Sumber: Stevent Knap
Karya   : Suryanto, M.pd

Pernahkah Anda mendengar istilah “Missing Years” dalam teologi kekristenan? Mungkin belum! Bahkan, pengalaman saya, para bruder dan suster pun ada yang belum mengetahuinya. Apalagi umat awam, barangkali secara sengaja tidak diinformasikan mengenai hal itu.
Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “missing years” itu? Ya, itu memang terminologi dalam bahasa Inggris yang berarti “tahun-tahun yang hilang”. Tahun-tahun yang masih menyisakan teka-teki besar bagi sebagian umat Katholik dan Kristen yang kritis. Mengapa demikian?
Orang yang mempelajari Injil dengan seksama, pasti akan dapat mengetahui riwayat hidup Yesus Kristus. Mereka tahu : kapan, dimana, dan bagaimana kisah kelahiran Yesus. Para pembaca Injil juga tahu, bagaimana dan pada usia berapa Yesus meninggal di salib, lalu “bangkit” kembali. Namun kalau mereka jeli, mereka juga akan mendapatkan fakta berikut ini. Bahwa Injil menceritakan kelahiran dan kegiatan Yesus sampai dengan Yesus berusia 12 tahun. Bahwa Yesus terlahirkan oleh Bunda Maria, bahwa Yesus secara ajaib menyelamatkan orang-orang yang percaya pada-Nya.
Setelah itu, tiba-tiba Injil menceritakan kembali kehidupan Yesus pada waktu Beliau sudah berusia 30 tahun. Saat itu, Yesus menerima baptis dari Yohanes Pembaptis di sungai Jordan. Sejak itu Injil kembali menceritakan secara runtut kehidupan Yesus. Kegiatan Beliau mengajarkan, menyembuhkan orang-orang sakit, berkhotbah di atas bukit, sampai dengan Yesus di salib. Juga masih dilengkapi dengan kesaksian para murid yang bertemu kembali dengan Yesus, setelah Yesus meninggal disalib, tetapi secara ajaib “bangkit” kembali.
Dengan demikian, terdapat 18 tahun “missing years”. Tidak ada sepatah katapun dalam Injil yang bercerita apa yang terjadi pada diri Yesus sejak berusia 13 tahun hingga akhirnya tiba-tiba berada di Sungai Jordan. Inilah yang disebut sebagai “tahun-tahun” yang hilang. Tentu kita akan bertanya-tanya, mengapa hal itu terjadi? Apa yang sesungguhnya di alami oleh Yesus?
Saya pernah mencoba mempertanyakan hal ini kepada beberapa orang Katholik dan Kristen. Anehnya, banyak di antara mereka yang bahkan “baru dengar” istilah itu, justru setelah saya mempertanyakannya. Ada juga yang mengetahui hal itu, lalu mencoba menjelaskan sebagai berikut.
“Mas, Injil itu berisi pengkabaran tentang kasih Allah, bukan biografi hidup Yesus. Jadi, yang diuraikan di dalamnya adalah ajaran-ajaran keselamatan, bukan kronologi hidup Yesus. Hanya kejadian-kejadian ajaib yang dilakukan oleh Yesus saja yang dicatat dan dilukiskan dalam Injil. Itu yang lebih penting. Jangan menuntut bahwa seluruh kehidupan Yesus harus tercatat di dalam Injil. Bukan itu tujuan Injil.” jawab seorang pria, yang kebetulan adalah seorang bruder yang sedang mendapat tugas belajar. Ia tampak yakin dan percaya diri menyampaikan jawaban itu, sambil jujur mengatakan bahwa penjelasan itu dia peroleh dari salah seorang pastornya di gereja.
Sekilas, jawaban itu memang mengena. Tapi, saya sampaikan lagi pertanyaan kritis :
“Oke, Mas. Trimakasih jawabannya. Tapi, cobalah renungkan. Apakah benar, Yesus yang kelahirannya saja ajaib (terlahir dari seorang perawan), sampai usia 12 tahun juga masih melakukan keajaiban-keajaiban, eh…selama 18 tahun berikutnya sama sekali tidak lagi melakukannya? Masak sih…keajaiban itu terhenti selama 18 tahun? Kenapa, apa alasannya? Bukankah setelah itu, Yesus kembali melakukan hal-hal ajaib sampai puncaknya ‘bangkit’ kembali dari kematiannya di tiang salib??” Mahasiswa itu terdiam, merasakan adanya kebenaran dalam pertanyaan saya.
Coba bandingkan, lanjut saya, dengan Hadist dalam Islam, yang berisi uraian sangat detil tentang pemikiran, ucapan, dan perilaku Nabi Muhammad. Bagi seorang tokoh pilihan Tuhan (nabi) sekaliber Yesus, tidakkah 18 tahun merupakan selang waktu yang terlalu panjang untuk tidak berbuat sesuatu apapun yang pantas untuk dicatat dalam Injil?
Karena semuanya terdiam mendengar pertanyaan saya, akhirnya dengan berat hati saya bertanya lagi : “Pernahkah Anda dengar bahwa sebenarnya Yesus pergi ke India belajar bhakti yoga??”
YESUS KE INDIA??

Kontroversi tentang “missing years” Yesus bukanlah hal yang baru. Sejak tahun 1890-an hingga saat ini, telah banyak buku yang terbit membahas apa yang sesungguhnya dilakukan oleh Yesus selama 18 tahun yang tidak diceritakan dalam Injil tersebut. Ada sarjana yang mengkajinya dari sisi teologi, ada pula yang murni membahasnya berdasarkan temuan-temuan arkeologi. Misteri tentang kehidupan Yesus tersebut mulai mencuat ketika pada tahun 1870-an, seorang wartawan Rusia bernama Nicolas Notovitch melakukan perjalanan wisata ke negara-negara Asia Selatan. Akhirnya pada tahun 1887 Notovich tiba di India. Ketika mengunjungi sebuah wilayah bernama Leh, di dekat sungai Wakha, ia memutuskan untuk mengunjungi dua vihara Budha yang ada di daerah itu. Di vihara itu, Notovitch bertemu dengan seorang Lama yang berkata kepadanya bahwa : “We also respect the one whom you recognize as Son of the one God. The spirit of Buddha was indeed incarnate in the sacred person of Issa [Jesus], who without aid of fire or sword, spread knowledge of our great and true religion throughout the world. Issa is a great prophet, one of the first after twenty-two Buddhas. His name and acts are recorded in our writings.” Terjemahan:
“Kami juga menaruh hormat kepada Beliau yang Anda kenal sebagai Putra Tuhan. Jiwa Budha sugguh-sungguh menjelma dalam diri orang suci Issa (Yesus) yang tanpa bantuan api ataupun pedang, menyebarluaskan agama kami yang agung dan sejati ke seluruh dunia. Issa adalah seorang nabi besar, merupakan yang pertama setelah dua puluh dua Budha. Nama dan perilaku Beliau tercatat dalam tulisan-tulisan kami”.
Mendengar hal itu, Notovitch sangat terkejut. Bagaimana mungkin Lama ini menyebut tentang seorang suci bernama Issa, yang dikenal sebagai Yesus oleh orang-orang Kristen? Akhirnya, Notovitch diberitahu bahwa ada sebuah dokumen kuno berbahasa Pali yang menceritakan kisah Yesus selama di India yang tersimpan di salah satu vihara Hemis di Lhasa, Tibet. Ketika sedang mengendarai kuda menuju vihara tersebut, Notovitch mengalami kecelakaan dari atas punggung kudanya hingga patah kaki. Ia mendapat perawatan dari para Lama di vihara Hemis itu selama beberapa waktu. Akhirnya para Lama di sana bersedia menunjukkan dokumen yang dimaksud. Dengan bantuan seorang penterjemah, Notovitch berhasil mengcopy naskah itu, dan membawanya ke Rusia.
Notovich kemudian berusaha menunjukkan temuannya kepada beberapa cardinal, yang sudah barang tentu menolak untuk menerbitkan dan menyebarluaskan hal yang menghebohkan itu.
Notovich kemudian menerbitkan sendiri sebuah buku yang berjudul The Unknown Life of Jesus Christ”, yang berisi uraian lengkap tentang apa yang dilakukan oleh Yesus selama berada di India. Dalam naskah itu disebutkan bagaimana Yesus muda meninggalkan rumah orang tuanya secara diam-diam di Yerusalem, lalu menuju daerah Sindh. Di sana, ia belajar pengetahuan spiritual dari seorang guru lalu saat berumur 14 tahun, ia menyeberang ke India.
Bila kita cermati ajaran-ajaran Yesus, dan kita bandingkan dengan ajaran-ajaran Hindu, khususnya ajaran Waisnawa dengan penekanan pada aspek Bhakti Yoga, akan dapat kita temukan persamaan-persamaannya. Misalnya, dalam salah satu dari Sepuluh Perintah, Yesus mengajarkan agar seseorang mencintai Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya, melebihi cinta terhadap segala sesuatu. Ajaran bhakti yoga juga menekankan cinta bhakti sebagai jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Persamaan ini dapat kita pahami, mengingat dalam perjalanannya ke India, Yesus pernah tinggal dan belajar dari para brahmana di wilayah Jagannath Puri, di Propinsi Orisa dan juga di kota Benares. Di Jagannath Puri, terdapat mandir/kuil Jagannath yang tersohor diseluruh India yang di dalamnya dilakukan pemujaan terhadap murti Sri Krisha, Balarama dan Subhadra secara besar-besaran.
Dalam dokumen berbahasa Pali yang tersimpan di vihara Hemis itu, diceritakan bahwa : “Para brahmana mengajari Isa untuk membaca dan mempelajari Weda, cara menyembuhkan penyakit melalui doa, cara mengajarkan dan menjelaskan kitab suci, cara mengusir roh jahat yang merasuki tubuh manusia, dll. Isa menghabiskan waktunya selama 6 tahun di Jagannath, Rajegriha, Benares, dan kota-kota suci lainnya. Semua menyayangi Isa, karena ia hidup berbaur dengan para vaisya dansudra dan mengajari mereka kitab suci. Namun golongan brahmana dan ksatria di kota itu yang telah merosot moralnya mengatakan bahwa Tuhan tidak mengijinkan para vaisya dan sudra untuk mendengarkan ajaran Weda. Karena itulah para brahmana itu meminta Isa untuk meninggalkan golongan yang dianggap rendah itu, dan mengajak Isa untuk memuja Tuhan para brahmana saja.
Namun Issa tidak mengindahkan para brahmana itu, ia tetap datang kepada para sudra, dan mengajak mereka menentang para brahmana dan ksatria yang menyimpang dari ajaran Weda itu. Yesus mengatakan bahwa : ‘Pada Hari Pengadilan nanti, para waisya dan sudra akan diampuni dosanya karena kebodohan mereka. Tetapi, Tuhan akan menghukum mereka yang terlalu sombong dengan hak-hak yang dimilikinya (brahmana).
“The Vaisyas and the Soudras were struck with admiration, and demanded of Issa how they should pray to secure their happiness. ‘Do not worship idols, for they do not hear you; do not listen to the Vedas, where the truth is perverted; do not believe yourself first in all things, and do not humiliate your neighbor. Help the poor, assist the weak, harm no one, do not covet what you have not and what you see in the possession of others.'”
Artinya : “Para vaisya dan sudra mengagumi ajaran-ajaran mulia itu dan bertanya kepada Isa bagaimana seharusnya mereka berdoa untuk memperoleh kebahagiaan. Isa menjawab “Jangan memuja berhala, karena berhala tidak bisa mendengar; jangan mendengarkan ajaran Weda, karena kebenarannya telah diputar balik; jangan mempercayai dirimu sendiri dalam segala hal; jangan menghina tetanggamu. Bantulah orang miskin, tolonglah orang yang lemah, jangan menyakiti orang lain, jangan iri terhadap milik orang lain yang tidak engkau miliki.”
Demikianlah, pada akhirnya Yesus dipaksa untuk meninggalkan kota Jagannat Puri oleh para brahmana yang marah karena Yesus (Isa) mengajarkan ajaran agama kepada kasta yang lebih rendah. Oposisi dari para brahmana kasta itu begitu kuatnya, hingga akhirnya Yesus harus kembali pulang ke tanah kelajirannya, saat ia berusia 29 tahun. Di sana, Ia kemudian memulai kegiatannya mengajarkan, dan sejak itulah Injil mulai kembali mencatat kehidupan dan kegiatan pengajaran Yesus.
Sejak penerbitan buku oleh Notovitch itu, banyak orang-orang penting yang datang langsung ke Vihara Hemis itu, dan berhasil melihat secara langsung dokumen yang menghebohkan itu. Mereka kemudian menerbitkan buku dengan tema serupa antara lain : Jesus died in Kashmir (Andreas Faber-Kaiser, London, 1977) Jesus in Rome (Robert Graves & Joshua Podro, London, 1957); The Myth of the Cross (AlHaj A.D Ajijola, Lahore, Pakistan, 1975) dan banyak buku lainnya. Buku-buku itu menyajikan bukti-bukti bahwa sesungguhnya Yesus tidak meninggal di tiang salib lalu ‘bangkit’ kembali. Yesus pergi ke India tersebut menjadi perdebatan yang tidak habis-habisnya. Sampai akhirnya pada tahun 1978, diselenggarakanlah “First International Conference on the Deliverance of Jesus Christ from the Cross” (Konferensi Dunia Pertama tentang Pembebasan Kristus dari Tiang Salib) yang diselenggarakan pada tanggal 2 s/d 4 Juni 1978 bertempat di Commonwealth Institute Kensington High Street, London, Inggeris. Berdasarkan bukti dalam Injil maupun penelitian arkeologi dan laboratorium – para pembicara menyatakan bahwa Yesus memang tidak meninggal ketika di salib. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa setelah peristiwa “kebangkitan Yesus” itu, sesungguhnya Yesus pergi ke Kashmir sampai akhirnya meninggal dunia di sana.
Selain naskah berbahasa Pali di atas, para sarjana semakin yakin dengan kebenaran bahwa Yesus pernah datang ke India setelah mereka membaca ramalan tentang Issa dalam kitab Bhavisya Purana. Bhavisya Purana, menurut para ahli disusun pada sekitar tahun 115 M oleh Rsi Suta. Dalam kitab Bhavisya Purana itu, dalam bagian Pratisarga Parva, Khanda 3, ayat 16-33 disebutkan tentang pertemuan antara Maharaja Shalivahana dengan Issa di Srinagar, India. Selengkapnya, uraian tersebut adalah sebagai berikut : “Shalivahan, cucu Vikrama Jit akhirnya mengambil alih pemerintahan. Beliau mengalahkan gerombolan penyerang dari Cina, Parthian, Scythians dan Bactrians. Raja Shalivahan membangun tembok pembatas antara para Arya dengan para mleccha (non-Hindu), dan memerintahkan orang-orang mleccha itu untuk berdiamdi pinggiran wilayah India.
Suatu hari, raja Shalivahana, pemimpin kaum Sakhya, pergi ke Himalaya. Di sana, di wilayah bernama Hun (= Ladakh, bagian dari kerajaan Kushan) raja yang perkasa itu bertemu seseorang yang duduk di atas sebuah bukit, yang tampak sangat saleh. Kulitnya cerah, dan mengenakan pakaian putih-putih. Raja Shalivahan bertanya kepada orang suci itu, dan yang ditanya menjawab : “Saya dikenal sebagai Anak Tuhan , lahir dari seorang perawan, aku adalah pemimpin orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, berusaha keras mencari kebenaran sejati.”
Sang Raja bertanya lagi : “Apa agama Anda?” Orang itu menjawab : “Wahai Raja, saya berasal dari negeri asing, dimana tidak ada lagi kebenaran di sana dan kejahatan merajalela. Di tanah orang-orang yang tidak beriman, aku muncul sebagai Al-Masih. Namun raksasa Ishamasi menjelmakan dirinya dalam bentuk orang-orang biadab yang mengerikan; saya dibuang oleh orang-orang biadab itu…. Wahai Raja, dengarlah olehmu, agama yang aku bawa kepada orang-orang yang tidak percaya itu : setelah menyucikan hati dan pembersihan badan yang tidak suci, dan setelah mencari perlindungan dalam doa kepada Naigama, manusia akan berdoa kepada Dia Yang Kekal. Melalui jalan keadilan, kebenaran, meditasi, dan penyatuan jiwa, manusia akan menemukan jalan untuk mencapai Isa ditengah-tengah cahaya. Tuhan, seteguh matahari, pada akhirnya akan menyatukan seluruh jiwa yang mengembara dalam diri Beliau. Wahai Raja, dengan demikian, Ishamasi akan dihancurkan, dan wujud Isa yang penuh kebahagiaan, pemberi kebahagiaan, akan bersemayam selamanya di dalam hati; dan saya disebut Masehi (Imam Mahdi) …”
Perhatikan bahwa dalam percakapan itu, Yesus memperkenalkan diri dengan sebutan Issa. Sebutan itu pulalah yang digunakan dalam naskah berbahasa Pali yang tersimpan dalam vihara Buddha yang ditemukan oleh Nicolas Notovitch itu. Juga perlu dicatat, bahwa dalam Al-Quran, nama Yesus lebih dikenal dengan sebutan Nabi Issa.
Hal yang mengagumkan dari uraian di atas adalah bahwa Jesus disebut dengan nama Isa, yaitu sama dengan penyebutan nabi itu dalam Al-Quran. Namun, Bhavisya Purana ditulis jauh beratus-ratus tahun sebelum Al-Quran diwahyukan. Bahkan, ciri-ciri agama Islam dan kemunculan Nabi Muhammad juga telah diramalkan dalam Bhavisya Purana ini. Kami telah membahas mengenai ramalan Nabi Muhammad itu dalam buletin ini edisi sebelumnya.
Terlepas dari kontroversi itu, ada hal yang perlu kita catat sebagai penganut Weda. Bahwa Weda adalah sebuah buku pengetahuan spiritual tertua di dunia, yang paling komprehensif dan lengkap. Bukti adanya ramalan Yesus, Sang Buddha, dan Nabi Muhammad, serta ciri-ciri ajaran mereka dalam kitab Bhavisya Purana, Bhagavata Purana, dan lain-lain menunjukkan bahwa ajaran Weda bersifat universal. Ajaran Weda tidak dimaksudkan hanya untuk golongan tertentu, sebagaimana yang sering terjadi dalam kitab-kitab yang lebih muda usianya.
Ajaran-ajaran Weda adalah Sanatana Dharma yang kekal, yang selalu relevan sepanjang jaman. Dan setiap kali terjadi penyimpangan terhadap dharma tersebut, Tuhan akan mengirimkan utusan-Nya atau bahkan menjelma sendiri (ber-avatar) untuk memperbaiki penyimpangan-penyimpangan tersebut. Dalam terminologi Weda, kepribadian Yesus, Nabi Muhammad, dan Sang Buddha disebut sebagai Sakhtyavesya Avatara. Artinya, beliau-beliau adalah manusia yang diberi kekuasaan dan kemampuan khusus (empowered) oleh Tuhan untuk melakukan misi-misi rohani tertentu di bumi ini. Dalam menyampaikan ajaran-ajarannya, utusan-utusan Tuhan itu akan menyampaikan amanat rohani Tuhan dengan mempertimbangkan latar belakang moral umat yang diajarinya. Seberapa mendalam ajaran yang disampaikan, akan sangat tergantung pada sejauhmana umat mau menerima dan mampu memahami ajaran-ajaran itu. Sebagai contoh, ketika mengajarkan kepada para vaisya dan sudra di Jagannath Puri, India, Yesus mengajarkan agar mereka tidak memuja berhala, tidak mendengar dan menerima ajaran Weda, karena kebenarannya telah diputarbalikkan. Latar belakang larangan itu adalah ulah para brahmana kasta pada masa itu yang menyimpangkan ajaran-ajaran Weda untuk kepentingan mereka sendiri.
Padahal pemujaan kepada Krishna di Kuil Jagannath Puri itu bukanlah pemujaan berhala. Ia adalah salah satu bentuk sembahyang kepada arca atau murti Tuhan yang dibenarkan menurut Weda. Salah satu tradisi pemujaan itu adalah adanya Ratha Yatra Festival, dimana setiap tahun pada sekitar bulan Juli arca-arca Jagannath, Baladev dan Subhadra diarak dijalan-jalan di kota Jagannath Puri dengan menggunakan kereta berukuran besar, dan orang-orang Hindu mengikuti festival itu dengan penuh semangat. Saat ini, perayaan Ratha Yatra seperti itu telah dirayakan secara besar-besaran di kota-kota besar di dunia, seperti New York, Sidney, Montreal, London, dll setelah diperkenal ke dunia Barat oleh A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada pada tahun 1960-an. Sejak tahun-tahun itu, jutaan orang Barat yang tadinya adalah pemuja Kristus, setelah mendalami ajaran Bhagavad-gita, beralih menjadi pemuja Sri Krishna, penyabda Bhagavad-gita. Mengapa demikian? Karena banyak pertanyaan mendasar mengenai Tuhan dan sifat-sifat-Nya, yang tidak mereka temukan jawabannya secara memuaskan dalam Injil dan kitab lainnya.
Satu hal yang perlu dicatat adalah fakta bahwa Yesus mengajarkan di Yerusalem selama tiga setengah tahun. Beliau mengajarkan dasar-dasar moralitas dalam bentuk Sepuluh Perintah, diantaranya : jangan memuja berhala, jangan membunuh, jangan berjinah, jangan mencuri, jangan menginginkan milik orang lain. Namun, baru sejauh itu Yesus menyampaikan ajaran Beliau, umat saat itu sudah menentangnya dengan keras. Bahkan Yesus akhirnya harus menerima fitnah, dan dihukum salib. Bisakah Anda membayangkan, bagaimana mentalitas dan moralitas orang orang yang harus dihadapi oleh Yesus pada waktu itu? Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa banyak konsep-konsep ajaran dalam Weda yang tidak terdapat dalam Injil. Atman, karma, reinkarnasi dan moksa, yang merupakan konsep-konsep yang sangat jelas diuraikan dalam Weda, tidak ditemukan secara explisit dalam kitab suci lainnya. Mengapa?? Dalam Injil, Yesus sendiri memberikan jawabannya :
“I have many things to say unto you, but your ears cannot bear them yet” Artinya “Sesungguhnya banyak hal yang hendak Aku sampaikan kepadamu, tetapi telingamu belum mampu mendengarnya “(Johannes 16.12). Berkaitan dengan itu, Yesus juga menyatakan : “If you do not believe when I tell you of material things, how you will believe when I tell you of spiritual things? (Kalau kalian bahkan tidak percaya ketika Aku mengatakan hal-hal duniawi, bagaimana mungkin kalian akan mempercayai hal-hal spiritual yang Aku sampaikan?”) (Johannes 3.12) . Bagaimana Yesus akan menyampaikan pengetahuan spiritual yang lebih tinggi, kalau baru mengajarkan dasar-dasar moralitas saja sudah dihukum salib? Sedangkan dalam Bhagavad-gita (7.2) Sri Krishna bersabda : “Sekarang Aku akan menyatakan pengetahuan ini kepadamu secara keseluruhan, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Dengan menguasai pengetahuan ini, tidak akan ada hal lain lagi yang belum engkau ketahui.”
Dan jutaan orang di dunia membuktikan hal itu. Dan dalam Bhagavad-gita (14.4) Sri Krishna menyatakan bahwa “Aku adalah ayah semua makhluk hidup”. Jadi ketika Yesus berdoa “Bapa kami yang di surga, … dimuliakanlah nama-Mu…“ siapa yang bisa menyangkal bahwa Kristus sedang berdoa kepada ayah-Nya, Sri Krishna?
Banggalah menjadi Hindu! Mari bersama kami mempelajari dan mengamalkan ajaran Weda!

%d bloggers like this: