Bagaimana Membawa Generasi Muda untuk Mengagungkan Ibu Sapi?

Universitas Mahendradata di Bali.

9 Oktober 2015.

image2

Saat ini, dalam era globalisasi orang-orang tidak pernah mempedulikan sapi, tidak pernah ingin untuk mengetahui tentang sapi. Dalam pikiran mereka sapi adalah seekor hewan layaknya hewan lainnya yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Orang-orang lebih tertarik dengan daging sapi daripada susu, lebih tertarik dengan anjing dan kucing sebagi hewan peliharaan mereka. Mereka lebih tertarik untuk menggunakan traktor untuk kebun/sawah mereka daripada sapi jantan kita. Dimanakah kecerdasan kita? Dimanakah pengetahuan kita?

Pada 9 Oktober merupakan sebuah kesempatan yang bagus bagi kita untuk menjelaskan tentang Ibu Sapi, Ibu Surabhi dan membawa para mahasiswa untuk mengetahui dan mengerti lebih banyak mengenai sapi. Pada hari itu, Universitas Mahendradata Denpasar, Bali-Indonesia menyelenggarakan sebuah Seminar Internasional dengan topik “Kesucian Sapi dalam Literatur Veda dan Bhagavad Gita sebagai Pedoman untuk Pembentukan Karakter di Era Globalisasi”. Dua tamu pembicara untuk kegiatan tersebut merupakan anggota Masyarakat Internasional Kesadaran Krishna, His Holiness Ramai Swami Maharaja yang merupakan GBC untuk Indonesia and Sriman Kishora Krishna das, brahmacari senior dan Ketuadariyang baru-baru ini berdiri Indonesia Peduli Surabhi Network (IPSN). Sekitar 50 mahasiswa yang menghadiri seminar yang diselenggarakan di aula seminar universitas tersebut.

 

Sriman Kishora Krishna das memulai seminar dengan menjelaskan bagaimana di Indonesia, kebanyakan orang tidak mengerti kebutuhan untuk melindungi sapi. Seperti yang kita ketahui, populasi muslim Indonesia mencapai 88% (205 juta jiwa) dari total populasi, jadi masih banyak orang yang mengkurbankan ratusan ribu sapi setiap tahun.

Pembicara kita Kishora Krishna das menjelaskan lebih lanjut: “Bagaimana kita bisa mendapatkan pengetahuan yang baik dan kecerdasan yang murni jika kita tidak menhormati sapi? Sapi memberikan kita susu dan dari susu murni sapi kita mendapatkan kecerdasan yang baik, pengetahuan dan kita dapt bertahan hidup dengan baik.” Beberapa mahasiswa terkejut mendengar bahwa sapi memeberikan kita kecerdasan. Mereka tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya. Tidak hanya teori mengenai perlindungan sapi yang dijelaskan tapi juga banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dari berbagai produk-produk sapi yang mahasiswa dapat gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain susu, seseorang masih bisa mendapatkan banyak keuntungan dari sapi tanpa harus membunuhnya. Sebenarnya sapi lebih berharga saat hidup daripada mati, sekalipun tidak memberikan susu. Menurut ilmu pengobatan Ayurveda seperti yang ditemukan dalam teks-teks Veda kuno, kencing sapi dapat disuling dan diubah obat yang ampuh yang disebut Go Ark yang umum digunakan di India untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan untuk menjaga kesehatan yang baik.

Setelah presentasi perlindungan sapi, His Holiness Ramai Swami Maharaja menjelaskan tentang “catur varnasrama” sistem sosial (empat pembagian masyarakat secara alami) yang diciptakan oleh Tuhan sendiri, Sri Krishna, yaitu Brahmana, Ksatriya, Vaisya and Sudra. Kita dapat mengamati pembagian alami inidalam masyarakat modern juga.Sebagai contoh, dalam setiap negara kita memiliki kaum intelektual (sepertiguru, pendeta, ilmuwan, penulis, dan lain-lain.) secara tradisional disebut sebagai “Brahmana”. Kita juaga memiliki para angkatan bersenjata atau sebagai polisi yang kita dapat sebut sebagai “Ksatriya” yang kewajiban utamanya adalah sebagai mengelola dan melindungi negara kita. Kemudian kita memiliki masayarakat yang menghasilkan makanan, para petani and pengusaha yang kita sebut sebagai “Vaisya”. Di setiap negara kiat juga memiliki orang yang menggunakan fisik dalam berbagai pekerjaan, diketahui sebagai “Sudra.”

image3Sapi, kita semestinya mencoba untuk mengerti, Sama halnya para brahmana dalm masyarakat karena keduanya adalah are dalam wahana kebaikan.  Juga kita harus tahu bahwa sapiadalan satu dari 7 Ibu kita. Kebudayaan Veda menjelaskan bagaimana kita memiliki tujuh Ibu : 1) Ibu kandung yang melahirkan kita, 2) Istri guru, 3) Istri brahmana, 4) Istri raja, 5) Ibu Sapi, 6) Perawat and 7) Ibu bumi/pertiwi, diketahui sebagai “bhumi”. Sebagai seorang bayi kita meminum air susu ibu. Alam cara yang sama kita minum susu sapi. Apakah kita membunuh Ibu kandung kita ketika dia berhenti memebrikan kita susu? Mengapa kemudian harus membunuh sapi yang tidak bersalah bahkan jika mereka tidak lagi memberi kita susu? Sapi sama halnya Ibu sebenarnya. Walaupun mereka mungkin tidak selalu memberikan kita susu, kita harus selalu menghormati dan melindungi sapi karena mereka bekerja keras dan kotorannya adalah pupuk yang alami Oleh karena itu secara ringkas, untuk menjadi seorang ynag cerdas kita seharusnya membaca dan memahami Kitab Suci Veda kita dan meminum susu ahimsa, susu murni dari sapi yang dilindungi.

image4

Dilaporkan oleh : Hari Krpa das

%d bloggers like this: