Terdapat kasus yang cukup menarik yang mungkin harus dipertanyakan lagi oleh seluruh umat Hindu di Bali pada khususnya prihal tindak tanduk dan pemahaman mereka saat ini. Jangan sampai semua kegiatan keagamaan umat Hindu berjalan tanpa arah dan bagaikan berkata tanpa makna.

Artikel ini juga saya coba tuliskan untuk memberi tanggapan pada sebuah comment dari seorang non-Hindu di home page ini. Meski tidak 100% benar, namun apa yang dia sampaikan dan tuliskan dalam commentnya itu prihal kesurupan, kerauhan dan upacara adalah suatu hal yang patut dipertimbangkan.

Bak sebuah sistem organisasi, untuk dapat diakui kesahihan sistem manajemennya, maka mereka harus menerapkan ISO 9001 prihal Sistem manajemen mutu – Persyaratan. Dimana dalam sistem tersebut terdapat Plan – Do – Chack – Act (P-D-C-A) yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Sistem yang baik haruslah memiliki control dan penerimaan masukan dan kritikan dari konsumen demi continual improvement.  Dan demikian juga dengan Hindu yang jika dipandang sebagai sebuah sistem, maka selayaknyalah bersedia menerima masukan demi kelangsungan Hindu dan kesusksesan semua umat Hindu dalam pendakian spiritualitas mereka masing-masing.

Bagaimana seharusnya kita melakukan ritual keagamaan?

Dalam Bhagavad Gita 17.13 disebutkan; “vidhi-hénam asåñöännaà mantra-hénam adakñiëam çraddhä-virahitaà yajïaà tämasaà paricakñate, Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk kitab suci, tanpa membagikan prasadam [makanan rohani], tanpa mengucapkan mantra-mantra veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci dalam sifat kebodohan”.

Pertanyaannya, sudahkan kita mempedulikan kitab suci kita dalam melakukan berbagai ritual keagamaan kita selama ini? Aau jangan-jangan kita masih berpedoman pada kasus klasik “nak mulo keto” (memang seperti itu)? Jika jawabannya adalah “nak mulo keto” maka harus kita akui bahwa apa yang kita lakukan selama ini adalah kegiatan ritual keagamaan dalam sifat kebodohan.

Tapi saya yakin salah satu dari anda akan mengatakan bahwa ritual agama yang kita lakukan, terutama di Bali selama ini sudah didasarkan atas sastra, yaitu lontar-lontar. Pertanyaannya, apakah lontar yang kita pakai sahih dan sejalan dengan ajaran Veda? Kenapa saya bertanya demikian? Veda dengan tegas menyatakan bahwa sapi tidak boleh dibunuh dan dikorbankan, apa lagi dimakan, “namo brahmaëya-deväya go-brähmaëa-hitäya ca jagad-dhitäya kåñëäya govindäya namo namaù”, lalu kenapa kita masih saja membantai sapid an menjadikannya tumbal dalam setia upacara keagamaan kita? Sekarang pertanyaan berikutnya muncul kembali, benarkah kita pengikut Veda dan beragama Hindu?

Jika Veda diibaratkan UUD dan lontar-lontar dan sastra yang kita gunakan untuk dasar upacara adalah UU, PP, Kepres atau menpres, maka sudah seharusnyalah aturan-aturan yang tercakup dalam lontar-lontar yang kita acu tidak boleh bertentangan dengan ajaran Veda yang merupakan ajaran dasar. Jika lontar tersebut bertentangan, maka lontar tersebut tidak dapat kita jadikan acuan jika memang kita mengaku sebagai Hindu. Namun beda halnya jika kita mengaku sebagai Agama Bali sebagaimana pernah saya singgung dalam artikel sebelumnya.

Kegiatan dan korban suci apapun yang dilakukan, sepatutnyalah harus didasarkan dan tidak boleh bertentangan dengan kita suci kita, yaitu Veda. “aphaläkäìkñibhir yajïo vidhi-diñöo ya ijyate yañöavyam eveti manaù samädhäya sa sättvikaù” (Bhagavad Gita 17.11).

Pertanyaannya berikutnya, siapakah yang kita sembah selama ini?

Dalam setiap persembahyangan saya sangat senang memperhatikan ucapan para pemangku kita dalam memimpin upacara. Mereka kebanyakan menggunakan bahasa Bali sehingga tidaklah sulit untuk dapat kita pahami maksudnya. Sebuah petikan ucapan mereka adalah seperti ini; “Ainggih sesuhunan tityang sane melinggih deriki. Ida betara Wayan, Ida betara Ketut, Ida betara Nyoman sane ngembel jagat, presidake I ratu nyingakin panjak I ratu, mangda sida I ratu ngicenin kerahayuan, ngicenin wangsupada druwene lan nyarengin kijake panjak I retune nunas merta”. Inti dari doa yang diucapkan oleh pemangku tersebut adalah memuja sosok yang berstana di pura tersebut yang sudah jelas bukan Tuhan sebagaimana yang disampaikan dalam ajaran Veda, tetapi adalah “ancangan” atau mahluk/roh leluhur/individu lainnya yang memang distanakan di pura tersebut.

Benarkah ritual pemujaan yang kita lakukan tersebut jika dikembalikan ke ajaran Veda?

Dalam Bhagavad Gita 9.25 Sri Krishna dengan sangat jelas mengatakan; “yänti deva-vratä devän pitèn yänti pitå-vratäù bhütäni yänti bhütejyä yänti mad-yäjino ‘pi mäm, Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku”. Jadi berdasarkan sloka ini, jika memang tujuan kita adalah moksatram dan jagadhita, maka kita harus memuja Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan memuja Tuhanlah kita dapat kembali ke alam moksa (alam rohani).

Lalu bagaimana dengan pemujaan terhadap mahluk yang lain termasuk dewa, bhuta kala dan leluhur?

Sebagaimana pernyataan Arjuna dalam Bhagavad Gita 1.41;saìkaro narakäyaiva kula-ghnänäà kulasya ca patanti pitaro hy eñäà lupta-piëòodaka-kriyäù”, Leluhur harus kita hormati karena atas jasa-jasa merekalah kita ada dan bisa hidup seperti saat ini. Orang yang menghancurkan tradisi keluarga dan lupa akan leluhurnya sudah pasti akan mendapat ganjaran di neraka.

Namun pemujaan terhadap leluhur tidak dapat berdiri sendiri, seseorang harus sadar bahwa dia menghormati leluhur dengan cara berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya beliaulah sumber segala-galanya, hanya dengan sujud bhakti dan penyerahan diri kepada Tuhan sebagai anak yang suputralah roh leluhur kita dapat diselamatkan dan diangkat ke kedudukan yang lebih tinggi. Karena Tuhan adalah korban suci, ritual dan persembahan kepada leluhur yang paling agung (Bhagavad Gita 9.16).

Bagaimana dengan “ancangan” atau mahluk-mahluk halus penjaga pura?

Inilah permasalahan krusial yang harus disadari baik oleh umat Hindu maupun umat beragama yang lain dalam memandang Hindu. Secara kebatinan, memang benar bahwasanya sebagian besar tempat suci umat Hindu di Bali dijaga oleh mahluk-mahluk kasat mata dengan berbagai macam wujudnya. Diibaratkan sebuah rumah, “ancangan” atau mahluk halus penjaga tersebut seperti halnya satpam dan anjing penjaga dan disamping itu di rumah tesebut juga terdapat para pembantu dan kaki tangan sang majikan yang kurang lebih dapat dianalogikan dengan mahluk-mahluk halus yang lain seperti para bidadari dan para dewa. Lalu, siapakah yang harus kita puja dari mereka yang ada dan berstana di pura tersebut?

Tentunya yang harus kita sembah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, karena para dewa yang mengendalikan semua fungsi-fungsi alam materialpun selalu memuja dan mengagungkan Sri Hari, Narayana, Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavad Gita 11.45). Namun bukan berarti kita tidak menghormati para dewa. Kita harus selalu sujud hormat kepada para dewa dan bahkan pada setiap mahluk hidup yang sudah menginsyafi kebenaran yang mutlak.

Dalam Siva Purana disebutkan bahwa Parvati bertanya kepada suaminya Siva, “Dari segala macam persembahyangan, persembahyangan kepada siapakah yang paling sempurna? Dan siapakah kepribadian tertinggi yang paling pantas dipuja?” Siva menjawab, “Aradhananam  sarvesam visnor  aradhanam  param, dari segala macam persembahyangan, persembahyangan kepada Vishnu adalah yang paling tinggi tingkatannya. Tasmat parataram devi tadiyanam samarcanam, tetapi O Devi, ada lagi persembahyangan yang lebih utama dari ini yaitu memuja para penyembah (bhakta) Visnu”.

Sehubungan dengan hal ini, Sri Rama dalam kisah Ramayana juga mencontohkan kepada umat manusia agar memuja dan menghormati penyembah Tuhan. Meskipun dalam Bhagavata Purana 12.136 dikatakan;“Vaisnavanam yatha sambhuh, diantara semua penyembah (bhakta) Visnu, Sambhu (Siva) adalah yang paling utama”. Meskipun Rama adalah Avatara Visnu (Tuhan sendiri), namun beliau juga tetap melakukan ritual pemujaan di depan lingam Siva dan memohon ijin kepada Siva untuk membunuh muridnya.  Inilah “lila” yang mencontohkan kepada umat manusia untuk dapat menjadi pelayan dari pelayan Tuhan, “dasa anu dasa”. Sri Krishnapun menegaskan hal ini  kepada Arjuna dalam Adi-Purana, Mahabharata; “Ye me  bhakta janah partha na me bhaktas ca te janah, wahai Partha, orang yang berkata dirinya adalah  bhakta Ku, sesungguhnya bukan bhaktaKu. Mad bhaktanam ca ye bhakta te me bhaktata mamatah, tetapi orang yang berkata bahwa dirinya adalah bhakta dari bhakta-Ku, dia lah bhaktaKu yang sebenarnya”.

Jadi dalam konteknya berkenaan dengan pura yang ada di Bali khususnya, maka sudah sepatutnya umat Hindu memuja dan menghormati para dewa dan melayani orang suci yang melakukan ritual di pura tersebut karena mereka adalah pelayan dan penyembah Tuhan. Dan kita dalam melakukan hal tersebut haruslah sadar bahwa kita hormat dan bersujud kepada para dewa dalam kontek dimana para dewa adalah pelayan Tuhan, bukan menganggap para dewa adalah sesembahan yang paling tinggi.

Bagaimana dengan para “ancangan” atau buta kala?

Ancangan penjaga pura adalah mahluk yang paling sering memperlihatkan keberadaannya di lingkungan pura tersebut. Mereka adalah pelayan yang menjaga pura tersebut dari tangan-tangan jahil. Jadi jangan heran jika anda menyaksikan banyak tayangan TV yang memperlihatkan bahwa di pura terdapat mahluk-mahluk halus yang sering kali dengan muka menyeramkan. Bukan berarti hal tersebut membenarkan bahwa umat Hindu adalah pemuja hantu dan setan, sama sekali bukan.

Namun demikian sayapun tidak membantah dan menyalahkan angapan umat lain akan hal ini secara 100%. Karena pada kenyataany banyak umat Hindu yang terperosok dalam kesalahpahaman konsep dan jatuh dalam pemujaan yang keliru. Sering kali pemujaan terhadap buta kala dinomorsatukan dan pemujaan terhadap Tuhan dikesampingkan. Cobala kita tengok praktek upacara keagamaan yang kita lakukan dewasa ini. Kenapa lebih banyak melakukan “pecaruan” yang ditujukan kepada mahluk halus ini dibandingkan pemujaan kepada Tuhan? Adalah sloka Veda yang menyatakan bahwa Tuhan meminta sesembahan arak, brem, darah dan korban biantang lainnya? Tidakkah semua sesembahan seperti itu ditujukan pada buta kala/mahluk halus?

“patraà puñpaà phalaà toyaà yo me bhaktyä prayacchati tad ahaà bhakty-upahåtam açnämi prayatätmanaù (Bhagavad Gita 9.26), Tuhan hanya menyatakan bahwa Beliau akan menerima persembahan yang meskipun hanya berupa bunga, buah, daun dan air tetapi dilakukan dengan sujud bhakti dan cinta kasih kepada Beliau. Beliau hanya meminta rasa bhakti kita, bukan persembahan material tersebut. Bahkan tanpa persembahan materi seperti itupun cinta bahkti seseorang yang tulus akan diterima oleh Tuhan.

Bagaikan seekor anjing yang dapat menjadi anjing penjaga rumah yang baik atau malah menjadi musuh, demikian juga dengan mahluk halus. Dengan memperlakukan mereka dengan benar, mereka akan sangat berguna, namun dengan memperlakukan secara salah atau berlebihan maka kitalah yang akan rugi. Tengoklah setiap upacara besar di pura, apakah semua “kerauhan”/kesurupan yang terjadi adalah pertanda baik?

Kesurupan dapat diakibatkan oleh masuknya mahluk halus / bhuta kala, roh leluhur atau oleh para dewa/mahluk yang lebih suci. Namun tidak pernah ada istilah Tuhan yang turun dan masuk kedalam badan seseorang yang menyebabkan dia kesurupan. Dalam Bhagavad Gita 4.6 disebutkan; “jo ‘pi sann avyayätmä bhütänäm éçvaro ‘pi san prakåtià sväm adhiñöhäya sambhavämy ätma-mäyayä, Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli”. Jadi Tuhan tidak pernah menurun pada fisik seseorang, tetapi jika Beliau muncul ke dunia ini, maka Beliau akan mengambil perwujudan Beliau sendiri yang cirri-ciri fisiknya tidak akan pernah dapat disamai oleh mahluk hidup manapun di dunia ini.

Kesurupan oleh mahluk halus biasanya dicirikan dengan permintaan “laba”/sesaji yang bersifat tamas, seperti darah, daging, telur, dan minuman keras. Kesurupan oleh leluhur lebih mengarah pada nasihat atau sesuatu yang berkaitan dengan keturunannya dan kesurupan oleh mahluk yang lebih tinggi lagi seperti golongan para dewa tidak pernah meminta sesaji apapun, tetapi akan memberikan sabda-sabda yang mengarah kepada satvika.

Celakanya, ternyata jenis kesurupan yang paling banyak terjadi dan kita agung-agungkan selama ini adalah kesurupan oleh mahluk halus. Kenapa hal ini terjadi? Karena kita terlalu “memanjakan” mahluk halus tersebut. Kita mengagung-agungkan dan takut pada mereka, padahal pada dasarnya kedudukan mereka tidaklah lebih tinggi dari manusia. Kita lebih banyak memberikan sesaji kepada mahluk halus dari pada kita memuja Tuhan dan sujud kehadapan para penyembah (bhakta) Tuhan.

Oleh karena itu, seimbangkanlah antara sesajen yang diberikan kepada “mahluk halus penjaga”, dan penghormatan kepada dewa. Dan yang terpenting selalu ingat dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Utamakan majikan (baca: Tuhan), hormati kaki tangannya (para dewa) dan perlakukan anjing penjaga (ancangan/mahluk halus) dengan tepat.

%d bloggers like this: