Dua hari lalu adalah Narasimha Catur Dasi, sebuah hari sakral untuk umat Hindu terutama bagi mereka dari garis perguruan Vaisnava yang juga bertepatan dengan hari Pagerwesi yang melekat erat dengan rerainan bagi umat Hindu etnis Bali. Sebagai sebuah hari special untuk memperingati hari kemunculan Avatara, Hindu Vaisnava di seluruh dunia pada umumnya akan melakukan pengendalian diri  dengan tidak makan dan minum dimulai sejak beranjak tidur sampai dengan perayaan tersebut selesai dilakukan. Meski bukan seseorang yang taat, kami sekeluarga juga mencoba melakukan pengendalian diri dengan berpuasa. Uniknya, melihat apa yang kami lakukan, ada seorang teman Hindu etnis Bali ada yang bertanya, kenapa sebagai umat Hindu ikut-ikutan Islam menjalankan puasa? Apakah Hindu mengenal puasa? Pertanyaan tersebut membuat saya tertegun, dan bertanya-tanya, apakah pengajaran agama Hindu di sekolah formal selama ini tidak pernah menyinggung puasa sehingga puasa lebih diidentikkan dengan Islam? Tidak tahukan kita bahwa puasa itu adalah istlah asli Hindu dan agama-agama yang kitab sucinya menggunakan Bahasa Sanskerta?

Meski di Indonesia saat ini puasa diidentikkan dengan ajaran Islam, namun sejatinya Islam sendiri mengadopsi istilah puasa dari istilah Hindu. Istilah puasa berasal dari Bahasa Sansekerta “Upavasa” (उपवास)  yang berarti pengendalian diri terhadap sesuatu. Di sisi lain sebagai agama yang lahir dan berkembang dengan budaya dan Bahasa Arab, istilah asli tidak makan dan minum dalam Islam kurang lebih disebut “syam” (صيام). Hanya saja sebagaimana kita ketahui, jauh sebelum Islam datang dan menyebar di Indonesia, penduduk nusantara sudah memiliki dasar keyakinan Hindu dan Buddha yang sangat melekat secara turun terumun. Kegiatan puasa juga tidak asing bagi mereka mulai dari puasa senin kemis, puasa weton, sampai dengan puasa yang ditujuan sebagai sebuah bentuk sumpah seperti misalnya yang dilakukan oleh Maha Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapanya, atau Bhisma dengan sumpahnya untuk hidup membujang seumur hidupnya. Sebagai sebuah keyakinan yang sudah melekat erat, bukanlah sebuah hal yang mudah merubah masyarakat Indonesia dapat langsung beralih meninggalkan budayanya dan mengadopsi budaya Arab. Proses pergeseran budaya dan keyakinan tersebut mau tidak mau dilakukan secara bertahap dengan memplintir istilah-istilah sebelumnya. Seperti misalnya istilah surga yang awalnya mengandung makna suatu planet tempat kehidupan para dewa yang masih bersifat material diadopsi menjadi seolah-olah tujuan akhir kehidupan dengan kenikmatan bidadari yang dicita-citakan oleh umat Islam. Demikian juga istilah puasa yang terdegradasi dan seolah-olah sudah dijual dan menjadi milik umat Islam.

Pertanyaannya adalah, kenapa proses tersebut bisa terjadi? Kenapa umat Hindu banyak yang tidak tahu bahwasanya istilah-istilah tersebut adalah bagian dari keyakinannya dan merekalah yang harusnya lebih ahli dalam hal itu? Inilah yang disebut sebagai “loss of generation” yang terjadi secara sistematis karena hilangnya transfer knowledge dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses ini terjadi akibat “knowledge management” yang sangat buruk baik disebabkan oleh institusi yang paling rendah, yaitu keluarga dan juga institusi yang paling tinggi yaitu pemerintah (yang jaman dulu adalah kerajaan Hindu, dan jaman sekarang adalah pemerintah termasuk di dalamnya pembimas Hindu). Pada jaman dahulu institusi Pendidikan Hindu dijalankan melalui system parampara dalam bentuk ashram berbasis pada Catur Varna dan Catur Ashrama. Celakanya system tersebut dinodai dengan pemelintiran catur varna yang pada dasarnya didasarkan pada guna (sifat, karakter) dan karma (pekerjaan) menjadi sebuah sistem yang didasarkan pada kelahiran. Sebagai kita ketahui, dalam catur Varna, Brahmana dan Ksatrya mendapatkan tempat yang terhormat dalam tatanan masyarakat yang meskipun mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa adanya kaum Vaisya (pengusaha) dan Sudra (kaum buruh). Untuk mengunci kedudukan keluarganya pada posisi yang dihormati, Brahmana yang memimpin istitusi Ashrama dan Ksatrya yang memimpin institusi pemerintahan menggeser istilah catur varna menjadi sistem kasta dengan mengatakan bahwa anak seorang brahmana akan otomatis menjadi brahmana, anak ksatrya otomatis menjadi ksatrya dan demikian juga anak vaisya dan sudra otomatis menjadi vaisya dan sudra. Padahal tidak ada satu sloka Veda manapun yang membenarkan hal tersebut. Sebagai implikasi rusaknya institusi pemerintahan dan institusi Pendidikan, ajaran Hindu tidak lagi diteruskan sebagaimana mestinya. Celakanya, di sisi lain, instutisi keluarga juga tidak berjalan dengan baik akibat lalainya orang tua mengajarkan konsep keyakinannya kepada anak-anaknya. Atau mungkin pada waktu itu karena ditakut-takuti oleh kaum Brahmaan dengan istilah “ajawera” yang melarang mereka belajar Veda secara langsung. Hal ini masih terus terjadi hingga saat ini terutama untuk umat Hindu di Indonesia. Institusi keluarga sangat disibukkan oleh upacara sehingga lupa akan transfer filsafat, apa lagi ilmu perbandingan agama seperti apa yang dilakukan baik oleh Kristen maupun Islam. Institusi pemerintahan lebih condong pada agama mayoritas dan menekan agama minoritas. Dengan demikian, sehingga tidaklah mengherankan banyak dari generasi muda kita menjadi buta filsafat sampai-sampai mempertanyakan hal mendasar seperti misalnya masalah apakah puasa ada dalam Hindu.

Sebagaimana sudah disinggung di atas, akhir kata, istilah puasa adalah istilah asli Hindu. Puasa dalam Hindu berarti pengendalian atau pengekangan diri yang tidak hanya terbatas pada makanan dan minuman. Bagi mereka yang vegetarian, maka mereka berpuasa seumur hidup untuk tidak memakan produk hewani kecuali susu. Bagi mereka yang nyukla brahmacari, maka mereka puasa seumur hidup untuk tidak menikah dan berhubungan badan. Sedangkan di sisi lain, untuk puasa terhadap makanan dan minuman, terdapat berbagai jenis puasa yang tidak akan dijelaskan detail dalam artikel singkat ini, melainkan dapat dilihat pada artikel lain dalam blog ini. Terdapat puasa ekadasi yang pada umumnya tidak memakan biji-bijian, terdapat puasa nirjala ekadasi yang tidak makan dan minum apapun selama hampir 24 jam, ada puasa setengah hari, dan lain-lainnya.

Jadi dengan demikian, jangan lagi bertanya apakah Hindu mengenal puasa atau tidak ya kawan… Veda berarti pengetahuan. Sebagai gudangnya pengetahuan, tataran filosofi Veda sangat luar biasa sehingga tidak salah jika dikatakan apapun yang ada di ajaran agama lain ada di Hindu tetapi apa yang ada di Hindu belum tentu ada di ajaran lain. Mari akses pengetahuan Veda dengan belajar filsafat…

Om Tat Sat

Translate »
%d bloggers like this: