Lima ratus tahun yang lalu, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna muncul sebagai Sri Krishna Caitanya di daerah India Timur, tepatnya di Sridama Mäyäpura, Nawadvip, Bengala bagian barat. Salah satu tujuan Beliau adalah untuk membangkitkan kembali keagungan Vraja-dhäma yang saat itu sudah hampir tidak dikenal lagi oleh masyarakat umum dan bahkan mereka yang tingal di daerah tersebut. Atas perintah beliau, para Gosvami Vrindävana melakukan research sehinga akhirnya saat ini kita dapat dengan mudah mengenali tempat-tempat dimana Sri Krishna melakukan kegiatanNya. Sebelum para Gosvämi khususnya enam Gosvämi yang dipimpin oleh Sri Rüpa dan Sri Sanätana datang ke Vrindävana, Sri Caitanya Mahaprabhu secara pribadi datang ke Vrindävan untuk menemukan tempat-tempat yang telah terlupakan di Vrindävana. Seperti misalnya Rädhä Kunda dan Syäma Kunda yang telah hilang, namun Sri Krishna Caiatanya menemukan kembali tempat tersebut yang nantinya direnovasi oleh Sri Raghunätha Däsa Gosvämi.

Sebelum kita memasuki daerah Vrindävana, merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mendengarkan kisah perjalanan Sri Caitanya serta saat beliau berada di Vrindävana. Dengan demikian kita bisa mendapat kesempatan untuk mendengar dan mengerti bagaimana hendaknya perasaan seseorang saat berkunjung ke Vrindävana. Selain itu, dengan mendengarkan kisah Sri Caianya Mahäprabhu ini, kita bisa mengikuti jejak kaki padma Beliau dan berdoa kepadaNya yang merupakan Yuga-avatar, avatara yang paling berkarunia di jaman ini, semoga Beliau bersedia memberikan karuniaNya agar kita bisa mengagumi dan menghormati Vraja-dhäma semaksimal mungkin.

Sri Caitanya Mahäprabhu beberapa kali berusaha keras datang ke Vrindävana. Saat beliau berada di Navadvipa, Sri Caitanya pernah berusah berangakat ke Vrindävana, tetapi atas aturan Sri Nityänanda prabhu beliau berhasil menggiring Sri Caitanya ke Santipur, rumah Sri Advaitäcarya. Setelah beliau mengambil sannyas, Sri Caitanya berkeinginan untuk tingal di Vrindävana tetapi atas keinginan Saci, ibuNya, Sri Caitanya akhirnya tingal di Jagannätha puri. Saat berada di Jagannätha Puri, beliau juga berusaha untuk berangkat ke Vrindävana beberapa kali, namun selalu digagalkan oleh penyembah-penyembah Beliau di sana karena mereka tidak ingin berpisah denganNya. Bahkan pada akhirnya, ketika beliau sudah di dalam perjalanan ke Vrindävana, setelah bertemu dengan perdana mentri Aurang zeb di Räma-keli, Rüpa dan Sanätana, atas anjuran dan permintaan mereka, Sri Caitanya Mahäprabhu kembali lagi ke jagannätha puri dan mengurungkan niatNya untuk berangkat ke Vrindävana. Sehinga pada akhirnya, suatu hari ketika musim gugur tiba, Sri Caitanya memutuskan untuk berangkat ke Vrindävana sendirian tanpa ditemani oleh siapaun.

Sebelum berangkat ke Våndävana, Sri Caitanya mendiskusikan hal ini dengan Srila Svarüpa Dämodara dan Ramananda Raya. Ketika beliau menyampaikan niatnya utnuk berangkat ke Vrindävana sendirian, Srila Svarüpa Dämodara meminta Sri Caitanya untuk mengajak paling tidak satu pelayan yang bisa melayani Beliau di perjalanan. Sri Caitanya setuju dengan perminataan Srila Svarüpa Dämodara namun dengan syarat, Beliau tidak akan mengajak salah satu dari rekan terdekatNya dan juga orang tersebut harus benar-benar mempunyai pikiran yang tenang. Akhirnya Srila Svarüpa Dämodara mengirim Balabhadra Bhattäcärya. Srila Svarüpa Dämodara berkata: “Ini adalah Balabhadra Bhattäcarya yang mempunyai rasa cinta dan kasih sayang yang sangat dalam kepada Anda. Selain itu dia adalah orang yang sangat jujur, terpelajar dan sangat maju di dalam kesadaran Krishna. Akhirnya Sri Caitanya menerima masukan Srila Svarüpa Dämodara dan setuju mengajak Balabhadra bersama Beliau di dalam perjalanan ke Vrindävana. Di malam hari, Sri Caitanya darsan pada Sri Jagannätha dan sebelum malam berakhir, beliau mulai berangkat ke Vrindävana. Untuk menghindari masyarakat umum, Sri Caitanya tidak mengambil jalan umum melainkan mengambil jalan di dalam hutan Jhärikanda.

Seperti biasanya, Sri Caitanya selalu menyanyi dan menari bahkan di dalam hutan sekalipun dimana terdapat begitu banyak binatang buas di berbagai tempat. Ketika Sri Caitanya berjalan sambil menari dan menyanyikan nama suci, beberapa harimau dan gajah yang ada didepan Beliau memberikan jalan kepadaNya. Setelah beberapa saat, binatang-binatang di hutan seperti macan, singa, babi hutan, gajah, badak, mulai menari dan menyanyi bersama beliau. Balabhadra yang saat itu menemani Tuhan Sri Caitanya, merasa sangat takut melihat binatang buas tersebut, tetapi karena pengaruh rohani Sri Caitanya, semua binatang berdiri di satu sisi bersama beliau dan menari. Suatu hari dalam perjalanan di hutan, ada seekor harimau yang sedang tidur tepat di depan Sri Caitanya Mahäprabhu. Sri Caitanya Mahäprabhu yang saat itu berada di dalam kebahagiaan rohani tidak menghiraukan macan tersebut melainkan hanya melanjutkan perjalananNya. Kemudian tiba-tiba Beliau menyentuh harimau tersebut dengan kakiNya. Ketika itu, Sri Caitanya berkata “ucapkan nama suci Sri Krishna”. Membangunkan harimau yang sedang tidur merupakan hal yang sangat berbahaya yang diumpamakan seperti  mengundang kematian. Tetapi bagi Sri Caitanya Mahäprabhu, harimau itu sama sekali bukan suatu yang berbahaya tetapi malahan harimaunya langsung bangun dari tidur dan mulai menari sambil mengucapkan “Krishna Krishna…..”.

Suatu hari ketika beliau sedang mandi dan mengucapkan gayatri mantra di dalam sungai, sekelompok gajah gila datang kesungai tersebut untuk minum air. Dapat kita bayangkan, bahkan satu gajah gila saja bisa mengancurkan seluruh desa, dan sekarang Sri Caitanya yang sedang berada di dalam sungai sendirian mesti menemui gerombolan gajah gila.  Ketika Sri Caitanya mengucapkan mantra gayatri, gajah-gajah gila tersebut tiba tepat di depan Sri Caitanya. Tuhan Yang Maha Esa dalam lilaNya sebagai Sri Caitanya secara langsung memercikan air pada gajah-gajah tersebut sambil berkata “ucapkan nama suci Sri Krishna”. Gajah-gajah yang terkena air yang dipercikan oleh Sri Caitanya mulai menari dan mengucapkan “Krishna Krishna …”. Sri Krishna Caitanya Mahäprabhu adalah Krishna sendiri yang mengambil posisi sebagai seorang penyembah yang sangat maju atau seorang mahä-bhägavata. Di dalam Bhagavad Gita, diuraikan bahwa seorang bhägavata tidak membedakan makhluk hidup dari segi badan tetapi mereka melihat semua makhluk hidup sebagai sang roh yang merupakan percikan terkecil Tuhan yang maha esa.

vidyä-vinaya-sampanne

brähmaëe gavi hastini

çuni caiva çva-päke ca

paëòitäù sama-darçinaù

“Para resi yang rendah hati, berdasarkan pengetahuan yang sejati, melihat seorang brahmana yang bijaksana dan lemah lembut, seekor sapi, seekor gajah, seekor anjing dan orang yang makan anjing dengan penglihatan yang sama”. (Bg 5.18)

Seorang mahä-bhägavata tidak melihat perbedaan antara seekor gajah, harimau maupun anjing. Srila Prabhupäda menguraikan di dalam hal ini bahwa seseorang yang maju di dalam pengetahuan rohani atau seorang mahä-bhägavata tidak mempunyai rasa takut, tidak iri kepada siapapun dan selalu sibuk di dalam pengabdian suci. Orang seperti itu melihat semua makhluk hidup sebagai percikan terkecil Yang Maha Kuasa yang melakukan pengabdian kepada Krishna sesuai dengan kemampuan mereka berdasarkan keinginan Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah tes untuk seseorang bisa diangap maju di dalam kehidupan rohani.  Krishna berada di dalam hati setiap makhluk hidup, “sarvasya cähaà hådi sanniviñöo”, orang-orang suci yang maju di dalam kerohanian mengerti dan menginsyapi hal ini. Karena itu, Sri Krishna yang berada di dalam hati semua makhluk hidup menghilhami makhluk hidup yang lain dari dalam hati mereka bahwa orang ini adalah mahä-bhägavata dan hendaknya jangan diganggu. Contoh ini diperlihatkan di sini oleh Sri Caitanya Mahäprabhu.

Srila Prabhupäda juga menguraikan bahwa kita hendaknya jangan meniru tindakan para mahä-bhägavata seperti itu dan mencoba datang ke hutan dan menendang harimau yang sedang tidur dan berusaha untuk menyuruh mereka mengucapkan maha mantra. Sebelum harimau tersebut mengucapkam maha mantra, mungkin harimau itu  akan bersyukur pada Tuhan terlebih dahulu bahwa hari ini Tuhan sudah membawakan mangsa ke depan matanya tanpa dikejar dan menyergap kita dalam sekejap. Saat ini mungkin sangat sulit menemukan harimau di hutan, tetapi ada banyak harimau materialistik di hutan dunia modern yang lebih berbahaya dari pada  harimau di dalam hutan Jharikhanda. Jadi, kita memang harus berhati-hati didalam proses mengajarkan kesadaran Krishna. Itu tidak berarti kita mesti mengorbankan prinsip kita untuk berkompromi dengan mereka. Kita tetap mempertahankan prinsip dan saat yang sama harus sangat cerdas di dalam melakukan sesuatu sesuai dengan desa, kala, patra (tempat, waktu dan keadaan). Ada istilah “anusara” yang berarti mengikuti dan “anukara” yang berarti meniru. Anusara adalah sikap yang sangat dipuji oleh para acarya sedangkan anukara semestinya dihindari. Jadi sikap yang mestinya kita kembangkan adalah mengikuti jejak kaki padma para acarya semampu kita. Hati para mahä-bhägavata sepenuhnya bebas dari pencemaran dunia material sehinga mereka menjadi kelihatan sama sekali tidak berbahaya bahkan bagi binatang sekalipun. Di dalam posisi seperti itu, mereka sepenuhnya bebas dari rasa iri dan dengki pada makhluk hidup lain sehinga bahkan binatang buas sekalipun merasa tenang dan damai berada dekat mereka. Ketika Sri Caitanya Mahäprabhu melewati hutan, beliau sepenuhnya berpikir tentang Krishna dan mencari-cari Krishna dimana-mana.

Ketika para gajah mulai mengucapkan nama suci atas pengaruh kekuatan rohani Sri Caitanya Mahäraprabhu, beberapa diantara mereka terjatuh dan beberapa diantaranya berteriak dalam kebahagian rohani. Melihat kejadian ini, Balabhadra terheran-heran sendiri. Ketika Sri Caitanya mulai melanjutkan perjalananNya, mendengar suara Sri Caitaya Mahäprabhu yang sangat manis, rusa-rusa hadir dari berbagai tempat dan mulai mengikuti Sri Caitanya dari belakang. Setelah beberapa lama, beberapa harimau muncul dan ikut bersama rusa-rusa mengikuti Sri Caitanya. Para rusa tersebut juga terbebas dari rasa takut pada harimau-harimau yang biasanya sebagai pemangsa mereka. Hal ini merupakan pengaruh rohani orang yang sudah maju di dalam pengabdian suci. Bahkan mereka yang secara alami bermusuhan bisa menjadi sahabat di dalam pergaulan dengan orang suci yang maju di dalam pengabdian suci bhakti. Ini merupakan contoh yang sangat kongkrit yang diperlihatkan oleh Sri Caitanya di dalam hutan Jharikhanda. Melihat para rusa dan harimau yang mengikuti beliau, Sri Caitanya teringat dengan tanah Vraja. Beliau mulai menyanyikan sloka dari Srimad Bhagavatam skanda sepuluh bab 13 ayat 60, yang menguraikan keagungan Vrindävana Dhäma sebagai berikut:

yatra naisarga-durvairäù

sahäsan nå-mågädayaù

miträëéväjitäväsa-

druta-ruö-tarñaëädikam

“Vrindävana merupakan tempat tingal rohani Kepribadian Tuhan. Tidak ada istilah kelaparan, kehausan maupun amarah di tempat tersebut. Meskipun secara alami bermusuhan, umat manusia dan binatang berbahaya hidup bersama di dalam hubungan persahabatan yang rohani”.

Seperti biasanya, Sri Caitanya Mahprabhu mulai menyuruh mereka untuk mengucapkan nama Krishna. Mendengar permintaan Sri Caitanya Mahäprabhu seperti itu, semua binatang yang mengikuti Sri Caitanya bersama-sama mengucapkan “Krishna.. Krishna…”. Dan menari bersama-sama. Sekali lagi Balabhadra terkagum melihat semua kejadian ini. Para harimau bukan hanya menyanyi dan menari bersama para rusa namun mereka saling berpelukan sambil mengucapkan nama suci. Sri Caitanya hanya tersenyum melihat semua hal ini kemudian meningalkan mereka di hutan dan melanjutkan perjalananNya. Berbagai jenis burung seperti merak mulai mengikuti Sri Caitanya yang sedang melanjutkan perjalananNya. Ketika beliau menyanyikan nama suci, berbagai jenis tumbuhan menjalar dan pepohonan menjadi sangat berbahagia.

Srila Prabhupada menjelaskan bahwa pengucapan “Hare Krishna mantra” merupakan proses yang sangat menakjubkan yang bahkan mampu menembus telinga tumbuh-tumbuhan. Suatu hari Sri Haridäs Thakur ditanya oleh Sri Caitanya tentang bagaimana tumbuh-tumbuhan bisa dibebaskan di jaman kali yuga. Sri Haridäs Thakur menjawab bahwa dengan pengucapan nama suci dengan keras bersama-sama, maka ini tidak hanya akan menguntungkan mereka yang mengucapkan tetapi semua seranga, pohon-pohon dan tumbuhan menjalar yang ada di sekitarnya. Prabhupada menguraikan bahwa hendaknya seseorang tidak merasa tergangu dengan pengucapan maha mantra karena hal ini sangat menguntungkan bagi mereka yang mendengarkan nama suci tersebut. Dengan demikian, semua makhluk hidup, baik yang bergerak dan yang tidak bergerak di hutan Jharikhanda menjadi tergila-gila pada nama suci begitu mendengar Sri Caitanya Mahäprabhu mengucapkan nama suci.

Ketika Sri Caitanya Mahäprabhu melewati hutan Jharikhanda, beliau berpikir bahwa hutan ini adalah hutan Vrindävana. Melihat beberapa bukit yang mengelilingi hutan Jharikhanda, beliau berpikir bahwa ini adalah bukit Govardhana dan ketika beliau melihat sungai di hutan tersebut, beliau berpikir bahwa itu adalah Yamunä. Dengan demikian, diuraikan bahwa dimanapun beliau berada, beliau hanya melihat Vrindävana. Beliau melihat Vraja-dhäma dimana-mana karena beliau sendiri membawa Vraja-dhäma kemana-mana. Sebagai pengikut Sri Caitanya Mahäprabhu, kita juga bisa mengikuti jejak kaki padma Beliau dengan bermeditasi pada Vrindävana ketika kita melihat hal-hal yang berhubungan atau mirip dengan uraian Vrindävana-dhäma. Dengan demikian kita secara otomatis dan berangsur-angsur berada di dalam meditasi pada Vrindävana-dhäma meskipun kita berada jauh dari Vrindävana-dhäma yang sejati dimana Krishna melakukan lila beliau lima ribu tahun silam. Karena Sri Krishna bersifat mutlak, maka segala sesuatu yang berhubungan denganNya adalah identik denganNya. Dengan berpikir tentang Vrindävana-dhäma maka kita juga berpikir tentang Krishna. Kita melihat sebuah contoh yang diberikan oleh Srila Rüpa Gosvämi, dimana ada seseorang yang melakukan pelayanan kepada Krishna hanya di dalam pikiran yang sebenarnya sama dengan pelayanan secara fisik. Sama halnya dengan bermeditasi pada dhäma atau tempat suci, maka kita secara tidak sadar sebenarnya sudah berada di dhäma tersebut. Ini adalah keunikan hal-hal rohani. Proses ini diperlihatkan oleh Sri Caitanya di dalam lila Beliau, seperti yang sudah diuraikan tadi, yaitu Beliau berpikir bahwa melihat sungai sebagai sungai Yamunä, bukit sebagai bukit Govardhan dan lain-lain.

Setelah melewati hutan, Sri Caitanya mulai memasuki sebuah desa. Ketika penduduk desa mendengar Sri Caitanya Mahäprabhu menyanyi dan menari, atas pengaruh aura rohaniNya, orang-orang tersebut juga mulai mengucapkan nama suci Sri Krishna. Ketika seseorang mengucapakan nama suci yang mereka dengar dari Sri Caitanya, mereka juga diikuti oleh orang ketiga yang mendengar nama suci dari orang yang telah mendengar nama suci dari Sri Caitanya.  Srila Prabhupäda menguraikan bahwa orang yang mendengar nama suci dari Sri Caitanya menjadi sepenuhnya disucikan dan mereka yag mendengar nama suci dari orang yang sudah di sucikan juga menjadi disucikan. Seperti ini, garis perguruan paramparä juga berlagsung turun-temurun.

Balabhadra bhattäcarya mengumpulkan bahan makanan seperti sayur-sayuran, buah-buah, akar-akaran dan kemudian mempersembahkannya kepada Sri Caitanya Mahäprabhu. Ketika Sri Caitanya melewati pedesaaan, Beliau biasanya diundang oleh para brahmana untuk menerima makanan di rumah mereka. Ada beberapa diantaranya yang memberikan beras kepada Balabadra Bhattäcarya, ada yang memberikan susu, susu asam dan ada  yang memberikan ghee dan juga batangan tebu. Balabhadra memasak dari bahan makanan yang dikumpulkan dari dalam hutan dan Sri Caitanya Mahäprabhu dengan sangat senang hati menikmati makanan tersebut. Sri Caitanya sangat menikmati sayuran yang dipetik dari hutan. Dari sini kita bisa belajar bahwa Sri Krishna sangat senang dengan makanan yang tumbuh alami tanpa suatu yang berbau kimiawi sintetis. Bahan kimia sebenarnya mencemari ibu bumi dan hal ini sangat menyakiti badan ibu bumi. Krishna tidak bisa menahan penderitaan yang dialami oleh ibu bumi yang merupakan saÿah satu dari pelayan beliau yang sangat mulia. Karena itu, persembahan yang diperoleh tanpa menyakiti ibu bumi akan sangat memuaskan Sri Krishna atau Sri Caitanya Mahäprabhu.

Sri Caitanya mandi tiga kali sehari. Kadang-kadang di pagi hari dan di sore hari Beliau menghangatkan badanNya dekat api. Sri Balabhadräcarya melayani Sri Caitanya Mahäprabhu dengan penuh rasa kasih sayang sebagai seorang pelayan dan melakukan pelayanan yang sederhana. Kadang-kadang Sri Caitanya Mahäprabhu membicarakan perasaan beliau kepada Sri Balabadra dan kadang kadang beliau mengagungkan Bhattäcärya atas pelayaanannya. Tetapi sebagai penyembah yang tunduk hati, Balabhadräcarya selalu merasa hanya melakukan pelayanan yang sangat sederhana dan merasa dirinya sangat beruntung mendapat kesempatan untuk melayani Sri Caitanya.

Sri Caitanya Mahäprabhu melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di Kasi. Di sana Beliau mandi di sebuah tempat yang disebut Manikarnika. Manikarnika adalah sebuah tempat dimana Sri Visvanath (Siva) menyembuhkan seseorang dari penyakit kehidupan dunia material dengan membisikkan nama suci Sri Räma melalui telinga seseorang. Saat itu, Tapana Misra, salah satu dari rekan Sri Caitanya Mahäprabhu sedang mandi di sungai Gaìga dan kebetulan melihat Sri Caitanya disana. Tapana Misra mendengar bahwa Sri Caitanya telah mengambil sannyas dan Beliau sangat bahagia dapat bertemu dengan Sri Caitanya di sini. Tapana Misra langsung menghaturkan sembah sujud kepada Sri Caitanya dengan menjatuhkan badanya ke tanah dan memegang kaki padma Sri Caitanya. Kemudian Tapana Misra mengajak Sri Caitanya darsan pada Sri Visvesvara dan kemudian darsan pada Sri Bindu Mädhava. Kemudian dengan perasaan yang sangat bahagia, Tapana Misra mengajak Sri Caitanya ke rumahnya. Saat itu, Candrasekhara juga hadir untuk menemui Sri Caitanya Mahäprabhu. Sri Caitanya tinggal di Kasi selama sepuluh hari. Semasa beliau tinggal di Kasi, ada seorang sannyasi Mayavadi, Sri Prakäsänanda Sarasvati menjelek-jelekkan Sri Caitanya Mahäprabhu. Dia mengatakan bahwa Sri Caitanya adalah seorang sanyasi yang berpura-pura dan merupakan ahli ilmu hitam yang bisa mengontrol orang yang ditemuiNya. Kemudian ketika brahmana yang mendengar ini menyampaikan kepada Sri Caitanya Mahäprabhu, Beliau hanya tersenyum dan mulai mengagungkan nama suci Sri Hari dan menguraikan kemalangan para Mayavadi yang tidak mendapat kesempatan merasakan manisnya nama suci Sri Hari. Uraian ini diuraikan dengan panjang lebar dan sangat indah di dalam madhya lila, Caitanya Caritamrita oleh Sri Krishna Kaviraj Gosvämi.

Kemudian dari Kasi, Sri Caianya Mahäprabhu melanjutkan perjalanan sehinga sampai di Prayäg. Di sini Beliau mandi di pertemuan antara Gaìga dan Yamunä. Begitu Sri Caitanya melihat Yamunä, beliau langsung menceburkan diriNya sehinga Balabadra Bhattäcärya dengan sangat kesulitan harus mengangkat Sri Caitanya dari sungai. Beliau tinggal di Prayäg selama tiga hari dan menyebarkan nama suci kepada banyak orang di tempat itu. Saat melanjutkan perjalanan ke Mathurä, Sri Caitanya sering melewati sungai Yamunä. Begitu beliau melihat sungai Yamunä, beliau langsung jatuh pingsan berulang kali di dalam kebahagian rohani. Akhirnya setelah melalui perjalanan seperti itu, Sri Caitanya sampai di Mathurä. Begitu beliau melihat Mathurä, beliau langsung menjatuhkan badanNya ke tanah dan menghaturkan sembah sujud pada tanah Mathurä.

Ketika Beliau memasuki kota Mathurä, pertama-tama Beliau mandi di Visräma Ghat di tepi sungai Yamunä di Mathurä. Kemudian beliau mengunjungi tempat kemunculan Sri Krishna dan darsan pada Sri Kesava Ji. Seperti biasanya, Sri Caitanya menari dan menyanyi dimana nyanyian dan tarianNya menyebabkan banyak orang terkagum-kagum. Tiba-tiba, saat Sri Caitanya menyanyi dan menari, ada seorang brahmana bersujud pada kaki padmaNya dan mulai menari bersamaNya. Kemudian mereka berdua (Sri Caitanya dan Brahmana) menari dan menyanyi, “Krishna…Krishna..”. Melihat kejadian ini, semua orang mengucapkan, Hari!Hari!!!Hari! Hari, Jay Sri Hari!!! Kemudian pujari Sri Kesavadev ji mempersembahkan untaian bunga yang dipakai oleh Sri Kesava kepada Sri Caitanya. Ketika mereka melihat Sri Caitanya Mahäprabhu menari dengan kebahagian rohani seperti itu, orang-orang pada kagum dan saling berbincang satu dengan yang lainnya. Beberapa diantaranya berkata “Rasa cinta kasih rohani seperti itu bukan hal yang biasa”. Beberapa orang berkata, “Hanya dengan melihat Sri Caitanya, orang akan menjadi gila di dalam kebahagiaan rohani dan akan menari dan menyanyi sambil menangis. Tidak diragukan lagi bahwa orang ini pasti Sri Krishna yang muncul kembali untuk membebaskan penduduk Mathurä”.

Setelah beberapa saat Sri Caitanya Mahäprabhu duduk di tempat yang tenang dan mulai bertanya kepada brahmana yang menari bersama beliau, dari manakah dia mendapatkan rasa cinta kasih kepada Krishna yang begitu dalam tersebut? Brahmana tua tersebut menjawab bahwa beliau menerima cinta bhakti rohani kepada Krishna dari Sri Mädhavendra Puri yang saat itu datang ke Mathurä. Begitu Sri Caitanya Mahäprabhu mendengar bahwa brahmana itu adalah murid Sri Mädhavendra Puri, Sri Caitanya langsung menghaturkan sembah sujud kepada brahmana tersebut. Melihat Sri Caitanya Mahäprabhu bersujud kepada dirinya, brahmana tersebut juga menghaturkan sembah sujud kepada Sri Caitanya sebagai seorang sanyasi. Brahmana ini menyampaikan kepada Sri Caitanya bahwa hanya orang yang berhubungan dengan Sri Mädhavendra Puri yang mempunyai ciri-ciri kebahagiaan rohani seperti itu. Kemudian Sri Balabadra Bhattäcärya menguraikan hubungan Sri Caitanya dengan Mädhavendra Puri kepada brahmana tersebut. Mendengar hal ini, brahmana ini menjadi sangat bahagia. Dia mengundang Sri Caitanya agar bersedia prasad di rumahnya. Brahmana tersebut meminta Bhattäcärya untuk memasak untuk Sri Caitanya Mahäprabhu, namun Sri Caitanya bilang “karena Mädhavendra Puri sudah pernah makan di rumah anda, dengan demikian anda bisa masak untuk saya, ini adalah permintan saya”.

Meskipun secara kasta, seorang sanyasi tidak makan makanan yang diberikan oleh kelas brahmana tersebut, tetapi karena Mädhavendra Puri melihat brahmana ini mengembangkan sifat sebagai seorang vaisnava, maka beliau bersedia untuk menerima brahmana itu sebagai muridnya dan bersedia makan di rumah brahmana ini. Tetapi karena berpikir tentang posisi Sri Caitanya Mahäprabhu, brahmana ini berusaha menjelaskan posisinya. Dia akan sangat senang mempersembahkan makanan kepada beliau, tetapi orang umum akan menghina tingkah laku Sri Caitanya. Tetapi Sri Caitanya meyakinkan brahmana itu sehingga akhirya bersedia untuk memasak untuk Beliau.

Setelah menerima prasad dari brahmana tersebut, banyak penduduk Mathurä yang datang untuk menemui Sri Caitanya. Ketika orang-orang berkumpul, Sri Caitanya mulai mengangkat tanganNya dan mengucapkan “Hari Bolo”. Semua yang hadir saat itu mengikuti Sri Caitanya dan mengucapkan nama Sri Hari dengan penuh rasa cinta kasih. Sri Caitanya mandi di 24  ghat (temat permandian) di tepi sungai Yamunä dan brahman tersebut menunjukan tempat-tempat peziarahan di Mathurä. Kedua puluh empat ghat tersebut adalah : (1) Avimukta, (2) Adhirüòha, (3) Guhya-tértha, (4) Prayäga-tértha, (5) Kanakhala-tértha, (6) Tinduka, (7) Sürya-tértha, (8) Vaöa-svämé, (9) Dhruva-ghäöa, (10) Åñi-tértha, (11) Mokña-tértha, (12) Bodha-tértha, (13) Gokarëa, (14) Kåñëa-gaìgä, (15) Vaikuëöha, (16) Asi-kuëòa, (17) Catuù-sämudrika-küpa, (18) Akrüra-tértha, (19) Yäjïika-vipra-sthäna, (20) Kubjä-küpa, (21) Raìga-sthala, (22) Maïca-sthala, (23) Mallayuddha-sthäna and (24) Daçäçvamedha. Sri Caitanya Mahäprabhu juga mengunjungi berbagai tempat suci di tepi sungai Yamunä di daerah Mathurä termasuk Svayambhu, Viçräma-ghäöa, Dérgha Viñëu, Bhüteçvara, Mahävidyä and Gokarëa. Ketika Beliau berkeinginan untuk mengunjungi hutan Vrindävana, Beliau mengajak brahmana tersebut bersamaNya.

Sri Caitanya Mahäprabhu mengunjungi berbagai tempat termasuk Madhuvana, Tälavana, Kumudavana and Bahulävana. Beliau mandi di setiap tempat suci  dengan rasa kebahagian rohani. Ketika beliau melewati Vrindävana, beberapa sapi yang sedang digembalakan mengelilingi beliau dan mulai menatap beliau sambil menguak. Melihat sapi-sapi yang mengelilingi diriNya, Sri Caitanya masuk kedalam kebahagiaan rohani yang lebih dalam dan saat itu sapi-sapi mulai menjilat badan rohani Sri Caitanya. Sri Caitanya sangat memperhatikan sapi-sapi tersebut dan karena tidak bisa meningalkan pergaulan Sri Caitanya, para sapi mengikuti Sri Caitanya. Dengan kesulitan para gembala sapi menahan sapi-sapi tersebut. Sri Caitanya mulai mengucapkan nama suci, dan ketika para rusa dan merak mendengar suara beliau yang manis, mereka semua datang menemui Sri Caitanya. Ketika para kelinci dan rusa-rusa mendekati Sri Caitanya, mereka juga mulai menjilat badan Sri Caitanya dengan penuh rasa kasih sayang seperti para sapi tadi. Berbagai jenis binatang seperti lebah, burung-burung parkit dan merak mulai menari di depan Sri Caitanya. Melihat kehadiran Sri Caitanya di Vrindävana, bahkan pepohonan menjadi penuh dengan kebahagian rohani dan menangis yang tangisannya keluar berupa madu dari batang-batang mereka. Pepohonan dan tumbuhan menjalar penuh dengan bunga dan buah-buahan menyambut kedatangan Tuhan mereka yang telah lama pergi. Dengan demikian, semua makhluk hidup, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak menjadi penuh dengan rasa bahagia bagaikan seorang teman ketemu dengan teman setelah begitu lama berpisah.

Melihat kebahagian mereka, Sri Caitanya Mahäprabhu juga menjadi sangat bahagia dan mulai memeluk mereka satu sama lain di dalam kebahagiaan rohani. Badan beliau tidak terkontrol dan selalu mengucapkan, Krishna! Krishna!… Ketika beliau melihat dua ekor burung parkit di atas cabang pohon, beliau merasa ingin mendengarkan sesuatu dari mereka dan kemudian kedua burung tersebut terbang ke tangan Sri Caitanya dan mulai menceritakan kegiatan Krishna. Kemudian setelah beberapa saat Sri Caitanya Mahäprabhu melihat seekor merak yang sedang menari. Ketika beliau menatap warna kebiru-biruan dari merak tersebut, Beliau langsung teringat pada Kåñëa sehingga langsung jatuh pingsan di dalam kebahagiaan rohani. Melihat Sri Caitanya jatuh pingsan, brahmana dan Balabhadra Bhattäcärya merasa gelisah dan mulai memercikan air pada Beliau sambil mengipasi badanNya. Kemudian mereka mulai mengucapkan nama Krishna pada telinga Sri Caitanya sehinga membuat Beliau kembali sadar. Setelah kembali pada kesadaranNya, Sri Caitanya langsung berguling-guling di tanah karena kebahagian rohani yang dalam. Karena berguling di tanah, badan Sri Caitanya terlukai oleh banyak duri-duri di hutan Vrindävana sehinga Balabadra harus menghentikan dan menenangkan Beliau. Seperti biasa, beliau terus mengucapkan nama, Krishna! Krishna! Sambil menari. Beliau melanjutkan perjalanan bersama brahmana dan Balabadra Bhattäcärya. Si brahmana ini sangat keheranan melihat kebahagian rohani yang diperlihatkan oleh Sri Caitanya dan sangat resah dengan keadaanNya. Ketika Sri Caitanya berada di Jagannätha puri, Beliau selalu berada di dalam kebahagian rohani, tetapi di dalam perjalanan di Vrindävana, rasa rindu kepada Krishna ratusan kali lipat bertambah. Ini hanya salah satu uraian dari kunjungan Sri Caitanya di dalam satu tempat di Vrindävana dan Sri Krishna Däsa kaviraja menguraikan bahwa sangat mustahil untuk menguraikan kejadian di beberapa tempat lainya.

Sri Caitanya Mahäprabhu melakukan perjalanan di berbagai hutan di Vrindävana dan memuaskan semua makhluk hidup di sana dan juga secara pribadi SriCaitanya merasa puas dengan melihat mereka. Akhirnya suatu hari beliau sampai di sebuah desa yang disebut dengan Ärit-gräma. Ärit-grama juga dikenal dengan nama Ariñöä-gräma dimana Ariñöäsura dibunuh oleh Sri Krishna.  Disini Sri Caitanya bertanya pada penduduk lokal dimana kedudukan Sri Rädhä Kunda. Namun sangat disayangkan bahwa tempat Rädhä Kunda saat itu sudah terlupakan sehinga tidak seorang pun bisa memberi tahu Sri Caitanya keberadaan Rädhä Kunda. Brahmana yang menemani beliau ternyata juga tidak tahu-menahu keberadaan tempat tersebut. Sri Caitanya Mahäprabhu dapat mengerti bahwa tempat suci ini sudah tidak lagi tampak. Sebagai kepribadian yang maha mengetahui segala sesuatu, beliau secara pribadi mampu mengenali dimana sebenarnya Rädhä Kunda dan Syäma Kunda. Beliau menemukan Rädhä Kunda yang saat itu merupakan sebuah tanah sawah yang terdapat sedikit air. Ketika orang-orang melihat Sri Caitanya mandi di kolam kecil tersebut, orang-orang di sekitarnya menjadi sangat keheranan namun beliau tetap mandi di sana dan menyampaikan doa pujian kepada Sri Rädhä Kunda.

yathä Rädhä priyä viñëos

tasyäù kuëòaà priyaà tathä

sarva-gopéñu saivaikä

viñëor atyanta-vallabhä

“Seperti halnya Çrémati Rädhärani yang paling dicintai oleh Sri Krishna diantara para gopi, begitu juga kolam beliau yang dikenal dengan nama Rädhä Kunda juga sangat disayangi olehNya. Diantara para gopi, Srimati Rädhäräni merupakan yang paling dicintai oleh Krishna”.

Setelah mengucapkan doa pujian kepada Sri Rädhä Kunda, Sri Caitanya menari dan menyanyi dengan kebahagian rohani di tepi Rädhä Kunda sambil mengingat kegiatan Sri Krishna. Kemudian Sri Caitanya Mahäprabhu menandai badan beliau dengan tilak dari lumpur di Rädhä kunda dan mengumpulkan beberapa lumpur untuk dibawa bersama beliau.

Kemudian dari Rädhä Kunda beliau menuju ke danau Sumana. Melihat bukit Govardhana dari tempat itu, beliau menjadi sangat gembira. Beliau bersujud kepada Govardhana bagaikan tongkat yang terjatuh. Kemudian beliau berlari dan memeluk batu di bukit Govardhana. Akhirnya beliau sampai di desa Govardhana dan darsan pada Sri Harideva. Harideva merupakan arca Vigraha yang di sthanakan oleh Sri Vajranäbha, yang terletak di bagian barat matura. Sri Caitanya mulai menari dan menyanyi penuh dengan kebahagian rohani di depan arca Harideva. Mendengar kegiatan beliau, para penduduk setempat datang dan melihat beliau. melihat kebahagian rohani dan ketampanan Sri Caitanya, semua orang yang hadir menjadi sangat heran. Pujari Sri Harideva menerima Sri Caitanya dengan sangat baik. Sri Bhattäcärya memasak untuk Sri Caitanya Mahäprabhu di Brahma-kunda, yang terletak di dekat Harideva Mandir. Setelah mandi di Brahma-kunda, Sri Caitanya menerima prasad yang telah dimasak oleh Sri Balabadra Bhattäcärya.

Sri Caitanya Mahäprabhu tinggal semalam di Haridev mandir. Beliau berpikir, “Karena Aku tidak akan memanjat bukit Govardhana, bagaimana Aku bisa darsan pada Sri Gopäla Raya JI?” Berpikir seperti ini, beliau hanya bisa diam. Mengerti keinginan Sri Caitanya Mahäprabhu, Arca Gopäla Ji, mempermainkan para penduduk setempat sehinga beliau diarak ke bawah dari puncak bukit. Sri Gopäla Ji mengirim kabar burung yang menyatakan bahwa pasukan muslim akan segera datang untuk menyerang kuil ini. Karena itu penduduk setempat bersama dengan para pujari Gopäla Ji, menggusung Gopäla Ji dengan tandu turun dari bukit Govardhana. Pada saat itu, Tuhan Sri Caitanya bisa darsan pada Sri Gopäla Ji tanpa menginjakkan kaki di atas bukit Govardhana yang tidak berbeda dengan badan Sri Krishna sendiri. Sambil menari dan menyanyikan nama suci menemui Sri Gopal Ji, Çré Caitanya masuk kedalam kebahagian rohani yang dalam sehinga air mata beliau mengalir bagaikan aliran sungai Ganga yang deras. Beliau kelihatan seperti orang yang gila pada kekasihnya yang akhirnya tiba-tiba ketemu dengan kekasih yang dirindukan. Dalam keadaan gila rohani seperti ini Sri caitanya berkeliling mengunjungi berbagai tempat di Vrindävana dhäma di dalam perasaan pelayan dan pelayan dari penduduk Vraja dhäma.

Dikutip dari buku “Perjalanan Suci di Tanah Suci Vraja”

Karya: Bhagiratha Dasa

Penulis bisa dihubungi di alamat email: bhagiratha_dasa(at)yahoo.com

Translate »
%d bloggers like this: