“Mari kita berdoa sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing, berdoa mulai!”. Begitu kira-kira kalimat yang muncul pada suatu acara pembukaan yang dihadiri oleh orang-orang dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Kalimat itu memang tepat untuk menjembatani cara berdoa masing-masing orang dimana agamanya memberikan aturan peraturan tata cara menyampaikan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Uniknya, berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing ini ternyata juga sering diucapkan dalam suatu komunitas yang hanya teridiri dari 1 agama. Sebutlah contohnya pada saat kumpul-kumpul Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) setidaknya waktu saya mengenyam pendidikan di UGM. Acap kali ketua KMHD menginstruksikan aba-aba berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing pada saat memulai suatu rapat. Kenapa? Setidaknya menurut ketua KMHD pada waktu itu mengatakan karena memang Hindu terdiri dari banyak aliran dimana masing-masing aliran memiliki cara peribadatan dan kepercayaannya masing-masing.

Ya, Hindu memang unik. Tidak seperti agama-agama lainnya dimana aliran dalam agama-agama tersebut umumnya masih memperlihatkan wajah yang sama setidaknya dari cara berpakaian, tempat sembahyang, cara sembahyang dan juga sistem keyakinannya. Kita tengok saja Hindu di Bali, Hindu di Jawa dan Hindu di India. Ketiga Hindu ini memperlihatkan wajah yang benar-benar berlainnan bukan hanya dari pakaian, tata cara sembahyang dan tempat persembahyangannya. Mereka juga memperlihatkan perbedaan yang sangat signifikan dalam sistem teologinya. Kondisi ini memang tidak bisa disalahkan karena Hindu memang memberikan kebebasan berekspresi seluas-luasnya kepada pemeluknya selama mereka masih ada dalam koridor Dharma. Hindu begitu menyadari bahwa setiap manusia memiliki tingkat spiritualitas yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa dipukul rata dengan satu jenis aturan ajaran yang sama. Sebagaimana disebutkan dalam Bhagavad Gita, setidaknya Hindu memberikan tiga jenis ajaran, yaitu ajaran yang bersifat sattvam, rajas dan tamas. Keyakinan dalam sifat sattvam atau kebaikan adalah suatu keyakinan yang dilakukan menurut Kitab Suci, karena kewajiban, oleh orang yang tidak mengharapkan pamrih (Bhagavad Gita 17.11). Sedangkan keyakinan dalam sifat rajas atau nafsu adalah keyakinan yang dijalankan demi keuntungan material, atau demi rasa bangga (Bhagavad Gita 17.12). Dan keyakinan dalam sifat tamas atau kebodohan adalah keyakinan yang tanpa memperdulikan petunjuk Kitab Suci, dan tanpa mengucapkan mantra-mantra Veda (Bhagavad Gita 17.13). Manusia yang evolusi spiritualnya masih dalam level dasar tidak akan mampu melaksanakan ajaran Veda yang mengarah kepada ajaran bersifat rajas, apa lagi sattvam. Mereka sudah barang tentu akan berkutat pada ajaran tamas sampai evolusi kesadaran mereka bisa meningkat. Begitu juga orang yang telah berada pada tingkat spiritualitas sattvam akan dengan sangat mantap menjalankan ajaran Veda yang bersifat sattvik.

Namun sayangnya fenomena wabah keyakinan tamasik lah yang sepertinya sedang menjangkiti masyarakat Hindu di Indonesia khususnya saat ini. Hal ini diperlihatkan dari sikap acuh tak acuh mereka pada aturan kitab suci dan juga mengesampingkan mantra-mantra suci Veda dalam pelaksanaan setiap yajna yang mereka lakukan. Sehingga tidak jarang dalam suatu dharma wacana, diskusi filsafat dan sejenisnya, kata-kata yang selalu terlontar dalam mulut mereka adalah kata; “menurut saya, ………..”. Sangat jarang umat Hindu mau berkata; “menurut kitab ….. sloka ….., disebutkan bahwa…..”. Oleh karena satu orang dengan yang lainnya selalu memiliki pemikiran berbeda, mengakibatkan seolah-olah satu orang Hindu memiliki ajarannya tersendiri sehingga dapat dikatakan jika saja di tempat ini berkumpul 1 juta umat Hindu, maka bisa saja mereka sebenarnya terpecah dalam 1 juta aliran [pemikiran] yang berbeda.

Apakah kondisi ini keliru? Tidak. Sama sekali tidak keliru jika dilihat dari tingkatan kesadaran yang bersifat tamasik atau kebodohan. Tetapi apakah kita ingin selamanya ada dalam tingkatan kebodohan? Tidak kah kita ingin naik ke level spiritual rajasik atau bahkan kalau bisa sattvik?

Tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk naik level kecuali kita mulai mencoba melaksanakan setiap ajaran Dharma yang benar-benar mengacu kepada kitab suci kita, Veda. Sejauh tertulis jelas dalam Veda, maka sebaiknya kita hindari berspekulasi dengan mengemukakan pendapat pribadi. Dan tentu saja untuk bisa mendasarkan setiap laku spiritual kita pada Veda, kita terlebih dahulu harus mau membaca, mempelajari dan memahami kitab suci Veda dengan baik. Hal ini lah yang selama ini jarang dilakoni oleh umat Hindu khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, mulai detik ini, mari kita semakin rajin membaca kitab suci Veda agar kita bisa berevolusi menuju kesadaran spiritual dalam tingkatan sattvik.

%d bloggers like this: