Sistem pendidikan modern vs. sistem pendidikan tradisional Veda

Sistem pendidikan yang berkembang di dunia saat ini lebih didominasi oleh sistem pendidikan modern ala Barat. Dalam sistem pendidikan modern, peserta didik dituntut menjadi cerdas secara material, mengembangkan metode berpikir ilmiah dengan mengedepankan pemecahan masalah secara empiris induktif. Masalah keyakinan akan adanya Tuhan, moralitas dan filosofi kehidupan umumnya bukanlah hal mendasar yang harus dimengerti oleh peserta didik, sehingga tidaklah mengherankan jika kita menemukan banyak ilmuan-ilmuan modern saat ini menjelma menjadi orang-orang yang mengesampingkan keberadaan Tuhan. Mengenai unsur-unsur pendidikannya, sistem pendidikan modern setidaknya harus memiliki empat unsur, yaitu: 1) guru sebagai tenaga pengajar yang harus kompeten di bidangnya; 2) peserta didik; 3) materi atau kurikulum pendidikan; dan 4) ruang kelas sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.

Sementara itu sistem pendidikan tradisional Veda memiliki setidaknya dua unsur pembeda dari sistem pendidikan modern alam Barat. Selain empat unsur yang termasuk dalam sistem pendidikan modern sebagaimana yang sudah disebutkan diatas,  dua unsur tambahan yang mutlak ada dalam sistem pendidikan tradisional gurukula yaitu: 1) mandir (kuil sebagai pusat kegiatan spiritual dan ritual keagamaan); dan 2) ashram (asrama sebagai tempat tinggal bersama acarya atau guru beserta para siswanya). Keberadaan dua unsur inilah yang merupakan pembeda pokok yang pada akhirnya memberikan corak dan arah pendidikan yang sangat berbeda antara sistem pendidikan modern dengan sistem pendidikan tradisional Veda. Jika dalam sistem pendidikan modern masalah keyakinan dan moral merupakan faktor terakhir, maka dalam sistem pendidikan tradisional Veda kedua hal ini merupakan hal pokok dan paling utama yang menentukan sukses tidaknya kelangsungan proses belajar-mengajar.

Kualifikasi seorang guru

Salah satu faktor terpenting untuk menjamin tercapainya anak didik yang sadar akan Tuhan dan memiliki standar moral yang diharapkan terletak pada kualifikasi tenaga pengajar, atau guru. Seorang guru yang mengajar dalam sistem pendidikan tradisional Veda tidak bisa diangkat hanya karena dia telah menyelesaikan program studi pendidikan agama atau telah menguasai seluruh isi kitab suci. Tidak juga karena dia pintar merangkai kata dan menyampaikannya kepada peserta didik sebagaimana pengangkatan guru-guru agama dalam sistem pendidikan modern. Namun seorang guru dalam sistem pendidikan tradisional Veda harus memiliki kualifikasi yang jauh melebihi itu semua.

Sebagaimana dijelaskan dalam Veda bahwasanya untuk meniti jalan spiritual maka seseorang harus berpijak pada 3 pondasi dasar, yaitu guru (spiritual master), sastra (kitab suci) dan sadhu (pergaulan suci). Ketiga pilar ini bagaikan seseorang yang mencari suatu alamat yang belum dia ketahui berbekal kompas (analogi guru), peta (analogi sastra) dan informasi orang-orang sekitar yang tahu lokasi tersebut (analogi sadhu). Ketiadaan satu pilar ini akan membuat pencaharian kita dalam kerohanian pincang dan sangat sulit.

Menjadi seorang guru spiritual Veda atau acarya bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena pada dasarnya guru adalah seorang pendidik yang menerima tugas mendidik anak-anak dan para remaja, dan dialah yang bertanggung jawab untuk menjadikan mereka insan-insan yang berguna dalam masyarakat. Secara etimologi, “Guru” berarti “berat” atau “hebat”, karena ia harus mengajarkan, dan karenanya memiliki tanggung jawab yang berat. “Gu” berarti “kegelapan” dan “ru” berarti “menghentikan dari  kegelapan”. Tugas seorang guru adalah membimbing dan mengarahkan anak didiknya dari kegelapan menuju pencerahan jiwa. Guru haruslah orang teguh jiwanya yang dapat menahan dorongan untuk berbicara, permintaan dari pikiran, tindakan amarah dan dorongan dari lidah, perut dan kemaluan. Lebih jauh dalam Bhagavad Gita 18.42 dan Bhagavata Purana 11.17.13 yang membahas catur varna juga membahas malasah kualifikasi dasar seorang guru. Dari kedua sloka tersebut kita bisa memetik intisari bahwa seorang guru kerohanian (yang juga seorang Brahmana) adalah beliau yang telah memiliki sifat-sifat; kedamaian hati (samah), terkendali diri (damah), kesederhanaan (tapah), kesucian (saucam), toleransi (ksantir), kejujuran (arjavam), berpengetahuan rohani (jnanam), bijaksana. (vijnanam), agamis (astikyam), berpuas hati (santosah), pengampun (ksanthih), bhakti kepada Tuhan (bhakti), dan kasih sayang (daya).

Memiliki sikap moral seperti di atas ternyata belumlah cukup. Seseorang dapat diangkat menjadi guru dan menjadi tenaga pengajar yang bonafide jika dia merupakan bagian dari garis perguruan (parampara) suatu samparadaya. Dalam Bhagavad Gita setidaknya ada 2 sloka penting tentang garis perguruan ini, yaitu Bhagavad Gita sloka 4.2 dan 4.34. “evaḿ paramparāprāptam imaḿ rājarṣayo viduḥ sa kāleneha mahatā yogo naṣṭaḥ parantapa, Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para raja yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu.……….”(Bhagavad Gita 4.2) dan “tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā upadekṣyanti te jñānaḿ jñāninas tattvadarśinaḥ, Cobalah mempelajari kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. Bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. Orang yang sudah insaf akan dirinya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena mereka sudah melihat kebenaran itu (Bhagavad Gita 4.34). Jika seorang guru dalam sistem pendidikan tradisional Veda tidak bisa menunjukkan siapa gurunya dan dari garis perguruan Veda yang mana dia berasal, maka dia tidak bisa dikatakan sebagai seorang guru yang bonafide dan harus ditolak sebagai tenaga pengajar karena ajaran Veda apapun yang dia ajarkan dikatakan tidak akan berguna. Bahkan dia dapat dikatakan sebagai seorang pengikut apasampradaya, yaitu sampradaya yang muncul dan tidak ada hubungannya dengan keempat sampradaya utama, yaitu Brahma, Sri/Laksmi, Siva/Ludra dan Kumara sampradaya (Bhagavata Purana 6.3.21).


Dua jenis guru

Terdapat 2 jenis guru dalam proses menginsyafi kerohanian dalam sistem pendidikan tradisional Veda, yaitu:

(a) Guru Siksa

Ada mereka yang memberikan kita pergaulan rohani, memberikan petunjuk rohani dan diskusi mengenai Tuhan Yang Maha Esa (Krishna-katta) terutama sekali untuk pertama kalinya, namun mereka tidak pernah mendiksa kita sebagai muridnya. Seorang guru siksa tidak harus seorang sanyasi/mereka yang sudah mencapai tingkat guru spiritual. Mereka dapat saja adalah rekan sejawat kita atau malah lebih kecil dari kita. Tetapi kita menyebutnya guru siksa karena merekalah yang membuat kita tertarik dan masuk dalam jalan kerohanian kesadaran Krishna. Dengan kata lain guru siksa adalah seorang instructor dalam memahami kerohanian.

(b) Guru Diksa

Yaitu seorang guru kerohanian yang telah memiliki kualifikasi untuk mengajarkan kebenaran suci Veda dan mengangkat kita dalam hubungan guru dan murid dalam suatu upacara khusus yang diberi nama upacara diksa (inisiasi). Sang Guru Diksa adalah bagaikan orang tua rohani kita yang membukakan tabir kegelapan material di dunia ini dan menunjukkan kita jalan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seorang guru dalam sistem pendidikan Veda harus dihormati seperti Tuhan sendiri

Sloka ke-7 Sri Gurvastaka menyebutkan:

sakshad-dharitvena samasta-shastrair

uktas tatha bhavyata eva sadbhih

kintu prabhor yah priya eva tasya

vande guroh shri-charanaravindam

Artinya:

Seorang guru kerohanian harus dihormati sama seperti Tuhan, Sri Krishna sendiri. Karena ia adalah pelayan yang paling rahasia dari Tuhan. Hal ini diakui oleh semua kitab-kitab suci yang diwahyukan dan oleh para pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam kerohanian. Karena itu hamba menghaturkan sembah sujud dengan hormat kepada kaki padma para guru-guru kerohanian, yang merupakan perwakilan bona fide dari Sri Krishna.

Jadi ayat ini menjelaskan posisi/kedudukan dan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada guru kerohanian. Dalam Siva Purana dan Padma Purana sebagaimana dikutip dalam CC Madya-lila 11.31 disebutkan bahwa Parvati bertanya kepada suaminya, dewa Siva, “Dari segala macam persembahyangan, persembahyangan kepada siapakah yang paling sempurna? Dan siapakah kepribadian tertinggi yang paling pantas dipuja?” Dan Siva menjawab, “Aradhananam sarvesam visnor aradhanam param, dari segala macam persembahyangan, persembahyangan kepada Visnu adalah yang paling tinggi tingkatannya. Tasmat parataram devi tadiyanam samarcanam, tetapi O dewi, ada lagi persembahyangan yang lebih utama dari ini yaitu memuja para penyembah (bhakta) Visnu”. Jadi tidak ada keraguan atas ayat ke-7 Sri Gurvastaka ini. Kita harus tunduk hormat dan memuja kaki padma sang guru kerohanian yang bona fide dalam usaha kita memuja Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna.

Selanjutnya Sloka ke-8 Sri Guruvastaka juga kembali menegaskan hal yang serupa dengan menyebutkan:

yasya prasadad bhagavat-prasado

yasyaprasadan na gatih kuto ‘pi

dhyayan stuvams tasya yashas tri-sandhyam

vande guroh shri-charanaravindam

Artinya:

Atas karunia dari guru kerohanian seseorang menerima berkat dari Sri Krishna. Tanpa karunia dari guru kerohanian, seseorang tidak akan dapat mencapai kemajuan apapun (dalam bidang kerohanian). Karena itu hamba harus selalu ingat dan memuji guru kerohanian. Paing tidak tiga kali sehari hamba harus sujud hormat kepada kaki padma guru kerohanian hamba.

Makna dari sloka Sri Gurvastaka ini adalah bahwa karunia Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna hanya dapat diterima melalui seorang guru kerohanian., yaitu pelayan murni Tuhan. Sehingga otomatis posisi kita harusnya menjadi pelayan dari para pelayan Tuhan, yaitu berusaha selalu melayani guru kerohanian dengan tulus dan rendah hati.  Mengenai pelayan dari pelayan (dasa anu dasa) ini juga ditegaskan oleh Sri Krishna kepada Arjuna dalam Adi Purana, “Ye me bhakta janah partha na me bhaktas ca te janah, wahai Partha, orang yang berkata dirinya adalah bhakta-Ku, sesungguhnya bukan bhakta-Ku. Mad bhaktanam ca ye bhakta te me bhaktata mamatah, tetapi orang yang berkata bahwa dirinya adalah bhakta dari bhakta-Ku, dia lah bhakta-Ku yang sebenarnya”. Jadi sujud bhakti dan melayani serta berserah diri dalam bimbingan dan lindungan guru kerohanian adalah keharusan bagi seorang murid yang serius dalam bidang kerohanian.

Usaha mendapatkan guru kerohanian yang bona fide

Seorang penekun spiritual yang sedang mencari guru kerohanian haruslah memiliki sifat dasar berupa sikap tunduk hati. Seseorang tidak akan bisa maju dalam kerohanian jika dia tidak memiliki sikap ini. Dan sifat-sifat lainnya sebagaimana disinggung dalam Bhagavata Purana 11.17.21 adalah antara lain; tidak melakukan tindak kekerasan (ahimsa), berpegang teguh pada kejujuran (satyam), tidak mencuri dan korupsi (asteyam), selalu berbuat untuk kesejahteraan semua makhluk lain (bhuta priya hitehaca), dan membebaskan diri dari nafsu, kemarahan dan keserakahan (akama krodha lobhasa).

Om Tat Sat

%d bloggers like this: