Hindu merupakan agama yang paling disalah mengerti oleh masyarakat dunia. Tuduhan dan anggapan keliru acap kali menimpa Hindu. Mulai dari tuduhan agama politeisme, agama pemuja berhala, penganut sistem kasta, agama suku, agama primitif dan berbagai tuduhan tidak beralasan lainnya. Semua tuduhan ini sudah terdoktrin hampir pada setiap orang non Hindu akibat minimnya informasi yang benar tentang agama tertua ini.

Di samping karena sikap pasif, toleransi berlebihan dan “kebodohan” para penganut Veda itu sendiri, peran para kaum Indologis dan kaum dakwah yang menjadikan umat Hindu sebagai target utama memberikan andil yang sangat besar dalam pembentukan anggapan keliru tentang Hindu. Para kaum dakwah, terutama sekali di Nusantara, menggunakan pendekatan budaya dan melakukan penggubahan banyak kitab suci Hindu. Kitab Mahäbhärata dan Ramäyäna yang merupakan kitab Itihäsa terpenting dipelintir dan dimuati ajaran-ajaran “menyimpang” yang tidak sesuai dengan sejarah aslinya. Sedangkan para kaum Indologis yang dipelopori oleh Max Muller melakukan banyak penerjemahan kitab suci Veda dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Inggris di mana terjemahan ini tidak sesuai dengan maksud aslinya, bahkan mereka berusaha memutarbalikkan isinya. Celakanya, kitab-kitab Veda terjemahan kaum Indologis inilah yang paling banyak menyebar dan dikaji dalam dunia pendidikan sehingga otomatis teori-teori dan asumsi yang muncul tentang Hindu sangatlah menyimpang. Yang paling menyedihkan ternyata umat Hindu, terutama di Indonesia melalui kurikulum-kurikulum lembaga pendidikan resminya, malahan lebih banyak menjadikan sumber-sumber dan teori-teori yang terdistorsi ini sebagai acuan utama. Sebagai implikasinya, pada akhirnya umat Hindu juga memiliki pandangan keliru tentang ajarannya dan tidak menutup kemungkinan mereka akan meninggalkan ajaran Veda yang adiluhur.

Eksistensi Hindu hanya dapat dipertahankan dengan mengajak segenap umat Hindu kembali kepada pemahaman ajaran Veda yang otentik. Dan untuk tujuan itulah buku ini disusun. Hindu tidak bisa dipahami dengan kerangka berpikir pemahaman agama Abrahamik. Jika dalam agama Abrahamik “kebenaran” hanya ada satu dan jika ada bentuk lain dari “kebenaran” atau aliran mereka sering kali dianggap sesat, maka dalam Hindu tidak demikian adanya. Hindu memahami bahwasanya setiap ajaran spiritualitas yang berbeda diwahyukan oleh Tuhan sesuai dengan tingkat spiritualitas umatnya. Karena itulah ajaran Veda tersusun atas banyak cabang filsafat dengan berbagai “wajahnya” yang kadang-kadang dipahami keliru oleh orang non-Hindu dan bahkan  oleh orang Hindu sendiri. Kitab suci Veda juga tidak bisa dimengerti hanya dengan kerangka berpikir ilmiah induktif, yaitu melalui percobaan trial and error. Tetapi Veda harus didekati dengan sistem paramparä, yaitu penyampaikan ajaran suci Veda secara turun-temurun dari guru kerohanian yang bonafide kepada muridnya yang berkualifikasi.

Buku “Merekonstruksi Hindu” ini bertujuan merangkai kembali pemahaman filsafat Hindu yang benar dengan cara memaparkan pangdangan-pandangan filsafat yang didasarkan pada sumbersumber ajaran Veda yang dipelajari melalui garis perguruan secara turun-temurun (paramparä), sehingga keotentikan dan kredibilitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

Semoga dengan hadirnya buku ini akan dapat memberikan pemahaman filsafat Veda yang benar dan tidak tercemar oleh kepentingan-kepentingan tertentu, baik untuk pembaca dari kalangan umat Hindu sendiri maupun para penggemar filsafat dari kalangan non-Hindu.

Baca dan Download E-Book-nya di link berikut ini:

Merekonstruksi Hindu by Ngarayana ナラヤナ on Scribd

Translate »
%d bloggers like this: