Gerakan Hare Krishna merupakan gerakan yang baru saja booming di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Hare Krishna menjadi sangat digemari para pemuda Barat di samping ajarannya juga karena dibantu disebarkan oleh orang-orang yang sangat berpengaruh pada waktu itu. Katakan saja group The Beatles, terutama sosok John Lennon dan George Harisson. Mereka menelurkan banyak lagu-lagu yang sangat menarik seperti “Imagine”, “Give peace a change” “Instant Karma” dan juga “My Sweet Lord”. Lagu-lagu mereka menjadi penyemangat dalam pencarian spiritual para kaum Hippies yang memang sedang mencari jati diri dibalik pertentangan mereka dalam keyakinan turun temurun yang mereka anut.

Sebagai sebuah gerakan baru dan merupakan anggota keluarga baru khususnya di Indonesia, Hare Krishna masih mendapatkan stigma negatif. Baik karena kesalahan pengikutnya sendiri, maupun karena ketidaktahuan orang luar terhadapnya. Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini saya ingin sedikit membahas mengenai beberapa isu mengenai Hare Krishna yang sempat masuk ke telinga saya.

Hare Krishna tidak mutlak mengatakan bahwa menyebut Tuhan harus dengan Krishna

Mantram Visnusahasranama (1000 nama suci Visnu) adalah patokan para vaisnava termasuk Gerakan Hare Krishna dalam menyebut nama Tuhan. Tidak harus Krishna, bisa Rama, Visnu, Narasimha dan seterusnya…. Tapi intinya mereka percaya bahwa seluruh avatara Visnu adalah Tuhan dan bukan manusia biasa. Pembenaran mengenai Krishna adalah Tuhan diambil dari beberapa sloka Veda termasuk Bhagavad Gita itu sendiri, seperti: Bhagavad Gita 4.8: “paritrāṇāya sādhūnāṁ vināśāya ca duṣkṛtām dharma-saṁsthāpanārthāya sambhavāmi yuge yuge, Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman”, sloka 9.12: “moghāśā mogha-karmāṇo mogha-jñānā vicetasaḥ rākṣasīm āsurīṁ caiva prakṛtiṁ mohinīṁ śritāḥ, Orang-bodoh mengejek diri-Ku bila Aku menurun dalam bentuk seperti manusia. Mereka tidak mengenal sifat rohani-Ku sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada”.

Gaudya Vaisnava menjadi sangat terkenal dengan sebutan Hare Krishna karena kebiasannya menyanyikan dan melafalkan mantra Kalisantarana Upanisad yang terkait dengan Krishna Yajurveda. Dalam kitab ini disebutkan: “hare kṛṣṇa hare kṛṣṇa kṛṣṇa kṛṣṇa hare hare hare rāma hare rāma rāma rāma hare hare iti ṣoḍaśakaṁ nāmnāṁ kali-kalmaṣa-nāśanaṁ nātaḥ parataropāyaḥ sarva-vedeṣu dṛśyate”. Sesuai dengan mantra ini dikatakan bahwa mantra yang paling efektif dalam menyeberangi Kali Yuga adalah menyanyikan dan melafalkan “hare kṛṣṇa hare kṛṣṇa kṛṣṇa kṛṣṇa hare hare hare rāma hare rāma rāma rāma hare hare”. Oleh karena itu sangat mudah mengenali pengikut perguruan Gaudya Vaisnama dari cara dia bersembahyang menggunakan mantra ini.

Siva menurut Gerakan Hare Krishna adalah Penjelmaan Krishna/Visnu dalam wujud Guna Avatara (Berdasarkan Bhagavata Purana 1.2.23). Karena itu dalam kitab Brahma Samhita 5.42 disebutkan “Ksiram yatha dadhi vikra visesa-yogat sanjayate na hi tatah prthag asti hetoh yah sambhutam api tatha samupaiti karyad govindam adi purusam tam aham bhajami, seperti halnya susu berobah menjadi susu asam karena bercampur dengan unsur asam; namun susu asam tidak berbeda dan juga berbeda pada saat yang sama dari sumbernya yaitu susu. Demikianlah saya sembah Govinda, Tuhan nan asli asal keberadaan Sambhu (Siva) yang berfungsi sebagai pelebur alam material”. Sehingga dengan demikian Siva juga dipuja oleh Vaisnava. Dan biasanya Arca Siva akan diletakkan di depan/pintu masuk kuil/rumah.

Lalu bagaimana dengan Brahma? Sebagaimana halnya dengan Siva, Brahma juga bagian dari Guna Avatara yang memiliki fungsi sebagai pencipta. Hanya saja, pada zaman Brahma sekarang ini, yang menduduki posisi Brahma bukanlah Tuhan sendiri, tetapi adalah jiva tattva yang telah mencapai level yang luar biasa. Hal ini dibenarkan dalam kitab Brahma Samhita 5.53 yang mengatakan “dharmo ‘tha papa-nicayah srutayas tapamsi brahmadi-kita-patagavadhayas ca jivah yad-datta-matra-vibhava-prakata-prabhava govindam adi-purusham tam aham bhajami, Aku menyembah Govinda yang purba, yang dengan kekuasaannya memberi kemampuan menciptakan, terhadap semua yang ada, semua kebaikan, semua keburukan, semua Veda dan semua Jiva dari serangga sampai pada Brahma”. Karena itu Vaisnava tidak memuja Brahma sebagai Tuhan, tetapi memuja beliau sebagai barisan perguruan dan penyembah Tuhan yang paling utama.

Vaisnava sudah ada di Nusantara berdampingan dengan aliran-aliran Hindu lainnya.

Saya adalah orang yang tidak percaya Veda berasal dari India. Karena tidak satu pun kitab suci Veda menyatakan bahwa Veda diwahyukan di India. Dalam banyak sloka-sloka Veda dikatakan bahwa Tuhan mewahyukan Veda melalui dewa Brahma yang terletak di Brahma Loka, alias di luar planet Bumi. Setelah itu baru kemudian disebarkan seperti misalnya oleh Dewa Rsi Narada ke seluruh alam semesta termasuk ke Bumi.

Lalu kenapa Hindu identik dengan India? Karena sebenarnya nama asli ajaran Veda bukan Hindu, tetapi Sanatana Dharma. Nama Hindu bahkan baru tercipta setelah penyerangan bangsa Mogul yang beragama Islam ke India di mana mereka menyebutkan orang-orang Sanatana Dharma yang tinggal di lembah sungai Shindu sebagai “Hindu” akibat mereka tidak bisa melafalkan kata “Shi”.

Celakanya, di Indonesia pada awal kemerdekaan mereka yang duduk di pemerintahan tidak mengakui Hindu sebagai agama. Pada saat itu di Bali dikenal dengan sebutan Agama Tirtha, di Jawa ada Kejawen, di Sunda ada Wiwitan dan seterusnya. Namun secara kebetulan pada saat itu terdapat duta besar dari India dan juga orang Bali yang pernah menuntut ilmu di India yang mengidentifikasi bahwa keyakinan yang berada di Bali sangat mirip dengan keyakinan di India. Sehingga dengan demikian, mulailah pergeseran penyebutan dari Agama Tirtha menjadi Agama Hindu Bali. Kata Bali pada awalnya tidak mau dipisahkan dari penyebutan agama Hindu yang ada di Bali karena memang kebudayaannya sangat unik dan tidak sama persis dengan yang di India. Hanya saja karena para pimpinan agama waktu itu sangat menyadari bahwa ajaran yang dianut universal dan agar dapat merangkul ajaran-ajaran sejenis dari daerah lain, maka nama Hindu Bali diubah menjadi Hindu Dharma. Sehingga dengan demikian dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat lain di Nusantara untuk mengklaimnya sebagai agamanya yang mulai tanggal 5 September 1958 diakui sebagai agama resmi negara.

Jauh sebelum Hindu diakui sebagai Agama baik itu di Indonesia mau pun di India, Hindu sudah berkembang di bawah payung “Dharma” yang terbagi dalam banyak garis perguruan dan alirannya. Di Indonesia sendiri tercatat ada beberapa sekta/paksa yang berkembang, yaitu antara lain; Kala Paksa (Wanakrtih), Sambhu Paksa (Jagatkrtih), Indra Paksa (Samudrakrtih), Agni Paksa (Atmakrtih), Waisnawa Paksa (Danukrtih) dan Saiwa Paksa (Janakrtih). Dua yang terakhir yaitu aliran Sivaisme dan Vaisnavaisme merupakan aliran yang akhirnya mendominasi. Dominasi aliran ini dapat kita lihat dari praktek-praktek keagamaan yang berkembang baik sebelum maupun setelah kemerdekaan.

Khusus aliran Vaisnava cukup memegang posisi penting di Bali khususnya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya lontar Catur Veda Sirah yang menjadi acuan bagi seluruh pemuka agama di Bali. Catur Veda Sirah ternyata campuran dengan bahasa Jawa Kuno yang diambil dari kitab Narayana Upanisad tetapi di bait terakhirnya ditambahkan kata “etad Rg Veda siro’dhite”. Karena ada kata-kata “siro” ini lah sehingga Catur Veda ini dikenal dengan sebutan Catur Veda Sirah. Ulasan mendetail mengenai Catur Veda Sirah dapat dilihat di link ini. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan ajaran Vaisnava juga sebenarnya sudah mendarah daging di ajaran agama Nusantara.

Bukti-bukti lain mengenai kuatnya pengaruh Vaisnava di Nusantara adalah dari prasasti-prasasti yang menyebutkan bahwa raja-raja Nusantara disebutkan memiliki kedudukan seperti Visnu. Seperti misalnya tapak kaki Prabhu Brawijaya seperti tapak kaki Sri Visnu. Raja Airlangga seperti halnya penjelmaan Visnu. Perlu digarisbawahi bahwasanya penyebutan-penyebutan ini merupakan simbol kekuasaan dan kebijaksanaan para raja pada waktu itu. Jadi bukan menyebutkan bahwa raja-raja itu adalah penjelmaan Visnu sebagaimana banyak disalah tafsirkan oleh masyarakat awam. Karena avatara Visnu yang sebenarnya harus divalidasi dengan penyebutannya di Kitab Suci Veda.

Pengikut Gerakan Hare Krishna wajib menghormati seluruh Dewa dan bahkan mahluk hidup terkecil sekalipun.

Pengikut garis perguruan Gaudya Vaisnava yang taat akan selalu membaca kitab Siksastaka setelah selesai sembahyang pagi. Salah satu penggalan sloka Siksastaka tersebut adalah sebagai berikut” Orang hendaknya mengucapkan nama suci Tuhan dengan sikap pikiran yang rendah hati, dengan menganggap diri lebih rendah daripada rumput di jalan. Hendaknya ia lebih toleransi daripada sebatang pohon, bebas dari segala rasa bangga yang palsu, dan siap memberi segala hormat kepada orang lain. Dengan sikap pikiran seperti itulah ia dapat mengucapkan nama suci Tuhan senantiasa”. Jadi ajaran ini dengan sangat jelas menuntut agar para Vaisnava haruslah sangat toleran terhadap apa pun juga.

Lalu kenapa ada yang suka debat, suka menyalahkan? Perguruan Spiritual tidak ubahnya seperti perguruan Bela Diri. Murid yang baru belajar yang baru menguasai 1-2 jurus biasanya akan sangat suka unjuk kebolehan dengan menantang siapa pun untuk berkelahi. Bahkan kalau tidak ketemu orang, mungkin pohon pisang pun akan habis dia pukuli. Demikian lah, harus kita akui bahwa banyak murid-murid Gaudya Vaisnava juga melakukan tindakan yang tidak terpuji. Ibarat orang yang sudah lama kehausan dan akhirnya mendapatkan air yang berlimpah, demikianlah sebagian dari mereka mungkin merasa sangat kegirangan dan ingin mengungkapkan kegirangannya itu kepada orang lain yang dia anggap juga kehausan. Namun memang harus diakui banyak cara-cara yang dilakukannya kurang elegan sehingga menyinggung perasaan orang lain.

Vaisnava yang sejati tidak akan punya keinginan untuk menyakiti siapa pun. Dia akan berusaha menaruh segala hormat dan respek kepada orang lain dan bahkan pada makhluk yang paling remeh sekalipun. Karena itu pula lah mereka umumnya hidup dengan pola vegetarian. Karena sudah jelas diajarkan untuk respek terhadap semua makhluk hidup, maka seorang Vaisnava sejati juga akan sangat memuja para dewa yang menurut ajarannya adalah para bhakta Tuhan, Sri Krishna yang agung. Bahkan Sri Krishna menegaskan hal ini  kepada Arjuna dalam Adi-Purana, Mahabharata; “Ye me  bhakta janah partha na me bhaktas ca te janah, wahai Partha, orang yang berkata dirinya adalah  bhakta-Ku, sesungguhnya bukan bhakta-Ku. Mad bhaktanam ca ye bhakta te me bhaktata mamatah, tetapi orang yang berkata bahwa dirinya adalah bhakta dari bhakta-Ku, dia lah bhakta-Ku yang sebenarnya. Sehingga dengan demikian, seorang Vaisnava akan berusaha dengan cekatan melayani para guru-guru suci, dan juga melayani para dewa yang merupakan bhakta Tuhan Yang Esa.

Kenapa Gerakan Hare Krishna keindia-indiaan?

Seperti sudah saya singgung di awal, Vaisnava sudah mendarah daging di Nusantara beriringan dengan sekta-sekta lainnya. Bahkan garis perguruan/parampara-nya juga masih eksis. Konsep Pedeponan dan Pesantren yang menyebar di Indonesia pada awalnya adalah konsep ajaran Veda. Pedepokan dan Pesantren/Pesantian/Gurukula adalah tempat seorang guru kerohanian tinggal dan mengajarkan ajaran Veda ke murid-muridnya yang datang dari berbagai penjuru. Sayangnya akibat distorsi sejarah yang sedemikian rupa, kearifan asli ajaran Veda ini saat ini malah sukses diterapkan oleh umat Islam. Umat Hindu di Indonesia dapat dikatakan hampir tidak menerapkan konsep ini lagi.

Sisa-sisa konsep Gurukula untungnya masih tersisa di Bali yaitu dalam istilah agurun-guron dalam bentuk Grya yang dipimpin oleh seorang pedanda. Ini lah bentuk modern gurukula yang sebagian konsepnya harus diakui mulai bergeser. Jika dalam gurukula semua murid memiliki kesempatan yang sama menjadi murid di grya tersebut, maka pada saat ini yang berhak menjadi pedanda adalah keturunan darah dari pedanda tersebut. Sehingga dengan demikian seolah-olah konsep grya sekarang seperti membenarkan sistem kasta. Padahal Veda dengan Varnasrama Dharmanya tidak mengenal konsep penurunan berdasarkan keturunan biologis.

Kemudahan akses informasi dan era globalisasi di mana manusia dapat keliling dunia dengan mudahnya pada akhirnya membuka kesempatan akses masyarakat ke seluruh hal yang dia inginkan. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya terdapat sebagian masyarakat Bali khususnya dan Nusantara umumnya kurang puas dengan ajaran yang dia peroleh dari garis perguruan (baca: grya) yang sudah ada. Sehingga dengan demikian mereka berusaha mencari guru-guru lain yang menurut mereka lebih baik. Pertanyaannya apakah ini salah? Menurut saya tidak, karena tidak salah kalau kita punya lebih dari 1 guru. Dan secara kebetulan, salah satu guru yang paling kuat pengaruhnya yang datang ke Indonesia pada tahun 70-an adalah Srila Prabhupada yang berasal dari India dan telah sukses menyebarkan ajaran Vaisnava ke Amerika dan Eropa. Srila Prabhupada pernah datang ke pura Rawamangun dan memberikan sedikit wejangan di sana. Sehingga setelah itu mulai muncul simpati dan ketertarikan pada sosok Srila Prabhupada dan beliau pun mendapatkan beberapa murid di Indonesia. Murid-murid yang jumlahnya hanya dapat dihitung dengan jari pada saat itu saat ini sudah menjelma menjadi ribuan orang di seluruh Indonesia. Bahkan hampir di seluruh provinsi di Indonesia sudah tercapat center-center sebagai pusat sembahyang dan preaching Gerakan Hare Krishna.

Wujud keindia-indiaan akhirnya muncul karena beberapa hal, yaitu antara lain:

  1. Pakaian dhoti yang merupakan pakaian kebrahmanaan sudah terlanjur tidak dikenal oleh masyarakat umum di Nusantara. Kalaupun pakaian ini sebenarnya masih dipakai sebagai pakaian dasar oleh setiap brahmana di Indonesia.
  2. Garis perguruan dengan guru yang kelahiran India secara langsung mau pun tidak langsung sudah pasti juga membawa budaya Indianya. Sehingga dengan demikian merupakan kewajiban pengikutnyalah yang harus dapat membedakan mana yang ada di ranah budaya dan mana ranah spiritual.
  3. Murid garis perguruan Gerakan Hare Krishna datang dari berbagai suku, agama dan ras. Bahkan pengikutnya berasal dari berbagai bangsa yang berbeda. Oleh karena itu mereka bersatu dalam satu bentuk budaya yang mungkin seolah-olah keindia-indiaan. Namun bukan berarti budaya India mendominasi, faktanya temple di Bali menggunakan budaya Bali, temple di China menggunakan budaya China dan seterusnya.

Intinya, sebenarnya dalam ajaran Vaisnava tidak ada kewajiban menggunakan adat India dalam setiap kegiatannya. Semua kegiatan spiritual dapat dilakukan dengan adat dan budaya masing-masing. Syukur-syukur jika dapat kembali menggunakan adat budaya Vaisnava asli yang sudah berkembang ribuan tahun di masa lampau di Nusantara.

Gerakan Hare Krishna meyakini seluruh kitab suci Veda

Tidak benar bahwasanya yang diyakini oleh Gaudya Vaisnava hanya Bhagavad Gita dan Bhagavata Purana. Gaudya Vaisnava mendasarkan ajarannya pada seluruh kitab suci Veda. Hanya saja Gaudya Vaisnava meyakini bahwa pada Kali Yuga yang disebut modernisasi ini kemampuan manusia untuk mempelajari seluruh Veda tidak lah mungkin karena usianya yang singkat, kemampuan menghafal yang semakin berkurang dan semakin sedikitnya waktu yang tersedia untuk kegiatan spiritual. Sehingga dengan demikian sebagaimana disebutkan dalam kitab Gita Mahatmya bahwa Bhagavad Gita yang hanya terdiri dari sekitar 700 adalah bentuk rangkuman mini dari seluruh ajaran Veda. Sebagaimana halnya rangkuman yang tidak mendetail, tentu saja juga harus disupport dengan kitab-kitab yang lain yang selanjutnya proses belajarnya dibagi sesuai dengan guna dan karma seseorang (masuk ke konsep varnasrama dharma). Seorang Brahmana akan lebih fokus belajar kitab Chanda, Jyotisastra, Upanisad dll… tetapi seorang Ksatrya akan banyak berhadapan dengan kitab Dhanur Veda, Artha Sastra dan seterusnya.

Seorang Vaisnava memandang bahwa kitab suci Veda secara umum dibagi menjadi 2 bagian, yaitu kitab Sruti dan Smrti. Bagi seorang vaisnava, kedudukan kitab Sruti dan Smrti adalah sama sehingga tidak ada kata-kata yang membenarkan bahwa Sruti yang merupakan wahyu langsung dari sabda kedudukannya lebih tinggi dari Smrti yang merupakan ingatan pada maha rsi. Brhad-aranyaka upanisad 2.4.10 mengatakan; “rg, yajur, sama dan atharva veda dan itihasa semuanya keluar (berasal) dari nafas kebenaran mutlak, Tuhan Yang Maha Esa. Dan lebih lanjut Bhagavad Gita 3.15 menegaskan; “brahmaksara-samudbhavam”, pengetahuan veda langsung di wejangkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Lebih khusus lagi Brahma Vaitarta Purana mengatakan bahwa kitab-kitab suci Veda [terutama sekali dalam kontek ini Purana] terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kitab-kitab dalam sifat Tamasik, kitab-kitab dalam sifat Tajasik dan kitab-kitab dalam sifat Sattvik. Lebih lanjut dalam sloka-sloka Veda yang lainnya sebagaimana juga sedikit disinggung dalam Bhagavad Gita bab 17 dikatakan bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan spiritual yang berbeda. Sehingga tidaklah memungkinkan untuk mengajarkan ajaran spiritual secara sama rata. Harus ada pembagian-pembagian Veda yang diperuntukkan untuk golongan tertentu sesuai dengan kecerdasan spiritualnya. Sehingga dengan demikian, maka merupakan hal yang sangat natural jika Dharma dengan kitab sucinya Veda menjadi rumah untuk sangat banyak sekta. Vaisnava sendiri memang lebih banyak fokus pada kitab-kitab Satvika, tetapi tidak terbatas hanya pada kitab-kitab Bhagavad Gita.

Beda garis perguruan dan sekta, tapi ada dalam 1 payung Dharma

Ibarat sebuah keluarga dengan anak, bapak, ibu, kakek dan neneknya, masing-masing hidup dengan kegemaran makan yang berbeda. Memiliki hoby yang berbeda dan bahkan kebiasaan tidur yang berbeda. Menyadari keunikan ini, maka Veda juga telah menyiapkan “kamar, menu dan bentuk hoby” yang sesuai dengan masing-masing individu. Veda menyiapkan sekian banyak kitab yang harus dipelajari oleh orang yang sesuai dengan guna dan karmanya. Perbedaan ini dibuat bukan untuk membuat kita saling bertengkar dan meperdebatkan perbedaan, tetapi agar kita bisa hidup harmonis dalam perbedaan itu sendiri. Oleh karena itu, bersatulah dalam perbedaan dan jadilah keluarga Dharma yang penuh warna.

Om Tat Sat

%d bloggers like this: