti ini adalah seperti cerita tukang pancing. Dikisahkan si Tukang Pancing amat senang makan daging guling, dia mengira ikan yang besar-besar di laut juga amat senang makan daging guling. Dengan demikian dia memasang pancing dengan umpan kulit daging guling yang empuk. Lama dia menunggu belum juga ada ikan yang memakan pancingnya sehingga dia berpikir lagi dan mengira disebabkan oleh karena kulit daging guling itu sudah layu karena terendam air laut dan jumlah umpannya juga kurang banyak. Karena itu Tukang Pancing ini memutuskan mengganti umpannya dengan daging guling yang lebih fresh dan dalam volume yang lebih besar. Tetapi lama juga ditunggu tetap tidak ada ikan yang memakannya. Lalu upan yang sudah besar itu diganti lagi dengan yang lebih empuk dan jumlah yang semakin bertambah dan demikian seterusnya dia memancing siang malam dengan harapan akan mendapatkan ikan besar.

Kisah Keluarga Bapak Gede Kober mirip seperti Tukang pancing ini. Dia sudah membuat banyak sanggah di setiap jengkal tanahnya. Jumlah sanggahnya di deretan Utara 8 buah, sementara di deretan Timur 7 buah. Setiap odalan dia menghaturkan banten kira-kira sejumlah satu truk. Tetapi kenyataannya rumah tangga mereka terus merosot. Baru-baru ini dia membuat satu sanggah lagi di ujung paling Barat atas saran seseorang yang mengatakan bahwa penunggun karang di sebelah barat belum kepagian tempat. Sehingga saat ini dia memiliki 16 buah sanggah. Jadi sanggah yang banyak dan banten yang 1 truk setiap kali odalan ternyata seperti kulit guling empuk yang sama sekali tidak dihiraukan oleh ikan. Untuk memancing ikan harus memakai umpan yang disenangi oleh ikan dan jangan memakai umpan menurut kesenangan kita. Begitu pula untuk memancing berkah Sang Hyang Widhi harus dengan ketulusan hati dan tidak bisa dengan daging guling, ayam panggang atau be betutu. Umpan berupa daging guling akan mengundang Durga Bucari, Kala Bucari, Bhuta Bucari, Sang Kala Dremba, Kala Katung, Kala Ngadang dan Kala Wisaya. Sedangkan ayam panggang akan mengundang Bhuta Janggitan, Bhuta Iangkir, Bhuta Lembukania, Bhuta Karuna dan Bhuta Tigasakti. Karena kita tidak melihat Kala dan Bhuta itu yang menikmati daging guling dan ayam panggang, maka kita mengira bahwa persembahan kita berupa daging guling dan ayam panggang, sudah diterima dengan senang hati oleh Sang Hyang Widhi. Tetapi kenyataannya kita lah yang memakan semua persembahan itu yang notabene adalah carikan Sang Bhuta Kala. Cara kebaktian seperti inilah yang disebut lelucon oleh Maha Guru Sri Sri Ravi Sangkar. Yang senang makan daging guling dan ayam panggang sebenarnya kita, tetapi kita dengan “pongah juari” mengatakan untuk Sang Hyang Widhi. Begitutah badut lelucon yang kita mainkan untuk Sang Hyang Widhi sehingga Beliau tertawa terbahak bahak. Karena kita doyan makan carikan Bhuta Kala, akibatnya perangai kita egoistis, tidak peduli dengan nasib saudara kita yang miskin. Bila ada salah seorang anggota Banjar yang salah, tega menghukum dengan hukuman dikucilkan (kesepekang). Bila ada salah seorang saudara kita di Dadiya tidak mampu membayar “paturunan” lalu kita tega memecatnya.

Untitled-1

Pak Made Tekor adalah salah seorang korban yang dipecat dari Dadiyanya karena tidak mampu membayar “paturunan” untuk pembangunan sanggah di Pura Dadiyanya. Pak Made Tekor ini adalah keluarga amat miskin, punya 5 orang anak (2 laki dan 3 perempuan). Mata pencahariannya hanya menjual bubur kacang ijo di desanya. Jika buburnya laku dljual barulah bisa makan, kadang-kadang tidak laku, pada saat tidak laku terpaksa mereka berpuasa. Pada suatu ketika Keluaga Besar Dadiyanya membangun sanggah Padmasana dan sebagainya sehingga memerlukan dana banyak. Pak Made Tekor tidak bisa membayar “paturunan” sebab penghasilannya amat kecil, hanya cukup untuk makan saja. Karena dia tidak bisa membayar “peturunan” maka dia dipecat dan tidak diakui lagi bersaudara di dalam Dadiya tersebut. Kita sangat prihatin mengenang nasib yang menimpanya di tahun 1986 tersebut. Untunglah kaum misionaris kala itu tidak seagresif sekarang sehingga Pak Made Tekor belum sempat “diselamatkan”. Atas kebaikan seseorang, akhirnya keluarga Pak Made Tekor diajak merantau ke Denpasar. Akibat kegigihannya mengadu nasib dan sikapnya yang iklas serta Bhakti kepada Hyang Widhi, akhirnya dia ditunjukkan jalan dan menemukan tempat kerja yang cukup sesuai untuk ukurannya. Dia bekerja dengan belajar berdagang dari bosnya. Dia juga sangat rajin belajar filsafat agama. Antara ilmu dagang dan agamanya dia terapkan secara bersamaan secara tepat. Kegigihannya memulai usaha membuat ekonomi keluarganya semakin menanjak. Bekal filsafat dan susilanya membuat dia menjadi pribadi yang rendah hati meski saat ini dia sudah hidup sangat makmur bahkan berkelimpahan. Selama Pak Made Tekor berjuang di Denpasar, dia tidak pernah mempersembahkan daging guling, apa lagi upacara mewah. Dia hanya mempersembahkan ketulusan hatinya  melalui japa mantra. Umpan seperti itu ternyata terbukti mendatangkan waranugraha dalam bentuk tempat usaha, rumah, kendaraan, kerukunan, ketenteraman dan kedamaian. Orang yang dipecat dari Keluarga Dadiya karena hanya masalah tidak membayar “paturunan” ternyata disayang oleh Sang Hyang Widhi Wasa. Di masyarakat dia kelihatannya kurang baik, tetapi di depan Sang Hyang Widhi Wasa dia menjadi hamba yang disayangi. Sebaliknya mereka  yang dulu memecat saudaranya ternyata sekarang jatuh miskin dan malah meminta belas kasihan Pak Made Tekor untuk dikasi pekerjaan di perusahaannya. Begitulah Hyang Widdi tidak suka pada mereka yang tidak punya welas asih terhadap orang lain.

Sebelum tahun 1980 kebijaksanaan Keluarga Dadiya di Bali lumrah memecat saudaranya jika saudaranya tidak mampu membayar “paturunan”. Berbeda dengan orang Nasrani yang sengaja mencari saudara sebanyak-banyaknya dengan mendatangi orang-orang yang miskin, yang putus sekolah, yang sakit, yang tidak punya rumah. Hal inilah yang menyebabkan Agama Hindu di Bali terdesak seperti di Kecamatan Kuta Utara dan di Kecamatan Melaya. Beruntung Pak Made Tekor tidak pindah Agama walaupun dia sakit hati dipecat dan tidak diakui lagi bersaudara oleh Keluarga Dadiyanya. Andaikan dia pindah agama, mungkin dengan ekonominya yang berlimpah saat ini akan digukanan sebagai dana penyokong dalam membantu “menyelamatkan” warga lainnya keluar dari Hindu.

Kelihan Dadiya dan Kelihan Banjar pada umunnya bisanya hanya memungut “peturunan” kepada anggotanya. Mereka tidak mau tahu tentang kesulitan anggotanya dalam mendapatkan uang. Apakah dengan menjual sesuatu, ataukah dengan berhutang, yang penting anggotanya harus nyetor uang sebanyak yang telah ditentukan. Belum ada Kelihan Dadiya dan Kelihan Banjar mau memberi bimbingan untuk meningkatkan rezeki anggotanya agar anggotanya yang miskin mampu menggeliat melawan kemiskinan. Para tokoh Agama Hindu yang lebih tinggi kedudukannya juga belum ada yang mau menjadi relawan untuk membimbing dengan gratis agar umat yang miskin tidak terjepit seperti kasus kasus tersebut di atas. Kekuatan keuangan umat Hindu lebih banyak dipakai hura-hura dan belum ada dipakai membuat Proyek Pengentasan Kemiskinan. Jika desa Pekraman mampu membuat upacara dengan biaya 500 juta maka tokoh tokoh di desa itu merasa bangga. Tetapi bagaimana nasib anggotanya yang miskin? Adakah yang peduli dengan mereka yang membayar peturunan dengan jalan berhutang sana-sini? Agama diturunkan adalah untuk mensejahterakan manusia (jagathita) dan bukan untuk hura-hura. Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan lebih senang bila biaya upacara yang 500 juta itu dipakai Proyek Mengentaskan Kemiskinan dan pendidikan agar hamba-hambaNya yang miskin bisa menikmati kesejahteraan. Mengapa kita tidak membuat Proyek seperti itu? Karena kita masih mengikuti keyakinan seperti paham si tukang pancing dengan umpan daging gulingnya. Marilah kita mulai memikirkan saudara kita yang miskin, bantu mereka keluar dari kemiskinan dengan mendidiknya.

Bersambung…………….

 

Dikutip dengan perubahan dari Jero Mangku Wayan Suwena

%d bloggers like this: