Saya beruntung karena masih memiliki rumah di desa dengan halaman yang terbilang cukup luas. Mulai dari “korian” atau pintu gerbang di depan, sampai area paling belakang dihiasi dengan berbagai jenis pohon kamboja. Pernah suatu ketika saya mengajak 2 orang teman saya main ke rumah. Apa kesan yang pertama kali mereka katakan? Dengan kompak mereka mengatakan heran melihat taman di rumah saya. Bukan heran karena keindahannya, tetapi heran karena persis seperti kuburan yang dihiasi dengan pohon-pohon kamboja.

Inilah perbedaan Bali dengan wilayah lain di Indonesia pada umumnya. Kamboja menjadi pohon penghias yang sangat umum di Bali. Bukan hanya di area perumahan, hotel atau villa, tetapi setiap pura di Bali hampir pasti memiliki pohon kamboja di areanya. Lalu bagaimana dengan di luar Bali? Kamboja terutama sekali pasti ada di setiap area pekuburan Islam. Kamboja sangat jarang ditanam di luar area pekuburan. Itulah sebabnya tanaman kamboja bagi mereka identik dengan tanaman kuburan. Stigma kamboja sebagai tanaman kuburan sudah sangat melekat kuat dalam pemikiran mereka.

Jadi sampai di sini kita sudah melihat bagaimana nilai-nilai tentang tanaman kamboja berputarbalik 180 drajat antara orang Hindu terutama di Bali dengan non-Hindu terutama Islam.

Lalu apa hubungan kamboja dengan toleransi dan invasi?

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah berita di Kompas.com yang berjudul “Tanah Sunda Pun Punya Candi” yang ditulis oleh Ni Luh Made Pertiwi dan A. Wisnubrata. Dalam artikel, candi yang dimaksud adalah Candi Cangkuang yang bercorak Hindu yang terletak tepat di tengah danau Cangkuang di Garut, Jawa Barat. Candi setinggi sekitar 9 meter ini mungkin satu-satunya candi yang direstorasi di daerah sunda sampai saat ini. Candi ini telah ditemukan pada tahun 1966, sayangnya proses restorasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terlalu banyak batu-batu candi yang asli digantikan dengan batu-batu baru. Bentuknya pun mungkin tidak lagi seperti bentuknya yang semula sehingga menimbulkan misteri yang tak terpecahkan sampai saat ini. Di dalam candi yang berukuran sekitar 9 meter persegi ini terdapat arca Siva yang menandakan candi ini digunakan untuk pemujaan kepada Siva. Lebih lanjut penulis artikel kompas mengatakan bahwa tepat di belakang candi terdapat makam Islam yang konon adalah makam Arif Muhammad yang merupakan seorang prajurit dari kerajaan Mataram yang datang ke desa Cangkuang dan menyebarkan Islam pada penduduk setempat. Yang ingin saya garis bawahi pada artikel kompas yang menyinggung benang merah candi Hindu dengan kuburan Islam. Penulis mengatakan bahwa keberadaan candi Hindu dan kuburan Islam yang berdempetan ini adalah bentuk toleransi keberagamaan yang tercipta di tanah Pasundan.

Pertanyaannya, betulkan kondisi ini adalah bentuk toleransi?

Dari letak candi dan kuburan ini saja saya berani mengatakan bahwa ini bukanlah bentuk toleransi, tetapi invasi. Kenapa? Karena Candi di sini bukanlah candi yang dibangun sebagai kuburan atau setidaknya penyimpan abu jenasah, tetapi candi untuk pemujaan kepada dewa Siva. Dalam khasanah Hindu, sangat tidak diperkenankan membawa jenasah, apa lagi menguburkannya di area tempat suci. Tindakan menaruh jenasah di tempat suci menimbulkan cuntaka atau kekotoran yang di Bali biasa disebut “leteh”. Jika hal seperti ini terjadi sudah barang tentu harus diadakan suatu yajna besar untuk mengembalikan kesucian tempat suci tersebut. Jadi bagaimana mungkin toleransi tercipta dengan mengubur jenasah seorang Muslim di tempat suci  umat Hindu?

Kasus candi dijadikan kuburan di Indonesia sudah cukup banyak. Sebagian besar reruntuhan candi-candi yang ditemukan di sekitar jalur pantura terletak di arena pekuburan. Sebut saja di daerah Tegal, Brebes, Pemalang, Jatiwangi dan juga Pagerbarang. Di daerah Jawa Timur seperti di daerah Sukurharjo juga demikian. Komplek candi di daerah tersebut sudah menjadi komplek pemakaman Turi.

Bukan saja di Indonesia, di India pun terjadi hal yang sama. Taj Mahal yang saat ini dikenal sebagai keajaiban dunia yang dibangun penguasa Mogul, invator Muslim waktu itu, melalu berbagai penelitian ternyata terbukti adalah bangunan yang awalnya diperuntukkan untuk tempat pemujaan Siva yang disebut Tejo Himalaya. Setelah bangunan ini direbut, akhirnya tempat suci Hindu tersebut digunakan sebagai kuburan untuk permaisurinya.

Apa tujuan tempat suci dijadikan kuburan? Apa tidak cukup hanya diruntuhkan saja setelah wilayahnya berhasil ditaklukkan dan masyarakatnya berhasil dipindahagamakan? Mereka sangat cerdas. Mereka berusaha membangun citra kepada keturunan berikutnya dengan metode seperti ini. Setelah missing link terjadi, setelah alih fungsi candi-candi dan tempat suci sebagai kuburan serta penggambaran para tokoh-tokoh jahat adalah mereka yang melakukan upacara ala Hindu di kuburan mengakibatkan asumsi generasi berikutnya akan mengatakan bahwa Hindu adalah agama klenik dan pemuja setan. Sudah pasti dengan citra yang terbangun seperti ini akan mengakibatkan generasi-generasi yang kehilangan informasi ini tidak akan mungkin murtad kembali ke Hindu. Jika kita kaitkan dengan cerita saya di awal di atas tentang kamboja, mungkin pada jaman dahulu kamboja juga lebih umum ditanam di area tempat suci seperti candi. Sementara alih fungsi candi menjadi kuburan terjadi, kamboja masih tetap dipertahankan. Sehingga terjadilah distorsi nilai-nilai yang berbeda 180 drajat. Hindu tetap menganggap kamboja adalah tanaman yang lebih umum di tempat suci, sementara Islam menggambarkan kamboja sebagai tanaman kuburan. Akhirnya, muncullah persepsi negatif mengenai tempat yang ditumbuhi pohon kamboja seperti yang terjadi pada awal artikel ini.

Jadi, mari lebih berhati-hati menilai mana bentuk toleransi dan mana bentu invasi.

Om Tat Sat

Translate »
%d bloggers like this: