Tidak seperti kebanyakan kolega saya, saya selalu percaya akan pentingnya sikap mengakui adanya perbedaan-perbedaan di antara para penganut berbagai agama di dunia. Saya menyadari bahwasanya sekilas cara pandang seperti ini terasa agak nekat. Dari sudut tradisi, cara pandang tersebut bahkan seolah “non-Kristen,” sebab pada umumnya orang Kristen sejati hendaknya mampu untuk tidak begitu memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada, dan memang mesti menghormati adanya perbedaan. Tetapi di sinilah inti persoalannya. Saya berkeyakinan bahwasa-nya orang bisa menghormati perbedaan-perbedaan hanya jika ia pertama-tama mengakui adanya perbedaan-perbedaan tersebut. Jika tidak demikian, tidaklah mungkin sikap penghormatan itu dicapai.
Walaupun kebanyakan orang mengklaim bahwa merupakan tindakan terpuji bila kita menyingkirkan sepenuhnya perbedaan-perbedaan yang ada dan bersikap seolah tidak ada perbedaan, tapi orang-orang seperti itulah yang seringkali menjadi begitu ter-jebak dalam prasangka dan sikap keagamaan yang eksklusif sehingga klaim awal mereka di atas menjadi tidak logis. Karena secara dangkal menyangkal segala perbedaan, orang-orang seperti itu kembali tidak memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk mengembangkan suatu pengertian atau sikap penghargaan akan perbedaan-perbedaan itu.

Dalam dialog dengan Satyaraja Dasa, saya menemukan suatu spirit yang sama, yakni seseorang yang juga menghargai perbedaan-perbedaan (juga kesamaan) yang ada dalam agama-agama besar dunia. Selama periode empat tahun, kami telah banyak melakukan dialog antar-agama. Semula dimulai dalam suasana formal, dialog-dialog ini sekarang menjadi diskusi-diskusi penuh persahabatan. Menurut saya, hal ini menjadi bukti hipotesa saya. Satyaraja dan saya telah mengembangkan suatu kedekatan melalui perbedaan-perbedaan kami.
Setelah perbincangan berlangsung beberapa kali, kami memilih untuk merekamnya, terutama bermaksud untuk menggunakannya sebagai referensi. Namun, baru-baru ini saya memutuskan untuk melakukan pendekatan kepada Satyaraja Dasa dengan pemikir-an untuk menuangkan percakapan-percakapan kami ke dalam sebuah buku. Ketika saya menyampaikan ide tersebut, sambil tertawa beliau menyampaikan bahwa beliau telah menyalin bebe-rapa percakapan kami yang telah direkam beliau telah memiliki ide yang sama beberapa minggu sebelumnya. Rupanya kami telah berada dalam “frekuensi” yang sama.
Inilah buku tersebut. Sebuah naskah dialog panjang antar aga-ma, yang telah diedit secara cermat. Tidak dapat diragukan bahwa mereka yang tertarik pada masalah-masalah kemanusiaan dan ilmu sosial akan mendapati bahwa buku ini sangat menarik. Para penganut agama dan para pencari kebenaran baik dari tradisi Barat maupun Timur juga akan menemukan kearifan dan manfaat di dalam dialog ini. Akan tetapi, komunikasi multi disiplin ilmu yang hidup dan penuh persahabatan yang dapat ditemukan dalam halaman-halaman buku ini akan memberikan kesan mendalam di hati orang yang sungguh-sungguh ingin memahami keberadaan “tetangga” mereka. Dan jika pemahaman tersebut mengantarkan pada sikap saling menghargai, baik saya maupun Satyaraja akan mengangap buku kecil ini mencapai sukses besar.

Demikianlah Kata Pengantar yang disampaikan oleh Pastur Alvin Van Pelt Hart terhadap buku hasil diskusi beliau dengan Steven Rosen yang memiliki nama Vaisnava Satyaraja Dasa Adikari. Buku ini merupakan buku dialog antar agama yang sangat menarik yang perlu anda baca.

Buku ini dapat anda nikmati secara gratis dengan mendownload ebook PDF berikut.

Download

%d bloggers like this: