Sejak Kamis, 30 April 2015, rakyat Jogja ramai mendiskusikan mengenai isi sabda raja atau biasa juga disebut sabda tama yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Diskusi tersebut ternyata tidak hanya terjadi di jogja, tetapi rame diperbincangkan oleh para warga jogja di perantauan seperti misalnya di tempat saya berkantor. Rata-rata para warga tersebut tidak sependapat dengan isi sabda raja tersebut. Sebutlah seorang rekan bernama Arif Sartono (bukan nama sebenarnya) yang juga biasa dipanggil pak Ustad. Beliau sangat menentang isi sabda tersebut dan menuduh bahwa sabda tersebut hanyalah trik raja untuk melanggengkan kekuasaanya agar bisa diwarisi oleh anak-anaknya yang kesemuanya adalah wanita. Sementara dalam ajaran Islam, wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin, apa lagi seorang raja. Lebih jauh beliau juga berkomentar bahwa menghilangkan gelar Kalifatullah dalam gelar raja berarti sudah melanggar tradisi kesultanan yang sangat tidak dapat diterima.

Para elit politik, akademisi dan termasuk pembesar keraton juga banyak yang bersikap kontra terhadap titah raja tersebut. Para anggota DPRD Yogyakarta dan DPR mempertanyakan isi titah tersebut karena dianggap akan melanggar isi perundang-undangan keistimewaan yang dimiliki Yogyakarta. Dalam UU Keistimewaan DIY nomor 13/2012 diatur bahwa Gubernur DIY adalah raja yang bertahta dengan gelar Ngarsa Dalem Sameyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayyidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari gelar tersebut secara implisit sudah diatur juga jika seorang Gubernur DIY adalah seorang laki-laki yang memerintah dengan corak islam. Sedangkan Ketua Forum Persaudaraan Umat Beriman Kiai Abdul Muhaimin, mengatakan bahwa Sabdaraja bakal memutus rantai sejarah Keraton Mataram Islam. Adik-adik serta keluarga kerajaan sendiri seperti Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Yudhaningrat, GBPH Prabukusumo, dan GBPH Hadi Winoto juga menyayangkan isi sabda raja tersebut karena dinilai melabrak tradisi karena bernuansa politik dan memuluskan putri-putri sultan menguasai Jogjakarta.

Di sisi lain, terdapat banyak dukungan yang menyatakan sabda raja tersebut merupakan suatu titik renaisense menuju Yogyakarta baru. Gobang (39), warga Timoho mengatakan bahwa dia sangat setuju dengan sabda raja tersebut karena mengarahkan kerajaan jogja menjadi kerajaan modern yang tidak hanya akan menjadi milik satu agama, tetapi dapat mengayomi seluruh agama yang ada di Jogja. Sedangkan menurut Guru Besar Sejarah UGM, Prof Dr Djoko Suryo, sabda raja yang baru saja dikeluarkan adalah hal wajar dan harus diikuti sebagai suatu sistem yang bersifat monarki dan pihak luar sama sekali tidak dapat mencampuri urusan tersebut. Beberapa kalangan yang lain menyambut baik sabda tersebut karena merupakan momentum perubahan sebagaimana yang ternah terjadi pada saat perubahan Mataram Kuno yang bercorak Hindu menjadi Mataram Baru bercorak Islam.

Benarkah sabda raja yang telah dikeluarkan tersebut hanya bermuatan politis guna melanggengkan kekuasaan pada garis keturunannya? Tentu untuk menjawab hal ini terdapat banyak hal yang harus kita cermati, dan jawaban sebenarnya hanya dapat terpecahkan jika Sri Sultan Hamengku Buwono X sendiri yang mengungkapkan secara jujur dari lubuk hatinya yang terdalam. Namun demikian, mari kita bahas beberapa sisi kesultanan Yogyakarta yang mungkin dapat memberikan premis mengenai latar belakang munculnya sabda tersebut.

Sejarah Keraton Yogyakarta

Sultan-sultan yang memerintah keraton Yogyakarta sampai dengan saat ini mengklaim diri sebagai bagian dari keturunan kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sendiri mengalami kemunduran dan akhirnya mulai runtuh saat pemerintahan Bhre Kertabumi yang bergelar Brawijaya V. Pada masa pemerintahan Brawijaya V kondisi Majapahit dikatakan sudah semakin carut marut akibat banyaknya pembrontakan. Kondisi tersebut juga diperparah akibat permasalahan pribadi yang terjadi pada diri sang raja. Raja Brawijaya V dikisahkan menikahi seorang putri asal China yang sangat cantik jelita. Namun tidak berselang beberapa lama, Raja Brawijaya V juga jatuh hati pada Putri Champa yang memiliki kecantikan yang sangat menggoda. Karena Putri Champa ini ingin keturunannya nanti mewarisi tahta kerajaan Majapahit, maka sang raja dituntut untuk menceraikan sang putri China. Brawijaya V yang sudah sangat kecantol dengan gebetan barunya akhirnya menyanggupinya dan membuah istrinya yang dari China ke Palembang. Singkat cerita dikatakan bahwa mantan istri Brawijaya ini akhirnya dipersunting oleh kerabatnya yang terletak di Palembang, yaitu Aryo Damar. Aryo Damar dikatakan sudah terpengaruh oleh ajaran Islam sehingga dia pun telah mengganti namanya menjadi Aryo Abdillah. Beberapa sumber mengatakan bahwa pada saat Putri China tersebut dipersunting Aryo Abdillah, putri tersebut sudah dalam keaadaan hamil dan mengandung putra dari Brawijaya V yang selanjutnya lahir dan diberi nama Raden Patah. Namun sumber lain mengatakan bahwa Raden Patah sejatinya bukanlah putra Brawijaya V, melainkan murni putra dari Aryo Abdillah dan putri China tersebut. Pengakuan sebagai seorang anak hanya dijadikan trik politik untuk merebut hati sang raja Majapahit.

Dikisahkan Raden Patah diutus untuk menghadap Brawijaya V untuk mengaku sebagai anaknya dan meminta untuk diberikan sejengkal tanah kekuasaan. Sebagai seorang raja yang memiliki banyak putra, Brawijaya V mempercayai apa yang dikatakan Raden Patah dan memberikannya daerah kekuasaan yang berpusat di Demak. Sumber lain menyatakan bahwa Raden Patah datang ke Majapahit bukan mengaku sebagai putra sang raja, tetapi menikahi putri Brawijaya V dan mengislamkannya serta diberi warisan kekuasaan yang berlokasi di Demak. Terlepas dari perbedaan versi cerita tersebut, Raden Patah mendapatkan kekuasaan otonom di Demak yang membebaskannya untuk memerintah secara Islam dan melaksanakan Islamisasi di tanah kekuasaannya. Pemerintahan Raden Patah juga didukung oleh para penasehatnya yang terdiri dari para Wali Songo dan para Sayyid. Atas desakan dari para Wali Songo, Raden Patah akhirnya melancarkan serangan kepada Brawijaya V. Brawijaya V yang merasa sebagai ayah dari Raden Patah (setidaknya ayah mertua) merasa bimbang menghadapi gempuran tersebut. Sehingga sebagaimana disebutkan dalam beberapa babad, Brawijaya V akhirnya melarikan diri menuju timur dan bermaksud menyeberang ke Bali. Bali menjadi tujuan pelarian Brawijaya V karena raja-raja Bali masih merupakan sanak famili kerajaan Majapahit yang tidak tersentuh oleh islamisasi. Hanya saja tidak ada babad yang mengisahkan bahwa Brawijaya V berhasil menyeberang ke Bali. Beberapa babad mengisahkan bahwa akhirnya dia bertekuklutut dan menyerah pada pasukan Raden Patah.

Dengan kekalahan Brawijaya tersebut, maka berakhirlah Majapahit sebagai kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Hindu yang masih bertahan hanya yang berlokasi di Bali, Blambangan dan juga di Pasundan. Di bawah kekuasaan Demak, islamisasi tanah Jawa menjadi semakin subur. Hanya saja kerajaan Demak tidak berumur panjang. Arya Penangsang sebagai penguasa terakhir Demak dibunuh oleh Adiwijaya atau terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir yang menjabat Adipati Pajang. Sehingga dengan demikian Keraton Demak akhirnya dipindahkan oleh Jaka Tingkir ke Pajang.

Pasca wafatnya Jaka Tingkir, terjadi pergolakan kekuasaan di Pajang. Pajang yang diperintah Arya Pangiri diserang oleh gabungan dua kekuatan, dari Pangeran Benowo (putra Jaka Tingkir yang tersingkir) dan kekuatan Mataram (dipimpin Panembahan Senapati atau Senapati Mataram, putra Kyai Ageng Pemanahan atau Kyai Gede Mataram). Akhirnya Arya Pangiri menyerah kepada Senapati Mataram dan Kraton Pajang dipindahkan ke Mataram (1587) dan mulailah sejarah Kerajaan Mataram Baru. Gonjang-ganjing kekuasaan dalam kalangan internal kerajaan Mataram Baru membuka celah bagi VOC pada waktu itu untuk menancapkan kuku kekuasaannya. VOC berhasil memecahbelah Mataram sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur-Jendral Jacob Mossel. Perjanjian itu akhirnya membelah Mataram menjadi dua. Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I dan berkuasa atas setengah daerah Kerajaan Mataram. Sementara itu Sunan Paku Buwono III tetap berkuasa atas setengah daerah lainnya dengan nama baru Kasunanan Surakarta dan daerah pesisir tetap dikuasai VOC. Sultan Hamengkubuwana I kemudian membuat ibukota kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah barudi Hutan Paberingan yang terletak antara aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Ibukota berikut istananya tersebut tersebut dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat dan landscape utama berhasil diselesaikan pada tanggal 7 Oktober 1756. Para penggantinya tetap mempertahankan gelar yang digunakan, Hamengku Buwono termasuk keturunannya yang kesepuluh yang memerintah saat ini yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Keraton Yogyakarta Bercorak Islam Tetapi Menjalankan Tradisi Hindu

Meski masuknya pengaruh Islam dalam kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah berlangsung sejak lebih dari 6 abad yang lalu, namun pengaruh Hindu belum dapat dihilangkan dari budaya keraton Yogyakarta. Karena itulah pada tahun 1912 muncul gerakan puritan untuk membersihkan Islam dari pengaruh kepercayaan lokal dan westernisasi dari kalangan Imam Kerajaan. Pada perkembangan selanjutnya kawasan Kauman Yogyakarta yang menjadi tempat tinggal para Imam Kerajaan menjadi pusat gerakan puritan itu. Meski mampu memberikan dampak signifikan, namun tetap saja tradisi dan keyakinan Hindu yang telah mendarah daging dalam sistem kerajaan tidak pernah hilang bahkan sampai saat ini.

Ngayogyakarta berasal dari kata Ayodya dan Karta. Ayodya merujuk pada nama pusat kerajaan yang diperintah oleh Rama dalam kisah Ramayana dan Karta berarti ramai atau kota. Sehingga dengan demikian pada dasarnya para leluhur pendiri Yogyakarta dapat dikatakan sangat memahami filsafat Hindu sehingga mengabadikan istilah Ayodya sebagai nama kota kerajaannya.

Dilihat dari seni budayanya, keraton yogya memiliki seni pertunjukan sakral yang disebut Bedaya Ketawang. Pertunjukan tersebut bentuk penghormatan kepada leluhur pendiri kerajaan dan penguasa alam.

Keraton Yogyakarta juga memiliki tradisi merawat benda pusaka sebagaimana yang lazim dilakukan masyarakat Hindu, terutama di Bali yang disebut sebagai Tumpek Landep. Pada upacara perawatan pusaka tersebut, masyarakat Hindu di sekitar Jogja selalu dilibatkan untuk ikut berpartisipasi. Beberapa informan bahkan menyebutkan bahwa di dalam keraton dibangun khusus sejenis sanggah yang diperuntukkan untuk kegiatan upacara benda pusaka tersebut.

Secara arsitektur, pendirian keraton Yogya juga sangat kental berbau Hindu. Secara umum Yogyakarta dibatasi oleh Gunung Merapi di sebelah utara dan pantai laut kidul di selatan. Kedua tempat itu diyakini sebagai tempat suci oleh seluruh keluarga kerajaan. Dengan setting lokasi seperti garis lurus antara gunung, tugu jogja, keraton dan juga laut kidul, Pangeran mangkubumi menciptakan poros (sumbu) filosofi yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana dan Tri Angga (Parahyangan-Pawongan- Palemahan atau Hulu Tengah Hilir serta nilai Utama Madya Nistha). Secara simbolis filosofis sumbu filosofis ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia maupun dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yaitu api (dahana), angin (maruta) dan akasa (either). Sumbu filosofi ini juga merupakan simbol dari konseo filosofi Sangkan Paraning Dumadi dan Manunggaling Kawula Gusti. Konsep Tri Hita Karana yang berdasarkan kitab Vastusastra juga sangat kental dalam model penyusunan arsitektur dan lapisan bangunan keraton itu sendiri.

Tradisi Kenduri Gunungan yang digunakan pada saat Sekaten dan/ataupun tumpengan untuk kegiatan syukuran dalam prosesi kerajaan Yogyakarta juga tidak lepas dari filosofi Hindu. Gunungan atau tumpeng makanan melambangkan gunung Mahameru. Dengan perlambang tersebut diharapkan akan selalu dapat memberikan kesuburan, keselamatan dan berkah bagi umat manusia.

Sabda Raja Memperlemah Pengaruh Islam

Sabda Raja pertama dikeluarkan pada tanggal 30 April 2015 dengan bunyi sebagai berikut:

Gusti Allah Gusti Agung Kuasa cipta paringana sira kabeh adiningsun sederek dalem sentolo dalem lan Abdi dalem. Nampa welinge dhawuh Gusti Allah Gusti Agung Kuasa Cipta lan rama ningsun eyang eyang ingsun, para leluhur Mataram Wiwit waktu iki ingsun Nampa dhawuh kanugrahan Dhawuh Gusti Allah Gusti agung, Kuasa Cipta Asma kelenggahan Ingsun Ngarso Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Surya Ning Mataram Senopati ing Ngalaga Langgenging Bawono langgeng ing tata Panatagama. Sabda Raja iki perlu dimengerteni diugemi lan ditindake yo mengkono.”

 Arti sabda tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kurang-lebih sebagai berikut:

Allah, Tuhan yang Agung, Maha Pencipta, ketahuilah para adik-adik, saudara, keluarga di Keraton dan abdi dalem, saya menerima perintah dari Allah, ayah saya, nenek moyang saya dan para leluhur Mataram, mulai saat ini saya bernama Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengkubawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Surya ning Mataram, Senopati ing Kalogo, Langenging Bawono Langgeng, Langgeng ing Toto Panotogomo. Sabda Raja ini perlu dimengerti, dihayati dan dilaksanakan seperti itu sabda saya

Belum selesai perdebatan mengenai sabda raja pertama tersebut, pada tanggal 5 Mei 2015 Sri Sultan kembali mengeluarkan sabda kedua yang berbunyi:

Siro adi ingsun, sekseono ingsun Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Surya ning Mataram, Senopati ing Kalogo, Langenging Bawono Langgeng, Langgeng ing Toto Panotogomo
Kadawuhan netepake Putri Ingsun Gusti Kanjeng Ratu Pembayun tak tetepake Gusti Kanjeng Ratu GKR Mangkubumi. Mangertenono yo mengkono dawuh ingsun.

Dengan arti sebagai berikut:

Saudara semua, saksikanlah saya Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Surya ning Mataram, Senopati ing Kalogo, Langenging Bawono Langgeng, Langgeng ing Toto Panotogomo mendapat perintah untuk menetapkan putri saya Gusti Kanjeng Ratu Pembayun menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Mengertilah, begitulah perintah saya.

Pada kesempatan yang lain, Sri Sultan memberikan penjelasan mengenai makna keluarnya sabda tersebut. “Dasare perjanjian ki Ageng Giring sampun rampung mboten saged dipun ewahi, rampung sangking menopo? Wontenipun mataram lami (perjanjian antara ki Ageng Giring sudah selesai dan itu tidak bisa diubah, selesai dari apa? Dari adanya Mataram lama),”kata Sultan HB X di Ndalem Wironegaran, Yogyakarta, Jumat (8/5/2015). Sri Sultan menjelaskan antara Mataram lama dan Mataram baru. Mataram lama dihitung dari zaman Ken Arok Singosari hingga kerajaan Pajang. Sedangkan Mataram baru terhitung dari zaman Eyang Panembahan Senopati sampai sekarang. Era Mataram lama dan baru dipisahkan dengan perjanjian Ki Ageng Pemanahan dengan Ki Ageng Giring. “Sak meniko amargi perjanjen meniko sampun rampung saking jaman ken arok dumugi Pajang, pajang dumugi mataram, (Sekarang perjanjian itu sudah berakhir, dari zaman Ken Arok sampai Pajang, Pajang sampai Mataram),” ucap dia. Dia mengatakan jika zaman dan kondisi saat ini tidak bisa dianggap sepele. Bahkan tidak seperti raja sebelumnya karena perubahan zaman. Karena itu perlu adanya sikap baru dalam menghadapi zaman baru ini. “Kados kulo kebagian mboten kenging perjanjen, kinten kinten mekaten. Amargi kulo ingkang kadawuhan kasaripun jaman enggal wis malih jaman. (Saya kebagian tidak ingin melanjutkan perjanjian, kira-kira seperti itu. Saya dapat zaman yang baru yang sudah berubah),” ujar Sultan.

Sabda raja yang menurut sultan menjadi tonggak peniadaan pemisahan antara mataram lama dengan mataram baru memberikan pengaruh langsung pada pengurangan pengaruh Islam dalam kerajaan. Dengan hilangnya gelar Khalifatullah, itu berarti raja tidak lagi menjadi pemimpin agama dan penentu kehidupan beragama yang dilandasi Islam. Hilangnya gelar tersebut juga membuka peluang munculnya raja wanita di kemudian hari. Sementara jika merujuk pada ajaran Islam, wanita selayaknya tidak boleh menjadi seorang raja. Jika dilihat dari sabda raja kedua, sepertinya putri sultan yang tertua memang disiapkan untuk menjadi penerus kekuasaan.

Menengok Sabda Raja Secara Positif

Kesimpulan negatif yang kita dapat dari sabda raja tersebut tentu saja mempertahankan tahta untuk garis keturunannya yang kesemuanya adalah wanita. Namun bagaimana jika kita berpikir positif terhadap sabda tersebut, makna apa yang dapat kita tangkap?

Banyak kalangan mengaitkan sabda raja ini dengan momentum terrealisasinya apa yang disampaikan oleh Sabdapalon dalam serat Darmagandhul dan juga dalam Serat Damarwulan serta Serat Blambangan. Sabdapalon menyebutkan bahwa 500 tahun lagi, saat korupsi merajalela dan bencana melanda, dia akan kembali untuk menyapu Islam dari Jawa dan mengembalikan kejayaan agama dan kebudayaan Jawa sebagaimana sediakala. Asumsi ini juga diperkuat dengan sikap sultan yang tidak lagi menggunakan kata “assalamwalaikum” dalam memulai sabda-sabdanya.

Sri Sultan merupakan seorang raja yang masih sangat dekat dengan ajaran kejawen. Beliau masih aktif melakukan lelaku jawa termasuk berpuasa dan bertapa. Dari lelaku spiritualnya tersebut, Sri Sultan diyakini telah menangkap ciri-ciri yang mengharuskan beliau membuat momentum dengan menghilangkan pemisah antara Mataram Hindu dengan Mataram Islam. Penghilangan pemisah itu juga pada akhirnya secara tidak langsung membuka kesempatan untuk bangkitnya kembali ajaran Dharma di tanah Jawa. Entahlah… apa sebenarnya yang ada di benak Sri Sultan, namun yang pasti hal tersebut adalah momentum perubahan. Perubahan ini hanya akan terjadi jika Sri Sultan punya keberanian dan ketegasan. Bhagavad Gita 3.21 menyatakan: “yad yad ācarati śreṣṭhas tat tad evetaro janaḥ sa yat pramāṇaḿ kurute lokas tad anuvartate, Perbuatan apapun yang dilakukan orang besar, akan diikuti oleh orang awam. Standar apa pun yang ditetapkan dengan perbuatannya sebagai teladan, diikuti oleh seluruh dunia”. Perubahan yang dilakukan sultan akan membawa dampak yang sangat besar yang setara dengan dampak perubahan waktu Mataram Hindu dirubah menjadi Mataram Islam. Yang akan sangat aktif menentang pergolakan ini tentu saja pihak-pihak yang berusaha keras menjaga proses islamisasi dan juga mereka yang mengingintah tahta kerajaan.

%d bloggers like this: