Beberapa tahun terakhir ini kita selalu dihebohkan dengan munculnya Tuhan-Tuhan baru. Di Indonesia sendiri ada banyak kasus, salah satu contohnya adalah “Lia Eden”. Namun yang paling terkenal dan paling menghebohkan di berbagai media adalah kasus Bhagavan Sri Satya Sai Baba. Tokoh yang sangat fenomenal dan luar biasa yang sering kali dihubung-hubungkan dengan Tuhan, Yesus, Muhammad bahkan Dajjal yang oleh umat muslim diyakini sebagai penjelmaan Iblis dan nabi palsu.

Beberapa kalangan mengatakan bahwa fenomena muculnya Tuhan-Tuhan baru, aliran-aliran baru dan bahkan agama baru yang mensinkrintismekan berbagai ajaran agama adalah karena ketidakpercayaan umat manusia akan ajaran-ajaran agama yang dianutnya. Lebih lanjut beberapa psikolog mengatakan bahwa hal ini dapat terjadi bagi mereka yang awalnya memegang kuat dogma-dogma agama tetapi akhirnya merasa kecewa akibat lingkungan real yang mereka hadapi sangat bertolak belakang dengan dogma-dogma yang mereka anut sebelumnya.

Hal lain yang juga mempengaruhi hal ini adalah paradigma masyarakat manusia yang keliru. Sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa tingkat spiritualitas seseorang seirama dengan tingkat kesaktiannya. Sehingga jika terdapat orang yang memiliki kelebihan supranatural tertentu, seperti mengobati, melakukan penerawangan gaib, menghilang dan bentuk-bentuk metafisika lainnya, maka otomatis orang itu dianggap memiliki spiritualitas yang tinggi pula. Masalahnya, apakah metafisika identik dan sejalan dengan spiritualitas?

Sebelum saya mencoba membahas kriteria-kriteria apa yang dapat digunakan untuk mengetahui suatu kemunculan adalah Avatara Tuhan dan mengaitkannya dengan fenomena Bhagavan Sri Satya Sai Baba, saya akan mencoba membahas mengenai kesaktian-kesaktian (Siddhi) yang dapat diperoleh seseorang.

Suatu hal yang metafisika dapat bersumber dari dalam diri seseorang karena kekuatan batin yang dianugrahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa akibat tapa, yoga atau pelayanan bhakti kepada Tuhan dan kekuatan yang bersumber dari mahluk lain yang membantu seseorang secara gaib dimana orang yang bersangkutan sebenarnya tidak memiliki kesaktian apapun. Sehingga orang yang menggunakan mahluk halus seperti ini sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai orang sakti / memiliki siddhi.

Umumnya, mereka yang sudah dicekoli dogma-dogma agama abrahamik, maka mereka akan mengatakan bahwa kesaktian atau keterampilan metafisika yang dimiliki oleh seseorang adalah bersumber dari kekuatan jahat/iblis, sehingga tidaklah mengherankan kalau mereka selalu mencap orang sakti yang diluar agama mereka sebagai dukun klenik yang memanfaatkan iblis. Namun mari kita abaikan dulu permasalahan kaum Abrahamik yang memang sudah terikat oleh dogma agama yang harus mereka patuhi dan sangatlah wajar jika tingkat pemahaman mereka baru sebatas itu.

Menurut Veda, terdapat 3 macam kesaktian/siddhi, yaitu siddhi utama, siddhi madya dan siddhi pratama. Ketiga macam siddhi ini dapat diringkas sebagai berikut;

Menurut  Bhagavata Purana 11.15.1, Siddhi dicapai oleh seorang yogi yang telah mampu :

  1. Menaklukkan indriya-indriya (jita-indriyasya).
  2. Menenangkan pikiran (yuktasya).
  3. Mengendalikan nafas (jita-svasasya), dan
  4. Memusatkan pikiran kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna (mayi dharayatas cetah)

Setiap jenis makhluk hidup (jiva) memiliki macam dan tingkat siddhi yang  berbeda-beda. Semua jenis siddhi ini dicapai melalui kelahiran atau pelatihan.

Hakekat kedelapan siddhi utama dan cara mencapainya dapat diringkas sebagai berikut.

Veda juga menyebutkan jenis siddhi yang disebut antardhana yaitu kemampuan muncul dan lenyap tak terlihat.

Hakekat kesembilan siddhi madya ini dan cara mencapainya dapat diringkas sebagai berikut.

Disamping dicapai melalui kelahiran, kesembilan siddhi madya ini dapat pula dicapai melalui pelatihan.

Hakekat kelima siddhi pratama ini dan cara mencapainya dapat diringkas sebagai berikut.

Pada umumnya siddhi pratama dicapai melalui pelatihan.

Kesempurnaan mistik (siddhi) tidak pernah memungkinkan sang makhluk hidup (jiva) melampaui/mengatasi kekuasaan Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna. Dan siddhi ini hanya mungkin dicapai atas karunia Beliau.

Karena itu, kemampuan mengendalikan orang/makhluk lain, merobah wujud sesuai kehendak, menciptakan barang menurut kehendak, dan sebagainya yang dimiliki seseorang, tidak akan pernah bisa mengganggu hukum Tuhan.

Seseorang diperkenankan memanfaatkan kemampuan-kemampuan ajaib (siddhi) seperti itu hanya dalam batas-batas aturan yang telah ditetapkan Tuhan.

Bahkan para yogi yang memiliki banyak siddhi tidak bisa lepas dari hukuman Tuhan bila mereka melanggar aturan-aturan Beliau sebagaimana tercantum dalam pustaka suci Veda.

Dalam hubungan ini Sri Krishna dalam Bhagavata Purana .11.15.31 dan 32 berkata; “Seorang bhakta terpelajar yang memujaKu dalam pelayanan bhakti, dapat mencapai semua siddhi (kesempurnaan mistik) tersebut. Seorang rishi yang telah menaklukkan indriya-indriya, mengendalikan nafas dan pikiran dan khusuk dalam meditasi kepada-Ku, apa sulitnya bagi dia mencapai siddhi demikian?”.

Bila seorang bhakta, karena satu dan lain hal, memuja Sri Krishna untuk memiliki bermacam-macam siddhi agar bisa menikmati secara lebih dunia fana ini, maka praktis dia tidak bisa maju dalam jalan kerohanian bhakti.

Dalam Bhagavata Purana 11.15.33 Sri Krishna berkata, “Antarayan vadanty eta yunjato yogam uttamam maya sampadyamanasta kala ksapana-hetavah, orang-orang bijak berkata bahwa siddhi (kesempurnaan mistik) adalah sesungguhnya halangan besar dalam  jalan kerohanian bhakti,  dan ikhtiar mencapai siddhi  hanya membuang waktu  secara percuma”.

Dalam hubungan ini dalam Bhagavata Purana 11.15.34 dikatakan, “Janma usadhi tapo mantrair yavatir iha siddhayah yogenapnoti tah sarva nanyair yoga-gatim vrajet, kesempurnaan mistik (siddhi) apapun yang dicapai melalui kelahiran baik. pemanfaatan daun-daun obat, pertapaan, pengucapan mantra-mantra, dan sebagainya semuanya bisa dicapai dengan menekuni jalan kerohanian bhakti kepada-Ku. Sungguh, tidak ada orang yang bisa mencapai kesempurnaan yoga dengan cara-cara lain apapun”.

Dengan lahir sebagai deva, seseorang (sebagai jiva) secara otomatik memiliki banyak siddhi. Begitulah Veda menjelaskan bahwa para Siddha (yang tinggal di Siddha-loka) secara lahiriah memiliki delapan siddhi  utama (anima, mahima, laghima, prapti, prakamya, isita, vasita dan  kamavasayita).

Jadi dari penjelasan sloka-sloka di atas sudah jelas bahwa kesaktian tidaklah selalu identik dengan spiritualitas seseorang. Bahkan dikatakan bahwa kesaktian dapat menghambat seseorang dalam mencampai kesempurnaan spiritual. Dengan demikian sudah selayaknyalah paradigma kita memandan kesaktian dan spiritualitas dirubah.

Nah, setelah kita memahami prihal bermacam-macam siddhi/kesaktian dan cara pencapaiannya, marilah sekarang kita bahas sebuah contoh yang sepertinya masih sangat hangat untuk dibahas. Yaitu mengenai kontroversi Bhagavan Satya Sai Baba.

Bhagavan Satya Sai Baba dilahirkan dengan nama asli Sathyanarayana Raju pada tanggal 23 November 1926 setelah satyanārāyaṇa pūjā dalam keluarga Peddavenkappa Raju dan Easwaramma di India selatan.

Puttaparthi, tempat Sathya Sai Baba dilahirkan dan tinggal sampai sekarang, aslinya adalah sebuah desa kecil. Di sini sekarang terdapat sebuah kompleks universitas yang luas, Chaitanya Jyoti (sebuah Museum Agama-agama Dunia yang telah memperoleh sejumlah penghargaan internasional untuk rancangannya), sebuah museum spiritual, planetarium, stasiun kereta api, stadion dengan pemandangan ke bukit, gedung administrasi, stadion tertutup, dan lainnya. Politikus tinggi India, seperti mantan Presiden dan Dr. A. P. J. Abdul Kalam dan mantan Perdana Menteri Atal Bihari Vajpayee menjadi tamu resmi ashram di Puttaparthi. Pada perayaan ulang tahun Sathya Sai Baba yang ke-80, dilaporkan bahwa lebih dari jutaan orang hadir, dan juga 13.000 delegasi dari India dan 180 negara lainnya.

Sathya Sai Baba menetap di ashram utamanya yang disebut Prashanthi Nilayam (kediaman kedamaian tertinggi) di Puttaparthi. Pada musim panas, Baba meninggalkan ashram Prashanthi Nilayam ke ashram lain yang disebut Brindavan di Kadugodi, Whitefield, kota di pinggiran kota Bangalore. Terkadang, ia mengunjungi ashram Sai Shruti di Kodaikanal.

Sathya Sai Baba mendirikan mandir utama di India. Pusat pertama, didirikan di Mumbai, disebut “Dharmakshetra” atau “Sathyam”. Pusat kedua, didirikan di Hyderabad, disebut “Shivam”. Pusat ketiga, didirikan di Chennai, disebut “Sundaram”. Sundaram terkenal untuk kelompok bhajannya dan mereka telah merilis 54 volume kaset dan CD, dengan volume ke-54 dinyanyikan oleh Baba.

Program harian di ashram Sathya Sai Baba biasanya dimulai dengan mengucapkan “OM” dan doa pagi (Suprabatham), lalu diikuti dengan Veda Parayan (pembacaan Veda), nagarasankirtana (lagu upacara puja pagi) dan bhajan dan darshan dua kali sehari (kehadiran Sai Baba untuk pengikutnya).

Yang menimbulkan kontradiksi dalam ajaran-ajaran Sai Baba adalah karena beliau seolah-olah melakukan sinkrintisme ajaran agama-agama dunia, meskipun beliau memusatkan pada ajaran Veda.

Menurut Sai Baba sendiri, beliau adalah penjelmaan dari Shirdi Baba dan setelah kehidupan ini beliau akan menjelma sebagai Prema Baba pada tahun 2020.

Dalam melalukan pemujaan/ritual, para pengikut Bhagavan Sai Baba biasanya mengucapkan “Om Sai Rama” atau “Om Nama Shivah ya” dan juga dengan melantunkan lagu-lagu Bhajan/pemujaan.

Yang paling unik dan membuat banyak orang kagum dan menjadi pengikut beliau adalah karena kesaktian beliau yang luar biasa. Bahkan di sebuah pesantren di dekat polres madura juga menjadi pengikut beliau karena beliau menampakkan banyak keajaiban di sana. Mulai dari memunculkan banyak candi-candi dan arca di dalam masjid sampai pada penampakan diri beliau.

Setelah kita melihat kesaktian-kesaktian Bhagavan Sai Baba, mari kita coba bandingkan dengan kesaktian-kesaktian (Siddhi) yang dapat diperoleh oleh seorang Yogi yang telah mencapai tingkatan Siddha sebagaiana telah saya uraikan di atas.

  1. Bhagavan Sai Baba mampu mengetahui masa lampau dan kehidupan yang akan datangnya, berarti beliau sudah menguasai siddhi pratama tri-kala-jnattvam
  2. Beliau mampu mengeluarkan vibhuti/tepung dan berbagai benda lain secara misterius, berarti beliau menguasai siddhi utama isita.
  3. Beliau mampu mengendalikan benda jarak jauh yang berarti menguasai siddhi utama vasita dan prapti.
  4. Beliau juga mampu mengetahui dan memberi perlindungan kepada pengikutnya secara jarak jauh, yang berarti beliau menguasai siddhi madya dura-sravana darsanam.
  5. Dan masih banyak siddhi-siddhi lain yang dikuasai oleh Bhagavan Sri Baba.

Dengan demikian tidak dapat diragukan lagi bahwa Bhagavan Sri Satya Sai Baba adalah Jiva yang telah mencapai tingkatan siddha dan merupakan Yogi yang mulia karena telah mampu menaklukkan indriya-indriya (jita-indriyasya), menenangkan pikiran (yuktasya), Mengendalikan nafas (jita-svasasya) dan memusatkan pikirannya.

Namun, apakah dengan demikian Bhagavan Sai Baba adalah Tuhan atau Avatara Tuhan?

Dalam Caitanya-caritämåta Madhya 20.263-264 disebutkan; “såñöi-hetu yei mürti prapaïce avatare  sei éçvara-mürti ‘avatära’ näma dhare mäyätéta paravyome sabära avasthäna  viçve avatari’ dhare ‘avatära’ näma, Avatara atau penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa, turun dari Vaikuntaloka/alam rohani untuk perwujudan material. Bentuk khusus Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang turun seperti itu disebut penjelmaan, atau Avatara. Penjelmaan-penjelmaan seperti itu berada di dunia rohani. Apabila mereka turun ke dunia material, mereka diberi nama Avatara”.

Terdapat berbagai jenis Avatara, misalnya purusavatara, gunaavatara, lilaavatara, sakty-avesa-avatara, manvantara-avatara dan yuga-avatara, namun dari antara itu semua terdapat 10 avatara yang utama yang paling dikenal, yaitu Dasa Avatara dan kesemuanya itu tercatat dalam kitab suci Veda baik yang telah dan akan muncul.

Salah satu Avatara Tuhan yang masih dinanti-nanti adalah Kalki Avatara. Meskipun beliau belum muncul, namun Veda sudah menuliskannya dan menerangkannya secara terperinci dalam Bhagavata Purana dan Agni Purana, disamping itu juga disinggung dalam Linga Purana 40.50 -92, Brahmanda Purana 1.2.31.76 – 106 dan 2.3.73.104 – 126, serta Vayu Purana 58.75 – 110.

Dari seluruh sloka-sloka yang menjelaskan mengenai penjelmaan Tuhan ke dunia material sebagai Avatara, maka terdapat beberapa poin yang harus digarisbawahi, yaitu;

  1. Pasti tercatat dan diuraikan dalam kitab suci Veda
  2. Jadwal kemunculannya selalu tepat dengan apa yang diuraikan dalam Veda
  3. Perwujudan Avatara Tuhan selalu unik dan tidak ada satu mahlukpun yang dapat menyamai penampilan perwujudan-Nya
  4. Mampu memperlihatkan Sudarsan Chakra
  5. Mampu memperlihatkan perwujudan semesta yang tiada batasnya

Perwujudan Avatara Tuhan selalu unik, jika mengambil wujud menyerupai manusia, maka panjang lengan Beliau sampai menyentuh lutut dengan tubuh yang sempurna, memiliki warna kulit yang tidak satu manusiapun menyamainya. Sebagai contoh, Rama muncul dengan warna kulit hijau, Krishna muncul dengan warna kulit putih kehitaman seperti warna awan yang akan turun hujan. Beliau dapat mengambil wujud lain dimana satu mahlukpun tidak akan ada yang menyamainya, seperti Nrasimha Avatara yang muncul dengan kepala singa dan berbadan manusia.

Dalam Visnu-sahasra-nama, 1000 nama suci Tuhan disebutkan salah satu nama suci Beliau adalah chakree, yaitu Beliau yang memiliki Sudarsan Chakra. Tidak ada satu mahlukpun kecuali Tuhan yang mampu memunculkan Sudarsan Chakra ini.

Dalam Bhagavad Gita 11.3, Arjuna memohon kepada Sri Krishna agar beliau bersedia memperlihatkan wujud semestanya yang memanifestasikan alam semesta “evam etad yathättha tvam ätmänaà parameçvara drañöum icchämi te rüpam aiçvaraà puruñottama”. Wujud alam semesta dengan jumlah kepala, tangan, badan dan senjata yang tidak terhitung jumlahnya hanya dapat diperlihatkan oleh Tuhan sendiri.

Nah, dengan demikian dengan menggunakan dasar ini kita dapat memprediksi apakah Bhagavan Sai Baba adalah Avatara Tuhan atau bukan. Sampai sejauh ini saya belum menemukan sumber yang menyebutkan bahwa beliau diramalkan akan menjelma sebagai Avatara. Beliau sendiri juga tidak memenuhi kriteria-kriteria yang membenarkan suatu penjelmaan dapat dikatakan sebagai Avatara. Srila Prabhupada, seorang guru kerohanian hebat dalam garis perguruan Gaudiya Vaisnava pernah berkunjung dan menemui Bhagavan Sri Baba prihal apakah beliau memang Tuhan. Menurut apa yang disampaikan oleh Srila Prabhupada, Bhagavan Sri Baba tidak pernah mengatakan bahwa dirinya dalah Tuhan, tetapi murid-muridnyalah yang mengatakan bahwa dia adalah penjelmaan Tuhan. Bahkan Sai Baba mengatakan pada Prabhupada bahwa dia berusaha mengarahkan orang-orang duniawi mengucapkan nama suci Tuhan melalui meditasi japa dan bhajan.

Mungkin kasus penuhanan sang siddha yoga Sai Baba ini mirip dengan Isa (Yesus) yang dituhankan oleh pengikutnya.

Pada 2003 Bhagavan Sai Baba mengalami kecelakaan yang melukai pangkal pahanya, yang mengakibatkan beliau sering kali harus menggunakan kursi roda. Beliau juga pernah menjalani operasi akibat usus buntu yang dideritanya. Avatara Tuhan yang bersifat rohani tidak pernah mengalami kelahiran (janma), usia tua (jara), sakit (vyadi) dan kematian(mrtyuh), hanya mahluk hiduplah yang dapat mengalami kejadian seperti ini (Bhagavad Gita 13.9).

Namun demikian, Bhagavan Sri Satya Sai Baba adalah seorang Siddha Yoga yang agung yang telah mencapai tingkatan Yoga yang sangat tinggi, beliau juga adalah seorang guru yang agung, yang sanggup mengarahkan dan membimbing tidak kurang dari 50 juta orang di 130 negara untuk senantiasa mengucapkan nama suci Tuhan “Rama”(Ia yang maha bahagia), “Shivah” (Beliau yang selalu suci) dan lain sebagainya melalui bhajan-bhajannya. Lambat laun para pengikutnya akan mendapatkan keuntungan rohani dengan mengucapkan nama-nama suci Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam Brhan Naradiya Purana 38.126;, “Harer nama harer nama harer nama eva kevalam kalau nasty eva nasty eva nasty eva gatir anyata, pada jaman Kali,  tidak ada cara lain, tidak ada cara lain dan tidak ada cara lain untuk mencapai kemajuan rohani selain dari pada mengucapkan dan mengumandangkan nama suci, nama suci dan nama suci Sri Hari”

Sayapun menaruh hormat yang sebesar-besarnya kepada yogi dan sekaligus seorang guru mulia Bhagavan Sri Satya Sai Baba

Translate »
%d bloggers like this: