(Dikutip dari Majalah Back to Godhead, oleh Anakadundubhi Dasa. Diterjemahkan untuk Vasa Puja H.H. Bhakti Raghava Swami Maharaja yang ke-72, 5 Mei 2018.) oleh Yadhava Hari Dasa

“Melintasi jalur hutan, jalur pegunungan, dan area perairan, Bhakti Raghava Swami telah merevolusi penyebaran ajaran Dharma di India.”

Saat itu masih jam 6 pagi. Sejumlah penyembah Bengali memikul pakaian dan selimut di punggung mereka. Rambut mereka masih basah sehabis mandi di Sungai Ganga yang suci. Mereka berjalan tanpa alas kaki di sepanjang jalan setapak menuju Temple Chandrodaya Mayapur.

Temple itu didekorasi dengan sangat cantik. Terdapat kunda Yajna yang terbuat dari batu bata dan lumpur lunak yang disusun di atas lantai marmer di bagian tengah Temple. Di sekelilingnya disusun buah-buahan tropis yang lezat dan bunga-bunga yang cantik. Pot-pot terbuat dari tanah liat yang telah diwarnai untuk wadah kelapa yang diisi dengan biji-bijian yang segar dan tak berkulit. Hiasan tepung beras yang berlukiskan Sanka, bunga, gajah, sapi suci, menghiasi lantai area Temple. Serta arca Sri Caitanya Mahaprabhu dan Sri-Sri Radha-Madhava, bergemerlapan dengan mengenakan gaun sutra yang sangat indah, menjadi saksi upacara bagi semua yang ada di sana.

Di area Temple yang penuh sesak, hampir enam ratus penyembah dari seluruh dunia duduk bersila di atas lantai yang dingin. Mereka berusaha mendengarkan Srila Jayapataka Swami yang bebicara dengan suara keras pada mikrofon agar dapat terdengar oleh seluruh penyembah yang sangat antusias di sana.

“Hari ini kita akan memberikan gelar Sannyasa kepada Raghava Pandita Prabhu,” ia menjelaskan. “Sannyasa bukanlah sesuatu hal yang biasa. Ini merupakan sebuah tindakan dalam pelepasan ikatan atas apapun. Menerima gelar Sannyasa tidak hanya berarti mengambil sumpah untuk membujang seumur hidup, tetapi itu dimaksudkan untuk melakukan segala hal dengan sungguh-sungguh insaf dalam Kesadaran Krishna, cinta akan Tuhan.”

“Saya tidak menemukan seorangpun yang pantas untuk menerima gelar Sannyasa ini selain Raghava Pandita. Ia datang ke Mayapur pada tahun 1976 atas perintah Srila Prabhupada. Kami awalnya enggan untuk mengajaknya dalam pelayanan yang menuntut kekuatan fisik. Tapi suatu hari ketika berbicara dengannya, saya mulai menjelaskan tentang program Nama Hatta yang telah saya kembangkan untuk merevolusi kegiatan penyebaran Kesadaran Krishna di India. Raghava pun mengambil pelayanan ini dengan sepenuh hati, dan enam tahun berikutnya dia melakukan perjalanan ke seluruh India, membangun lebih dari seribu center.”

“Kepada kalian semua yang belum tau,” Jayapataka Swami berteriak, “Raghava Pandita tidak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Tetapi bahkan ketika tidak ada transportasi yang tersedia atau jika tempat tertentu sangat terpencil, dia akan melakukan dengan sepenuh hati berjalan kaki sejauh enam belas sampai dua puluh kilometer, melewati hutan-hutan, jalur perbukitan, atau bahkan berjalan dengan tertatih-tatih melewati area ladang yang terbanjiri oleh air sungai yang meluap. Untuk melakukan hal ini, seseorang harus terlepas dari keadaan fisiknya. Kalau tidak, bagaimana bagaimana mungkin dia bisa mengambil risiko sebegitu besar ini?”

“Oleh karena itu,” Jayapataka Swami menyimpulkan, “Saya merasa sangatlah tepat untuk memberinya gelar, Bhakti Raghava Swami.”

Seorang Hotri pun menyalakan api suci sambil mengucapkan mantra-mantra suci dalam bahasa Sanskerta. Api menyala dengan besar dan menjilat sendok Yajna milik hotri manakala akan menuangkan Ghee. Mereka yang diinisiasi pun mengucapkan sumpah mereka dan memanjatkan doa seiring menanggapi mantra yang diucapkan oleh Hotri, dan upacara pun selesai.

Kemudian di sore hari saya meninggalkan Temple dan menyeberangi area ladang menuju area komplek sekolah anak laki-laki Mayapur, di mana Bhakti Raghava Swami bersama lebih dari delapan ratus lima puluh orang lainnya tinggal. Saya pun berjalan menuju ke pondok terkecil. Di sana saya bertemu Bhakti Raghava Swami duduk dengan sangat hening nan sejuk, wajah dan bahunya diterangi oleh serpihan tipis sinar matahari yang bersinar melalui jendela bambu di belakangnya.

Menanggapi ucapan selamat dari saya, ia dengan bersemangat mulai berbicara tentang program Nama Hatta. Kami berjalan keluar bersama-sama, yang mana ia berjalan dengan mengenakan tongkat. Ia menggambarkan bagaimana anggota groupnya secara sistematis melakukan kunjungan ke setiap kota dan desa di Bengal, Bihar, Orissa, dan Bangladesh. Ketika mereka tiba di sebuah kota, mereka pasti akan selalu diundang ke setiap rumah penduduk. Mereka inilah yang akan menyemangati para penduduk untuk mengembangkan rumahnya menjadi sebuah Temple dan melakukan pengajaran dari pintu ke pintu, mendistribusikan buku, pamflet, dan Prasadam. Melalui sistem ini, Bhakti Raghava Swami telah membuka seribu lebih pusat pengajaran, merubah hidup ribuan orang.

Namun ketika ia berbicara, tidak ada tanda-tanda motif kepentingan pribadi, tetapi sebuah rasa ingin tau bagaimana prediksi para Guru-Guru spiritual yang agung sedang terjadi. Pada akhir abad ke sembilan belas, Srila Bhaktivinoda Thakura telah membayangkan sebuah kota yang indah yang dihuni oleh para Vaishnava di Sridham Mayapur, tempat penyembah dari seluruh dunia dapat berkumpul dan mengucapkan Maha-Mantra Hare Krishna dan mengagungkan Sri Caitanya Mahaprabhu.

Bhakti Raghava Swami dan saya telah berjalan bersama selama hampir satu jam sebelum akhirnya saya menyadari betapa sulit baginya untuk berjalan menggunakan tongkat di jalan-jalan yang kasar di India. Ia telah lumpuh di kaki kanannya sejak muda, tetapi pada bulan Maret 1984 dia kehilangan kakinya dalam peristiwa ledakan bom ketika dia mencoba untuk menghentikan sekelompok perampok bersenjata yang merampok arca di Temple Chandrodaya Mayapur. Saya bertanya kepadanya apakah hal tersebut membuatnya merasa tidak nyaman.

“Yah, setidaknya kaki saya tidak menghalangi lagi,” candanya. “Tapi sesungguhnya, saya hanyalah berusaha menggunakan kekuatan apapun yang Tuhan berikan kepada saya dalam pelayanan kepada-Nya. Jika saya hanya meratapi hal ini, saya tidak akan menyelesaikan apa-apa.”

Saya teringat saat mengunjungi Bhakti Raghava Swami di rumah sakit desa sehari setelah insiden pemboman terjadi. Ia berbaring di tempat tidur kecil di ruangan yang sempit dan tidak dicat seluas satu setengah kali dua setengah meter. Saya membawa beberapa buah dan garland. Beberapa penduduk setempat yang mendengar tentang insiden itu memadati ruangan, melihatnya dengan perasaan tak percaya.

“Haruskah saya menyuruh mereka untuk pulang?” Saya bertanya.

“Tidak, tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa.” Jawabnya lemah karena kehilangan banyak darah.

Dia melanjutkan untuk memberikan pelajaran kepada mereka dalam bahasa Bengali dengan sangat fasih. “Ini adalah bukti bahwa tubuh sementara ini hanyalah sumber kesengsaraan. Jangan sia-siakan hidup kalian hanya untuk mencoba membuat situasi material yang nyaman. Karena hal itu dapat dengan sekejap diambil seperti apa yang kalian lihat sekarang. Tuhan Sri Caitanya Mahaprabhu turun di sini di Bengal lima ratus tahun yang lalu untuk mengajari kita cara megucapkan Maha-Mantra; Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare/Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare. Maha-Mantra ini adalah sebuah panggilan untuk Roh Yang Utama, Sri Krishna, untuk membebaskan kita dari tenaga material dan menerima kita dalam tenaga rohani-Nya. Jadi, mohon terimalah Maha-Mantra ini.”

Ia pun terdiam, kelelahan. Orang-orang terkagum melihat seorang yang dalam kondisi kesakitan dapat berbicara dengan sangat lancar. Dan ini adalah orang barat, berbicara dalam bahasa mereka dan memberi tahu mereka apa yang seharusnya sudah mereka ketahui. Mereka bersujud dan memberikan hormat kapada orang suci ini. Mata saya pun dipenuhi air mata karena rasa bangga dan kagum.

Hari sudah hampir malam ketika kami kembali menyusuri jalan tanah yang menanjak menuju Temple untuk menghadiri upacara penghargaan untuk para anggota program Nama Hatta. Hari sudah gelap saat kami tiba di Temple, dan jalanan diterangi dengan lampu-lampu hiasan. Ribuan penyembah berdesakan di area Temple. Temple itu sudah penuh sesak.

Melantangkan suaranya lebih kuat dari suara air mancur yang riuh, Bhakti Raghava Swami memberikan komentar, “Tuhan Sri Caitanya Mahaprabhu telah memberikan sebuah proses yang paling luhur dan praktis untuk menginsafi identitas rohani kita yang kekal. Sehingga kita dapat menghentikan khayalan dan identitas palsu dalam tubuh material yang bersifat sementara ini. Kita hanyalah perlu mengucapkan nama-nama suci Sri Krishna. Srila Bhaktivinoda Thakura menuliskan dalam salah satu lagu terkenalnya, “jiv krsna das e visvas, korle to’ ar duhkho nai.” Wahai para jiwa, jika kalian telah menyadari bahwa kalian adalah hamba dari Sri Krishna, semua masalah kalian akan dihapuskan.” Tujuan dari Nama Hatta adalah untuk menyebarkan pengetahuan ini ke seluruh India, dan seluruh dunia.”

Saat ia berbicara, saya melihat welas kasih dan tekad yang kuat di matanya. Saya teringat sebuah sloka yang ditulis oleh Krsnadasa Kaviraja Goswami, penulis riwayat hidup Sri Caitanya Mahaprabhu di abad ke enam belas; Meskipun seorang penyembah mungkin lumpuh, namun dengan menjaga keyakinannya secara penuh pada Tuhan Sri Caitanya, dia akan mampu melintasi gunung.

🌹🌹 Happy Vyasa Puja 🌹🌹
Please accept my humble obeisance at your lotus feet 🙏🙏

Translate »
%d bloggers like this: